40. Latihan Ketiga – III

1313 Kata
40. Latihan Ketiga – III Dengan kemunculan para monyet itu, sekolah kembali menjadi heboh. Entah bagaimana caranya, para murid dan guru yang tersisa semua berkumpul di depan jendela masing-masing, mengawasi keberadaan para monyet. Bisma yang waktu itu masih dalam keadaan berseteru dengan Naraya melepaskan cengkeramannya kepada pemuda itu lalu berkata, “Nah, lo panggil anak buah, ‘kan? Dasar cemen!” Karena satu gertakan itulah para monyet yang sebelumnya diam-diam saja di luar mendadak saling bersahut-sahutan dan seolah sedang mengancam Bisma. Karena perubahan sikap mereka yang semula tenang, para murid dibuat khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Naraya ingin memerintahkan mereka semua kembali, tetapi jika ia membuka mulut, Bisma akan mencurigainya. Lantas, apa yang harus ia lakukan jika keadaan sudah jadi seperti ini? “Kau belum belajar menggunakan kemampuan ini, ya?” Suara sang ayah mengalun lembut di telinga Naraya, nyaris tidak terdengar dan Bisma juga tidak mendengarnya, apalagi orang lain. Suara yang hanya bisa didengar Naraya. Mungkinkah… ini yang dinamakan telepati? Kalau begitu, bukankah itu berarti ia juga bisa menggunakannya? Naraya mengernyit, mencoba menggunakan telepati seperti yang dilakukan ayahnya. Namun, karena percobaan pertama itu, kepalanya seolah dihantam dengan palu. Tiap kali berusaha mengatakan sesuatu, semakin kencang pula rasa sakit yang mengenai kepalanya. Aditya cemas ketika melihat Naraya mendadak merundukkan badan dan memegangi kepala. “Bisma! Mbok apakne, Naraya?!*” (*Apa yang kau lakukan pada Naraya?) Sebagai seseorang yang bertanggung jawab atas penjabakan kepada Naraya, Bisma mendadak panik. Seingatnya Naraya tidak selemah itu sehingga satu jambakan saja tidak akan menyakitinya? Lantas kenapa pula? Dia tidak sedang bersandiwara, bukan? Namun, mengapa Naraya tampak sangat kesakitan? “Ya… ayo kita ke UKS. Kepalamu sakit banget, to?” Aditya menggapai tangan Naraya, mencoba menarik pemuda itu bangkit, tetapi Naraya menggeleng. Berusaha meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. Namun, ketika Aditya menarik bahu Naraya, pemuda itu kembali menunjukkan kekhawatiran karena suhu tubuh sang kawan yang sangat panas. “Eh, awakmu panas koyo geni ngene, loh!**” (**Eh, badanmu panas seperti api loh.) Sedikit drama yang terjadi pada Naraya menyita atensi siswa-siswi di kelas mereka. Keberadaan para monyet tidak lagi menjadi hal menarik setelah mereka mendapatkan tontonan baru, yaitu Naraya dan Bisma. Namun, Naraya sendiri tidak terlalu menyukai posisinya sekarang. Ia seolah-olah sangat tidak berdaya. Padahal yang terjadi sebenarnya ialah, ia sedang mencoba berkomunikasi dengan ayahnya menggunakan telepati. Aku enggak tahu kenapa kepalaku rasanya mau pecah pas coba hubungi Ayah pakai telepati ini. Padahal kelihatan gampang-gampang aja, tapi kenapa pas dipraktikkan rasanya kayak kepalaku dipukul-pukul pakai palu? — Naraya. Nah, itu bisa. Itu karena kamu masih di percobaan pertama. Makanya semua bakal susah. Ayah kira kamu sudah bisa menggunakan telepati ini. Tapi ternyata belum sama sekali. Memangnya kamu pernah lihat Ayah bicara langsung ke monyet atau hewan-hewan lain? Ayah jarang sekali menggunakannya secara langsung dan lebih memilih menggunakan telepati supaya tidak terlihat mencurigakan. Tapi tentu saja ada konsekuensinya, yaitu otak kita yang bekerja dengan lebih keras. — Iswara. Kalau begitu, seumur hidup aku bakal kena sakit kepala terus. Telepati pakai otak, ‘kan? Ah… suara monyet-monyet itu udah kayak orang lagi demo. Enggak cuma kepalaku yang sakit, kupingku juga panas dengarnya.— Naraya. Ayahnya terkekeh sebelum menjawab, Nah, kamu kan sudah bisa gunakan telepati ke Ayah. Bagaimana kalau kau coba saja telepati itu ke mereka. Lakukan saja apa pun yang kamu mau. Misalnya, serang saja bocah perundung itu atau apa pun sesukamu. Kernyitan di dahi Naraya makin bertambah, selagi masih ada suara ayahnya yang menuntun, mengapa tidak ia coba saja kemampuan telepati ini? Naraya mengambil napas panjang—Aditya kaget dengan perbuatan Naraya yang satu ini karena mengira Naraya sesak napas—lalu memaksakan diri fokus pada kerumunan monyet. Kawanan monyet itu sama sekali tidak berani memasuki ruang kelas kendati mereka sudah tidak sabar melakukan hal-hal buruk pada Bisma. Kalian kembali ke gunung. Sekarang. Instruksi yang datang dari Naraya itu mendadak berhenti bicara sendiri-sendiri. Mereka saling toleh, beberapa kali melirik ke arah Naraya, lalu saling pandang dengan kelompok masing-masing. Setelah berkomunikasi dengan mata dan sedikit obrolan, mereka memutuskan untuk kembali ke gunung sesuai perintah yang diberikan. Kepergian mereka yang mendadak tentu menjadi pemandangan yang menarik. Turun gunung bersama, lalu naik gunung bersama tanpa yang terlihat tanpa alasan. Namun, semua itu terjadi karena titah Naraya. Sepeninggal mereka, Naraya tiba-tiba saja ambruk. Kepergian kawanan monyet, Naraya mendadak pingsan, seisi kelas agak heboh hari ini. *** Ketika membuka mata, Naraya mendapati keadaan tidak lagi sebising ketika ia pertama membuka mata. Di samping ranjangnya sudah ada Aditya yang terlelap di kursi. Lalu, ada ayahnya duduk bersila di ranjang sebelah. Ranjang itu pasti sedang tidak terpakai sehingga ayahnya bisa berada di sana. “Ayah tidak akan menggunakan telepati lebih dulu. Kau baru saja menggunakannya pertama kali tapi sudah digunakan untuk jangkauan yang agak luas. Wajar saja jika kepalamu mendidih dan kau tidak kuat menahannya. Tapi Ayah menghargai keputusanmu untuk tidak menggunakan kawanan monyet untuk menyakiti orang lain,” ujar ayahnya sembari mengulas senyuman lembut. Rasa bangga kembali menyelinap. Ia beruntung karena putra semata wayangnya dibesarkan oleh ibu yang tepat. “Aku… ah… nanti bisa-bisa dipanggil gila kalau bicara sama Ayah. Orang-orang saja tidak bisa melihat Ayah.” “Hei, Ayah sudah membuat orang-orang tidur. Nih, temanmu, penjaga UKS, sama beberapa orang lain di dalam sini. Jangan khawatir kalau nanti diledek agak gila. Udah Ayah buat tidur semua.” Ayahnya lantas duduk di ranjang Naraya dan menyeka keringat sepanjang dahi sang putra. “Kau sudah bekerja keras hari ini. Tapi karena kau sendiri belum bisa mengatur kemampuan bicara dan mendengar pada para hewan. Untuk sementara Ayah sudah mengurangi daya jangkau dan kemampuan dengarnya. Kau sampai tidak bisa tidur semalaman. Dan itu membuatmu jadi makin kurus. Apa kau tidak pernah makan?” Naraya menggeleng pelan. “Aku bukan tipe orang yang mudah lapar. Aku hanya makan jika sudah merasa terlalu lama tidak mengisi perut. Kadang hanya makan sehari dua kali.” “Gandakan porsi makanmu kalau begitu. Kau masih memiliki banyak latihan untuk dilakukan. Dan lagi… Ayah sudah meminta bantuanmu dengan kekuatan mengendalikan tanaman itu bukan? Sepertinya itu akan berguna sebentar lagi. Musim hujan yang akan datang tentunya akan mengancam tanah-tanah landai di sekitar gunung. Dulu Ayah masih bisa sedikit santai karena ada banyak pohon di sekitarnya. Tapi makin lama… pohon-pohon itu berkurang dan tidak ada yang tersisa untuk menahan laju tanah itu lagi selain akar-akar pohonnya. Jadi… kau harus banyak berlatih. Ayah sangat mengandalkan bantuanmu.” Baru saja sadar setelah pingsan, Naraya langsung mendapatkan tugas. Uh… membayangkannya lagi menyisakan rasa sakit di kepala. “Iya… akan aku lakukan jika Ayah meminta. Tapi aku masih harus berhati-hati melakukannya. Dan lagi… aku juga belum ahli, malah belum bisa sama sekali. Aku baru bisa menumbuhkan beberapa biji dan tanaman lain di rumah. Kalau menghidupkan yang sudah mati, aku tidak bisa.” Ayahnya tertawa mendengar bagian terakhir dari kalimat Naraya. “Tentu saja kau tidak bisa melakukannya. Menghidupkan yang sudah mati itu bukan sesuatu yang bisa kau lakukan. Itu melanggar apa yang sudah digariskan Sang Gusti. Yang bisa kau lakukan hanyalah mencegah kematian mereka dengan memberikan energi lain supaya tanaman-tanaman itu tidak kunjung mati. Bisa dibilang kau sedang mengobati mereka. Bukan menghidupkan mereka. Kau pernah menyegarkan lagi tanaman layu bukan?” Naraya mengangguk mengiakan. “Jadi… itu tidak bisa aku lakukan pada tanaman yang sudah mati, ya? Ah… aku sudah salah sangka.” Ayahnya yang gemas, mengusak rambut Naraya. “Tak apa. Semua orang juga pernah salah. Kau hanya sedikit memiliki kesalahpahaman dan Ayah hanya sedikit meluruskannya. Hari ini tidak ada latihan dulu. Kau istirahatlah. Jangan berpikir yang berat dulu. Gunakan momen ini untuk beristirahat.” Ayahnya pamit, ada banyak urusan yang harus diselesaikannya. Bersamaan dengan kepergian Iswara, Aditya terbangun dari tidur. Pemuda itu mengoceh tak henti-hentinya tentang apa yang sudah dilakukan Bisma dan kejadian-kejadian selanjutnya. Naraya membalasnya dengan kekehan singkat. Karena bantuan sang ayah, kepalanya tak lagi dipenuhi suara-suara bising di luar. Untuk hari ini, ia akan menikmati sisa hari dengan tidur sepuasnya. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN