32. Pelatihan Pertama – II

1185 Kata
32. Pelatihan Pertama – II Ketika pertama kali terkena guyuran air terjun, Naraya tidak mampu menahan kepala tetap tegak. Ia jatuh ke dalam air dan segera mendapatkan bantuan dari ayahnya. “Duh, Thole. Ndadak njlungup*.” (*Pakai acara jatuh ke depan; njlungup adalah istilah Jawa untuk jatuh ke depan) “Ayah… apa kau benar-benar mau membunuhku? Dengan begitu kau bisa menikahi perempuan lain dan mendapatkan penerus baru?” Naraya berada di fase linglung dan lemas sehingga tidak bisa memfilter apa yang sedang dikatakan. “Hush, bicara apa kamu? Sebaiknya kita mencoba beradaptasi dengan air ini dulu daripada bermeditasi dan mematahkan leher. Bangunlah dulu dan cari tempat yang nyaman untuk duduk. Ayah seharusnya tidak membuatmu terburu-buru.” Iswara mengangkat Naraya dari air dengan satu tangan. Didudukkannya pemuda enam belas itu di batu seperti mengangkat bayi usia enam bulan. Naraya memencet salah satu lubang hidung, mencoba mengeluarkan air yang masih mengganjal di dalam sana. Ia lantas berkata dengan suara agak berdengung, “Aku yang salah karena mencoba menghindari Bisma dan membolos. Aku pantas mendapatkannya.” “Haha, pria yang baik memang harus menyadari dan mengakui kesalahannya. Ibumu mendidikmu dengan sangat baik.” Iswara menepuk-nepuk pundak sang putra, menunjukkan rasa bangganya. Hanya saja Naraya bukan tipe orang yang suka dipuji. “Ayah! Hentikan itu.” Semakin dipuji, semakin merah wajahnya dan karena perubahan ekspresi itulah ayahnya makin rajin menyanjung Naraya hingga pemuda itu akhirnya merajuk. Sejenak mereka melupakan tengah berada di tengah sesi latihan yang serius. Selagi Naraya merajuk padanya, Iswara mencari-cari sesuatu yang bisa mereka makan. Sebagai monyet, sebenarnya ia bisa makan apa pun yang diberikan. Menjadi omnivora, terlebih lagi tidak pilih-pilih makanan, Iswara lebih banyak memakan camilan manusia seperti keripik kentang, roti, dan bahkan pernah sesekali merokok. Melalui sesajen yang diberikan kepadanya dulu, satu dua kali ia mencoba. Namun tidak mengulanginya lagi. “Kau pasti merajuk karena lapar. Lihat apa yang Ayah bawa untukmu.” Iswara menghampiri Naraya yang tengah duduk merajuk di tepian sungai. Di tangannya, seikat ikan dalam ukuran besar menyapa. Naraya kembali dibuat kagum dengan benda-benda yang baru saja ia lihat. “Ini ikan yang bisa ditemukan di sini?” tanya Naraya kagum. Iswara terkekeh geli. “Tidak… selagi kau tadi merajuk, Ayah keluar sebentar ke dunia manusia dan mengambil dua atau tiga ikan dari perangkap yang dipasang di sungai. Ya… nasib Ayah karena bisa mendapatkan ikan dalam jumlah besar. Karena kau belum pernah mencicipi hasil masakan Ayah, mari kita coba ikan bakar ala chef Iswara.” Naraya lagi-lagi dibuat kagum dengan hal yang baru saja terjadi. Ayahnya menyalakan api dengan tangan. Melalui aura kemerahan yang keluar dari tangannya itulah ikan bakar terhidang dalam waktu singkat. Ayahnya pandai membersihkan ikan dan membakarnya juga. Kalau semisalnya ia pensiun jadi penjaga gunung, beralih profesi menjadi penjual ikan bakar sepertinya bisa menjadi karier yang cemerlah nantinya. Ya… itu kalau ayahnya bersedia juga dan itu berarti pula ia yang akan menggantikan peran sang ayah. Uh… Naraya tidak ingin membayangkan itu lagi. “Ayah rasa pelatihan ini terlalu terburu-buru untukmu. Masa percobaan tiga puluh hari tidak akan memberikan pengalaman apa pun jika dilakukan dengan tergesa-gesa. Ada baiknya kau belajar perlahan tanpa dibatasi waktu. Bukankah itu lebih baik?” tanya ayahnya di sela-sela acara makan mendadak itu. Naraya mendongak, menatap balik sang ayah. “Aku hanya mencoba, bukannya mau menjadi penerus Ayah sungguhan. Dan lagi… untuk ilmu-ilmu atau bela diri, aku hanya membutuhkan yang bisa membuatku terlindungi. Bukannya menyakiti orang. Aku juga masih memiliki niatan kembali ke ibu kota kalau misalnya perundungan yang dilakukan Bisma di sekolah masih berlanjut. Jadi… Ayah tidak usah berharap banyak aku akan berlatih mati-matian untuk menggantikan peran Ayah atau bagaimana.” Iswara tercenung. Memang sudah jelas sejak awal Naraya tidak memiliki niatan. Kalaupun semisalnya pemuda itu rajin berlatih, tujuannya bukan tentang Iswara sendiri dan gunung ini, melainkan untuk melindungi diri. Ia tidak bisa menyalahkan Naraya untuk itu. Mereka juga belum terlalu dekat. Pria itu membuang napas, lalu berkata, “Iya. Ayah paham. Kalau kau memang menghendaki tiga puluh hari saja, Ayah juga tidak akan memaksamu melakukan hal yang tidak kamu sukai lagi. Tapi sebagai gantinya, kamu harus bersedia dengan latihan keras. Ini bukan sekdara peringatan kosong, ya? Ayah akan memberikan pelatihan yang cukup keras untukmu. Maka dari itu, kau juga harus mempersiapkan tubuhmu dengan baik.” Ia lantas menarik lengan Naraya dan menunjuknya. “Ini adalah tubuh yang belum siap dengan latihan berat. Mulai sekarang kau harus memperbaiki ini dulu. Tubuhmu kurus seperti papan. Dengan tubuh seperti ini, kau tidak akan bisa menahan latihan berat. Mulai saat ini bentuklah tubuh dulu.” Naraya sebenarnya juga mengiakan saja maksud ayahnya. Ia sejak awal tidak terlalu peduli dengan membentuk atau merawat tubuh. Toh, kalau semisalnya ia sudah jadi bapak-bapak, tidak akan ada waktu untuk berolahraga. Sibuk dengan dunia kerja dan mengurus anak akan menjadikannya bapak-bapak perut buncit yang suka baca buku kalau dapat waktu senggang alih-alih berolahraga. “Mulai sekarang, mari kita mulai dengan membentuk tubuhmu ini. Kita akan mencari tempat yang lebih lapang supaya kau bisa berlari dan melakukan beberapa aktivitas fisik lainnya,” imbuh Iswara kemudian sehingga terpikirkan mengajak Naraya turun dari tempat ini. Maka di sinilah mereka, sebuah lapangan berumput yang luas. “Ini juga masih masuk wilayah teritori Ayah?” tanya Naraya. “Iya, kau bisa berlari di sini sepuasmu. Luasnya seperti stadion sepak bola bukan?” Pertanyaan itu dibalas dengan anggukan antusias dari anaknya. Namun Naraya buru-buru kaget ketika mendengar kelanjutan dari perkataan ayahnya. “Kalau begitu, kamu putari lapangan ini sebanyak sepuluh kali saja dulu. Itu lebih baik daripada Ayah menyuruhmu berlari sebanyak seratus kali putaran bukan?” Naraya bengong. “Sepuluh putaran? Tapi, tapi, tempat ini kan sangat luas.” “Oh, kau mau seratus kali putaran?” goda sang ayah. Naraya mendengkus. Sepuluh lebih baik daripada seratus. Ia melakukan beberapa pemanasan kecil sebelum mulai berlari. Iswara sendiri mengawasi Naraya dari tengah-tengah lapangan sembari menikmati ikan bakarnya. Tak lupa menyemangati sang anak. “Semangat terus, Thole. Ayah akan menyemangati dan menunggumu dari sini.” Naraya mendelik kepada sang ayah, ia mulai berlari pelan-pelan seperti sedang jogging. Ke depannya jangan pernah membantah ayahnya, pria itu tidak akan segan-segan memberikan tawaran terburuk karena hal itu. Kendati hanya sepuluh putaran, pada putaran keempat, Naraya sudah tampak ngos-ngosansan nyaris saja terjatuh. Namun ia tidak bisa dikalahkan di sini oleh rasa malas. Ia harus bisa memenuhi target yang diberikan. Kendati beberapa kali terhuyung dan nyaris terjatuh, Naraya pantang menyerah. Apa pun yang terjadi, ia harus bisa menyelesaikan target mengelilingi sepuluh putaran itu. Setelah beberapa kali terhuyung, terjatuh, berhenti sejenak, menggantikan larinya dengan langkah-langkah pelan, tersandung, dan terguling, akhirnya Naraya menyelesaikan pemanasan sepuluh kali putaran itu dan menjatuhkan tubuhnya di depan sang ayah yang baru saja menandaskan ikan bakar. Sesisir pisang menggantikan ikan bakarnya. “Kau akhirnya berhasil menyelesaikan pemanasan pertama. Mari lakukan pemanasan kedua.” Sambut sang ayah, meninggalkan keterkejutan lain bagi Naraya. “Eh?” celetuk Naraya kaget. “Iya, pemanasan lain. Sekarang push up sebanyak lima puluh kali dulu, nanti dilanjutkan dengan sit up, dan squat jump.” Tambahan dari ayahnya membuat Naraya meringis, nyaris menangis. Ini adalah pelatihan yang berat untuk disebut pelatihan pertama. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN