36. Pelatihan Kedua – III
“Jadi… apa yang bisa aku lakukan dengan kemampuan ini?” tanya Naraya langsung pada intinya. Ia sempat membayangkan kekuatan untuk menjadi tidak terlihat, bergerak dengan cepat dan tangkas, atau berubah menjadi monyet juga tidak apa-apa. Asalkan dengan itu ia bisa menghindari Bisma. Namun, dengan tipe kekuatan yang baru saja disampaikan oleh ayahnya, Naraya kehilangan angan-angan mudah menghindari Bisma.
Ayahnya berpikir sebentar. “Hmm, kau bisa menumbuhkan tanaman, seperti yang baru saja terjadi. Kau bisa mengendalikan mereka juga. Bukankah itu sangat mengagumkan? Bayangkan bisa menggerakkan pohon atau menumbuhkan tanaman-tanaman yang sudah terbilang langka. Dengan kemampuan ini kau bisa berguna untuk banyak manusia ke depannya.”
Naraya tampak tidak terlalu bangga dengan hal itu. “Aku hanya berharapa mendapatkan kemampuan yang bisa menjauhkanku dari masalah karena Bisma. Kenapa malah mendapatkan kekuatan yang malah membuatku jadi makin menonjol?”
Jika diibaratkan, ada air mata imajiner yang menuruni wajah Naraya saat ini. Iswara tersenyum, ia menyentuh pundak putranya lembut. “Hei… kemampuanmu tidak hanya satu. Saat ini Ayah merasakan jika hanya satu warna kemampuanmu yang terbangun, yang berwarna hijau. Sedangkan yang berwarna emas belum. Karena Ayah sendiri jarang menemukan warna ini, Ayah jadi belum tahu apa yang bisa dilakukan dengannya. Maka dari itu, beri Ayah sedikit waktu menemukan kemampuan apa yang diwaliki warna emas itu. Untuk sekarang, Ayah tidak memiliki banyak hal untuk dikatakan. Karena warna yang hijau ini sudah terbangun, mungkin Ayah akan membutuhkan kemampuanmu dalam waktu dekat. Jadi… selagi kau belum terlalu sibuk, berlatihlah sedikit demi sedikit.”
“Memangnya apa yang akan Ayah lakukan dengan kekuatanku? Bukan hal yang sulit bukan?” Naraya menanyakan ini karena khawatir ayahnya bisa saja memiliki niatan menghancurkan rumah keluarga Bisma dengan merobohkan satu pohon besar ke rumah keluarga itu.
Ayahnya meringis sebelum berkata, “Hehe, sebenarnya karena sebentar lagi musim hujan tiba dan banyak tanah yang terancam longsor, Ayah ingin kau menguatkan akar-akar pohon yang ada untuk menahan tanah. Dan itu bisa dilakukan dengan kemampuamu. Maka… sampai saat itu tiba, teruslah berlatih. Oh, iya. Ayah sudah bilang jumlah pemanasanmu akan bertambah bukan? Mulai besok, lakukan sit up, push up, dan squat jump sebanyak tujuh puluh lima kali, ya. Untuk larinya jadi tiga puluh kali putaran dan cobalah untuk melakukan pull up juga di rumah.”
Naraya tercenung selama beberapa saat. “Ayah betul-betul mau membunuhku.”
Dan air mata imajiner kembali meleleh membasahi wajahnya.
***
Naraya tiba di rumah sembari membawa satu ikat kayu kering untuk merebus air. Seragamnya sudah dilipat dimasukkan ke dalam tas, kaus dalamnya yang berwarna abu-abu kotor karena mengangkuti kayu-kayu itu. Mobil ibu dan motornya sudah terparkir di depan, Aditya juga berada di sana. Namun, satu orang yang tidak ingin ia temui juga berada di sana. Pak Andi yang mengenakan pakaian santai dan membawa beberapa buah tangan. Jika teringat dengan kasus bolosnya kemarin, Naraya bahkan tidak dipanggil hari ini. Mungkin saja wali kelasnya yang satu itu langsung menemui ibunya dan menjelaskan tentang insiden yang kemarin.
Setelah meletakkan kayu di samping rumah dan mencuci tangan, Naraya masuk sembari mengucapkan salam. Pak Andi kaget ketika mendapati siswanya yang selalu dicap anak kota manja malah menjadi tukang angkut kayu.
“Nara, duduk di sini, kita bicara dulu,” titah ibunya sembari menepuk ruang kosong di samping tempatnya duduk. Aditya pamit ke belakang guna membuatkan minuman. Keberadaan kakek dan neneknya tidak terdeteksi. Entah pergi ke mana. Kalau pun pergi, pastilah tidak terlalu jauh. “Kamu pergi bolos kemarin, ‘kan? Pas kamu sama Bisma dipanggil karena bertengkar di kelas. Kenapa kamu sama sekali enggak cerita apa pun sama Ibu? Kalau bukan karena Pak Andi Ibu juga enggak jamin kamu bakal aman dari guru BK.”
Nada bicara ibunya naik satu oktaf. Wajar saja ia marah. Naraya sendiri juga salah karena tidak mengatakan apa pun. Namun, kalaupun ia mengatakan itu kepada ibunya, maka ia sendiri yang juga akan kena masalah ke depannya. “Maaf karena enggak bilang apa-apa sama Ibu. Itu karena Naraya enggak mau Ibu khawatir. Dan lagi Ibu juga lagi sibuk ngurusin katering. Itu cuma bakal gangguin Ibu. Makanya aku sama sekali enggak bilang apa-apa.”
“Nara! Ini ada hubungannya sama kelangsungan kamu di sekolah. Ibu juga udah peringatkan kamu supaya enggak dekat-dekat dan bikin masalah sama Bisma. Tapi sampai sekarang pun kamu selalu aja kena masalah sama dia. Ibu udah enggak bisa ketemu ibu sama bapaknya lagi. Tolong… jangan bikin Ibu malu!” Air mata mulai menggenangi pelupuk mata ibu. Naraya juga merasa bersalah, tetapi ia juga tidak bisa melakukan apa pun untuk terhindar dari situasi ini selama mereka masih satu kelas.
“Esti, Esti, sabar dulu. Aku datang ke sini bukan buat kalian berdua bertengkar. Aku cuma mau bilang kalau Naraya lagi dalam situasi sulit. Makanya aku mau memberikan saran aja ke kamu supaya dia pind—“
Naraya sebenarnya sudah merasa senang karena Pak Andi paham dengan keinginannya pindah kelas saja. Namun ibunya sudah lebih dulu memotong perkataan Pak Andi dengan kalimat putus asa, “Kamu mau pindah sekolah? Oke, kayaknya lebih baik pindah sekolah ke pusat kabupaten yang lebih terakreditasi dan fasilitasnya lebih oke. Kalau itu emang pilihan kamu, Ibu enggak masalah juga. Toh, kamu juga pernah bilang mau pindah, ‘kan?”
“Eh, eh, bukan gitu, Ti. Maksudnya… aku saranin supaya dia pindah kelas aja, bukannya pindah sekolah.” Pak Andi juga berusaha meluruskan. Namun Ibu tampaknya enggan meneruskan perbincangan ini, ia buru-buru bangun sembari menyambar jaket dan tas di meja. Berdalih bahwa masih ada urusan yang harus diselesaikan di tempat yang akan dijadikan lokasi katering.
“Enggak! Aku aku enggak mau pindah sekolah!” putus Naraya setengah berteriak. Perkataan Naraya sukses menahan langkah sang ibu. Pun Pak Andi yang juga terkejut dengan keputusan mendadak Naraya. “Aku enggak mau terlalu jauh dari gunung ini. Ada sesuatu yang harus aku jaga dan aku lindungi di sini. Dan… ada seseorang pula yang mencintaiku dengan tulus di tempat ini. Makanya… aku enggak mau pindah sekolah. Ibu enggak usah pikirkan itu lagi. Aku mau fokus di sini aja.”
Keputusan itu seperti bukan Naraya. Ibunya ingat betul bahwa Naraya memiliki keingian besar untuk pindah dan minggat beberapa waktu yang lalu, tapi keputusan putra semata wayangnya itu berubah hari ini. Ibu seperti mendapatkan firasat bahwa keputusan yang mendadak itu masih ada hubungannya dengan seseorang. Ibunya menyimpan nama orang itu dalam hati. Enggan menyebut, bahkan membayangkannya saja rasanya enggan sekali. Ia mengusap wajah lalu mengeluarkan satu embusan napas lelah. “Terserah apa yang kamu inginkan. Yang penting, jangan sampai bikin masalah sama Bisma dan jangan terlibat sama orang yang enggak bener.”
Kepergian ibunya tidak menyisakan penyesalan apa pun bagi Naraya, ia justru merasa lega karena berhasil mengatakan keinginan agar tetap bersekolah di tempatnya yang sekarang. Maka dengan begitu bisa lebih dekat dengan ayahnya dan gunung ini. Ibunya dan Pak Andi terlibat sedikit obrolan penting di luar sementara Naraya berpindah ke kamarnya. Aditya berada di ambang pintu menyaksikan sang kawan tampak berbeda. Lebih terlihat kuat daripada hari-hari sebelumnya.
“Aku enggak tahu kalau kamu punya seseorang yang ingin kamu lindungi. Siapa pun itu, aku cuma berharap dia bakal selalu bawa pengaruh baik buatmu.”
Aditya meninggalkan Naraya sendirian di tepi jendela. Ada sebuah pot tanpa tanaman yang berada tepat di luar jendela, bergabung dengan pot-pot tanaman lain yang tidak terurus. Sebuah biji yang diberikan ayahnya tadi dimasukkan ke dalam pot. Naraya menggenggam pot itu hati-hati sembari memejamkan mata dan berharap akan adanya hal bagus ke depannya nanti. Ketika membuka mata, didapatinya pot itu telah ditumbuhi sebuah tanaman berdaun hijau dengan corak kemerahan. Hijau dan merah. Ia dan ayahnya. Senyum Naraya tidak kunjung luntur membayangkan momen-momen yang baru saja mereka jalani.
|Bersambung|