42. Ada Mbah Dukun, Lagi Ngibulin Pasiennya, Tsah!
“Mbah… saya merasa kalau semakin hari… ada energi enggak baik yang mengikuti anak gadis saya. Padahal selama ini saya selalu menurut, mendekatkan dia sama Bisma. Tapi, kok, masih ada aja perasaan aneh yang mengganjal terkait anak perempuan saya itu.” Taufik, kepala desa beperut puncit, suka dengan lembaran uang bergambar Bapak Proklamasi, terlebih dalam jumlah banyak, sedang melakukan pertemuan rutin dengan guru spiritualnya. Alias dukun, alias paranormal. Sebenarnya, pria yang ia panggil dengan sebutan Mbah itu, juga terlalu muda untuk disebut demikian.
Pria yang diajaknya bicara sedang sibuk dengan ikan-ikan koi peliharaannya. Ya… hanya memberi makan sebenarnya, tetapi aktivitas itu lebih menarik atensinya daripada Taufik sendiri. Ia berbalik sekejap, melihat bagaimana ekspresi ketakutan kepala desa matre itu. “Ya… sekarang kamu juga harus lihat sendiri. Siapa orang-orang yang dekat sama dia. Masa sebagai bapak kamu enggak mengawasi pergaulan putri kamu. Lagi pula, anakmu itu punya aura yang bagus. Menarik lawan jenis, makanya enggak heran kalau dia diincar orang banyak. Pesan saya sih cuma satu, pastikan ia tidak lari dari Bisma. Anak itu punya aura bagus, kalau mereka berdua disatukan… bakal bawa hoki buat keluarga kalian.”
Taufik mengangguk-angguk. “Saya tahu itu, Mbah… makanya kalau mereka udah lulus SMA mau saya jodohkan saja. Tapi, Mbah… kayaknya anak saya lagi kasmaran sama laki-laki selain Bisma itu. Saya belum tahu pasti siapa anaknya, asal-usulnya juga. Tapi… Bisma sendiri bilang kalau anak laki-laki itu anak haram yang dibawa pulang dari gunung.”
MbahDukun tercenung. Anak haram yang dibawa dari gunung? Apakah gunung yang dimaksud adalah gunung mereka? Alias bukit berbatu yang dipenuhi monyet-monyet dan dinaungi kekuatan si monyet besar penunggu gunung? Maka… tidak salah lagi. Anak haram itu adalah keturunan langsung si monyet yang jadi musuh bebuyutannya!
“Anak haram itu… dari perempuan yang waktu itu ramai-ramai kalian gilir, ‘kan?” terka si Mbah Dukun yang buru-buru mendapatkan koreksi dari Taufik.
“Duh… Mbah. Itu emang benar. Waktu itu saya sama temen-temen lagi enggak bisa nahan diri. Tapi, Mbah… jangan ngomong kenceng-kenceng. Ini jadi rahasia yang enggak boleh bocor ke mana pun, bahkan si Anto, apalagi perempuan itu sendiri. Sampai sekarang, dia enggak tahu kalau saya sama kawan-kawan saya yang lecehkan dia.”
Mbah Dukun tersenyum licik. “Oh… Mbah Dukun ini enggak akan ngomong macam-macam ke orang-orang, kok. Asalkan dana untuk padepokan ini enggak pernah berhenti mengalir. Itu aja. Dan… pembicaraan ini bakal jadi rahasia kita berdua saja kalau kamu bisa kasih saya uang dua puluh lima juta.”
Nominal yang disebutkan Mbah Dukun membuat dompet dan akan sehat Taufik menjerit. Uang sebanyak itu tidak akan tumbuh dari pot tanaman. Masih ditambah pula uang yang harus ia kirim ke rekening padepokan tiap bulannya. Mendapatkan tatapan bingung itu, Mbah Dukun lantas menambahkan, “Ya… selalu ada harga pantas untuk sesuatu yang harus disembunyikan. Masa kamu, ndak tahu. Kita ini lagi berdiskusi juga buat masa depan yang cerah buatmu, anakmu, sama kawan kamu yang satu itu. Jangan pernah menawar-nawar. Sebagai guru spiritual kalian, Mbah ini tahu persis apa-apa saja yang kalian butuhkan dan yang harus kalian jauhi. Jadi… jangan pernah menawar, apa lagi enggak bayar. Ya?”
“Pa-paham, Mbah. Paham. Pokoknya… jangan khawatir. Saya jamin uang itu aman, tetapi sebagai gantinya, jaga pula rahasia saya,” balas Taufik pasrah.
Mbah Dukun tersenyum puas. “Bagus… untuk sekarang, coba kamu berikan ke Mbah foto anak lelaki yang katanya haram itu. Aku mau tahu aura buruk apa yang dia kasih ke Kalia yang cantik itu. Kalau Mbah bisa menemukan energi buruknya, kamu harus melakukan apa pun yang Mbah katakan. Dengan begitu semua masalahmu akan selesai dan anakmu akan jauh dari marabahaya.”
“Siap, Mbah. Kalau ketemu, bakal saya kirim lewat WA kayak biasa, ya Mbah.”
Maka, sesi konseling hari itu berakhir dengan kepulangan Taufik. Sepeniggal pria buncit itu, barulah Mbah Dukun bisa duduk-duduk santai sembari memberik makan ikan-ikan koi mahalnya. Mbah… itu adalah panggilan yang konyol sebenarnya. Ia masih muda, ya… belum lewat empat puluh tahun juga. Memiliki sensitivitas terhadap hal-hal gaib dan koneksi dengan mereka, menjadikannya sejak muda menggeluti dunia hitam ini. Tidak sepenuhnya ia geluti dengan sungguh-sungguh, selalu ada bagian yang harus ia besar-besarkan, diada-adakan, dan bagian yang harus dihilangkan. Intinya.. pekerjaan ini tidak sepenuhnya jujur. Ada kalanya ia harus memanipulasi orang-orang. Termasuk pula Taufik dan Anto. Dua orang yang selalu membayar dalam jumlah paling banyak.
Sebenarnya, hoki jika kedua keluarga itu disatukan hanyalah sandiwara. Kebohongan belaka. Malah banyak kuntilanak atau makhluk-makhluk lain yang menyebut dua anak dari keluarga buruk itu sebagai kombinasi paling buruk di desa. Hanya saja, ia tidak mengatakan hal itu kepada Taufik maupun Anto. Tujuan menjodohkan mereka berdua tak lain karena uang. Kedua pria itu akan menjadi koper uangnya yang paling menjanjikan jika semakin terikat. Ya… melalui pernikahan itu.
Namun… anak haram itu. Anak yang pernah ia rasakan memiliki energi sama dengan si penguasa sekaligus penunggu gunung. Ia akan menjadi penghancur rencana paripurna ini. Ia harus melihat langsung si anak untuk melihat sebesar apa kekuatannya. Tepat di tengah-tengah rasa penasarannya itu, sebuah pesan singkat masuk. Dan itu berasal dari Taufik. Foto seorang pemuda berlatar pemandangan ibu kota memberikan kesan tidak nyaman baginya. Anak ini memiliki energi luar biasa besar. Seolah dalam dirinya ada dua energi besar saling berkesinambungan dan terikat. Energi yang pernah ia rasakan dari sosok si penunggu. Rewanda Iswara.
Mbah Dukun merinding. Teringat kembali akan pertarungan mereka—yang sebenarnya tidak pantas disebut begitu karena kalah dalam satu serangan saja—di hari ketika Iswara belum dimabuk cinta, ia nyaris mati. Usianya masih terlalu muda untuk menantang si penunggu gunung. Namun, semuanya berubah. Iswara mungkin masih memiliki selubung untuk gunung yang ia lindungi, tetapi energinya telah berada di ambang kehidupan dan kematian. Menyerang siluman itu, hasilnya sudah bisa ditentukan. Ia akan menang. Namun… Iswara menjadi lebih mudah bersembunyi dan berbaur dengan monyet-monyet. Menyembunyikan kekuatannya dan memanfaatkan kekuatan alam yang ada. Mungkin ia unggul di atas kertas, tetapi praktiknya, ia masih kesulitan membunuh siluman itu. Padahal racun yang ia titipkan untuk membunuh siluman itu cukup besar, tetapi tidak bisa mencabut nyawanya. Sungguh luar biasa. Ia akan kesulitan membunuh makhluk itu.
Para dukun biasanya akan menaklukkan siluman dan menjadikan mereka sebagai pelayan. Namun… Iswara adalah siluman yang lebih mementingkan harga diri daripada apa pun. Jika kalah, ia lebih memilih membunuh diri sekaligus menghancurkan segala hal yang ia punya. Ya… itu baru dugaan kecilnya. Ia tentu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan memperbudak Iswara. Sebelum siluman itu menghabisi nyawa, ia akan mengikat Iswara dan menjadikannya pelayan setia. Ya… semoga saja.
“Hmm, anak ini kalau kemampuannya diasah. Dia bisa lebih kuat daripada Iswara sendiri. Aku harus menemuinya dan menghabisinya sebelum memiliki kekuatan yang setara dengan ayahnya,” putus Mbah Dukun. Ia hanya belum tahu jika pemuda itu sudah lebih dulu membangkitkan kekuatan dalam dirinya.
***
Cahaya kehijauan itu seperti kobaran api, membesar, meliuk-meliuk, tetapi tidak membunuh, justru “menghidupkan” tanaman-tanaman layu, menguatkan akar-akar yang kehilangan fungsinya, dan menumbuhkan biji-bijian yang belum terbenam ke dalam tanah. Naraya cukup puas dengan pelatihan kali ini. Bunya layu milik simbahnya kembali mekar, pohon di belakang rumah yang nyaris tumbang kembali dikuatkan akar-akarnya hingga menancap lebih dalam ke tanah, dan biji-bijian milik Bagas yang terlupakan tumbuh menjadi tunas-tunas kecil. Ia melakukan latihan ini sembunyi-sembunyi, tanpa siapa pun yang tahu. Namun… sebanyak apa pun ia berhasil melakukan hal-hal besar ini, tidak bisa mengusir rasa minder. Dengan kemampuan-kemampuan ini, ia tidak bisa melakukan hal-hal besar.
Tidak ada yang namanya kekuatan besar untuk melindungi. Ah… sekarang pun ia berandai-andai memilikinya sehingga bisa melindungi ibu suatu hari nanti. Atau paling tidak kekuatan remeh. Menghilang misalnya, tidak diperhatikan seperti kerikil atau angka yang di belakang koma yang banyak. Itu juga tidak apa-apa. Asalkan ia bisa terhindar dari Bisma. Itu yang terpenting sekarang.
Cahaya kehijauan yang bersumber dari tangannya meredup dan menghilang. Menyisakan telapak tangan yang dingin. “Ah… dengan kekuatan seperti ini, apakah aku bisa hidup dengan tenang? Yang ada… ini semakin membebaniku saja.”
Naraya meninggalkan halaman belakang rumah yang lengang. Kakek dan neneknya sedang menikmati siaran berita di televisi. Ibu juga tidak menunjukkan tanda-tanda pulang. Hubungan mereka masih dingin dan berjarak. Ia harus menemukan momen tepat untuk berbaikan dengan sang ibu. Mungkin Ruben dan Azka memiliki saran untuk ini. Ia berniat menelepon sahabat yang berada di ibu kota, tetapi sebuah pesan masuk membuat salah satu alisnya terangkat.
Mau tahu apa hal yang bisa membuat ayahmu mati?
Pesan itu berasal dari nomor yang asing, tidak ada di kontak teleponnya.
|Bersambung|