37. Monyet Kecil

1116 Kata
37. Monyet Kecil Naraya terbangun pagi-pagi sekali. Bahkan sebelum azan Subuh berkumandang. Jika pada hari-hari biasa, ia akan meneruskan membaca buku yang belum sempat diselesaikan atau bermain gim. Namun, hari ini dia memulai dengan minum air hangat dan melakukan sedikit pemanasan. Bagi orang biasa, melakukan aktvitas di luar kebiasaan akan meninggalkan jejak penolakan pada tubuh, tapi ia berbeda. Jika umumnya orang-orang akan pegal setelah dipaksa melakukan rutinitas lari, sit up, push up, dan squat jump yang tidak biasa dilakukan, maka Naraya tidak merasakan itu sama sekali hari ini. Karena rutinitas itulah tubuhnya menjadi lebih segar dan ia bahkan sudah naik turun dari rumahnya menuju jalan besar. Ia sempat berpapasan beberapa kali dengan orang yang hendak salat ke masjid dan beberapa pedagangan yang berangkat pagi. Ketika kembali ke rumah, sang ibu sudah menanti di ruang tamu. Masih dengan mukena dan wajah yang basah terkena sapuan air wudhu. “Ibu masih enggak habis pikir apa yang bikin kamu sampai enggak mau pindah dan melakukan hal-hal yang sebelumnya enggak pernah kamu lakukan. Tapi… sekarang Ibu tahu siapa yang membuatmu jadi kayak gini. Ayahmu bilang apa ke kamu?” Ibunya tidak ingin berbelit-belit dan membuang-buang waktu. Jika ini menyangkut sang ayah, Naraya jadi enggan mengatakan hal sejujurnya. “Kenapa Ibu yakin banget aku bicara banyak sama Ayah? Enggak banyak yang kami bicarakan, kok. Lagian waktu itu enggak banyak waktu yang cukup buat menjelaskan semuanya. Dia cuma cerita soal masa lalu.” “Dan kamu menganggap semua itu enggak masalah?Nara… kamu hampir meninggal saat itu. Ibu enggak akan bisa lupa sebanyak apa darah yang keluar ketika ayahmu memotong ekormu. Itu adalah pemandangan yang paling enggak bisa Ibu lupakan… terornya… sakitnya… bertahan di kepala Ibu selama belasan tahun! Ibu sempat mengira bakal kehilangan kamu… waktu itu kamu… kamu menangis kencang. Wajahmu memerah karena kesakitan. Ibu… ibu… enggak bisa melakukan apa-apa waktu itu… Ibu—“ “Aku baik-baik aja, Bu. Enggak ada yang perlu Ibu cemaskan. Itu semua karena Ayah sudah membagi energi kehidupannya sama aku. Malah… sekarang yang terancam adalah nyawanya sendiri.” Ibunya masih tampak tidak senang karena itu. “Apa yang sudah dia lakukan ke kamu? Sampai otakmu teracuni begini? Mereka sudah mencuci otakmu. Ibu yakin itu. Ayo kita pergi ke ustadz atau kyai. Semakin lama kamu bergaul sama mereka, yang ada kamu bakal makin terjerumus.” Ibu mengulurkan tangannya, hendak menarik tangan Naraya. Namun pemuda itu sudah lebih dulu menarik tangannya menjauh. “Ayah bukan orang yang seperti itu. Ibu memandang Ayah buruk hanya dari satu sisi saja, tanpa melihat keseluruhan cerita.” “Naraya! Jangan bikin Ibu marah!” Naraya semakin menjauh dari ibunya. Ia menggeleng pelan. “Ayah bukan orang jahat,” pungkas Naraya sebelum berbalik dan setengah berlari menuju kamar. Dibantingnya pintu keras-keras dan segera dikunci dari dalam. Naraya menyumpal telinga dengan earphone dan lagu-lagu berisik dari playlist Ruben yang dipenuhi dengan lagu-lagu rock. Ia meringkuk seperti anak kucing yang menggigil di tengah hujan. Ah… karena ia anak siluman monyet, maka ia adalah anak monyet kecil. Mengingatkan akan monyet kecil yang dirawat Sugi. *** Naraya tidak mengingat sejak kapan ibu seolah menghilang dari rutinitas sehari-harinya. Mungkin sejak ia masih sangat kecil. Atau ketika ia menyadari bahwa tidak ada sosok ayah yang menjadi penopang keluarga kecil mereka. Pakde Widodo mungkin berusaha menggantikan peran itu, tetapi ia tetap pria milik orang lain. Ia adalah suami orang lain dan ayah bagi anak orang lain. Pakde Widodo memang sudah menjadi keluarga terdekat mereka, tetapi di satu sisi, ia buka pria yang bisa keluarga kecil mereka miliki. Setelah mengesampingkan Pakde Widodo, kini Naraya seolah mendapati keluarga kecilnya yang hanya terdiri dari dua orang—dan satu bukan manusia yang dipisahkan dari daftar—menjadi semakin berjarak. Ibu lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Sehabis obrolan yang Naraya hindari pagi ini, ibu sudah tidak terlihat lagi. Kedua simbahnya memang mengatakan bahwa ibunya pergi pagi-pagi sekali tanpa sempat sarapan, bahkan berpamitan. Seperti ada sesuatu yang membuatnya pergi terburu-buru. Naraya enggan menjawab, tetapi ialah yang menyebabkan sang ibu berangkat terlalu pagi. Aditya tampak lebih protektif daripada kemarin. Mungkinkah ibunya dan Aditya memiliki kongkalikong yang tidak diketahui Naraya? Di belakang punggungnya? Ah, apa pun itu, Naraya sudah mencurigai mereka. Aditya bahkan tidak memberikannya ruang untuk Naraya sendiri. Sesampainya mereka di sekolah, Aditya mengikuti ke mana pun Naraya pergi. Bahkan ke kamar mandi. Tentu saja dengan pengawasan sang kawan ini menjadikan ruang gerak Naraya makin terbatas. Bahkan Bisma yang memusuhinya saja tidak melakukan hal semacam ini. Sesaat Aditya sang kawan menjadi lebih menakutkan daripada apa pun. “Aditya, kamu dipanggil Pak Andi ke ruang guru. Harus ke sana sekarang, soalnya ada hubungannya sama donatur buatmu bulan depan.” Kalia sendiri yang mengatakan itu kepada Aditya, tetapi Aditya sendiri tidak kunjung berangkat kendati mendapatkan berita bagus. “Ayolah, nanti kalau kamu enggak datang, donasi buatmu dibatalkan, loh.” Karena tambahan itulah ia baru bisa meninggalkan Naraya di kelas. Naraya sendiri cukup lega karena mendapatkan sedikit ruang untuk diri sendiri. Bisma tidak ada di kelas, kedua kroconya juga sudah tidak berada di sana. Selagi Aditya tidak berada di sana, Naraya memutuskan untuk pergi sebentar ke posnya Sugi. Namun, pria itu tidak ada di sana. Hanya meninggalkan keranjang anyaman tempat di mana monyet kecil yang dulu ia titipkan biasanya tertidur. Makhluk kecil berbulu itu bergelung di sana, meringkuk sendirian, dan sepertinya sedang menangis. Entah, mungkin karena ia memiliki keterkaitan dengan monyet, Naraya bisa menilai jika monyet kecil ini kesepian. Ketika ia menjulurkan telunjuknya kepada monyet kecil tak bernama itu, si monyet kecil buru-buru meraup telunjuk Naraya lembut. Memeluknya dengan hangat seolah-olah telunjuk Naraya adalah guling. “Kamu pasti kesepian karena tidak punya ibu dan ayah lagi, sekarang juga sudah tidak punya saudara. Kasihan sekali ya, kamu.” Naraya bergeming, membiarkan saja anak monyet itu menjadikan telunjuknya sebagai pengganti guling. “Kita mungkin agak berbeda, tapi di satu sisi kita juga sama. Maaf, ya, karena dulu pernah menolakmu.” Bel masuk berbunyi, Naraya memutuskan untuk melepas telunjuknya dari pelukan si monyet. Namun, ketika Naraya hendak meninggalkan pos tersebut. Ia nyaris kena serangan jantung ketika mendengar sebuah suara kecil yang lirih. Dan ia yakin sekali jika suara itu berasal dari keranjang tempat si monyet tertidur. “Tolong jangan tinggalkan aku sendiri di sini. Aku takut. Ibu… Ayah… Kakak… Adik….” Naraya berbalik lagi dan mengintip ke dalam keranjang. Monyet kecil itu menggerakkan bibirnya berulang kali dan Naraya tentu tidak bisa mengetahui apa yang sedang digumamkan si monyet. Namun tiba-tiba saja mata monyet kecil itu terbuka. Ia mengerjapkan mata beberapa kali lalu menyadari tidak sendirian di sana. Mata berwarna kuning itu tampak berbinar, lalu yang keluar dari bibirnya sungguh mengejutkan Naraya. “Kanjeng Naraya!” Naraya memekik, ia jatuh ke lantai. Tunggu… baru saja ia mendengar monyet ini bicara?! |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN