48. Hal Yang Mengejutkan – II

1324 Kata
48. Hal Yang Mengejutkan – II “Kanjeng Naraya! Saya bawakan buah sawo manis buat Kanjeng!” Monyet kecil itu menyerahkan sebutir buah sawo kepada Naraya. Kendati diterima dengan tatapan agak aneh, tetapi ia cukup senang karena pemberiannya diterima dengan baik. “Kamu harus membiasakan diri dengan mereka. Monyet kecil itu hanya satu dua monyet yang berbaik hari kasih kamu buah. Kalau monyet lain bisa lain lagi ceritanya. Mereka mungkin akan menggelayutimu ke mana-mana dan bermanja-manja. Terkadang mereka juga akan berkeluh kesah dan memintamu mengabulkan permohonan mereka. Jadi … jangan kaget kalau semisalnya mereka akan melakukan itu kepadamu lain kali,” ujar ayahnya. Posisi mereka saat ini berada di alam siluman dan Naraya mendapatkan latihan yang entah hari ke berapa. Setelah menyadari setiap sesi latihan dengan ayahnya begitu menyenangkan, Naraya seolah kehilangan konsep hari. Ia menikmati latihan ini dan tidak ingin berakhir dengan segera. Terlebih lagi setelah menyadari bahwa ayahnya lebih membutuhkan bantuan daripada apa pun, tak ada alasan baginya meninggalkan sang ayah. Dan lagi, dengan berlatih di sini juga akan meningkatkan kekuataannya bukan? Maka dengan begitu ia bisa melindungi seluruh anggota keluarganya. Termasuk dalam daftar itu ialah ibu, kedua simbah, serta ayahnya. Namun … syarat dan ketentuan berlaku, jika ada sesuatu yang terlalu berat untuk ditangani, mungkin rencana minggat dan kembali ke ibukota tetap akan dijalankan. “Ya … aku sendiri juga enggak bisa menolak monyet kecil itu. Dia kasihan karena sudah tidak punya kawanan lagi. Orang tua dan saudara-saudaranya sudah tidak ada, pastilah ia merasa kesepian.” “Monyet kecil itu bukan hanya satu-satunya yang mengalami hal sama. Banyak satwa-satwa lain kehilangan anggota kawanan mereka karena manusia. Padahal merekah sudah mendapatkan banyak hal tanpa harus menyakiti. Kehidupan mereka sempurna, tetapi tetap saja melakukan hal-hal keji semacam itu hanya karena alasan-alasan sepele.” Ayahnya mungkin sedang sensi karena akhir-akhir ini kabar perburuan monyet kembali terjadi. “Ayah bisa bicara seperti itu karena tidak tahu. Banyak monyet yang menyerang ladang, mencuri makanan, dan mengganggu di lingkungan tempat tinggal. Kalau keluarga yang ladangnya atau persediaan makannya yang dicuri itu berkecukupan, mereka pasti tidak akan terlalu mempersalahkan makanan mereka diambil sedikit. Tapi kalau berasal dari keluarga sulit yang sering merasa kekurangan, tentu saja pencurian-pencurian kecil itu sangat merugikan mereka.” Naraya tidak ingin ayahnya hanya menilai dari satu sisi, tetapi ayahnya selalu memiliki argumentasi lain. “Manusia selalu datang terakhir, tetapi mereka selalu mengklaim segalanya untuk diri mereka sendiri. Dan itu sudah mereka lakukan selama ribuan tahun lamanya. Ah, sudahlah. Kalau kita membahas ini akan jadi arguman tidak ada habisnya. Mari kita lakukan hal lain yang lebih penting dulu.” Ayahnya tidak ingin membuat suasana menjadi buruk, walaupun sebenarnya suasana hati Naraya sudah lebih dulu jelek karena perkataan sang ayah sejak awal. “Ayah pernah meminta tolong padamu untuk memperkuat akar-akar pohon bukan. Ayah akan mengajakmu ke tempat itu,” sambung ayahnya kemudian. “Aku ingin tahu seburuk apa keadaannya sampai-sampai Ayah menyebut terus-terusan tentang kekejian manusia. Semoga tidak seburuk yang aku bayangkan.” Maka dengan itu, berangkatlah mereka ke lokasi yang tidak terlalu jauh dari jalan raya, tetapi termasuk cukup sepi karena tidak ada perumahan warga. Itu adalah lokasi yang cukup luas untuk dijadikan pabrik. Naraya menduga seperti itu karena ada beberapa tiang-tiang besi yang selalu digunakan untuk membangun gedung baru. Ada plakat tanah dijual yang buram ditutupi lumut, dan sisa-sisa pembangunan. Mungkin tempat ini sudah ditinggalkan karena suatu hal. “Awalnya tempat ini mau dijadikan pabrik konveksi kecil. Banyak yang senang karena ada tempat baru untuk bekerja. Tapi pabrik konveksi itu gagal dibangun karena pemilik tanah yang baru meninggal dan tidak memiliki dana lagi untuk membangun. Maka … seperti yang kau lihat ini. Tanah lapang ini menjadi kosong dan tidak berpenghuni. Padahal mereka sudah menebang banyak pohon, termasuk juga mengikis batuan-batuan di bukit untuk memperluas lahan, sekarang lihatlah ke sana,” titah ayahnya kemudian sambil menunjuk tanah yang meninggi. Mungkin itu yang dimaksud ayahnya jika longsor akan berakibat buruk kepada orang-orang. Namun, mereka berada di lokasi yang cukup jauh dari pemukiman warga. Kalaupun terjadi longsor, tidak akan mengenai orang-orang di bawah bukan? “Kau pasti berpikir kalau terjadi kelongsoroan, tidak akan berakibat buruk bagi orang-orang di sekitar sini bukan? Tapi kau harus melihat agak jauh. Kita akan naik sedikit dan melihat rumah-rumah kecil di atas sana.” Iswara yang selalu menggunakan wujud manusia di depan Naraya mengubah wujudnya menjadi monyet lantas duduk di leher sang putra seperti anak kecil minta digendong di pundak. Melihat sisi lucu ayahnya, Naraya tak kuasa menahan tawa. “Maaf, Ayah. Tapi melihat Ayah seperti ini, aku merasa seperti sedang menggendong anak kecil. Jangan lakukan hal yang membuatku geli, ya.” Di bawah instruksi ayahnya, mereka berdua tiba di sebuah tempat yang kiri dan kanannya dipenuhi dengan rumah-rumah kayu. Tidak ada yang berdinding bata di sana. Beberapa orang berusia uzur duduk di depan rumah, di atas dipan kayu yang keras alih-alih kursi yang empuk. Naraya sempat memberikan sapaan kepada mereka sebelum disuruh ayahnya makin naik ke atas. Hingga mereka tiba di tempat yang dipenuhi pepohonan nyaris mati. Bebatuan besar juga teronggok seperti mainan yang dijereng anak-anak sembarangan. “Kau sudah lihat kalau tempat ini diisi oleh orang-orang tua bukan? Itu karena orang-orangnya yang lebih muda sibuk bekerja. Kalau tidak orang tua, balita dan anak-anak. Tempat ini sebenarnya sejak awal sudah tidak aman karena rawan longsor. Tanah yang kita pijak ini bisa jatuh ke bawah kapan saja, bahkan ketika hujan biasa turun. Pepohonan di sini nyaris mati, itu karena kesalahan Ayah yang tidak terlalu memperhatikan mereka.” Ayahnya bicara menggunakan telepati, maka Naraya juga harus membalas dengan cara sama. “Oh … jadi Ayah memintaku memperkuat akar-akar pohon ini untuk menahan tanahnya lebih lama? Tapi yang aku lihat masalahnya di sini adalah, tanah ini sebenarnya masih cukup kuat. Mereka tidak akan bergeser ke mana pun selama ada bebatuan yang menahan mereka.” Ayahnya kembali menggeleng. “Batu-batu itulah yang akan merusak perumahan kecil ini, Nak. Bayangkan jika tanahnya bergeser … lalu batu-batu itu ikut menggelinding dan menghantam rumah. Yang ada mereka akan menghancurkan rumah. Sebentar lagi akan turun hujan deras semalaman, sebelum musim hujan yang sebenarnya datang, selalu ada hujan sebelum memasuki musim hujan itu sendiri. Malam nanti, ketika orang-orang tengah tertidur lelap … aka nada hujan deras yang bisa menyapu perumahan kecil ini dalam semalam.” Naraya sebenarnya sangsi. Masa ayahnya menjadi ahli cuaca mendadak. “Bagaimana bisa Ayah tahu kalau nanti malam ada hujan? Ayah ini kan bukan peramal.” “Itu namanya insting. Sebelum hujan deras itu, Ayah seolah mendapatkan firasat. Mungkin inilah pesan yang diberikan alam. Setelah menyadari jika nanti malam akan datang hujan, Ayah segera terpikirkan tentang tempat ini lebih dulu. Apakah kau tidak kasihan dengan orang-orang di sini? Mereka semua berada di bawah garis kemiskinan. Orang-orang tua tidak berdaya, serta anak-anak yang untuk bersekolah saja mereka kesusahan. Apa kau tidak kasihan pada mereka?” Ayahnya sengaja menarik simpati Naraya untuk ini. Ia bukannya tidak kasihan. Tapi ia belum mempercayai kebenaran kata-kata ayahnya. Oke … ia pernah mendengar jangan pernah melawan orang tua yang memiliki pengalaman hidup lebih banyak dibandingkan dengan dirinya. Ayahnya kemungkinan besar memang mendapatkan firasat tentang hujan deras dan kemungkinan akan meluluhlantakkan tempat ini. Ia memaksakan diri percaya. “Oke, oke. Akan aku lakukan. Tapi ketika hari sudah gelap dan tidak ada orang di sekitar sini. Masih ada banyak orang berlalu lalang, aku hanya tidak ingin disebut gila karena membawa monyet ke mana-mana.” Maka berakhirlah obrolan itu. Naraya memutuskan tidak berdebat lagi denagn ayahnya. Ia memperhatikan dulu daerah sekitar sembari dipotret, ia juga butuh menilai daerah mana yang harus diperhatikan nanti. Namun, ketika ia sedang meneliti beberapa pohon, ia menemukan sesuatu … terlalu mengejutkan untuk dilihat. Seorang anak kecil yang tengah tertidur di dalam lubang pohon. Dan ia melihat jika di kepala anak itu tumbuh sebuah tunas. “Ayah melihat apa yang aku lihat bukan?” tanya Naraya kembali dalam mode telepati. “Apa? Ayah tidak melihat apa pun selain pohon berlubang.” Lalu … yang sedang ia lihat ini apa? |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN