49. Hal Yang Mengejutkan – III

1292 Kata
49. Hal Yang Mengejutkan – III Anak kecil di dalam lubang pohon itu terusik karena kedatangan mereka. Tunas kecil di kepalanya bergerak-gerak, seolah sedang memindai siapa-siapa saja yang datang. Ia bangkit dari posisi berbaring, lalu mengucek-ucek mata sembari menguap. Sebagai satu-satunya orang yang bisa melihat sosok anak kecil itu, Naraya buru-buru membawa ayahnya beserta si monyet kecil meninggalkan pohon tersebut tanpa mengatakan apa pun. Namun, ia terlambat. “Oh, ada Mas Iswara dan anaknya toh? Duh … maaf, ya … aku masih ngantuk banget,” celetuk anak itu sambil sesekali mengucek matanya yang memiliki iris berwarna hijau seperti dedaunan segar. “Eh … Naraya, Thole. Kamu bisa bicara dengan pohon, ya?” Ayahnya tiba-tiba saja turun dari pundak sang putra dan kembali menggunakan wujud manusianya. Dari lipatan jariknya, ekor panjang sang ayah menerobos keluar dan meliuk-liuk tanda senang. “Tidak Ayah sangka, kau bisa berkomunikasi dengan mereka lebih cepat daripada yang Ayah bayangkan.” Naraya menunjuk-nunjuk si bocah yang sedang berlarian memutari tubuh sang ayah. Kentara sekali jika ayahnya sama sekali tidak menyadari keberadaan bocah kepala tunas itu. Jadi … situasi apa yang sedang ia alami sekarang? Apakah ia sinting karena bisa melihat bocah itu sendiri? “Anu … apa Ayah enggak bisa lihat dia? Itu … bocah yang lari-larian di sekitar Ayah cuma pakai karung goni, sama ada tunas di kepalanya.” Iswara menengok ke kanan kiri, ia sempat tercenung sejenak, lalu akhirnya berkata, “Ayah memang bisa mendengar suaranya. Tapi Ayah tidak bisa melihat wujudnya. Mungkinkah kau bisa melihat wujudnya?” “Bi-bisa dibilang begitu. Dia bocah kecil—“ “Hei, bocah. Aku lebih tua darimu, ya! Jadi jangan bicara tidak sopan padaku!” Kendati berkata seperti itu guna menegur Naraya, tetapi ia betul-betul bertingkah seperti bocah yang tengah merajuk. Kedua tangan disilangkan di depan dadá dan bibir dimajukan. Monyong seperti itu benar-benar mencerminkan bocah. “Ba-baiklah. Kalau begitu, saya akan memperkenalkan diri. Jadi … tolong Anda juga memperkenalkan diri. Saya Naraya, putra Iswara. Anda tentu masih belum familier dengan saya tapi ke depannya Anda mungkin akan lebih sering melihat saya. Dan, tolong maafkan atas kekeliruan saya tadi.” Naraya bangkan membungkukkan kepala, sebagai salam perkenalan sekaligus meminta maaf atas perkataannya sebelumnya. Bocah itu menurunkan tangannya, lalu dengan wajah agak sombong, ia menghampiri Naraya dan menepuk kepala pemuda itu. “Wahai anak muda, aku senang sekali kau sangat sopan dan baik hati. Oke … kau bisa memanggilku Widji. Ayahmu dan ibuku dulunya sangat akrab, tetapi semenjak ibuku meninggal, Mas Iswara jadi kesepian, terlebih lagi ia juga tidak bisa mempertahankan satu-satunya istri dan anak.” “Hei, jangan mengatakan itu di depan anakku. Hanya aku yang tahu keseluruhan cerita. Jangan membuatnya seolah-olah hanya aku yang buruk di sini.” Iswara protes dan caranya protes mengundang gelak tawa Widji dan Naraya sendiri. “Haha, Mas Iswara ngambek. Tapi kalau bukan karena menggoda Mas Iswara, suasana pasti masih buruk. Jangan gitulah, anggap saja pahala karena membuat orang lain tertawa. Iya, tidak, Naraya?” “Ayah memang lucu, jadi saya juga tidak banyak berkomentar.” Naraya melirik ayahnya lalu meringis. Iswara hanya menggeleng-geleng, di satu sisi ia juga senang karena Naraya akan mendapatkan guru yang baik ke depannya. Berhubung mereka sedang berada di sini, Iswara pun sekalian saja mengutarakan niatan menjadikan Widji sebagai guru Naraya. “Uhm … karena kalian sudah mulai akrab, sebenarnya ada yang ingin aku katakan kepada Widji secara langsung. Ini mungkin bisa disebut permintaan. Sebenarnya … aku ingin kau menjadi guru bagi putraku.” Baik Naraya maupun Widji sama-sama memberikan ekspresi “eh”. Keduanya saling pandang lalu Widji yang pertama kali protes. “Eh, eh, eh, kenapa dengan permintaanmu yang ini? Biasanya kau tidak pernah meminta tolong padaku. Aku juga sedang sibuk karena hutan jadi makin sering rusak setelah ibu tidak ada dan manusia ya … begitulah. Jangan menambah bebanku, dong!” “Bukannya begitu. Dengan kondisiku yang sekarang, akan semakin menyulitkan untuk mengajarinya. Dan lagi … ia lebih berbakat dengan tanaman daripada hewan. Ia juga bisa melihat wujudmu sementara aku tidak. Kenapa kau tidak mau meluangkan sedikit saja waktu? Lagipula, ia pasti akan banyak membantu karena kekuatannya sangat pas dengan kalian para tanaman.” Widji memasang wajah berpikir dan agak bergumam. “Uhm … sebenarnya setelah musim hujan tahun ini, aku berencana meninggalkan tempat ini. Daripada bertahan di tempat yang semakin tidak menguntungkan, aku bermaksud pindah ke kota sebelah yang ada Sarpa Kencana.” “Hei, itu mengkhianatiku namanya! Bagaimana bisa kau bermaksud meninggalkanku di saat aku sedang sangat terpuruk. Kau tidak tahu kalau di sana pun mereka sedang berjuang memberantas pencemaran sungai? Kalau kau di sana pun tak ada jaminan bisa hidup dengan tenang dan santai.” Naraya tercenung. Berada di tengah-tengah pertengkaran, ia sedang salah tempat. “Anu … kalau Ayah dan Widji masih mau berbicara lebih pribadi, sepertinya saya harus undur diri sebentar.” Tentunya ia tidak mendapatkan izin dari keduanya. Ayahnya bahkan berkata, “Ayah sedang berusaha memperjuangkan masa depanmu, ya. Jangan lari ke mana-mana.” Uh … Naraya mendadak merasa tidak cocok dengan mereka. Ia jadi teringat dengan kedatangan awal di desa ini. Awalnya ia juga menolak, tetapi lama kelamaan diterima saja walaupun sebenarnya tidak begitu menyukai tempat ini. Ia juga sempat terlibat perdebatan dengan ayahnya, tapi … kalau sudah begini, lebih baik ia menghindar saja. Toh, baik ayahnya atau Widji sama-sama sedang tidak dalam kondisi tenang. “Ya! Naraya!” Dari kejauhan, Aditya melambai-lambaikan tangan kepada Naraya. Di punggungnya, satu ikat kayu-kayu kering ditumpuk. Itu akan menjadi bahan untuk menyalakan api di tungku. Tidak disangka juga kalau Aditya akan mencari kayu agak jauh dari rumah. Ketika mereka sudah berada dalam jarak dekat, Aditya lebih dulu menertawakan monyet berada dalam dekapan Naraya. “Sekarang dia sudah punya Tuan baru, ya? Hahaha.” “Dia emang manja. Tapi lucu, kok. Kamu juga, kenapa sampai jauh-jauh ke sini dari rumah buat cari kayu?” tanya Naraya. “Lah, harusnya aku juga yang tanya sama kamu. Enggak ada urusan apa-apa kok bisa sampai di sini? Cari kayu, enggak? Cari makanan, enggak? Kamu lagi ngapain sama si monyet?” Background di belakang Naraya ketika Aditya mengatakan monyet adalah ayahnya yang masih asyik berdebat dengan Widji. “Ya … cuma ajak si monyet jalan-jalan aja. Daripada spaneng. Soalnya lagi banyak yang berdebat.” “Oh … pasti kamu bertengkar lagi sama Budhe Esti, ya? Janganlah gitu, Ya. Biarpun sibuk, dia tetap ibu kamu, loh.” “Enggak ada hubungannya sama Ibu, kok. Cuma … aku emang butuh jalan-jalan aja. Terus tempat ini kayaknya belum pernah aku kunjungi. Padahal dekat sama jalan raya, tapi kok di sini jarang ada penduduk yang rumahnya besar gitu. Kayu semua. Dan lagi isinya cuma orang tua sama beberapa anak kecil aja.” Air muka Aditya berubah. “Kamu enggak tahu, ya, kalau tempat ini memang seharusnya enggak diperuntukkan buat ditinggali? Biarpun dekat jalan raya, tapi kamu lihat di atas sana? Banyak batuan sama tanahnya kelihatan rapuh. Sejak dulu banyak yang khawatir kalau tempat ini nantinya longsor. Tapi di satu sisi, cuma di sini tempat yang bisa dijangkau sama orang-orang kayak keluargaku. Aku beruntung karena enggak tinggal di sini. Tapi tempat ini emang aneh. Dekat jalan raya tapi harga tanah anjlok, semua karena tempat ini rawan tanah longsor.” “Dan, udah berapa lama tempat ini diberi label itu?” “Ya .. udah dari lama sebenarnya. Tapi bukan dikasih sendiri sama pihak kelurahan, jadinya mereka benar-benar tinggal di sini dengan ancaman bakal disapu tanah longsor setiap harinya.” Naraya tercenung, menyadari jika hujan yang datang sebentar lagi akan menbuat pemukiman kecil ini luluh lantak nantinya. Ia menatap ke atas, pada gundukan tanah yang rapuh dan batu-batunya yang besar. Batu-batu itu akan menggilas habis pemukiman kecil ini. Maka … sebelum hujan yang dikatakan sang ayah, ia harus lebih dulu bertindak. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN