38. Latihan Ketiga – I
Jarang-jarang sekali Iswara bisa menikmati sorenya dengan tenang. Ia selalu dikelilingi kawanan monyet setiap hari. Ketika tidak mendapatkan gangguan dari mereka, biasanya ia disibukkan dengan berbagai macam hal. Seperti mengecek pohon-pohon—sesekali berbincang dengan mereka yang sudah berusia tua—atau berpatroli dan mengusili para pemburu liar. Oho, bagian mengusili pemburu memang sangat menyenangkan. Namun sore ini adalah momen-momen yang jarang terjadi. Begitu tenang, begitu sunyi, bahkan saking tenangnya, ia mendapatkan firasat buruk jika terjadi sesuatu yang buruk sehabis ini.
“Ayah! Ayah! Ayah! Lihat apa yang terjadi!”
Oh, firasat burunya menjelma menjadi kenyataan. Naraya datang dengan napas yang memburu, beberapa kancing kemejanya lepas, dan beberapa dahan pohon tersangkut di rambut. Pemuda itu pastilah tidak sabar, tetapi sesuatu yang dibawa olehnya menaikkan satu alis Iswara. Monyet kecil yang baru saja kehilangan kelompoknya karena perburuan manusia. Uh, ia jadi teringat pada manusia yang seenak hati membunuh hewan-hewan itu. Hewan-hewan yang masuk ke ladang mereka untuk mengambil satu atau dua singkong atau makanan lain. Padahal satu atau dua buah singkong itu tidak sebanding dengan pohon-pohon tempat monyet-monyet itu tidur, yang tentu saja ditebangi manusia-manusia itu tanpa pernah diganti lagi.
“Uhm… ada apa dengan anak monyet ini? Dia tidak kelihatan sakit atau bagaimana. Kenapa kau membawanya ke Ayah?” tanya Iswara sembari menggaruk dagu.
Naraya dengan mata berkaca-kaca menjawab lirih, “Dia bicara padaku. Hewan-hewan di belakang itu juga bicara padaku. Bukan hanya monyet. Ayam hutan, burung pipit, ular, tikus, kucing, mereka semua bisa bicara padaku. Kenapa… kenapa mereka semua bicara padaku?”
Iswara tertawa terbahak-bahak, mengesampingkan tatapan kesal Naraya dan si monyet kecil yang merasa riang. Seolah ia sedang mendapatkan mainan baru. “Haha, Kanjeng Iswara dan Kanjeng Naraya lagi suka tertawa. Aku juga mau ikut tertawa kalau begitu.”
Si monyet kecil tertawa bersama-sama Iswara, tak peduli jika Naraya dibuat makin bingung dengan kejadian yang baru saja menimpa dirinya. Ketika pertama kali mendengar monyet kecil itu bicara padanya, Naraya buru-buru kembali ke kelas dengan wajah pucat. Bahkan sepanjang perjalanan menuju kelas dan proses pembelajaran, ia selalu mendapatkan pertanyaan mengapa kelihatan begitu pucat seperti orang sakit. Itu sudah cukup untuk membuktikan betapa kaget dan terguncangnya Naraya dengan kemampuan baru tersebut.
“Kenapa kau merasa aneh dengan kemampuan baru itu? Ayah mendengar mereka setiap hari dan terbiasa dengan itu,” ayahnya lantas berbisik di telinga Naraya, “walaupun sebenarnya mereka sangat menyebalkan karena selalu saja berisik. Tapi nikmati sajalah.”
“Bagaimana bisa Ayah bicara seperti itu pada seorang pemuda tanggung yang mendengar hewan-hewan melakukan reproduksi untuk pertama kalinya? Ayah tidak tahu betapa kagetnya aku ketika mereka menyebut genitalia mereka dengan jelas dan melakukan kopulasi tepat di depan telingaku. Padahal dulu aku selalu menganggap mereka hanya berbunyi dan bersuara seperti biasa. Tapi kenapa sekarang semuanya terdengar menyebalkan dan menjijikkan di waktu yang bersamaan. Tolong cabut kemampuan ini dariku!”
Yah… Naraya juga berhak mengatakan demikian. Ketika pertama kali bisa mendengar suara-suara hewan, Iswara juga sempat beranggapan bahwa mereka semua sangat berisik dan mengganggu, tetapi seiring berjalannya waktu, ia jadi mulai terbiasa dan bisa menitahkan hewan-hewan itu untuk tidak berbuat keributan, dan yang terpenting adalah bisa mengatur kemampuan pendengarannya.
“Ya… kita tidak bisa mengatur semuanya bukan, Naraya? Kau bisa belajar sedikit demi sedikit menerima kemampuan ini. Lagipula, sejak kau menemukan dan mengaktifkan energimu kemarin, Ayah masih bertanya-tanya kemampuan apa lagi yang bisa kamu temukan. Ayah tidak menyangka kalau kekuatanmu akan bangkit dengan cepat. Dan lagi… dengan cara yang agak aneh.” Ayahnya melirik si monyet yang asyik tertawa di gendongan Naraya.
“Ayah… aku tidak bisa mendengarkan mereka semua sekaligus….” Racau Naraya sembari mengacungkan si monyet kecil tepat di depan wajah sang ayah.
Ayahnya terkekeh. “Nah, berhubung kamu sudah datang, bagaimana kalau latihanmu selanjutnya adalah mengendalikan kemampuan mendengarkan dan bicara kepada hewan-hewan ini. Bagaimana?”
“Ayah bisa masukkan saja aku ke jurang atau sumur. Itu lebih baik daripada mendengarkan kebisingan ini. Bahkan aku masih bisa mendengar suara-suara mereka sedang mengumpat, bercanda, tertawa, berkelahi, dan masih banyak keributan lain. Aku tidak tahan dengan semua ini.”
Iswara menepuk pundak Naraya pelan. “Khusus untuk latihan kali ini, Ayah tidak akan membawamu ke alam siluman. Ya… sedikit info saja, mereka di alam siluman lebih berisik lagi daripada di alam manusia. Dan… sebagai tambahan saja… apa yang kau dengar ini belum semuanya, Nak. Belum semuanya.”
Wajah Naraya makin memucat. Sementara itu ayahnya hanya tersenyum dan mendorong balik sang putra meninggalkan tempatnya sekarang berada. “Biasakanlah dirimu. Akan ada lebih banyak hal yang bisa membuatmu sakit kepala ke depannya. Yang terpenting sekarang adalah jangan panik. Kalau kau panik, semakin banyak hal buruk yang akan kau dengar. Inti dari pelatihan kali ini adalah belajar untuk mendengarkan seperlunya saja. Jangan pedulikan hal-hal yang tidak kau sukai.”
“Tapi Ayah akan membantuku untuk mengatasi suara-suara ini bukan?” Naraya hanya ingin memastikan bahwa ayahnya akan selalu berada di sisinya. Namun, wajah sang ayah menunjukkan sebaliknya. “Iya, ‘kan?”
Iswara mengembuskan napas pertanda ragu. “Sebenarnya hari ini ada yang harus Ayah lakukan dengan tempat yang akan longsor itu. Untuk pertama kalinya juga Ayah meminta tolong Sugi untuk ikut Ayah malam ini. Jadi… khusus untuk yang satu ini, Ayah harap kau bisa mengatasinya sendiri, ya?”
Wajah Naraya makin memucat. Membayangkan malam ini akan dilaluinya tanpa tidur tenang memancing sakit di belakang kepala. Hei, dia baru enam belas tahun dan mendadak merasakan gejala darah tinggi. Apakah dengan begini, ia bisa menjalani sisa hari dengan tenang? Menyadari jika anak monyet di gendongannya sedari tadi tidak berhenti berjoget dan sesekali tertawa riang, Naraya merasa harapannya tidur dengan tenang akan semakin jauh dari kenyataan. Si monyet kecil tak bernama ini mengikuti Naraya semenjak ia pulang sekolah. Dengan alasan ingin melepaskan si monyet kecil ke habitatnya, ia sampai berpisah dengan Aditya. Mungkin pemuda itu khawatir sekarang karena ia pergi terlalu lama.
“Ya… Naraya! Kowe neng ndi?*” Dari kejauhan, suara Aditya terdengar beserta dengan suara semak-semak dan rerumputan yang disibak. Bersamaan dengan perbuatan Aditya membuka jalan dengan menggeser tanaman, semakin banyak suara-suara bising yang dibuat para hewan. Ada anak ular yang menangis karena hampir diinjak, tikus yang mengumpati Aditya karena ekornya sudah lebih dulu diinjak, seekor ulat menjerit ketakutan, dan banyak suara bising lain. (*Kamu di mana?)
“Loh, di sini toh? Itu anak monyetnya kenapa enggak dilepaskan juga? Padahal tadi ada beberapa monyet lain di sana.” Aditya melirih ke pohon besar tepat di hadapan Naraya. Monyet-monyet itu meninggalkan tempat mereka dan menghilang dengan suara-suara berisik.
Naraya meringis. “Uhm… Dit. Bisa bawa anak monyet ini ke tempatnya Pak Sugi, nggak? Aku enggak bisa bawa monyet ke rumah. Kalau Ibu tahu. Bisa diamuk aku.”
“Eh… monyet ini?” tanya Aditya bingung. Si monyet sempat protes karena dipindah tangan kepada Aditya. Ia bahkan merajuk dan memajukan bibir kepada Naraya. Namun, putra dari penguasan gunung mencoba tidak peduli seperti yang dikatakan ayahnya.
“Iya… kayaknya Pak Sugi suka sama monyet. Kalau di rumahku, dia pasti cuma jadi bahan omelannya Ibu. Tolong, ya.”
Naraya enggan mendengarkan lagi apa yang monyet kecil itu katakan. Ia berusaha mengabaikan mereka dan langsung saja pulang ke rumah. Semoga ia mendapatkan sedikit ketenangan di kamarnya sendiri. Namun… ia kembali menangis karena mendengar kambing-kambing sang kakek menjerit meminta makan dan pasangan. Sungguh hari ini adalah mimpi buruk!
|Bersambung|