45. Pertemuan – II
“Eh, lihat anak dari sekolah lain itu enggak? Ganteng banget sumpah. Blasteran. Kayak bule-bule gitu, matanya biru. Pinter juga. Duh … rasanya pingin pindah ke sana aja,” celetuk salah seorang siswi di kelas. Karena ia yang lebih dulu mengawali, para siswi lain ikut menimpali. Terbentuklah sebuah lingkaran kecil di mana para siswi memuji-muji orang yang sama. Obrolan mereka disambut dengan delikan tidak suka para siswa, terutama Bisma. Ia memang tipe-tipe orang yang tidak suka jika orang lain merenggut eksistensinya. Terlebih lagi Kalia juga ikut serta dalam lingkaran kecil itu.
“Ke kantin, gas! Luwe aku, do pingin es teh ora?*” Ajakan Bisma disambut meriah oleh dua kroco dan beberapa siswa lain. Jadilah kelas mereka hanya menyisakan siswi perempuan dan beberapa siswa yang tidak masuk lingkaran obrolan para siswi dan tim bolos ke kantin. Naraya dan Aditya salah satunya. Mereka bukannya terlalu rajin, hanya saja ada beberapa tugas yang ditinggalkan oleh guru. Kemungkinan guru tersebut sedang menemui guru dari sekolah lain yang bertandang. (*Aku lapar, kalian mau es teh tidak?)
“Ya … punyamu masih kurang berapa nomor? Minta contekannya, dong.” Aditya mengusik ketika Naraya baru saja menyelesaikan tugasnya. Pemuda itu menggeser saja bukunya agar bisa dilihat oleh Aditya.
“Gara-gara murid itu, satu sekolah pada heboh, ya. Guru yang lagi ngajar kita juga sampai ninggalin kelas dan kasih tugas. Emang habis ini ada acara apa?” Naraya meraih ponsel, membuka forum rekomendasi buku yang sudah lama tidak ia buka. Dengan berbagai macam kesibukan bulan ini, ia bahkan tidak sempat menyentuh koleksi buku-bukunya. Malah, bermaksud mencari rekomendasi buku baru bulan ini. Sungguh, padahal beberapa bukunya masih berlapiskan plastik dan berbau toko, tapi malah berniat membeli buku baru. Sungguh penyakit.
“Kurang tahu, sih. Tapi kayaknya bakal ada semacam olimpiade kecil-kecilan gitu. Eh … gimana jelasinnya, ya? Nanti bakal ada pertandingan antar sekolah dari beberapa kabupaten yang berbeda. Olimpiade pelajaran kayak umumnya, terus pertandingan olahraga, sama pentas kecil-kecilan. Makanya beberapa hari ini ada murid yang dipanggil buat persiapan itu. Belum resmi diumumkan sih, tapi aku yakin bakal diumumkan dua atau tiga hari lagi. Terus acaranya paling satu bulan lagi, paling lama satu setengahlah. Ini momen paling ditunggu-tunggu,” terang Aditya panjang lebar.
Naraya mengangguk-angguk. Dengan skala yang cukup besar seperti itu, tentulah akan menjadi acara yang besar. “Kalau dari kelas kita yang dipanggil paling cuma Nadya sama Kalia kan ya? Kita enggak perlu, ‘kan? Males banget kalau sampai disuruh latihan ini itu terus ujung-ujungnya ninggalin pelajaran.”
“Dih, sok rajin. Padahal enak bisa bolos kelas.”
“Tugas abis bolos yang kamu maksud itu bakalan banyak, loh. Udah capek-capek acara, nanti abis itu masih disuruh ini-itu buat nutupin jam pas bolos. Capeknya dobel.”
“Halah, kalo aku yang disuruh sih bakalan seneng-seneng aja. Wahahaha ….”
Naraya menggeleng-geleng sembari memasang senyum miring. Kawannya yang satu ini memang sangat mencintai jam kosong dan kesempatan untuk melewatkan kelas. Baru saja hendak bersantai sejenak, Kalia dan Nadya malah mendekati meja Naraya.
“Naraya, kamu suka bikin puisi, ‘kan?” tanya Kalia.
“Uhm … pernah sih, tapi udah lama. Jadinya sekarang agak kagok. Ada apa, ya?”
“Gini, guru-guru bermaksud buat bikin penampilan panggung yang beda dari sebelumnya. Kalau biasanya cuma menampilkan tarian, langgam-langgam Jawa, dan karaoke para guru, tahun ini mereka meminta kalau ada sedikit drama. Tapi … karena drama bakalan panjang dan membutuhkan latihan lebih lama, mereka minta ada musikalisasi puisi yang digabung sama pantomim aja buat hemat waktu,” jelas Nadya lagi, “kebetulan di bagian hobi kuisioner yang Pak Andi kasih, kamu kan nulisnya baca-baca novel sama beberapa buku kumpulan cerpen atau puisi, berminat enggak kalau jadi penampil di acara nanti?”
Oh, tidak. “Maaf, tapi aku enggak bisa habiskan waktu lebih lama di sekolah. Aku punya dua simbah sama pekerjaan yang harus diurus di rumah. Dan lagi aku uhm … ada sedikit urusan di—“
“Eh, ikut kali, Ya. Kan ibumu udah setuju mau ambil kerja ibuku jadi ART di rumah kamu. Pekerjaan kamu bakal diambil sama ibuku dan aku juga bakal bantu, kok. Ini kesempatan bagus buat bisa bolos, loh.” Alasan yang diberikan Aditya selalu tidak jauh dari membolos.
Naraya menggeleng lemah. “Maaf sekali, tapi ada urusan yang enggak bisa aku tinggal. Dan ini pribadi banget, kalian cari orang lain aja.”
Kalia dan Nadya saling berpandangan antara panik dan bingung dengan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Nadya pun memberikan solusi, “Gimana kalau kamu temui dulu guru-guru itu. Bilang aja enggak bisa ikut pentas, tapi bisa nulis puisi, ‘kan? Kalau misalnya kamu enggak bisa tampil, biar dari ekskulnya Kalia yang ambil. Tapi kamu bantu tulis puisinya aja, gimana?”
Naraya tidak memiliki banyak pertimbangan untuk ini. Ia hanya akan menulis puisi, itu saja. Setelah menarik satu napas panjang dan mengembuskannya, Naraya setuju dengan tawaran itu. Namun mereka tetap harus menemui guru yang dimaksud. Naraya beserta kedua murid pentolan kelasnya itu akan berdiskusi mengenai ini di ruang guru, meninggalkan Aditya yang masih menyalin rugas Naraya. Sepeninggal mereka, seseorang berhenti di pintu kelas, menciptakan sedikit keributan. Pemuda yang sedari tadi jadi pusat obrolan mereka berdiri di depan pintu sembari mengutak-atik ponsel.
Matanya yang sejernih laut melirik ke dalam kelas. Lalu ia menyadari bahwa orang yang tengah dicari sudah tidak ada. Begitu menggulirkan pandangannya ke sisi lain kelas, para siswi menyambutnya dengan wajah malu-malu dan menahan teriakan heboh. Ia tersenyum, lalu meninggalkan bagian depan kelas tersebut diiringi pekikan yang sempat ditahan para siswi. Ia sempat mendengar sebutan ganteng, tinggi, pintar, kayak artis, dan lain sebagainya. Pemuda itu masih memusatkan mata pada layar ponsel. Pesan yang ia kirimkan pada salah satu akun di forum belum juga terbuka padahal sudah lewat dua minggu.
“Hmm … aku penasaran kayak apa anaknya Rewanda Iswara itu.” Ia bergumam sembari menempelkan ponsel ke telinga. “Aku bisa merasakan energinya, tapi dia tidak merasakan keberadaanku di sini. Mungkin benar kata Ibu kalau dia masih pemula dan belum bisa melakukan banyak hal.”
Jangan terlalu terburu-buru, kalian akan bertemu suatu saat nanti. Kau akan pulang sehabis ini, ‘kan?
“Iya, aku akan kembali. Pertemuan sudah berakhir dan kami harus kembali sekarang. Tapi anak itu, aku juga belum bisa mengontaknya lewat sosial media. Dia bukan tipe-tipe orang yang aktif di sosmed.”
Jaga diri. Kau tahu juga kalau musuhnya Iswara sedang aktif lagi. Semoga saja kalian tidak bertemu. Padahal Ibu ingin kau menemui ia sebentar, kau sering diasuh dia saat kecil. Tapi kalau waktu tidak memungkinkan, ya … jangan dipaksakan.
“Baik, Bu. Aku putus di sini.” Pemuda itu menatap lagi ponselnya lamat-lamat. “Hmm, aku ingin tahu seperti Apa Naraya itu sebenarnya. Putra dari Kanjeng Rewanda Iswara.”
***
Bisma selalu membenci peringatan bapaknya. Tidak boleh menyakiti Naraya dan keluarganya. Ibunya sendiri tidak suka jika ayahnya terlalu perhatian pada keluarga itu, terutama kepala keluarga saat ini, Esti Wigati. Oke, ia membuat asumsi sendiri bahwa mereka bertiga dahulu sekali mungkin terlibat hubungan cinta yang menyebalkan. Ibunya menyukai bapaknya, bapaknya menyukai ibunya Naraya, dan ibunya Naraya tidak menyukai bapaknya. Sebuah hubungan klise. Namun, seklise apa pun hubungan itu, tetap saja memantik amarah Bisma.
Bapaknya tidak ada hubungan dengan Esti lagi, sudah ada Bisma dan ibunya. Kenapa harus repot-repot melindungi keluarga orang lain? Ia tentu ingin marah dan membangkang, tetapi ancaman ayahnya lagi-lagi berkaitan dengan uang saku dan menyita motor. Satu-satunya alat untuk menarik perhatian Kalia. Dan kenapa juga Kalia selalu mendekati Naraya?! Uh … membayangkannya kembali menyulut amarah Bisma.
“Oi, Mas. Jenengan ketingale enten masalah. Pengen tak paringi solusi mboten?**” (**Oi, Mas. Sepertinya Anda masalah. Mau saya kasih solusi tidak?)
Seorang pria berpenampilan necis mendatangi meja Bisma. Ia merasa tidak asing dengan orang ini tetapi di satu sisi tidak mengenalinya. Namun … mengapa hatinya seolah berkata harus mempercayai orang ini, ya?
|Bersambung|