Siang itu terasa sangat panas, seperti hendak membakar kulit polos yang telanjang. Hanya beberapa saat yang lalu, Jaxton dan Anas berada di perusahaan, sekarang mereka sudah di bawah payung yang meneduhkan tubjh dari sengatan cahaya matahari. Seperti janji Jaxton, mereka sekarang berada di kawasan komplek perumahaan. Terbilang mewah dan sangat luas, salah satu rumah milik Jaxton, jauh sebelum Jaxton menemukan Anas. "Apa ini tidak terlalu besar, Jax?" Anas berdiri di depan halaman luas. Memperhatikan setiap sudut rumah yang di pilih Jaxton pertama kali. "Kenapa? Apa kau tidak suka?" Anas menggeleng. "Bukan soal tidak sukanya. Tapi, ini terlalu besar saja untuk kita." Anas kembali memperhatikan pilar-pilar rumah yang kokoh menopang setiap sudut bangunan. Ukiran-ukiran bergaya Eropa ta

