41. Diskriminasi Di Mana Pun
Agenda hari ini harusnya beristirahat. Namun, Naraya memilih menghabiskan sisa waktu dengan jogging dan sedikit berolahraga ringan dengan Aditya. Lapangan voli terabaikan di sudut desa mereka jadikan tempat untuk bermain bulu tangkis. Aditya yang pada dasarnya jarang olahraga dengan setengah-setengah menuruti kemauan Naraya. Kendati mereka tidak melakukan pertandingan sebagaimana atlet professional, tetapi pertandingan amatir itu menarik atensi dari beberapa warga yang kebetulan lewat. Bukan permainan asal-asalan itu yang menjadi daya tarik, tetapi karena visual keduanya. Melakukan aktivitas fisik sekaligus berkeringat, aura-aura tampan sekaligus atletis menarik atensi perempuan-perempuan yang kebetulan lewat dan beberapa anak kecil yang penasaran dengan permainan mereka.
“Wah… baru tahu kalau anaknya Mbak Esti ganteng juga. Udah jelas kalau bapaknya pasti dari bibit yang enggak main-main. Ganteng gitu, mana anaknya pintar dan sopan juga.”
“Siapa yang bilang kalau anak broken home bakal punya sifat jelek. Tuh… anaknya Mbak Esti baik-baik aja. Malah mandiri lebih cepat daripada anak seumurannya. Duh… anak saya tuh, ya. Udah segede dia masih aja repotin orang tua.”
“Loh… itu kan Mas-Mas yang bantuin aku cari kucing ilang. Badannya bagus, ya. Tinggi gitu, atletis juga. Kayak idol group Korea gitu enggak sih. Duh… ganteng banget.”
Naraya bisa mendengar semuanya dengan jelas. Ya… karena kemampuan indra pendengarnya menjadi lebih sensitif daripada hari biasa, sering kali bisikan-bisikan tidak menyenangkan tetangga sampai ke telinga juga. Kendati begitu, ia berusaha mengabaikan perkataan mereka. Ia akan hidup di dunia untuk dirinya sendiri dan biarkan mereka hidup dalam dunia mereka yang penuh dengan penilaian sepihak kepada orang lain. Jika kenyataan tidak seperti dalam dunia itu, mereka pasti akan menganggap ada kesalahan. Ah… sebenarnya apa yang sedang ia pikirkan?
“Ya… awas!” Teriakan Aditya terlambat Naraya sadari, sebuah bola voli melesat ke arahnya. Nyaris mengenai wajah kalau saja ia tidak merunduk dalam kecepatan yang luar biasa. Orang-orang sedikit terkejut ketika melihat kecepatan tidak terdeteksi mata tersebut.
Masalahnya sekarang, siapa yang melemparkan bola voli kepadanya? Bukankah lapangan terabaikan ini sudah lama tidak disentuh. Ketika disentuh orang lain, barulah yang merasa pemiliknya terusik. Kenapa juga tidak dari dulu menyadari kalau lapangan ini sebaiknya diserahkan kepada orang lain. Naraya kehilangan semangat ketika mendapati Bisma bersama beberapa pemuda desa beramai-ramai mendatangi mereka dengan membawa satu keranjang bola voli. Mereka berpakaian seragam lengkap dan membawa properti olahraga lain.
“Eh… sak penake dhewe nganggo lapangane wong liyo. Rumangsane melu gawe, po?*” Satu lagi kata-kata menyakitkan keluar dari mulut Bisma. Aditya yang selalu rajin mengikuti kegiatan desa tentu tahu dengan baik bahwa lapangan ini sudah tidak digunakan sejak beberapa bulan yang lalu dan kemungkinan besar tidak akan digunakan sampai tahun depan. Tepatnya ketika bulan Agustus datang untuk menyambut hari kemerdekaan. Lantas… mengapa mereka tiba-tiba datang dan akan menggunakan lapangan? Seperti yang sudah Naraya duga, Bisma selaku “pemilik” lapangan ini tidak senang jika orang lain menggunakan lapangannya. (*Eh, seenak hari menggunakan lapangan orang lain. Dikiranya ikut serta bikin gitu?)
“Lah, lapangane wis ora dingo nganti tahun ngarep. Ujug-ujug wae arep diaku. Biasane wae ora digatekke**,” protes Aditya. (**Lah, lapangannya saja tidak akan dipakai sampai tahun depan. Tiba-tiba saja diklaim lagi. Biasanya saja tidak dipedulikan.)
Protes dari Aditya mendapatkan sambutan buruk dari anggota pemuda yang lain. Aditya disebut pengkhianat, tukang adu, bermuka dua, dan lain sebagainya. Tentu saja Aditya tidak terima dengan tuduhan dan sebutan yang mereka berikan, niat hati ingin membalas, tetapi sudah lebih dulu dihadang Naraya. “Jangan bikin masalah sama orang di tempatmu. Bisma cuma enggak suka sama aku, jangan sampai dia juga benci sama kamu.”
Naraya menarik Aditya mundur. Menyadari bahwa mereka menjadi pusat perhatian, ia tidak ingin orang-orang juga memandang buruk Aditya yang notabene warga asli. Pemuda itu dan keluarganya sejak dulu memang dikenal sebagai keluarga paling melarat dan sering mendapatkan bantuan dari orang-orang desa. Jika Aditya mendapatkan penilaian buruk dari orang-orang desanya sendiri, maka keluarganya akan semakin kesulitan. Maka, Naraya memutuskan enggan memperkeruh suasana.
“Maaf karena pakai lapangan ini tanpa izin. Saya juga mau pamit karena ada urusan lain. Kalau enggak ada yang mau dibicarakan lagi, lebih baik sudahi aja sampai di sini. Aditya enggak salah apa-apa. Saya yang salah karena main di sini tanpa bilang siapa pun. Jadi… tolong jangan kucilkan dia. Sekali lagi, saya mohon maaf.” Naraya mengakhiri kalimatnya dengan membungkuk sopan.
Terdengar di telinganya beberapa pemuda di antara gerombolan itu menyinggung tentang ketidaksinkronan antara sifat Naraya yang asli dengan yang dikatakan Bisma.
“Loh, jarene Bisma, bocahe ra sopan. Jebule andhap asor koyo ngene. Tenanan ora iki?***” cetus yang lain agak berbisik. Diikuti yang lain pula. (***Loh, katanya Bisma, anaknya enggak sopan. Padahal rendah hati begitu. Beneran enggak nih?)
“Iki sakjane sing nggateli sopo to? Lha wong bocahe wae ora gawe perkara opo-opo.****” (**** Ini sebenarnya siapa yang nyebelin? Orangnya aja enggak bikin masalah apa-apa, kok.)
Walaupun demikian, mereka tidak berani melawan Bisma. Kentara sekali jika Bisma sangat berkuasa di tempat ini. Bahkan di organisasi kepemudaan paling dasar di desa. Kalau sudah begini, siapa pula yang bisa disalahkan? Naraya sudah membulatkan keinginan meninggalkan lapangan tersebut, tetapi langkahnya dihadang lagi dengan lemparan bola. Bisma adalah pelaku satu-satunya. Atim dan Udin tentu akan mendukung apa pun yang dilakukan ketuanya. Sedangkan sisa pemuda yang dibawa oleh mereka tercenung, tidak melakukan apa-apa kendati sudah disuruh Atim dan Udin melakukan hal yang sama.
“Hei, kalian pada ngapain?!” Satu-satunya yang berhasil menghentikan kelakuan mereka adalah Pak Andi yang tampak sedang membonceng istrinya. Mereka sepertinya baru kembali dari belanja. Menyaksikan Bisma melakukan hal buruk kepada Naraya dan Aditya, Pak Andi tentu saja tidak bisa membiarkan perundungan terjadi tepat di depan matanya. Sebagai seorang guru, ia tidak ingin murid-muridnya melakukan hal-hal buruk baik di dalam atau di luar lingkungan sekolah. Terlebih lagi, ia sebagai representasi yang baik untuk sekolah dan desa, tidak ingin ada kabar buruk tentang perilaku Bisma memperburuk citra desa, sekolah, dan profesinya.
“Oalah, ada Pak Andi habis jalan-jalan sama istrinya,” sapa Bisma dengan cara yang tidak bisa disebut sopan untuk murid kepada gurunya. “Kita cuma main-main aja, kok, Pak.”
Pak Andi mendadak pucat ketika menyadari bahwa Naraya yang terlibat masalah dengan Bisma. Jika bukan Naraya, ia tentu akan membela anak itu dan menyuruh Bisma pulang saja. Namun, ini Naraya, dan Bisma mengetahui bahwa ia masih menyimpan rasa kepada ibu Naraya. Diperparah dengan keberadaan istrinya di sini, Bisma sudah mempunyai kartu untuk memukul mundur dirinya. Ia hanya khawatir jika Bisma kelepasan mengatakan soal hal itu kepada istrinya atau di kemungkinan paling buruk mengatakan secara langsung.
“O… main-main doang. Ya… enggak apa-apa. Lanjutkan aja kalau gitu.”
Naraya sudah bisa menebak jika Pak Andi tidak akan membelanya, Aditya tetap saja tidak terima walaupun tahu alasan di balik diamnya sang guru terhadap sikap buruk yang mereka berdua terima, dan di satu sisi, istri Pak Andi juga merasakan akan adanya hal tidak benar di sini. Ia mendelik dan mencubit Pak Andi. Namun, sang suami enggan merespons. Ia malah menghalau tangan istrinya sembari berbisik, “Ini anaknya Pak Anto, jangan main-main sama dia.”
Menyadari jika mereka menjadi pusat perhatian dan bahan paling hangat untuk bergosip, Naraya meninggalkan tempatnya tanpa sempat berpamitan. Bahkan kepada Pak Andi maupun Aditya. Ditinggalkannya saja mereka tanpa memikirkan apa pun. Bagaimanapun juga, sampai kapan pun, jika berada di tempat ini… ia tetap akan diperlakukan sama. Terpinggirkan.
***
Sebelum Aditya menemukannya, Naraya sudah lebih dulu meninggalkan desa. Hanya tempat ayahnya yang menjadi tujuan paling tepat saat ini. Sang penguasa gunung menyambutnya dengan senyum paling hangat dan lebar. “Ayah tahu kalau kau pasti akan mencari Ayah jika dalam keadaan susah.”
“Ayah tahu saja kalau aku sedang kesulitan.” Naraya melemparkan tubuhnya pada dipan reyot yang biasa diduduki sang ayah kala bosan. Tak peduli jika kursi kayu itu sudah rapuh. Toh, ayahnya yang lebih berat tidak membuat dipan itu ambruk, ‘kan?
Iswara mengembuskan napas lelah. Bukannya ia tidak tahu dengan perlakuan buruk yang didapatkan sang putra hari ini. Beberapa monyet sudah lebih dulu melapor. Namun ia memutuskan tidak lagi memberikan bantuan kepada Naraya. Ia akan memberikan kebebasan kepada sang putra untuk menentukan sikap. Anggap saja sebagai bagian dari pelatihan. Ia hanya tidak ingin Naraya mengandalkan bantuan datang darinya tiap kali ada masalah. Dan, Naraya pun juga bukan tipe yang akan mengandalkan orang lain.
“Aku… benar-benar enggak tahu apa yang harus aku lakukan sama Bisma. Dia… benar-benar menyebalkan. Dan apa pun yang ia lakukan membuatku ingin menghajar ia langsung di wajah.” Pada akhirnya Naraya mengungkapkan uneg-uneg yang sempat terpendam. Ia sendiri tidak pernah mengutarakan kegelisahannya pada sang ibu lagi semenjak terlibat perang dingin. Karena ia tahu karena sang ibu tidak bisa banyak membantu karena disibukkan dengan bisnis baru dan banyak hal lain.
Ayahnya menepuk-nepuk kepala Naraya lembut. “Yah… Ayah tahu bahwa keluarga mereka memang bermasalah. Dari ayahnya, ibunya, sampai anaknya. Sebenarnya Ayah tidak ingin mengatakan ini padamu, tapi selain berusaha menggoda ibumu walaupun sudah menikah, dia juga memiliki kaitan dengan dukun yang berusaha mengusir Ayah dari gunung ini.”
“Eh?! Ayah baru saja mengatakan ini padaku! Kenapa baru saja Ayah katakan? Dan siapa dukun itu?”
“Haha, kau tidak perlu khawatir. Dukun itu sebenarnya tidak terlalu kuat. Hanya saja menyebalkan. Akan Ayah ceritakan lain kali kalau sudah ada waktu yang lebih lapang. Itu hanya sedikit dari problem keluarga itu. Ibunya sendiri juga berlangganan dukun supaya bisa memikat suaminya agar tidak bercerai. Ya… itulah salah satu alasan mengapa mereka tetap bertahan walaupun si juragan mebel itu masih kesengsem dengan ibumu. Lucu, karena keduanya sama-sama berdekatan dengan dukun, mengucurkan yang banyak untuk mereka, tetapi kehidupan mereka tidak bahagia.”
Naraya terkekeh. “Ayah harus menceritakan itu kepadaku nanti.”
Iswara cukup senang karena bisa membawa kembali senyum di wajah sang putra. Sebenarnya, sebagai seorang ayah, ia juga merasa tidak berdaya ketika mendapati putranya mendapatkan perlakuan tidak baik dari orang-orang desa. Namun… di titik ini, ia tidak ingin membuat orang-orang kembali tersadar akan keberadaannya. Di masa ketika para ormas menghancurkan padepokan, ia dianggap sebagai makhluk sesat dan pantas jika dibumihanguskan. Dengan kekuatan yang berkurang jauh daripada dulu, ia khawatir jika bertemu lagi dengan si dukun, ia tidak mampu melawannya. Untuk saat ini, ia harus menahan diri. Menjauhkan sang putra dan perempuan yang ia cintai dari gangguan ibu Bisma dan dukun itu nantinya.
|Bersambung|