39. Latihan Ketiga – II

1166 Kata
39. Latihan Ketiga – II Ayahnya menyebut jika inti dari latihan yang kali ini adalah tentang kesabaran. Oh, bagaimana bisa ia tidak sabar? Semalam suntuk, nyaris tidak bisa tidur karena mendengar setiap binatang di sekitar rumah selalu saja berisik. Seolah mereka tidak memiliki jam tidur atau memiliki jam biologis yang berbeda. Ada pembicaraan tentang manusia-manusia zalim, perubahan iklim ekstrem, anak-anak tikus yang habis diberangus dengan cairan pestisida, beberapa monyet kena perangkap manusia, dan banyak lagi protes mereka tentang manusia yang tiada habisnya. Persis sekali dengan obrolan bapak-bapak di pos ronda tentang pemerintah yang makin buruk, serta ibu-ibu di depan gerobak tukang sayur mengeluhkan harga bahan pokok yang selalu meroket. Dengan semua kebisingan itu, ia nyaris tidak bisa tidur dan sering sekali terjaga karena suara-suara sekecil apa pun. Bahkan nyamuk yang berdengung di dekat telinga. Protes dengan kakek dan neneknya yang menyalakan obat nyamuk dan mengoleskan serta losion anti nyamuk untuk memperkuat perlindungan. Jika menurut ayahnya lagi, ia sedang berada di fase awal, sehingga jangkauan pendengaran dan fokusnya belum bisa dikendalikan. Bahkan menurut ayahnya, ia juga bisa mendengarkan pohon berbicara. Itu berlaku pada pohon yang sudah hidup lama sehingga seolah memiliki energi sendiri yang membuatnya memiliki kemampuan berkomunikasi. Tidak semua tumbuhan dan pohon memiliki kemampuan ini. Sehingga pohon yang bisa berkomunikasi dengan ayahnya dikategorikan sebagai pohon yang sudah tua. Jika ia bisa diajak berkomunikasi dengan pohon, maka lebih baik mengurung diri di rumah dan tidak keluar lagi selama beberapa waktu. “Ya… kenapa mukamu kayak mayat hidup gitu. Matamu merah, bagian bawahnya hitam, kayak abis bergadang semalaman.” Aditya menyadarkan Naraya bahwa ia berpenampilan cukup buruk hari ini. Diperburuk dengan muka bantalnya. Ia bisa langsung tertidur jika merebahkan kepala di meja atau di punggung Aditya ketika dalam perjalanan naik ke sekolah. “Hmm, aku memang lembur semalaman. Enggak bisa tidur. Jadi… kalau nanti kepalaku dilempar pakai kapur atau penghapus, jangan dibangunin. Baru aja bisa tidur ini,” pesan Naraya kepada Aditya. Aditya terkekeh. “Tidur aja sana, enggak apa-apa, kok. Lha wong, ini gurunya pada keluar. Ada rapat sama yayasan. Terus mereka rapatnya di rumah makan dekat waduk. Duh, mantap banget itu. Jadinya kelas kita kosong ini. Enggak ada pelajaran, terus cuma ditinggalin tugas. Nih, dikasih tugas agak banyak dari Bu Hesti. Dikumpulin pas jam ter—“ Aditya tidak meneruskan kalimatnya karena mendapati Naraya sudah tertidur di atas mejanya beralaskan buku pelajaran dan kotak pensil. Bisma di kursi belakang bersama beberapa siswa lain sedang nonton bareng film. Tentunya bukan film biasa karena terdengar suara-suara meresahkan perempuan dan laki-laki dalam satu video. Aditya memilih menyumpal telinganya dengan earphone. Pun dengan beberapa siswi lain. Mereka enggan menegur Bisma sehingga tidak mempermasalahkan ketika pemuda itu dan gengnya memutar video khusus dewasa di sekolah. Dengan ketiadaan Kalia karena diajak wali kelas mereka ke rapat tersebut, maka mereka sudah tidak memiliki pelindung lagi jika semisalnya Bisma membuat keributan. Kembali pada Naraya yang sedang menikmati beberapa menit tidurnya yang berharga. Tidur yang belum genap lima menit itu diusik oleh suara-suara berisik di luar gedung sekolah. Oh Tuhan… bagaimana bisa ia sebelumnya hanya mendengarkan suara sejauh dua meter bisa mendengarkan suara hewan-hewan yang sedang kopulasi di luar gedung sekolah? Terlebih lagi jaraknya cukup jauh dari lokasinya sekarang. Tak kuasa mendengar suara-suara menjijikkan itu, Naraya membuka mata dan dengan kesal mengubek-ubek ransel mencari earphone-nya sendiri. Sambil menggerutu tentunya. “Sialan, kenapa suaranya kenceng banget! Disgusting!” Naraya menjejalkan earphone ke telinga ketika Bisma menggebrak mejanya dan mengurungkan niatannya menyambung tidur. “Lo protes gara-gara gue sama temen-temen gue nonton pilem biru, ya?!” tuduh Bisma. Naraya mendadak menyadari jika kalimat keluhan yang baru saja ia katakan dianggap sebagai keluhan kepada Bisma. Oh… bagus. Padahal selama dua hari ini ia tidak mengusik pemuda itu, tetapi gara-hara suara hewan bersenggamá, ia jadi terlibat masalah dengan pemuda yang mati-matian ia hindari tersebut. “Enggak, kamu cuma salah dengar. Aku sama sekali enggak protes ke kalian, kok. Lanjutkan aja nonton filmnya. Aku mau lanjut tidur aja.” Naraya membenamkan wajahnya di antara lipatan tangan, berharap jika ia menghindar, semua masalah akan terselesaikan. Namun, ia terlalu dibutakan rasa kantuk sehingga tidak menyadari bahwa Bisma masih menyimpan amarah. “Sialan! Jangan seenak jidat tidur, ya!” Bisma menjambak rambut Naraya. Menimbulkan ketegangan bagi satu kelas. Naraya sendiri tidak terlalu peduli. Ia terlalu mengantuk untuk diajak bertengkar. Di luar sana pun beberapa monyet yang kedapatan melihat Naraya dikasari oleh Bisma mulai ribut dan melapor kepada ayahnya. Naraya sendiri tidak akan senang jika ayahnya dan gerombolan monyet datang menyerbu sekolah dan membuat keributan lain. “Bisma! Kowe lagi wae diceluk guru BP, loh. Ojo gawe perkoro eneh!*” Aditya tentu ingin memberikan bantuan kepada Naraya. Namun, pemuda ceking itu tidak membantu banyak, malah mendekatkannya pada masalah. (*Bisma, kamu baru saja dipanggil guru BP, loj. Jangan buat masalah lagi!) Aditya diseret oleh Atim dan Udin menjauhi mejanya, ia diseret ke belakang kelas dan dihadiahi beberapa tempelengan di wajah. Menyadari jika Bisma mulai berbuat keterlaluan lagi, Naraya tidak tinngal diam dan melepaskan cengkeraman Bisma dari kepalanya. Karena genggaman tangan Naraya itulah Bisma menjerit kencang. Seolah tangannya sedang dipatahkan oleh Naraya. Uhm, sepertinya ia memang benar-benar menyakiti tangan Bisma walaupun tidak sampai di tahap mematahkan tangannya. Namun sekali lagi Naraya menyadari jika ia mendapatkan kemampuan baru yang selama ini ingin sekali ia alami. Ia ingin memiliki kekuatan di atas rata-rata sehingga tidak perlu mengangkat galon dengan susah dan bisa mengganti ban mobil sendiri tanpa bantuan siapa pun. itu jika ia tetap bertahan dengan kekuatan itu. Bisma mengumpat habis-habisan sembari meminta bantuan kedua kroconya untuk menghajar Naraya dan Aditya. Menyadari jika kelas tak lagi bisa dikategorikan kondusif, beberapa siswa dan siswi memutuskan keluar kelas. Selain untuk pergi ke kantin, tentu saja untuk memberikan ruang lebih lebar bagi Naraya dan Bisma saling adu jotos. Dengan guru BK yang juga keluar dari kantornya, maka… Naraya sudah tidak memiliki pelindung. Mengapa juga memanggil guru itu pelindung padahal mereka berdua sama-sama dihukum berat jika ketahuan oleh guru BK ketika melakukan kesalahan. Sebagai guru paling netral dan tidak bisa disogok dengan apa pun. Guru BK  mereka memang pantas diacungi jempol. Tapi tidak untuk saat ini. Bahkan cicak pun menertawakan mereka berdua dan Naraya dibuat makin kesal karenanya. “Kowe raiso mlayu seko aku saiki. Renek Pak Andi, renek guru BP. Wis, tak gawe raimu bonyok*—“ Bisma yang baru saja memberikan ancaman seketika menghentikan kalimatnya ketika menyadari ada sesuatu. Bukan hal biasa, karena yang berada di depan mereka adalah sesuatu yang salah. (*Kali ini kau tidak bisa lari dariku . Pak Andi tidak ada, guru BP  pun tidak ada. Akan aku buat wajahmu babak belur.) Di luar kelas mereka, di halaman luar yang lapang, lagi-lagi ratusan monyet berkumpul seperti pasukan kecil. Naraya bisa mendengar dengan jelas bahwa mereka tidak ingin anak Kanjeng Iswara mendapatkan masalah. Mereka akan melindungi Naraya dari Bisma. Sungguh… itu adalah orasi paling menggelikan yang pernah ia alami. Masa mereka mau menyerang Bisma sebagaimana yang sudah Bisma lakukan kepada dirinya? Ia hanya akan terlibat masalah lain jika memang benar begitu. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN