51. Malam Mengundang Gerimis – II

1322 Kata
51. Malam Mengundang Gerimis – II Batu-batu besar itu betul-betul menggelinding dan menabrak pepohonan kecil yang ditumbuhkan Naraya. Ayahnya buru-buru menggendong Naraya dan mengangkatnya menjauh, sedangkan Widji melakukan hal sama dengan Naraya. Kedua tangannya ditepukkan ke tanah, bersiap mengirimkan sinyal kehijauan. Namun, roh berwujud bocah itu tercenung ketika menyadari bahwa laju bebatuan itu sudah sepenuhnya terhenti. Iswara dan Naraya mendarat cukup jauh dari tempat semula. “Sepertinya dia sudah melakukan hal yang baik. Tapi lain kali tolong ingatkan dia untuk bisa menilai kemampuan diri sendiri. Sungguh … aku tidak menduga bahwa ia akan bertindak sejauh ini.” Widji menyentuh batu-batu besar itu. Mereka telah sepenuhnya berhenti karena pepohonan kurus itu, tetapi Naraya telah mengerahkan seluruh kemampuannya. Di bagian bawah bebatuan itu, akar-akar pohon yang besar dan gemuk mencuat. Jika tidak bisa menahan bebatuan dengan pepohonan muda, maka tahanlah mereka dengan akar-akarnya yang besar. “Aku harus membawanya pergi dari sini. Ia betul-betul kehabisan tenaga.” Iswara menunjuk Naraya yang pingsan di dekapannya dengan dagu. “Dengan keadaan yang seperti ini, aku tidak bisa membiarkannya berakhir dengan perawatanmu. Yang ada kau akan membiarkannya seperti ini sampai ia bangun sendiri. Sungguh … kau berbeda sekali dengan ibumu.” Widji menggembungkan pipi sebal. “Aku hanya tidak ingin mati konyol seperti ibu yang meninggal karena perhatiannya yang berlebih pada manusia. Aku tidak ingin mengomelimu karena kau sendiri punya istri manusia dan anak yang lebih banyak menyerupai manusia.” Iswara mengembuskan napas. Ia tentu masih ingat kejadian waktu itu, yang merenggut nyawa roh pohon paling tua di hutan ini. Iswara telah mengantongi nama pelakunya dan ia adalah orang yang sama pemberi racun itu. Si dukun. Mbah Semprul. Kendati begitu, Widji tidak memiliki keinginan membalas dendam, ia tidak ingin terlibat masalah lagi dengan manusia. Bahkan jika orang itu adalah pembunuh ibunya. “Aku paham. Rasa sakitmu itu masih terasa juga karena kami berdua satu tim, ia kawan baikku yang sangat aku sesali kepergiannya. Aku akan pergi sekarang. Sebaiknya kau juga mencari tempat berbaring baru. Aku yakin sekali jika para penghuni pemukiman kecil ini akan segera menggunakan pohon berlubang itu sebagai kayu bakar.” Tanpa mendengar balasan dari Widji—dan Widji sendiri pun tidak terlihat akan segera menjawab—ia melesat dengan cepat sekaligus protektif pada sang putra dalam dekapan. Iswara tidak menyangka jika ia akan kembali ke rumah sang putra. Sesampainya ia di sana, mobil sang istri sudah berada di sana. Bahkan wanita itu duduk pada dipan di teras. Seolah ia telah mengetahui kedatangan mereka berdua. “Kukira selama ini Naraya tidak berurusan denganmu lebih banyak. Namun semenjak ia memutuskan tinggal lebih lama di sini dan mengatakan memiliki sesuatu yang ia lindungi, aku mendapatkan firasat bahwa kau kemungkinan besar mempengaruhinya. Kau bahkan melanggar perjanjian itu dan aku sudah tidak percaya lagi padamu.” Esti mengatakannya dengan dingin. Tanpa ekspresi, tanpa menatap. “Esti—“ “Tolong jangan memanggil namaku lagi. Mendengarnya keluar dari mulutmu, aku merasa sangat tidak nyaman. Aku tidak ingin orang-orang melihat apa yang terjadi di sini. Di antara kita. Aku cukup bersyukur karena gerimis ini menahan orang-orang keluar. Jadi … selagi aku sedang baik. Tolong kau serahkan Naraya padaku dan pergi dari sini. Jangan kembali lagi.” Esti kembali menegaskan kalimatnya. Kendati pembawaan ibu satu anak itu tenang, tetapi gelombang besar sedang bergerak-gerak liar dalam dirinya. Pria itu mengangguk. “Tapi, setidaknya izinkan aku membawa Naraya masuk. Kau tentu tidak kuat mengangkat tubuhnya dan tidak ingin menarik perhatian orang banyak bukan?” Esti mengiakan saja. Apa yang dikatakan Iswara tidak ada yang salah. Iswara membawa Naraya masuk dan Esti mengekori keduanya. Setelah Naraya dibaringkan di tempat tidur, Iswara mengambil sebuah botol kecil dari dalam kain yang melilit pinggang. Setelah memastikan Naraya menelan semua isinya, pria itu memutuskan pergi tanpa sempat berpamitan dengan Esti. “Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan padanya sampai ia begini. Tapi kalau aku melihatmu lagi berdekatan dengannya, aku tidak akan segan-segan memenggal ekormu.” Ancaman Esti tidak terdengar menakutkan bagi Iswara. Biar bagaimanapun, perempuan yang sangat ia cintai itu hanya melakukan yang benar jika berkaitan dengan Naraya. “Aku tidak akan berkomentar banyak, apa pun yang dilakukan Naraya, ia melakukannya untuk diri sendiri. Dia sudah cukup dewasa untuk menilai keadaan, jadi … ke depannya kau mungkin akan melihat ia melakukan banyak hal-hal yang luar biasa.” “Persetan denganmu….” Kali ini Esti berusaha keras menahan amarah dan u*****n agar tidak meluncur dari bibir. Sudah terlalu lama sejak ia menahan diri. Semenjak mendapati Naraya tidak berada di kamar dan ponsel yang dibawa sang putra tidak dapat dihubungi, ia sudah mendapatkan firasat buruk. Terlebih lagi ketika energi besar tiba-tiba saja menghantam tubuhnya seperti sapuan ombak. Saat itulah perasaannya semakin buruk. “Aku tidak ingin terjadi masalah lagi dengan kita. Perjanjian itu mungkin sudah tidak berlaku lagi karena aku dan Naraya sudah banyak bertemu. Kami juga banyak melakukan hal-hal menyenangkan dan mengasyikkan bersama. Kami telah melakukan apa yang seharusnya ayah dan anak lakukan. Itu sudah cukup untuk membuatku bahagia. Terima kasih karena sudah membesarkannya dengan baik, kau benar-benar melakukan yang terbaik untuknya.” Kalimat panjang itu mengakhiri pertemuan mereka. Iswara melangkah meninggalkan rumah, setiap langkah, tubuhnya memudar di mata Esti hingga akhirnya pria itu betulan menghilang di bawah gerimis. Esti berjalan lunglai menuju ranjang sang putra sebelum akhirnya menjatuhkan kepalanya di tepian ranjang. Naraya masih dalam kondisi yang tidak baik. Seluruh tubuhnya basah dan dipenuhi lumpur. Maka ia buru-buru bangun dan melepaskan semua pakaian basah itu, tak lupa membersihkan badan Naraya menggunakan handuk dan melapisi seprai yang sudah kadung kotor dengan seprai lain. Bekas luka yang mengering karena ekor Naraya yang dipotong waktu itu masih ada. Mungkin karena ekor itu dipenggal secara paksa, Naraya tidak terlalu menyerupai kera sebagaimana Iswara yang memiliki banyak rambut di sekujur tubuh. Jika ekor itu masih ada, mungkin saja Naraya akan menjadi bahan cercaan di kemudian hari atau didatangi stasiun teve. Di satu sisi ia bersyukur karena Naraya tidak menjalani kehidupan seperti itu. Secara tidak langsung ia juga berterima kasih kepada Iswara karena telah menjauhkan Naraya dari hal-hal dalam imajinasi liarnya. Setelah memastikan Naraya dalam kondisi nyaman untuk tidur, Esti meninggalkan kamar sang putra. Begitu tiba di kamar, ia tidak kunjung naik ke tempat tidur. Ia malah bersandar pada badan pintu dan turun dengan perlahan. Air matanya kembali luruh, pertahanannya jebol. Setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu, mengapa harus pria itu seseorang yang pertama kali ia rasakan keberadaannya? Mengapa sejak serangkaian kejadian mengerikan yang ia alami di padepokan itu, ia tetap tidak bisa melupakan kenangan-kenangan indah yang pernah mereka miliki? Esti tersiksa dengan rasa yang masih tertinggal dan mengendap terlalu dalam pada dirinya. *** Gerimis ini tidak akan berhenti. Tipe-tipe gerimis yang akan tahan mengguyur semalaman walaupun tipis-tipis saja. Iswara duduk menyelonjorkan kaki di salah satu dahan besar pohon. Pemandangan yang ia dapatkan dari tempat ini adalah langsung ke bebatuan yang sempat dihentikan Naraya. Orang-orang pasti akan kaget ketika pagi datang mendapati bebatuan itu berada di sana, nyaris mengenai tempat tinggal mereka. Widji sendiri pun juga mengerahkan tenaga untuk mempertahankan batu itu tetap berada di tempat semula. Itu adalah pemandangan yang sangat jarang. Semenjak ibu Widji meninggal belasan tahun lalu, ia sudah memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan manusia. Namun, melihat roh yang satu itu kembali menggunakan kekuatan setelah yang dilakukan Naraya … sekarang ia menyadari bahwa putranya memang memiliki semacam magnet tak terlihat yang akan memancing orang-orang lain mengikuti hal serupa. Mungkinkah itu adalah kekuatan dari aura keemasan yang tidak terlalu terang itu? Warna keemasan itu juga mengingatkan Iswara akan wujud sempurna mereka. Monyet yang tingginya bisa menutup pohon dan langkahnya menggetarkan dataran. Namun … wujud itu masih terlalu awal untuk sang putra. Lantas Iswara sendiri jika menggunakan wujud sempurna itu saat ini, ia mungkin akan …. Pria itu menggelengkan kepala, tak ingin membayangkan kemungkinan terburuk. Maka, semoga saja ia tidak akan menggunakan wujud itu dalam waktu dekat. Ia kembali menatap langit. Gerimis yang seolah tidak memiliki akhir itu kembali membuat tubuhnya gemetar kedinginan. Andai ia memiliki sesuatu atau seseorang untuk menghangatkan tubuh. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN