33. Pelatihan Pertama – III

1200 Kata
33. Pelatihan Pertama – III “Ayah betulan harus menggantikanku dengan orang lain. Aku tidak kuat melakukan semua latihan melelahkan ini.” Untuk ke sekian kalinya, Naraya mengatakan celetukan yang sama. Mungkin ia hanya putus asa dengan semua latihan berat yang dibebankan langsung ke pundak. Baru saja selesai mengelilingi ladang rumput yang luas itu, ia masih harus menyelesaikan push up, sit up, dan squat jump  juga. Ayahnya sendiri malah bersantai sembari memakan pisang. “Kenapa kau selalu saja menyebut-nyebut masalah itu. Monyet memang bukan hewan setia seperti merpati atau srigala. Tapi kami tidak seburuk buaya yang punya banyak pasangan di mana-mana,” balas ayahnya tak acuh. “Faktanya, buaya adalah hewan yang monogami seumur hidupnya,” koreksi Naraya. “Hei, buaya yang Ayah maksud adalah istilah yang kalian buat sendiri untuk laki-laki hidung belang. Sekarang pemuda-pemuda lokal malah menggunakan istilah garangan* untuk menggantikan istilah buaya itu. Ayah tahu, kok, kalau buaya hewan yang setia.” Ayahnya malah protes. “Dan lagi… meskipun Ayah ini siluman monyet, tapi Ayah bukan monyet itu sendiri. Ayah ini istimewa dan kau pun juga.” (*sejenis musang yang sering kali memangsa ayam) Naraya melambai-lambaikan tangan lemas. Menolak berdebat. “Aku sudah tidak kuat. Kalau Ayah masih ingin menyuruhku melanjutkan latihan ini, mungkin kaki-kakiku akan pecah. Ayah lakukan sendiri saja, ya. Karena staminaku sejak dulu memang sudah tidak bagus, lebih baik aku banyak-banyak membaca buku.” Ayahnya berdeham. “Ehem. Bukannya Ayah tidak tahu kau sedang berusaha meningkatkan stamina dengan mengurangi banyak makanan berlemak dan berminyak, serta memulai olahraga kecil-kecilan tadi pagi. Kau sebenarnya ingin memperbaiki stamina agar bisa berlatih lebih baik dengan Ayah bukan? Jangan buru-buru menyerah hanya karena mendapatkan pelatihan yang buruk di percobaan pertama. Ayah tahu kau pasti bisa. Jangan manja. Ibumu saja tidak pernah menyerah pada keadaan. Kau harusnya mencontoh ibumu.” Naraya mendengkus, tampak tidak senang dengan pengandaian yang diberikan sang ayah. “Uh… aku jadi waswas karena Ayah mengingatkanku sedang membolos. Kalau Ibu tahu aku sedang membolos, entah apa yang akan ia lakukan padaku nanti. Dan lagi… aku juga tidak bisa minta bantuan kepada Ayah. Yang ada Ibu akan mengamuk dan membenci kita bertahun-tahun. Saat ini pun aku sedang perang dingin dengan Ibu.” Iswara terkekeh. “Ya… itu salahmu sendiri karena tidak mengatakan apa pun apa lagi meminta maaf. Belajarlah dari kesalahan Ayah yang tidak pernah melakukan segalanya dengan benar kepada ibumu.” “Aku tetap khawatir bagaimana menjelaskan kepada Ibu tentang bolos pertamaku di sini.” “Lakukan latihan sebisamu. Lalu… kalau kau sudah tidak bisa melakukannya lagi, kau sudah boleh pulang. Ayah tidak akan memaksamu, kok. Lakukan saja yang kamu mampu. Selagi kau menyelesaikan push up, situ up, dan squat jump itu, Ayah akan bermeditasi sebentar. Longsor yang kemungkinan akan datang lebih menguras tenaga daripada mengawasimu berlatih,” ujar ayahnya sembari memasang pose bersemadi di tempatnya rebahan sambil makan pisang tadi. Kali ini ia duduk bersila di tempat semula sembari memejamkan mata. Kalau kata orang, tinggalkan saja. Toh, tidak dilihat pula. Namun, Naraya yang semula tidak memiliki niatan melanjutkan latihan justru memasang sikap push up dan dengan tertatih-tatih mencoba menyelesaikan lima puluh kali push up yang diperintahkan sang ayah. Entah karena hawa di alam siluman yang masih segar dan belum tercemar atau apa, Naraya merasa lebih menikmati sesi olahraga melelahkan ini daripada belajar di sekolah. Ah… karena di sekolah ada Bisma dan kawan-kawannya. Ia hanya merasa buruk jika berdekatan dengan mereka. Seperti yang terjadi hari ini tentunya. Selagi Iswara bersemadi, Naraya sudah menyelesaikan lima puluh kali push up. Jangan tanya apakah ia kelelahan atau tidak. Sudah jelas ia kelelahan dan masih harus melakukan dua pemanasan lagi. Tak ingin terlalu memaksakan diri, ia pun memangkas jumlah yang harusnya dilakukan. Semuanya dilakukan sebanyak sepuluh kali. Namun tetap saja dengan lari dan  push up yang melelahkan itu, semua tenaganya sudah tersedot habis. Ia berbaring di tanah, berusaha mengistirahatkan tubuh dan menenangkan pikiran. “Sudah capek? Padahal banyak yang jumlahnya kamu pangkas loh,” tegur ayahnya yang secara sengaja mengusik Naraya yang tengah beristirahat. Naraya meringis dibuatnya. “Oke, oke. Aku akan melakukan sesuai jumlah yang Ayah suruh,” balas Naraya kesal. Kekehan Iswara menyambut. “Ayah tidak menyuruhmu untuk melakukan pemanasan itu lagi. Di posisi kelelahan seperti ini, bukankah kau merasakan sesuatu?” pancing ayahnya. Naraya mengernyit, masih dengan napas yang memburu dan satu-satu ia melirik ayahnya kesal. “Sudah jelas rasanya capek dan menyakitkan!” Iswara juga meringis. Putranya sangat galak. Persis sepertin ibunya. “Tolong jangan terlalu galak kepada Ayah. Ini ada hubungannya dengan menemukan warna energimu kau tahu. Sekarang coba kau pejamkan mata dan rasakan apa yang meluap-luap dalam dirimu. Ingat di mana titik yang sudah Ayah tunjuk? Kau bisa menemukannya di sana. Berkonsentrasilah ketika tubuhmu masih lelah seperti ini, karena energimu akan lebih mudah ditemukan. Percayalah,” tandas ayahnya. Naraya menurut saja kendati ia sendiri agak sangsi dengan perkataan sang ayah. Sesuatu yang meluap-luap di dalam dirinya. Energi yang mungkin dimaksudkan itu. titik yang tadi ayahnya tunjuk berada di perut. Yang menurut beberapa orang, di sanalah pusat energi manusia berada. Entah apa namanya, chi, cakra, aura, ah… entalah apa itu namanya. Namun Naraya tahu bahwa ia memang harus menemukan energi itu dan apa warnanya. Namun, sekalipun sudah memejamkan mata dan mencoba fokus, pada akhirnya ia tidak mendapatkan apa pun selain rasa lelah dan napas yang tersendat itu tadi. “Ah! Aku tidak tahu lagi! Aku tidak bisa menemukan apa pun!” protes Naraya kepada ayahnya. Iswara sendiri tidak terkejut jika Naraya memberikan protes yang demikian. Percobaan pertama tak melulu harus mendapatkan kesan baik. Justru karena itulah ia ada di sana dan akan menuntun Naraya agar tidak salah jalan. Iswara mendekati Naraya. Ia meletakkan jari-jari di sekitar pelipis sang putra. Awalnya, Naraya menduga jika ayahnya mungkin akan membuka titik-titik energi itu melalui kepala atau bagaimana, tetapi yang terjadi selanjutnya hanyalah sang ayah memberikan pijatan lembut agar tidak terlalu tegang dan stres. Ah… memang ini yang sedang ia butuhkan. “Bagaimana pijatan Ayah? Apakah kau menyukainya? Ini cukup ampuh untuk membuatmu kembali tenang dan tidak stres.” Naraya mengerang nyaman. “Ya… ini lebih kubutuhkan daripada apa pun. Mungkin sebenarnya aku tidak punya energi seperti yang Ayah punya. Itulah jawaban kenapa dari tadi sampai sekarang aku belum bisa menemukan dan merasakan  energiku sendiri.” Ayahnya kembali terkekeh. “Tidak… kau hanya perlu sedikit beristirahat. Itu saja. Ini semua salah Ayah. Ayah tidak akan memaksa atau menganjurkanmu melakukan apa pun lagi. Kau di sinilah sebentar selagi Ayah mengambil air dan makanan. Tetaplah di sini dan jangan ke mana-mana, selama kau berada di wilayah teritori Ayah, kau akan aman.” Ayahnya meninggalkan Naraya. Terasa jelas dari langkah pria itu yang seolah-olah menghilang. Ia pasti pergi dengan cara terbang sehingga tidak ada langkah kaki yang terdengar. Dengan mata yang masih terpejam, Naraya berusaha santai dan tenang. Tepat pada saat itulah ia seperti merasakan gejolak-gejolak kecil dalam dirinya. Seperti percikan-percikan kecil cahaya kecil. Tepat dari dalam perut. Seperti titik yang ditunjuk ayahnya tadi. Ia seperti melihat gejolak-gejolak kecil itu memiliki warna yang hangat. Ketika Iswara baru saja turun dari tebing sembari membawa air minum dan beberapa buah-buahan. Naraya tiba-tba saja bangun dan menyambut kedatangan ayahnya dengan berkata, “Sekarang aku sudah bisa merasakan energi itu dan menemukan warnanya!” |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN