44. Pertemuan – I
Naraya bangun pagi-pagi sekali, melakukan beberapa kali jogging seperti biasa dan tak lupa mulai melakukan beberapa aktivitas berat seperti memanjat tebing, mengangkat benda-benda yang bahkan memiliki bobot lebih dari separuh tubuhnya, dan beberapa kali punya menceburkan diri ke sungai beraliran deras. Kalau kata ayahnya, Taka da wewenang bagi Ayah melarangmu melakukan hal-hal yang kau inginkan. Kau bahkan sudah melebihi kekuatan Ayah saat ini. Dengan berjalannya waktu, kau mungkin bisa mengubah dirimu ke bentuk separuh manusia-separuh monyet, dan bisa saja bentuk manusia monyet dalam wujud sempurna. Naraya tidak begitu antusias sebenarnya. Ia tidak ingin terlalu terburu-buru. Baru beberapa minggu melakukan latihan ekstra melelahkan itu, ia telah melampaui standar-standar yang ditetapkan sang ayah.
Di minggu pertama, ia sulit mengendalikan kemampuan bicara dengan para hewan, termasuk pula jangkauan dengarnya. Kali ini pun ia sudah lebih mahir. Waktu memang menjadi guru yang terbaik. Awal dibawa sang ayah ke tebing yang di bawahnya dipenuhi bebatuan cadas, pemuda itu lebih banyak meringis dan menangis, tetapi ia sekarang tidak memiliki ketakutan yang sama. Tepat kemarin, ketika ayahnya sedang bercanda dengan Naraya, secara tidak sengaja ia mendorong sang putra hingga terperosok ke dalam jurang. Ketika pria itu melongok ke bawah, Naraya sendiri telah memiliki caranya sendiri menyelamatkan diri. Ia bukan lagi pemuda yang waktu itu melihat alam siluman untuk pertama kalinya.
Dengan kekuatan menumbuhkan tanaman, ia menumbuhkan akar-akar dan menjadikan mereka sebagai tali tambang. Di lain waktu, Naraya juga bisa memanjat pohon hanya dengan beberapa kali lompatan dan Aditya cukup kaget ketika menyaksikan kawannya secara tiba-tiba jago memanjat pohon padahal Naraya sendiri sering mengeluhkan jika sekolah mereka terlalu tinggi dan ia dibuat pusing karenanya. Butuh beberapa kali mentraktir pemuda satu itu jajan di beberapa warung bakso dan seblak untuk merahasiakan tentang hal ini. Bisma tentu akan menggunakan momen ini untuk memperkuat tuduhan kalau ibu menggunakan pesugihan siluman monyet. Uhm… sebenarnya, alih-alih pesugihan, sebutan yang tepat untuk menggambarkan hubungan ayah dan ibu.. ah… Naraya enggan memberikan sebutan. Hubungan mereka berdua terlalu kusut, berbelit, dan ia berada di antara benang tidak teratur itu.
“Kamu dengerin aku ngomong enggak sih, Ya? Dari tadi diajakin ngobrol malah diam aja. Dengerin enggak sih?” Aditya akhir-akhir ini juga semakin banyak bercerita, kebanyakan berkeluh kesah. Dan Naraya tidak terlalu ambil pusing dijadikan tempat curhat. Hal yang banyak dikeluhkan oleh Aditya adalah tentang bagaimana ayahnya yang bekerja sebagai penambang batu semakin kesulitan mendapatkan pesanan. Orang-orang mulai menemukan alternatif penggunaan batu. Dan karena itu pula perekonomian keluarganya menjadi semakin sulit. Tak jarang pula ia membahas tentang daerah di luar kabupaten mereka yang sungainya tercemar. Dipenuhi dengan banyak busa, airnya menjadi keruh dan berbau seperti detergen.
Sungguh, topik-topik pembicaraan yang diberikan oleh Aditya tak jauh-jauh dari kehidupan rakyat ekonomi kelas ke bawah, beserta dengan krisis alam. Anak muda pada umumnya tidak akan mengangkat topik ini. Sejauh lingkaran pertemanan Naraya yang sempit, hanya mereka yang pada dasarnya memiliki perhatian lebih pada kedua hal tersebut menjadikan topik ini sebagai pembicaraan serius. Misalnya saja pemerhati lingkungan atau dari relawan keluarga harapan dan lain sebagainya. Aditya memang cukup berbeda dari anak-anak lain karena tidak memiliki gawai secanggih remaja pada umumnya, serta tidak begitu tertarik dengan percintaan. Cinta tak jauh-jauh dari membuang uang, sekiranya itu yang dikatakan Aditya suatu hari.
“Maaf, akhir-akhir ini lagi banyak pikiran. Simbah-simbahku punya rencana buat sewa asisten rumah tangga. Mereka kasihan lihat aku selalu menggantikan pekerjaan rumah, padahal membagi waktu antara sekolah dan urusan rumah tangga itu sangat melelahkan. Kalau kamu ada rekomendasi asisten rumah tangga, bilang aja sama mereka. Ibuku enggak masalah keluarin uang sejuta atau dua juta sebulan buat asisten rumah tangga.” Naraya memang pernah mendengar kalau kedua simbahnya ingin menyewa asisten rumah tangga dan ibu menyetujuinya, tetapi ibunya sendiri belum menemukan juga seseorang yang tepat untuk pekerjaan itu.
Mata Aditya berbinar. “Hei… gimana kalau ibuku aja yang ambil pekerjaan itu? Lumayan kan rumah kita deketan. Nanti ibuku bisa pergi ke rumahmu cepat banget. Gak ada yang namanya kerja menginap. Dan lagi… aku juga bisa membantu. Aku yang bakal cari pakan kambing, terus cari kayu juga.”
“Haha, nanti ngomonglah langsung sama ibuku—“
Naraya tidak melanjutkan kalimatnya, ia tercenung sejenak ketika menyadari sesuatu dengan hawa tidak menyenangkan melintasi tubuhnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak mendapati seseorang yang mencurigakan, tetapi hawa tidak menyenangkan itu seolah masih melekati tubuhnya.
“Ya… enek opo?*” tanya Aditya khawatir. Pertanyaan itu dijawab dengan sebuah gelengan lemah. Mereka masih berada di sekolah, siang hari pula. mungkin itu hanya perasaannya saja. Ah, mungkin saja. (*Ada apa?)
***
Pria itu mengenakan kemeja warna mint, dipadukan dengan celana chinos warna krem, kacamata hitam, dan sepatu kulit merek desainer ternama. Dengan penampilan seperti itu tidak akan seseorang yang mengenalinya sebagai dukun. Ia mendapatkan julukan Mbah Semprul. Walaupun ia sendiri jauh lebih muda daripada panggilannya, terlebih dengan penampilan yang fashionable ini, seseorang akan kesulitan menebak profesi apa yang ia tekuni.
“Sugeng rawuh, Mbah.** Saya senang sekali Mbah mau datang karena panggilan saya. Biasanya saja Mbah susah banget dipanggil ke sini.” Kepala Sekolah menyambutnya dengan wajah berbinar sekaligus canggung. (**selamat datang)
“Ya… karena ada hal yang menarik di sini. Makanya panggilan itu ndak ditolak. Pak Kepsek sekarang pasti ngerasa kalau akhir-akhir ini penunggu gunung di sini makin meresahkan, ‘kan? Beberapa kali dia menampakkan diri dan menakuti murid-murid. Kabarnya udah sampai ke telingaku, makanya udah enggak bisa dibiarkan lagi.” Mbah Semprul melipat kacamata hitamnya, lantas dimasukkan ke dalam saku.
Kepala Sekolah mengiakan yang dikatakan Mbah Semprul. “Iya, Mbah. Betul, betul. Beberapa kali dalam sebulan ini banyak monyet yang sebelumnya anteng-anteng saja mendadak turun gunung dan lari ke sini. Rame-rame. Dan itu benar-benar menakuti para murid dan staf. Saya kira ada sesuatu yang tidak beres, makanya saya panggil Mbah ke sini atas saran dari Pak Taufik.”
Mbah Semprul tertawa. “Haha, maka dari itu aku datang ke sini. Kalau bukan karena dia yang bilang begitu, aku ndak bisa menolak. Dan lagi… di sekolah ini… aku merasakan adanya dua hal yang menarik.”
“Apa itu berbahaya, Mbah. Dengan munculnya para monyet pas pertama kali, saya udah merasa takut kalau nantinya mempengaruhi reputasi sekolah. Kalau misalnya ada lagi, saya takut sekolah ini jadi makin dijauhi terus makin sepi,” keluh Kepala Sekolah.
Mbah Semprul sesaat memejamkan mata, lalu berkata setelah membuka matanya, “Yang satu emang asalnya dari tempat ini, sementara yang lain… hmm… kayaknya enggak berasal dari sini. Tapi aku yakin betul kalau pendatang yang satu ini sama dengan yang udah mendiami sekolah ini selama sebulan ke belakang.”
“Eh, maksudnya, Mbah?”
Mbah Semprul tidak kunjung menjawab, tetapi ia memiliki firasat bagus tentang ini. Ia telah melihat anak Rewanda Iswara tadi di lorong, ia pun merasakan kehadiran anak dari siluman lain di sekolah ini. Namun, anak siluman lain ini jelas lebih pandai daripada anaknya Iswara karena tahu bagaimana caranya menyembunyikan energi dan berbaur dengan manusia lain. Namun, ia sudah menjalani pekerjaan ini selama berpuluh tahun, sehebat apa pun mereka menyembunyikan energi, instingnya sebagai paranormal lebih kuat daripada kemampuan mereka menyembunyikan diri.
“Ndak apa-apa. Aku udah berkeliling sekolah dan memasang beberapa pelindung, kalau semisalnya ada yang datang, mereka ndak akan bisa masuk ke dalam lingkungan sekolah. Tapi itu baru pertolongan pertama, aku ndak akan berbuat lebih jauh. Bayaran buat aksi selanjutnya belum masuk rekeningku.”
Mbah Semprul meninggalkan ruang kepala sekolah setelah mengobrol selama beberapa saat. Sepeninggalnya dari ruangan itu, dua orang guru dari sekolah lain beserta dua muridnya mendatangi kantor kepala sekolah. Salah satu dari dua murid itu memandangi lorong di mana Mbah Semprul lewat. Ia mencebik tidak senang.
“Nathair, ayo masuk. Ngapain kamu diam di sana?” Teguran dari guru menarik atensi pemuda berkacamata itu. Mereka berempat memasuki ruang kepala sekolah tak lama kemudian.
|Bersambung|