46. Pertemuan – III

1156 Kata
46. Pertemuan – III Bisma tidak pernah menyangka akan bertemu dengan guru spiritual Pak Taufik. Kepala desa sekaligus ayah dari perempuan yang mati-matian ia taksir. Hanya saja skenario hidupnya tidak semulus FTV yang sering ditonton sang ibu. Gadis pujaan hati malah mendekati lelaki lain. Ketika guru spiritual itu mendatangi dengan sebuah pertanyaan tidak jelas, awalnya Bisma mengira bahwa ia hampir ditipu. Namun, ketika Kalia mengenali pria tadi, barulah Bisma merasa yakin akan menemuinya lagi. Walaupun ia sendiri tahu bahwa pria itu mata duitan. Selama tidak mengacau selama beberapa minggu ini, uang saku dan sepeda motor aman. Berbekal nomor telepon sang pria, Bisma melakukan panggilan rahasia lewat tengah malam. Kendati tidak sempat bertanya apakah pria itu masih bangun, ia nekat memencet tombol panggilan dan mendapatkan balasan tak lebih dari dua detik kemudian. “Halo anaknya juragan mebel. Bapak kamu selalu bisa bikin kursi yanga bagus.” Suara pria itu menembus telinga Bisma, memberikan sedikit ketidaknyamanan. “Maaf, kayaknya saya lancang telpon jam segini. Saya bakal tutup—“ “Untuk ukuran orang yang enggak pernah bersikap sopan santun ke orang lain. Bicara dengan sebutan ‘saya’ udah bikin aku tahu kalau kamu pasti ndak mau terlibat lebih dalam sama aku. Ya … enggak masalah juga, toh banyak orang sebenarnya cari-cari aku buat konsultasi dan mereka bersedia bayar. Kamu yang telpon gratisan kayak gini pasti bakal menyesal kalau tahu siapa-siapa aja yang udah aku tolak konsultasinya.” Bisma mengulum air liurnya takut. Pria ini seolah bisa menerka isi kepalanya. “Oke, gue sebenarnya enggak paham kenapa lo tiba-tiba aja bilang punya masalah atas semua masalah gue. Kalau begitu apakah Anda nyaman?” Pria di seberang telepon tertawa. “Lebih enak pakai ‘saya’ aja kalau gitu. Mengurangi kesan ngegasnya. Haha, galak banget kayak bapaknya.” Lawakan itu tidak memperbaiki suasana hati Bisma yang telah telanjur buruk. “Jadi … apa yang Anda maksud dengan mempunyai solusi untuk masalah saya? Anda tidak mungkin mendatangi saya lalu mengatakan itu jika tidak memiliki alasan kuat bukan? Anda seorang dukun, wajar kalau tahu hal-hal yang bahkan belum dikatakan orang secara langsung.” “Kamu harus tahu siapa sebenarnya anak pindahan itu dan mendapatkan cara untuk menyingkirkannya dari tempat ini. Dia bukan hanya jadi ancaman untuk hubungan asmara kamu, tetapi juga binis mebel bapakmu, serta menyulitkan calon mertuamu menjalankan bisnis tersembunyinya,” beber si pria. Bisma mengerutkan kening. Uh … sebutan calon mertua untuk Pak Taufik sepertinya agak terlalu berlebihan walaupun ia sendiri juga berharap hubungannya dengan Kalia akan berkembang di tahap itu. “Apa maksudnya dengan itu? Ya … dia emang menakutkan. Entah kenapa banyak monyet yang melindungi anak itu dari gangguan apa pun dan itu sedikit bikin takut dan merinding.” “Haha, temui aku besok. Di rumah makan dekat waduk. Ambil ruang VIP, kita harus banyak bicara.” Bisma menimbang-nimbang sejenak, butuh beberapa detik sebelum akhirnya menjawab ‘iya’. Panggilannya dengan guru spiritual Pak Taufik sedikit banyak membawa kembali perasaan tidak menyenangkan itu. Bapaknya sendiri juga berkonsultasi dengan dukun yang satu ini, tetapi mengapa perasaan tidak menyenangkan itu tetaplah ada? Ia mengingat-ingat kembali jam dan lokasi pertemuan, tak lupa mengecek saldo di rekeningnya. Orang semacam dukun itu tidak akan puas dengan makanan murah saja. *** “Kamu tidak sadar kalau anaknya teman Ayah sudah ada di sekolahmu?” Iswara mendatangi Naraya ketika pemuda itu bersiap-siap tidur. Ia baru saja menyelesaikan menulis puisi yang diminta oleh guru dan ekskulnya Kalia. Khusus hari ini, ia dan ayahnya memang tidak bisa bertemu. Ada serangkaian acara melelahkan di sekolah di mana ia pulang lewat dari jam lima dan tidak sempat menemui ayahnya. “Aku enggak tahu. Hari ini ada banyak acara yang harus aku lakukan, aku sama sekali tidak merasakan energi dari orang yang seperti diriku di sana. Mungkin karena aku sendiri yang tidak bisa merasakannya.” Ayahnya menggeleng. “Bukan karena kamu tidak bisa merasakannya. Tapi karena dia terbiasa menyembunyikan energi itu. Kalian juga mendapatkan tamu menyebalkan di sana. Maka dari itu ia menyembunyikan energinya. Karena kau masih terhitung anak baru, tentu saja kau belum menyadari keberadaannya.” “Uhm … tamu menyebalkan yang sebelumnya Ayah maksud itu siapa?” Iswara menjawab dengan raut wajah agak tegang, “Itu dukun yang nyaris membunuh Ayah. Ia masih muda dan berbakat, sampai-sampai memiliki beberapa siluman  yang dijadikan pelayan pribadinya. Dia sungguh merepotkan. Untuk memukul mundur orang itu, harus banyak-banyak menyusun taktik. Kalau bukan Sarpa Kencana, Ayah betulan mati waktu itu.” “Tapi .. kenapa orang itu mendatangi sekolah?” “Ya… pihak sekolahmu mungkin merasa terganggu dengan hal-hal yang Ayah lakukan untuk melindungimu beberapa waktu lalu dan kau sendiri juga sedikit banyak menarik para monyet. Bukannya kau sudah punya satu anak monyet yang mengikuti ke mana pun kau pergi? Karena itulah pihak sekolahmu mengusahakan hal untuk melindungi sekolah dari Ayah. Akan semakin sulit ke depannya untuk menemuimu.” Naraya mengembuskan napas lelah. “Ah … aku tak tahu kalau situasinya akan menjadi sepelik ini. Dan lagi ... orang yang Ayah sebut tadi, aku sama sekali tidak tahu. Kami tidak bertemu.” “Hmm, benarkah? Padahal anak itu cukup menonjol loh. Dia punya mata biru seperti bapaknya yang londho dan tingginya melebihi yang lain. Masa kau tidak tahu.” Mendengar penjelasan ayahnya, semua ciri-ciri itu menghubungkan Naraya pada murid dari sekolah lain yang berkunjung ke sekolah. Mata biru, keturunan kaukasia, dan bertubuh tinggi. Kenapa semua ciri-ciri itu sangat tepat dengannya, ya? “Uhm … kayaknya aku tahu yang Ayah maksud. Tapi kalau betulan orang itu, aku juga enggak tahu orangnya. Coba deh nanti aku tanya sama Aditya. Semua ciri-ciri yang Ayah bilang tadi persis sama anak dari sekolah lain yang berkunjung ke sini. Namanya siapa, ya? Nathair?” Ayahnya menjetikkan jari. “Nah, itu. Anak yang namanya susah. Katanya dia juga pernah menghubungi kamu lewat ponsel. Tapi kamu susah dihubungi.” “Ya … enggak salah lagi. Aku kan emang enggak terlalu aktif di medsos. Makanya aku sama sekali enggak tahu. Ya, sudah. Nanti aku cek aja pesan di medsos. Ayah sekarang balik ke gunung aja, ya. Aku mau tidur. Ini udah lewat jam dua belas. Besok aku masih harus sekolah.” Mendapatkan pengusiran. Iswara tidak dapat berbuat apa-apa selain menuruti saja kemauan putranya. Naraya sendiri masih penasaran dengan orang itu, Nathair. Mendadak ia teringat akan beberapa teman di forum pecinta buku yang memiliki nama unik. Lalu, sebuah nama pengguna melintas di kepalanya sebelum Naraya benar-benar tertidur. Nath_Air, pecinta buku, ular, dan air. Kenapa nama itu terdengar lucu, ya? Sebelum Iswara meninggalkan kamar Naraya, ia sempat menyelinap masuk ke kamar Esti. Perempuan itu tertidur di meja kerja. Sungguh perempuan pekerja keras. Untuk ke sekian kalinya, sang penguasa gunung kembali mendapati energinya di dalam tubuh perempuan itu bekerja dengan baik. Itulah mengapa Esti tidak pernah kelelahan kendati telah bekerja seharian penuh dan tidak pernah sakit parah. Pria itu meletakkan selembar selimut di punggung Esti. “Maaf … aku terlalu pengecut buat mengatakan yang sebenarnya.” Maka dengan itu, Iswara menghilang di tengah gelapnya malam. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN