43. Ayah dan Cerita Tentang Seorang Teman

1219 Kata
43. Ayah dan Cerita Tentang Seorang Teman “Yah… banyak yang menginginkan Ayah mati saat ini. Kalau biasanya orang-orang menginginkan siluman untuk ditarik menjadi pelindung atau b***k mereka, maka orang-orang sudah tidak menginginkan itu lagi dari Ayah.” Iswara menjawab dengan tenang ketika Naraya menyebutkan pasal pesan misterius dari nomor asing yang mendadak masuk ke nomor ponselnya. “Kenapa?  Padahal Ayah terhitung masih kuat karena bisa melindungi gunung ini dengan kekuatan yang tidak penuh. Jika kekuatan Ayah penuh, mungkin Ayah tidak hanya melindungi gunung ini, tetapi juga menghabisi mereka yang berniat merusaknya,” cerocos Naraya. Ayahnya menggeleng. “Mereka tidak menginginkan diri Ayah, beserta kekuatan yang Ayah punya. Kekuatan Ayah sudah sampai di titik terlemah, jika energi dalam tubuh Ayah padam, maka Ayah mati. Yang berarti alam ini, gunung yang Ayah jaga ini tidak lagi mendapatkan pengawasan. Mengambil alih gunung ini dan mengeskploitasinya akan lebih menguntungkan daripada mengeluarkan banyak tenaga untuk menjadikan Ayah pelindung atau pelayan.” “Jadi… sebaiknya kuapakan saja si pengirim tidak diketahui ini?” tanya Naraya lagi. “Terserah saja, mau kau balas. Mau kau ajak kerja sama. Mau kau tipu juga tak apa. Ayah percaya dengan apa pun yang akan kau lakukan nanti.” Ayahnya selalu saja santai. Tipikal monyet yang lebih banyak bermain dan leyeh-leyeh daripada mencari makan. Terkadang Naraya memaklumi kemalasannya di sekolah merupakan bagian dari gen yang diturunkan sang ayah. Walaupun ibunya sendiri selalu menyebut ia sebagai orang yang rajin, tetapi ia lebih memilih menyelesaikan semua hal agar bisa bersantai lebih cepat. Maka dengan begitu, novel-novel dan komik-komik yang belum tersentuh itu akan terjamah lagi. Di satu sisi, ia juga orang yang malas karena menimbun banyak buku baru padahal buku-buku yang belum dibuka pembungkus plastik dan berbau toko masih tersisa banyak. “Padahal, ia adalah orang yang berencana membunuh Ayah. Kenapa Ayah begitu tenang? Kalau Ayah terbunuh… gunung ini mungkin tidak akan bertahan lebih lama. Aku juga tidak akan meneruskan Ayah karena tanggung jawab seperti itu terlalu berat untukku.” Iswara sekali lagi menjawab dengan santai, “Hmm… kau pada akhirnya juga akan mengambil tanggung jawab Ayah yang itu.” “Dari mana Ayah punya keyakinan seperti itu?” Lagi-lagi jawaban paling santai meluncur dari bibirnya, “Firasat. Ada satu hal yang peril Ayah ceritakan padamu karena ini menyangkut nyawa Ayah dan alasan mengapa Ayah masih ada di sini walaupun ketika hal itu terjadi… Ayah betul-betul hampir mati.” *** Iswara pernah menjumpai dukun itu sekali. Usianya terlalu muda untuk disebut “Mbah” tetapi kemampuannya yang menjadikan pria itu cocok dengan titel “Mbah” itu sendiri. Dia adalah pemuda pemberani dan nekat. Beberapa penunggu dalam skala lebih kecil seperti penunggu pohon atau sumur yang dibuat kabur karena perbuatannya. Sebagai entitas yang disebut-sebut paling kuat di wilayah itu, Iswara tidak terlalu peduli dengan sepak terjangnya. Toh, dukun muda itu masih terlalu dini untuk pekerjaannya yang sekarang. Namun, Iswara terlalu arogan, pemuda itu memiliki banyak cara untuk menjatuhkannya. Dan melalui tangan-tangan manusia serakah, Iswara mendapatkan peringatan paling keras. Bahwa dukun muda itu lebih kuat daripada kelihatannya. Hari di mana ia terbaring di ranjang tanpa Sugi, pemuda itu mendatangi padepokannya. Iswara bahkan tidak mampu menjetikkan jari membuka gerbang ke alam siluman. Kalaupun ia bisa membukanya, kemungkinan besar dukun itu juga akan masuk. Tak ingin memberikan peluang si dukun memasuki alam aslinya, Iswara memilih pasrah. Semoga saja keberadaannya yang lemah tidak diketahui. Namun doanya tidak didengar. Si dukun itu mendatangi Iswara dengan tatapan paling bengis yang pernah dilihatnya di antara para manusia. “Oh… jadi ini siluman yang katanya paling kuat di sini. Tapi yang kulihat sekarang tak lebih dari kera besar yang sedang sakit-sakitan. Tinggal menunggu ajal saja. Dan aku juga tidak keberatan mendekatkanmu kepada Sang Pencipta.” Ketika Iswara sudah pasrah akan datangnya kematian, ia mendapatkan bantuan tidak diduga hari itu. Dari kawan lama tentunya. Kalau bukan karena kawan lamanya, ia mungkin betulan sudah tidak ada di dunia. Si dukun memang bisa membunuh Iswara dalam titik terlemahnya, tetapi ia tidak bisa melawan siluman bernergi penuh itu. Singkat cerita, si dukun berhasil dipukul mundur dengan luka yang akan lama sekali disembuhkan. Kedatangannya menemui Iswara juga bukan karena hal penting juga, tetapi sebagai sesama orang tua, mereka sedang dipusingkan karena satu hal. Yang nyaris sama pula. “Aku sudah ndak tahu lagi mau cerita ke siapa, giliran mau cerita malah kamu dalam posisi kayak gini. Gimana aku ndak pusing to? Kawan satu-satunya yang bisa ditanya malah lagi sekarat. Untung juga aku datang makanya kamu ndak langsung mati.” Temannya yang satu ini sebenarnya tidak banyak bicara, bahkan sifat mereka berdua bertolak belakang, tetapi khusus untuk hari ini, perempuan itu menjadi seseorang yang tidak biasa. Seolah keluar dari watak asli. Di pangkuannya, seorang bayi laki-laki, yang Iswara taksir lebih tua beberapa bulan dari Naraya duduk dengan anteng. Bayi itu dan teman Iswara memiliki satu kesamaan. Sama-sama ditinggalkan pria yang mereka butuhkan sekarang. “Aku sama sekali ndak nyangka kalau pria itu bakal ninggalin aku buat balik ke negara asalnya. Padahal dia udah punya anak, loh. Anak laki-laki pula. Ganteng gini. Gimana hatiku ndak tercabik-cabik.” Perempuan itu lantas menangis dan sesekali membuang ingus menggunakan jarik yang digunakan untuk menggendong bayi di pangkuan. Iswara cukup bersyukur bisa selamat dari dukun yang hendak mencabut nyawanya, tetapi di satu sisi perasaannya masih buruk karena harus mendapati tangis seorang perempuan yang curhat setelah ditinggalkan suaminya. Ah… bagaimanapun juga ia harus berterima kasih pada temannya apa pun yang terjadi. *** “Tunggu… Ayah tidak menjelaskan dengan spesifik bagaimana teman Ayah ini mengalahkan si dukun. Ayah hanya bilang ia berhasil memukul mundur si dukun sendirian, bawa anak pula. Hanya itu saja. Aku masih belum puas kalau Ayah tidak menjelaskan dengan detail,” protes Naraya. “Dan lagi… dia adalah kawan penting Ayah, menyelematkan nyawa Ayah, dan… Ayah juga pernah menyebutkan kalau ia memberikan Ayah ramuan yang bisa digunakan untuk menawarkan racun bukan? Kalau ia memang sepenting itu, kenapa Ayah belum juga mengenalkannya padaku?” Ayahnya beralasan, “Itu karena Ayah terlalu lemah waktu itu. Untuk bergerak saja susah, masa mau melihat bagaimana mereka bertarung? Ayah juga akan mengenalkan kalian berdua kok nanti. Apalagi ia juga punya anak yang sama sepertimu. Sama-sama punya anak dari manusia dan anak itu akan mendapatkan tanggung jawab meneruskan tanggung jawab ibunya. Usia kalian berdua juga tidak terlalu jauh dan anak itu juga mudah bergaul. Kalian bisa jadi kawan yang baik seperti Ayah dan kawannya Ayah itu.” Membayangkan memiliki kawan sepenanggungan, Naraya menyambut baik ide sang ayah. “Oh, aku akan sangat senang jika bertemu dengan anak itu. Jadi… kapan Ayah bisa mengenalkanku pada mereka?” Ayahnya tampak berpikir sejenak. “Hmm, sehabis semester ini.” “Eh, kenapa lama sekali? Ini bahkan baru beberapa minggu sejak semester pertama dimulai.” “Ya… itu karena anaknya kawan Ayah ini sibuk. Dia ketua SOSIS dan—“ “OSIS, Ayah.” “Ya, itu. Dan ia termasuk siswa teladang yang rajin ikut lomba. Akan susah bagi kalian bertemu kalau bukan di hari libur. Ayah sudah menghubunginya, supaya kalian bisa lebih mudah berkomunikasi. Dengan ponsel atau apalah itu. Tapi, dia menjawab kalau anaknya itu mungkin sudah berhubungan denganmu lewat ponsel juga. Kau tunggu saja sampai anak itu sendiri yang menghubungimu.” Naraya agak mengernyit. Orang yang sejak awal susah dihubungi, kemungkinan besar adalah orang yang menyebalkan. Dan lagi… apa maksudnya mereka berdua mungkin sudah pernah berhubungan? |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN