50. Malam Mengundang Gerimis – I
Aroma petrikor menusuk hidung Naraya ketika ia baru saja membuka mata. Ia buru-buru melirik jam dinding, menyadari tertidur ketika mengerjakan tugas. Padahal sudah berjanji akan bangun hingga lewat tengah malam, bermaksud pula untuk mendatangi pemukiman rawan longsor. Namun, ia kadung tertidur kurang lebih satu jam sejak pukul delapan lalu. Kedua simbahnya masih asyik menonton acara komedi di teve, sedangkan ibunya belum terlihat batang hidungnya. Mobil mereka pun belum terparkir di depan rumah. Setelah mengunci pintu dan memastikan jendela masih bisa dibuka dari luar, ia menyelinap keluar melalui jendela.
Jalanan yang basah, tetapi belum berlumpur, dan guyuran hujan tipis-tipis tidak menyulitkan perjalanan Naraya mencapai tempat tujuan. Seperti yang sudah ia duga, Widji berada di lubang pohon yang sama, tengah bersantai sembari bersenandung. Kedatangan Naraya bahkan tidak mengusik lagunya. “Oh, kenapa kau datang ke sini dari arah yang tidak terduga. Kau ambil arah yang lain, ya?”
“Uhm … apakah Anda tidak melakukan sesuatu. Bukankah Anda adalah roh pohon? Anda bisa mendengar suara-suara pohon lain, ‘kan? Apakah mereka memberikan alarm akan adanya tanah longsor?” Naraya balas bertanya dan itu membuat Widji meringis.
“Hmm … bagaimana bilangnya, ya? Harusnya kau yang lebih pintar soal itu. Aku hanya roh pohon, sedangkan kau memiliki kuasa atas segala tumbuhan di sini, jadi seharusnya kau lebih tahu.” Widji melompat turun dari lubang pohon tempatnya berbaring. “Ini adalah tempatku tidur selama bertahun-tahun setelah ibuku tumbang, lalu aku tumbuh dengan buruk di tanah yang sudah tercemas pupuk-pupuk kimia manusia. Uh … menyebalkan sekali mereka. Katanya kalau pakai pupuk akan membuat tanah makin subur. Yang ada malah membunuh organisme-organisme baik di sana.”
“Tapi saya sama sekali tidak mendengar apa pun selain Anda.”
Widji mengembuskan napas lelah. Dengan tubuh yang jauh lebih pendek daripada lawan bicaranya, ia menggoyangkan tangan, memberikan isyarat agar Naraya menunduk. “Saat ini pun, mereka sedang menggerutu karena kondisi tanah semakin buruk. Jika gerimis ini menjadi hujan, maka tidak menutup kemungkinan jika tanah di sini akan sedikit longsor. Tapi masalahnya bukan di tanahnya, tetapi batuan yang berada di atasnya. Kalau mereka menggiling turun dan menggilas perumahan kecil ini, tentu akan sangat menyeramkan bukan?”
“Jadi, ada kemungkinan besar mala mini akan turun hujan deras yang akan memicu tanah longsor itu bukan? Apakah dengan adanya pohon-pohon, laju batu-batuan itu akan sedikit teredam?” tanya Naraya lagi.
“Hmm … aku juga tidak bisa menyebut itu adalah ide yang bagus. Sebagai pohon, aku juga tidak mau dijadikan rem. Ya, walaupun sebenarnya, menggunakan pohon-pohon itu memang cukup efektif menahan laju batunya. Tapi, pohon dengan ukuran besar. Sekarang lihatlah ke sekeliling. Apakah kau melihat adanya pohon-pohon berukuran besar?”
Naraya menggeleng. Pemukiman kecil ini nyaris gundul. Hanya ada beberapa pohon berukuran kecil, semak belukar, dan pohon besar tertanam tepat di pinggir jalan. Selain itu, hanya ada rumput-rumput dan tanaman liar.
“Nah, sudah jelas batu-batu itu tetap akan menggilas pemukiman kecil ini. Kalau kau berniat melindungi orang-orang di bawah sana, setidaknya kau harus menumbuhkan pohon berusia sepuluh tahun. Apa kau sanggung menumbuhkan pohon setua itu dan lagi dalam jumlah banyak. Aku tahu kalau kau sangat berbakat. Ayahmu juga sangat membanggakannya. Tapi, kalaupun kau sanggung melakukannya, pada akhirnya kau juga yang akan dirugikan nantinya. Tubuhmu masih terlalu lemah untuk menanggung semuanya. Apakah ayahmu tidak pernah menagatakan tentang itu padamu?”
Semua yang dikatakan Widji memang tidak salah. Naraya sendiri tidak memiliki keyakinan dapat melakukan seperti perkataan Widji. Oke, ia memang bisa menumbuhkan pohon, tetapi pohon-pohon dengan ukuran kecil. Bahkan minggu lalu baru saja bisa menumbuhkan tunas. Jika ia melakukan hal di luar kebiasaan, terlebih lagi kemampuan, ia sendirilah yang akan berada dalam bahanya.
“Tapi, saya tetap tidak bisa membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada mereka. Bagaimanapun juga, saya adalah manusia dan mereka juga. Jika Anda dan Ayah tidak bisa melakukan sesuatu untuk mereka. Maka, biarkan saya yang menyelamatkan mereka,” putus Naraya.
Widji dengan wajah kekanakannya mengembuskan napas lagi. “Lakukan saja yang kamu mau. Ini waktunya kami mencari oksigen sebenarnya. Kalau ada pohon besar yang mengambil oksigenmu, jangan protes, ya. Dan … kalau terjadi sesuatu yang sulit kau tangani sendiri. Panggillah aku.”
Maka, dengan begitu. Ditinggalkanlah Naraya seorang diri, dihantam gerimis yang menderas dan kekhawatiran tidak terbendung. Sekali lagi dengan penglihatan yang terbatas, hanya berbekal senter kecil, ia menengadah ke atas, ke bebatuan besar yang masih kokoh di tempatnya. Widji sempat menyebut jika para tumbuhan sebenarnya sedang menggerutu dan ketakutan karena tanah yang semakin lemah. Namun, tak ada satu pun suara tumbuhan yang masuk ke telinga. Mungkin ia memang belum memiliki kemampuan itu. Namun, ia memiliki kemampuan untuk menumbuhkan pohon-pohon lagi. Jika hanya pohon muda, maka ia tidak akan kesulitan. Tapi ini adalah pohon dewasa yang memiliki ukuran besar.
Jika memaksakan diri terlalu jauh, mungkin ia betul-betul bisa menahan laju para batu. Yang menjadi masalah selanjutnya adalah jika para penduduk sampai tahu ada pepohonan asing yang tumbuh semalam di tempat mereka. Maka, ia harus melakukan semuanya dengan tenang. Menarik satu napas dalam, memejamkan mata, berlutut di tanah basah, menempelkan telapak tangan pada tanah, lalu berkonsentrasi penuh. Ia bisa merasakan denyut mereka, biji-biji tanaman di bawah tanah. Lalu ia juga bisa mendengar pergerakan tanah yang lambat. Lalu … seperti batu yang bergesekan dengan teramat pelan juga. Naraya membuka mata lebar-lebar, lalu terkejut ketika menyadari hujan tipis yang tidak lama mengguyur tubuhnya berubah menjadi hujan lebat.
Jika curah hujan semakin deras, maka waktunya pun menipis. Naraya kembali berkonsentrasi pada telapak tangannya. Cahaya kehijauan bersinar lembut dan merambat ke atas, tempat di mana para batuan teronggok. Ia bisa merasakan benih-benih kecil yang mulai menumbuhkan akar-akarnya dengan cepat, mereka betumbuh dengan cepat merobek tanah, muncul ke permukaan, dan mencuat dari dalam tanah. Tunas kecil tumbuh, mengelilingi bebatuan tersebut. Langkah pertama sukses. Ia perlu meningkatkan kekuatan lagi untuk menumbuhkan mereka ke ukuran yang cukup besar. Walaupun seluruh tenaganya harus dikeluarkan di sini.
Tunas-tunas itu tumbuh dalam kecepatan abnormal, manusia yang melihatnya mungkin akan terkejut atau menganggap diri mereka gila karena telah menyaksikan hal ajaib. Namun Naraya menganggap semua ini belum cukup. Ia harus lebih cepat, berpacu dengan waktu. Batu-batu itu mungkin tidak akan bertahan lama lagi. Kakinya telah dipenuhi tanah berlumpur yang berasal dari atas. Sedangkan suara gesekan batu makin jelas, seolah semakin mendekat. Naraya menggigit bibir, memaksa kekuatan dalam dirinya keluar makin banyak. Ia betul-betul dikejar waktu. Para tunas itu masih tumbuh menjadi pohon muda. Ia masih harus menumbuhkan mereka di sampai pohon-pohon itu berusia dewasa.
Kepalanya basah, oleh air hujan bercampur keringat. Ia mungkin sudah berada di puncak kekuatan. Masih harus memeras kekuatan lagi. Ini belum cukup, belum cukup, belum cukup! Cahaya hijau yang berpendar dari telapak tangannya semakin jelas. Akan menjadi masalah jika para manusia menyaksikan hal ajaib ini, maka Widji memasang pelindung di transparan bagi Naraya. Di satu sisi, ia juga mulai khawatir dengan pemuda itu. Napasnya terdengar makin berat dan detak jantungnya semakin tidak terkontrol. Tak lama, dari kegelapan, Iswara turun dari balik pepohonan lebat dan mendarat di samping Widji.
“Bukankah yang dia lakukan sudah terlalu berlebihan? Dengan kekuatan yang dipaksa keluar dalam satu waktu, ia bisa mengalami hal buruk nanti. Kenapa kau tidak menghentikannya?” tegur Iswara cemas. Ayah mana yang tidak cemas jika anaknya melakukan hal-hal membahayakan nyawa?
“Dia berusaha keras untuk ini. Yang perlu kita lakukan hanyalah membantunya di saat terburuk.”
Baru saja Widji menyelesaikan kalimatnya, bunyi keras batu-batu yang bertubrukan dan tanah bergeser terdengar keras. Naraya kembali memaksakan dirinya mengeluarkan kekuatan. Ia tak lagi meletakkan kedua tangan di tanah, ia melompat dan tiba di pohon-pohon yang baru saja ia buat. Tak ingin menghabiskan energi dengan memperlebar jangkauan kekuatan, ia mulai berfokus pada pohon-pohon itu saja. Namun, bebatuan itu tampaknya tidak ingin jalannya ditahan. Mereka mulai mendesak karena tanah semakin bergeser turun. Saat itu pula, Naraya melepaskan cahaya paling besar dalam dirinya. Dan karena perbuatannya itu, baik Widji maupun ayahnya mendapatkan firasat bahwa inilah kondisi terburuk itu.
|Bersambung|