Anas masih berdiam di balkon kamar Jaxton. Pikirannya masih terus mencerna perkataan yang terlontar dari bibir tipis kekasihnya itu. Entah kenapa rasanya benar-benar penasaran di buat oleh Jaxton. Awan jingga yang menyelimuti langit sore itu, tampak membuat Anas menjadi terpaku dengan semburat rasa penasaran yang berkecamuk di dalam pikirannya. 'Sebenarnya ... siapa Jaxton? Kenapa aku merasa tidak asing dengan pria ini. Tapi, apakah sebelumnya kami pernah bertemu? Entahlah ... perasaanku mengatakan, Jaxton berkaitan dengan masa lalu? Benarkah begitu? Kenapa aku over sekali. Sejak kapan ada pria setampan Jaxton berteman denganku.' "Apa yang sedang kau pikirkan?" Anas terlonjak kaget dan refleks berdiri. Kedua matanya menatap Jaxton yang sudah mengenakan kaos hitam ketat yang membalut tubu

