35. Pelatihan Kedua – II

1409 Kata
35. Pelatihan Kedua – II Bisma hari ini lebih kalem daripada biasanya. Semenjak Naraya menampakkan wajah memasuki kelas, pemuda itu tetap berada di kursinya dikelilingi siswa yang lain. Tidak ada ejekan, tidak ada kata-kata provokasi, semuanya berajalan dengan tenang. Bahkan guru yang sedang mengajar pun menyinggung jika kelasnya hari ini sangat tenang. Oke, singkat kata hari ini terlalui dengan aman, yang mana membuat Naraya bertanya-tanya apakah yang sedang merasuki Bisma sehingga sama sekali tidak memancing keributan dengannya sedari pagi. Apakah ada hubungannya dengan Kalia? Uhm, mungkin tidak. Karena perempuan itu pun seperti biasa, dipanggil meninggalkan sekolah karena diundang ayahnya menghadiri sebuah acara. Pun ia juga tidak mengirim pesan sebanyak biasa. Mungkin sedang terjadi sesuatu. Namun Naraya tidak bisa kepo dan menanyakan hal-hal yang tidak perlu. Kalau Bisma tahu, mungki pemuda itu akan kembali menjadi liar seperti biasa. Maka Naraya memutuskan diam saja. “Tumben hari ini Bisma enggak ngapa-ngapain, ya? Kayaknya ada yang salah sama dia.” Aditya tentu gatal ingin membicarakan tentang betapa antengnya Bisma selama pelajaran hari ini. “Kali aja dimarahin bapaknya. Kalau bukan itu, mungkin uang jajannya dipotong. Makanya dia lagi puasa terus enggak ada tenaga.” Gurauan Naraya meledakkan tawa Aditya. Seharusnya pemuda itu tidak perlu tertawa sekeras itu karena memegang kendali pada sepeda motor Naraya. Akan menjadi sangat konyol jika mereka jatuh hanya karena si pengendara tertawa. “Dit, nanti turunin aku di jalan ke hutan itu, ya? Itu... aku belum cari kayu buat rebus air.” Naraya hanya tak ingin melewatkan sesi latihan dengan sang ayah. Pemanasannya memang melelahkan sekaligus menguras tenaga lebih banyak, tetapi latihan tentang energi itu membangkitkan sisi kekanakan Naraya. Naraya yang penasaran dengan hal baru, Naraya yang ingin mencoba hal-hal baru, dan Naraya yang tidak sabar lagi ingin menghabiskan waktu dengan ayahnya. Ya... betul-betul sisi kekanakan. “Eh, anak kota kayak kamu masak api pakai kayu? Enggak salah tuh?” Naraya mungkin jarang bersosialisasi ketika memasuki masa remaja, tetapi semasa di sekolah dasar, ia adalah anggota pramuka yang rajin dan pandai. Ia selalu mendapatkan tugas memasak dan mencari kayu bakar. Dengan kemampuan yang didapatnya selama mengikuti perkemahan, Naraya cukup percaya diri dengan kemampuannya memasak menggunakan kayu bakar. Terlebih lagi, ia juga pandai mencari pakan untuk kambing-kambing peliharaan kakek-neneknya, dan juga bisa memasak. Mendengar Aditya seperti meremehkan kemampuannya, Naraya buru-buru mengoreksi, “Aku ini pandai melakukan banyak hal sendiri. Kalau enggak percaya, datang aja ke rumah pas Sabtu atau Minggu. Tapi untuk sekarang, aku mau cari kayu dulu sebelum hari makin gelap. Kamu bawa aja motornya pulang, nanti aku bisa balik ke rumah simbah jalan kaki.” “Eh… tapi kalau cari kayu, harusnya bawa motor juga.” “Kamu pakai aja itu motornya sebentar. Terus…,” Naraya merogoh saku celana, mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu, “… bensinnya kan habis. Isikan dulu sampai full, paling enggak sampai empat puluh ribu. Nanti sisanya kamu ambil aja.” Kalau soal urusan seperti ini, Aditya tidak akan menolak. Kalau sudah begini, Naraya bisa lebih mudah pergi ke tempat ayahnya. Selama beberapa minggu di tempat ini, ia berhasil menemukan beberapa jalan pintas menuju tempat di mana ayahnya biasa nongkrong. Selain di padepokan yang sudah lama ditinggalkan, ayahnya juga sering berkumpul bersama monyet lain. Monyet-monyet itu pun tak pernah menyerang jika tahu Naraya datang mengunjungi ayahnya. Tentu saja karena mereka menyadari bahwa ia juga memiliki darah monyet sama seperti mereka. Ah… melihat monyet-monyet dalam jumlah banyak seperti ini, Naraya teringat kembali akan peristiwa tidak menyenangkan semasa sekolah dasar. Ketika ia masih menjadi anggota pramuka. “Kamu datang lebih cepat dari yang Ayah duga.” Ayahnya muncul secara tiba-tiba. Ia betul-betul digandrungi monyet-monyet. Beberapa anak monyet dan monyet muda menggelayuti ayahnya seperti pria itu adalah pohon yang biasa digunakan untuk bergelantungan dan bermain-main. “Ya… hari ini enggak ada banyak masalah sama Bisma. Kemarin aku kan bolos makanya datang ke tempat ayah bisa cepet. Aku bilang sekitar jam tiga lebih datang cari Ayah, tapi ini baru jam setengah tiga. Itu karena emang enggak ada masalah apa-apa sama Bisma,” balas Naraya yang tiba-tiba saja sudah kedatangan kawan-kawan baru. Monyet-monyet kecil menggelantunginya sebagaimana mereka juga bergenlantungan pada ayahnya. “Kalau itu, kemarin Ayah sempat suruh salah satu monyet berjaga-jaga di rumahnya. Dan bapaknya Bisma marah besar karena Bisma terlibat masalah lagi sama kamu. Makanya dia potong uang saku sama uang bensin Bisma. Itu mungkin yang bikin dia jadi anteng. Pasokan uang buat jajan sama foya-foya udah enggak ada. Dia enggak bisa bersikap kayak bos kalau begitu. Ya… ayahnya cukup bijak juga. Anak yang bermasalah memang harus sedikit diberi peringatan tegas.” Iswara tentu merasa bahwa bapaknya Bisma telah melakukan hal benar, tetapi Naraya segera memberikan informasi tambahan. “Bapaknya Bisma dulu sempat ngejar-ngejar Ibu. Sampai sekarang pun ia masih kesengsem sama Ibu, makanya ia mencoba melakukan berbagai cara buat menarik perhatian Ibu. Sampai sekarang kan orang-orang tahunya Ibu enggak punya suami dan enggak pernah menikah. Makanya dia mencoba mendekati Ibu. Ya… motif tersembunyi pasti sudah jelas buat Ayah. Iya, ‘kan?” Iswara kehilangan rasa kagum pada bapaknya Bisma. “Mulai besok Ayah akan tempatkan lebih banyak monyet buat mengawasi si buncit tukang ganggu istri orang itu.” “Ayah enggak bisa melakukan itu kalau Ayah sendiri belum meluruskan kesalahpahaman antara Ayah dan Ibu. Daripada sibuk melakukan hal yang bakal merugikan orang lain, lebih baik kita mulai berlatih aja. Aku juga ingin tahu hal apa saja yang bisa aku lakukan dengan kekuatan ini. Energiku rasanya meledak-ledak ingin dikeluarkan.” Ayahnya terkekeh. “Haha, kalau kamu udah enggak sabar. Pertama-tama kamu harus pemanasan seperti waktu itu. Kali ini jumlahnya masih sama kayak yang kemarin. Tapi… mulai besok jumlahnya bakal bertambah dan kamu juga harus datang ke sini pagi-pagi sekali.” “Eh? Bukannya masih terlalu awal buat itu,” protes Naraya. Ayahnya memberikan gelengan. “Untuk menggunakan kekuatanmu dengan baik, kamu harus memiliki stamina yang bagus. Dengan cara itulah kamu bisa menggunakan kekuatan energimu dengan lebih baik. Jangan protes kalau ingin mendapatkan hasil maksimal. Ingat… mulai besok jumlahnya akan bertambah dan kamu juga harus menambah asupan makan. Tidak ada tapi-tapian untuk urusan ini.” Naraya mencebikkan bibir. Mau tidak mau memang harus menuruti apa yang dikatakan ayahnya. mereka memasuki alam siluman seperti biasa. Naraya melakukan pemanasan seperti biasa, lalu setelah sesi pemanasan itu selesai barulah ia menghampiri sang ayah yang sedang menikmati pisang. “Jadi… apa yang bisa aku lakukan dengan kekuatanku ini?” Iswara tersenyum jail. “Kau pasti ingin segera menggunakannya untuk mengusili Bisma dan dua anak buahnya itu bukan? Ayah tentu tahu bahwa kau memiliki kebencian yang tak terbendung kepada mereka.” “Aku tidak ingin mengusili mereka, kok. Aku malah ingin menghindar dan agar keberadaanku tidak diketahui oleh mereka, daripada menyerang akan lebih baik jika bertahan. Aku tidak ingin gegabah.” Seperti yang sudah diduga oleh Iswara, Naraya memiliki sikap seperti ibunya. Menyadari hal itu, ada sedikit kebanggaan menyelinap di d**a sang penunggu. Putranya bukan tipe orang yang akan menjadikan kekuatan sebagai alat membalas dendam. Sebuah sikap yang sepatutnya dimiliki oleh makhluk seperti mereka. “Ya… kau memang mirip ibumu yang memiliki sikap murah hati dan lapang d**a. Itu adalah sikap yang tercermin dari warna hijau dalam energimu. Hijau… identik dengan melindungi dan merawat, maka sangat kecil kemungkinan kekuatan dalam energimu digunakan untuk melukai orang.” Iswara lantas menyuruh Naraya mengulurkan tangannya. Sebutir biji entah dari tanaman apa diletakkan di telapak tangan Naraya. “Sekarang pejamkan matamu. Energi yang berada di pusat tubuhmu coba kau pusatkan pada telapak tangan. Ini hanya tebak-tebak buah manggis, Ayah hanya ingin memastikan apa benar kau memiliki kemampuan itu. Jadi… lakukan seperti yang Ayah katakan.” Naraya tidak melakukan protes apa pun yang melakukan saja apa yang ayahnya perintahkan. Ia memejamkan mata, mencoba memfokuskan diri pada energi yang berada dalam tubuhnya. Warna kehijauan melintas di kepala, bergerak melalui aliran darahnya dengan cepat, lalu ketika sampai di telapak tangan, warna kehijauan itu berpendar dari telapak tangannya. “Sekarang… bukalah matamu,” titah ayahnya. Ketika ia membuka mata, dari sebutir biji yang diletakkan di telapak tangannya, sebuah tanaman tumbuh dengan subur. Hal itu cukup mengejutkan Naraya. Ketika ia terkejut itulah cahaya kehijauan meletup-meletup kecil di sekitar tanama tersebut hingga menumbuhkan bunga-bunga warna merah muda yang cantik. “Seperti yang sudah Ayah duga. Energi dalam tubuhmu adalah energi untuk mengendalikan tumbuhan. Ini adalah kekuatan yang sangat jarang kita miliki, tapi di satu sisi Ayah senang karena kekuatanmu bukan untuk menyakiti,” terang ayahnya. Naraya tercenung sebentar. Jadi… apakah dengan kemampuan ini, ia bisa menyembunyikan diri dari Bisma? |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN