Hujan gerimis mengiringi pemakaman Papa Ardian. Langit seakan ikut merasakan kesedihan dan tangisan dari bola mata Anas. Satu demi satu para pelayat yang datang dari keluarga, kerabat, bahkan tetangg, mulai berpulangan. Dikarenakan takut, hujan gerimis menjelma menjadi hujan deras. Anas masih terpaku di depan gundukan tanah di depannya. Anas duduk bersimpuh depan makam papanya. Dadanya terasa amat sesak, kedua matanya tak lagi menangis, di karenakan sudah terlalu lama dia menangis. Sebisa mungkin Anas menahannya di depan Jaxton. Anas tidak mau, membuat Jaxton kelimpungan di karenakan dirinya. "Ayao kita pulang," ajak Jaxton. Langit sudah tampak gelap. Seakan ingin menumpahkan luapan kesedihannya. Anas pun bangkit berdiri, kedua matanya bertemu dengan Jaxton, suaminya. Jaxton tersenyum

