47. Hal Yang Mengejutkan – I

1159 Kata
47. Hal Yang Mengejutkan – I Pertemuan mereka berlangsung secara rahasia. Bisma telah menyiapkan mental, berjaga-jaga jika dukun itu menguras uangnya lebih banyak daripada perkiraan. Dan, sebagaimana dugaannya, pria yang sering disebut sebagai Mbah Semprul itu memesan menu paling mahal dan tak lupa juga memanggil biduan. Bisma sempat mengira undangan ini menjadi perbincangan rahasia, tetapi malah berakhir menjadi acara dangdut kecil-kecilan. Dengan ia dan Mbah semprul yang dihibur dua biduan berpakaian minim dan menonjolkan “lemak” di bagian-bagian tertentu. “Saya masih di bawah umur tapi udah diajak main ke tempat kayak gini. Kalo Bapak tahu, saya bisa dibogem lagi sampai babak belur.” Bisma sama sekali tidak menyentuh minuman keras yang sengaja dihidangkan untuk mereka. Minuman-minuman itu masuk ke perut Mbah Semprul dan dua biduan sewaannya. Minum seperti ini, Bisma pernah melakukannya beberapa kali dan ia tidak pernah merasa salah jika melakukannya dengan Atim dan Udin, atau dengan kawan-kawan sejawat lain. Seolah mereka tidak pernah mengenal konsep dosa ketika bersentuhan dengan minuman beralkohol. Namun, dengan adanya Mbah Semprul, udara yang terhirup di ruangan ini seolah-olah dipenuhi dengan kemaksiatan. “Haha, emangnya aku ndak tahu kalau pemuda macam kamu ini juga suka beginian? Tapi, emang harus diakui kalau bapakmu itu terlalu ringan tangan. Apalagi sama anak lelaki satu-satunya. Padahal cuma kamu yang bakal jadi penerus bisnisnya, tapi kamu ndak pernah dapat perhatian yang setimpal.” Bisma enggan menjawab, raut wajahnya dipenuhi mendung dan juga petir. Itu berarti umpan Mbah Semprul berhasil. Cara paling mudah untuk mempengaruhi seseorang adalah mengusik sisi lemah mereka dan untuk Bisma adalah dengan membicarakan betapa buruknya hubungan dengan sang bapak. Bapak yang bahkan menempatkan anak di istrinya di belakang perempuan lain. Dan kebetulan pula perempuan lain itu adalah ibu dari orang yang teramat Bisma benci saat ini. Mbah Semprul lantas meminta kedua biduan itu meninggalkan ruangan setelah menyelipkan beberapa lembar seratus ribuan di kemben dan rok mereka. “Aku tahu kalau kamu benci banget sama perempuan itu dan anaknya. Ya … siapa yang ndak bakal marah kalau bapak yang selama ini disayang malah limpahkan perhatian ke orang lain. Apalagi yang ndak ada hubungan darah. Siapa pun juga bakal tahu kalau bapakmu itu masih cinta sama perempuan itu, ada gosip juga yang menyebar kalau bapaknya Naraya itu adalah bapakmu.” Gelas yang semula teronggok di meja melayang ke dinding, pecah berkeping-keping. Bagus, amarah dan kebencian Bisma makin terpancing. Pemuda itu seperti seekor kera yang teritorinya diusik. Napas berat dan tatapan seolah bisa membunuh seseorang kapan pun. “Jangan bicarakan soal gosip enggak jelas itu. Dilihat dari mana pun, enggak ada mirip-miripnya antara bapak saya sama Naraya.” Mbah Semprul terkekeh. “Hoho, gosip itu memang cuma gosip. Sama sekali ndak bisa disebut benar. Entah siapa yang nyebar, tapi orang yang menyebarkan gosip itu pantas kamu berikan pukulan. Tapi … mari kita buang sejenak tentang itu. Kamu juga tahu kalau semua masalah yang kamu hadapi saat ini berawal dari kepindahan Naraya ke sini bukan? Cewek yang kamu suka malah dekat sama dia, bapakmu selalu bela dan lindungi dia, ibumu sama bapakmu makin sering bertengkar. Satu-satunya solusi ya … menyingkirkan mereka dari sini. Itu satu-satunya jalan terbaik. Aku emang ndak bisa langsung kasih solusinya. Tapi … ada baiknya kalau kamu tahu rahasia terdalam soal mereka berdua, si ibu dan anak yang bikin hidup kamu susah.” Mata Bisma berkilat ketika Mbah Semprul mengatakan hal demikian. “Sudah saya duga kalau perempuan itu bersekutu sama siluman dan pakai pesugihan. Dia pasti juga pakai mereka buat lindungin Naraya dari hal apa pun.” Mbah Semprul menggeleng pelan. “Dugaanmu juga salah. Tapi … kamu akan tahu kalau melakukan yang aku suruh.” Firasat buruk Bisma tidak berhenti sampai di sini. Pria ini memang menginginkan sesuatu yang tidak baik darinya. Entah apa pun itu. Ia dibuat tercenung ketika Mbah Semprul mengeluarkan sebuah botol bening berisi cairan kemerahan. “Ini yang akan kamu lakukan nantinya. Berikan ini ke Naraya dan kamu akan tahu apa yang nanti terjadi.” “Ini bukan cairan sianida, ‘kan?” Bisma menyipitkan mata, lebih mempercayai jika botol di depannya sebagai bahan kimia daripada hal-hal klenik. Siapa tahu Mbah Semprul sebenarnya penipu yang menggunakan berbagai macam tipu muslihat untuk melancarkan aksinya? Mbah Semprul tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia mengambil lagi botol itu lalu meminum isinya. Bisma tentu kaget menyaksikan perbuatan Mbah Semprul. Salah-salah, kalau pria itu mati di sini, ia juga yang kena. Namun, tidak ada yang terjadi. Ia baik-baik saja. “Ini cuma pahit, tapi sama sekali ndak membahayakan manusia. Ini ramuan khusus yang pernah aku buat untuk melumpuhkan penunggu gunung. Ini bukan sembarang ramuan.” “Penunggu … apa maksudnya?” “Kamu akan tahu nanti. Yang perlu kamu lakukan cuma kasih dua atau tiga tetes aja isi ramuan ini ke minuman anak itu. Dalam jumlah kecil, ramuan ini akan memaksa bocah itu mengeluarkan sesuatu dalam dirinya. Terserah mau kamu lakukan di tempat yang banyak orang atau tempat yang lebih sepi. Ingat … hanya dua atau tiga tetes, lebih dari itu … kamu mungkin berada dalam bahaya.” Kendati ragu, pada akhirnya Bisma memasukkan botol tersebut ke dalam tas. Mendapatkan tugas seperti ini, asumsi bahwa Naraya dan ibunya merupakan pelaku pesugihan menjadi semakin berlipat ganda. “Tapi saya enggak bisa melakukan ini dengan cepat. Rasanya kayak melakukan percobaan pembunuhan sama orang.” “Makanya tadi aku bilang ndak lebih dari dua atau tiga tetes, ‘kan? Semakin banyak jumlah yang kamu berikan, semakin mengancam nyawa anak itu juga. Kamu bisa dalam masalah besar nanti,” imbuh Mbah Semprul. Bisma mengangguk-angguk paham. Ia harus melakukan semua ini dengan rapi. Jika tidak, maka ia sendiri yang akan dalam masalah. “Oke … saya paham. Cuma ini yang mau disampaikan ke saya, ‘kan? Kalau gitu, saya mau pulang. Biar tagihan semuanya saya yang bayar.” Mbah Semprul mendecih. “Aku suruh orang lain buat melakukan sesuatu. Masa aku juga yang bayar. Tenang aja, semua ini aku yang bayar. Kamu tinggal pulang.” Bisma kembali dibuat tercenung. Jika orang mata duitan seperti Mbah Semprul sampai melakukan ini, maka pria itu benar-benar memiliki niat yang kuat. Pada akhirnya Bisma meninggalkan Mbah Semprul—sepeninggal Bisma, dua biduan tadi kembali menyusul masuk—dengan berbagai kekhawatiran menggelantungi kepala. Sebenarnya … apa yang diinginkan pria ini dari Naraya? Jika yang diinginkan Mbah Semprul adalah untuk memacing monyet besar yang waktu itu, bukankah ini terlalu berlebihan? Apa pula yang diinginkannya dari itu? Mungkinkah … ia ingin menjadikan siluman monyet itu menjadi pelayannya? Sebagaimana yang ia dengar dari desas-desus di antara bapaknya dan Pak Taufik? Ah … sudahlah. Toh melakukan apa yang disuruh Mbah Semprul tidak merugikannya. Ia mungkin akan mempermalukan Naraya di depan umum. Apa yang akan dikatakan oleh Kalia jika tahu laki-laki yang selama ini ia dekati ternyata pelaku ilmu hitam? Bisma semakin tidak sabar bertemu dengan Naraya. Besok. Ia akan melakukannya besok. Kalau tidak lebih dari dua tetes akan aman saja, ‘kan? Ia tidak akan menunda-nunda lagi jika berkaitan dengan menjebloskan Naraya dalam kehidupan sekolah yang buruk. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN