Beberapa hari kemudian, tepat di mana Jaxton dan Anas akan melangsungkan pernikahan di depan Papa Ardian yang sedang terbaring akit dengan alat yang terpasang di beberapa bagian tubuhnya. Seperti mengulang kisah pertunangan mereka. Akhirnya, Jaxton dan Anas, memiliki nasib yang sama. Bedanya, saat pertunangan, papa Johan sudah tiada, tidak berkesempatan untuk melihat pertunangan anaknya. Sedangkan sekarang, Papa Ardian yang terbaring lemah, semakin hari semakin menurun stamina tubuhnya, mengharuskan Jaxton cepat-cepat melakukan pernikan di depan papa Anas. Wajah Anas yang terlihat cantik, dengan hasil karya tangan bibi Elena, tidak mampu menutupi kesedihannya. Seharusnya dia sangat bahagia, karena hari ini akan menjadi hari paling bersejarah dalam hidupnya. Tapi, kenyataan hidup tidak dem

