34. Pelatihan Kedua – I
Kepulangan Naraya disambut dengan tatapan cemas dari kedua simbahnya. Pasangan lanjut usia itu buru-buru mengajak sang cucu masuk ke dalam kamar sembari berbisik-bisik tentang kedatangan Bisma yang mendadak ke rumah. Pemuda itu beserta kedua kawannya mencari-cari Naraya. Dan sudah jelas tujuan mereka adalah untuk membuat keributan. Namun demikian, Naraya merasa beryukur karena mereka bertiga memperlakukan kakek dan neneknya dengan hormat. Sebadung apa pun trio itu, setidaknya mereka tetap bersikap sopan pada orang yang lebih tua.
“Kamu enggak bikin masalah lagi sama mereka, ‘kan?” tanya Simbah Putri sembari menghidangkan teh manis dan beberapa camilan untuk Naraya. Bagaimana mereka tidak memiliki kekhawatiran bahwa cucunya telah melakukan hal-hal berbahaya? Penampilan Naraya jauh dari kata rapi. Tatanan rambutnya tidak terurus, seragam putih abu-abunya kotor, dan ia berbau seperti ikan. Naraya sendiri memang menyadari jika penampilannya luar biasa buruk.
“Nara habis ke hutan, Mbah. Jalan-jalan sebentar biar enggak suntuk.” Naraya tidak sepenuhnya berbohong. Ia memang dari hutan mencari-cari sang ayah lalu dilanjutkan melakukan latihan berat.
“Terus, mana sepeda motormu? Kamu bukannya berangkat sekolah pakai motor? Sekarang di mana?” Simbanh Kakungnya tidak ingin kalah. Pertanyaan itulah yang membuat Naraya teringat bahwa ia meninggalkan sekolah sekaligus motornya. Dengan posisi kuncinya masih berada di tas dan tasnya sendiri tertinggal di sekolah. Semoga saja Aditya menyimpannya.
Baru saja dirasani, suara mesin motornya terdengar memasuki halaman depan. Naraya buru-buru keluar menyabut Aditya. Sedangkan pemuda itu memasang wajah kaget bercampur kesal. “Kowe tak goleki tekan endi-endi, jebule wis enek omah!*” omel pemuda itu. (*Kau ini kucari sampai ke mana-mana, ternyata sudah ada di rumah.)
“Yo, sori. Tadi abis jalan-jalan sebentar. Makasih lho udah dipulangin motornya dengan selamat.” Naraya menerima tasnya yang baru saja diangsurkan Aditya. Sang kawan menarik tas itu sebelum mendarat di telapak tangan Naraya sendiri.
“Pokoknya kamu harus cerita sama aku apa yang udah terjadi. Enggak tahu apa tadi Pak Andi marah-marah di kelas. Pokoknya besok kamu harus menghadap dia. Satu kelas juga heboh karena kamu sama sekali enggak kembali. Bikin gaduh aja,” omel Aditya. Naraya sendiri hanya terkekeh.
“Iya, iya. Sekali lagi makasih, lho.”
Aditya turun dari motor, setelah berpamitan dengan kedua simbah Naraya, ia pun pulang ke rumah. Naraya kembali pada kakek dan neneknya. Menanyakan apakah ada air hangat yang bisa ia gunakan mandi. Membawa satu termos berisi air panas, Naraya menggunakan kamar mandi sesukanya. Kendati tidak ada bathub seperti yang dipunyai di kota, tetapi ia masih bisa bersantai dan berendam menggunakan bak mandi plastik. Beruntung sekali mereka punya bak berukuran jumbo di kamar mandi. Ia bersandar pada bak lalu kembali teringat akan pelajaran yang didapatkan dari ayahnya hari ini. Energi yang ada dalam tubuhnya. Naraya akhirnya menyadari bahwa ia memiliki energi yang cukup unik. Bahkan ayahnya sendiri juga agak kaget ketika mendapati warna energi Naraya.
“Baru kali ini Ayah melihat monyet memiliki warna seperti ini. Ini adalah warna yang jarang sekali dimiliki monyet. Dan Ayah cukup kaget mendapati warna seperti ini ada padamu.”
Warna energi Naraya adalah hijau, dengan sedikit sentuhan warna emas. Mungkin karena itulah ayahnya cukup terkejut. Jarang sekali seseorang memiliki perpaduan dua energi dalam dirinya. Setidaknya itu yang dijelaskan sang ayah. Selebihnya, Naraya tidak tahu lagi. Namun ayahnya kembali menambahkan, “Warna hijau biasanya dimiliki orang yang murah hati, memiliki hati yang tulus dan mencintai alam serta isinya. Warna emas itu, menandakan kau memiliki wibawa dan kebijaksanaan. Ada sifat kepemimpinan dalam dirimu. Tapi... jika warna emas ini lebih mendominasi daripada warna hijau itu, Ayah khawatir kalau kau akan terlalu berambisi menjadi seseorang yang berkuasa. Ayah bersyukur kalau warna hijau itu lebih mendominasi.”
Naraya tidak terlalu peduli sebenarnya. Ia malah merasa jika warna energi itu sama sekali tidak mencerminkan dirinya. Satu, ia bukan pecinta alam apalagi binatang. Dua, ia tidak suka memimpin orang. Itulah mengapa perasaannya menjadi agak aneh. Dua warna itu sama sekali tidak menggambarkan dirinya. Lantas... dengan warna-warna itu, kekuatan apakah yang ia miliki?
***
Setelah menyelesaikan memasak air dan nasi, dilanjutkan dengan membuat lauk untuk makan malam dan mencuci piring, Naraya bergegas masuk ke kamar dan memulai panggilan video dengan Ruben beserta Azka. Sekarang ia tidak perlu dipusingkan dengan masalah sinyal karena sudah memasang wi-fi. Aditya jadi yang paling senang dengan keputusan memasang wi-fi ini. Ia jadi kecipratan koneksi internet gratis. Kedua sahabatnya itu tampak seperti biasa. Konyol dan menyenangkan.
“Oi, bocah kampung. Gimana sekolahnya. Enggak jadi minggat sekarang malah jadi makin gosong aja.” Ruben lebih dulu menyapa.
“Sekarang udah enggak kotak-kotak video. Dan pasang wi-fi, pasti.” Azka sedang memakai kacamata mode belajar, tetapi untuk beberapa menit ke depannya, ia pasti akan menanggalkan mode belajar dan lebih asyik mengobrol random dengan Naraya dan Ruben.
“Ya... jangan tanya-tanya yang bikin kesel. Gue paling enggak bisa ceritain pengalaman di sekolah. Mana si bully itu masih wara-wiri dan gangguin gue seenak jidat. Berhubung dia anak donatur gue, enggak bisa ngapa-ngapain. Bolos aja. Enakeun gitu.” Naraya merebahkan tubuhnya di kasur, mencari posisi paling enak. “Dan... yes. Di sini baru aja pasang wi-fi kalau kata simbah-simbah gue, petugas dari providernya sampai kesasar. Di sini enggak ada nama jalan, plakat, makanya enggak heran kalau ada mas-mas kurir yang enggak bisa nemuin alamat orang.”
“Ngenes amat idul lu. Kasian banget. Kalau aja gue ada di situ, udah gue hantam mukanya pakai barbel!” Ruben memamerkan barbel yang baru saja ia beli. Ancaman tadi jelas ia tunjukkan kepada Bisma dan dua kroconya.
“Hilih! Barbel baru iya. Dipakainya juga pas pertama kali aja. Sekarang cuma jadi pajangan. Jangan dengerin dia deh. Mending lo minta pindah aja sama nyokap lo lagi deh. Percuma juga sekolah di situ tapi kehidupan lo enggak tenang.” Saran dari Azka tentu akan Naraya setujui jika itu satu minggu yang lalu. Namun, untuk kali ini Naraya menggeleng.
“Gue bakal bertahan di sekolah itu. Ada sesuatu yang bikin gue bertahan. Tapi gue belum bisa ceritain.” Jawaban pendek Naraya menimbulkan muka-muka julid, tetapi Ruben buru-buru memberikan tebakan.
“Oho, pasti perkara cewek, ya? Cewek-cewek desa emang beda, sih. Lo kepincut sama siapa?”
Naraya bergidik ngeri. “Gila lo, ya. Cewek-cewek di sini ngeri. Enggak dulu kalo urusan cewek. Lebih mending cewek 2D sama karakter novel.”
Azka mengacungi jempol. Sebagai sesama penyuka hal-hal fiksi, mereka berdua memang sepakat untuk urusan yang satu ini. Ruben dan Azka sempat terlibat saling adu ejekan karena perkara perempuan asli dan dua dimensi. Selagi keduanya berdebat, Naraya teringat dengan penjelasan tentang warna emas. Ah... apakah benar kalau ia memiliki aura kepemimpinan? Padahal selama ini ia lebih banyak diam dan tidak melakukan apa-apa. Apakah mereka juga memiliki pendapat yang sama?
“Uhm... gengs, mau tanya bentar. Agak OOT sama topik awal kita, tapi gue mau tanya dong. Menurut kalian... apa gue ada aura-aura kepemimpinan gitu? Pokoknya aura-aura yang berwibawa, pemimpin, ya... yang semacam itulah.”
Ruben dan Azka termenung sebentar. Namun keduanya kompak memberikan jawaban sama. Iya. Naraya memang memiliki aura kepemimpinan.
“Ya... gue kayak lihat lo itu bisa diandalkan dan mengayomi... aduh apalah istilahnya. Pokoknya lo itu tipe-tipe yang bakal melindungi orang lain di luar keselamatan lo sendiri. Lo emang banyak diem sih, tapi diemnya lo itu emas. Lo jadi menjauh dari masalah-masalah karena banyak merenung. Ya... itu bagus, sih.” Azka lebih dulu menyuarakan pendapat.
“Gue banyak setujunya sama Azka, sih. Di antara kita bertiga, kayaknya lo yang kadar warasnya paling tinggi. Enggak pernah ada masalah juga pas dulu masih di sekolah. Sikap lo juga kayak pemimpin-pemimpin itu, tenang, sopan, ramah, ya... pokoknya sih. Makanya kalau ada masalah apa-apa, kita berdua pasti minta saran apa pun dari lo, ‘kan? Itu karena kita tahu lo bisa diandalkan,” imbuh Ruben.
Naraya termangu. Ia tidak menduga akan mendapatkan jawaban seperti ini. Panggilan video itu terputus setengah jam kemudian. Masing-masing pamit karena urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Ruben yang tengah bermain gim, lalu Azka yang mendapatkan ketukan cinta di pintu dari sang bunda, menanyakan apakah pekerjaan rumah sudah selesai. Maka, berakhirlah obrolan mereka. Naraya juga mengerjakan pekerjaan rumah, materinya dipinjamin Aditya, dan tidak butuh waktu lama mengerjakan pe-er itu.
Malam belum terlalu larut ketika Naraya melihat ke luar kamar melalui jendela. Latihan kedua mereka akan dilakukan besok, sore hari. Karena Naraya sudah menemukan warna energinya, maka hal selanjutnya adalah menemukan kekuatan apa yang bisa ia lakukan. Naraya menjadi lebih antusias menanti sesi latihan berat itu daripada sekolah. Andai saja tidak ada pagi dan langsung saja terlempar ke sore hari.
|Bersambung|