31. Pelatihan Pertama – I

1249 Kata
31. Pelatihan Pertama – I Iswara terkejut dengan kedatangan Naraya yang terlalu awal. Karena matahari belum terlalu meninggi walaupun panas sudah membakar kulit—mari salahkan perubahan iklim ekstrem ini—ia mengira ini masih waktunya sekolah. Mungkin sekitar pukul delapan atau setengah sembilan. Mungkinkah itu berarti putranya sedang membolos? Iswara menyambut kedatangan Naraya dengan menyilangkan kedua tangan di depan d**a dan memasang tatapan galak. “Apa? Ayah mau memarahiku karena membolos, ya? Ya… makhluk mistis seperti Ayah yang tidak pernah bersekolah tak akan pernah merasakan senangnya membolos,” celetuk Naraya ketika menyadari arti tatapan dan gestur sok galak yang dilakukan sang ayah. Karena itu pulalah Iswara segera menurunkan tangan dan kehilangan eskpresi galaknya. “Kenapa kau membuat Ayah merasa sangat buruk dan sedih? Ayah juga ingin merasakan seperti apa sekolah itu,” protes Iswara. “Sudahlah. Aku datang ke sini karena ingin belajar juga, kok. Ayah tidak perlu jadi murid yang selalu mendapatkan tekanan. Jadilah guruku untuk hari ini. Mari melakukan pelatihan yang waktu itu kita bicarakan,” putus Naraya. Iswara mengedipkan mata beberapa kali, lalu tiba-tiba saja matanya berbinar. “Akhirnya hari yang aku tunggu-tunggu datang juga. Pasti menyenangkan sekali bisa menjadi guru privat bagi putraku tercinta. Ayah akan mengajarkanmu banyak hal. Kau harus bisa memanjat pohon, melompati puncak-puncak pohon, berbicara pada hewan, jangan lupa belajar mengumpulkan energi-energi lain yang bisa kamu kutip dari alam, lalu—“ “Tunggu, tunggu, aku tidak ingin hal-hal menyeramkan seperti itu. ajarkan saja aku sesuatu agar bisa menghindari Bisma dan tidak terlibat hal-hal menyebalkan dengannya. Ayah sudah melihat aku dipukul dia sampai babak belur. Ayah juga sudah melihat betapa buruk sifatnya. Aku tidka ingin berurusan dengannya selama bersekolah di sini. Jadi… jangan ajarkan aku hal-hal aneh dan berikan saja ilmu yang cukup. Menghilang atau mimikri, menjadi kerikil atau apalah itu. Yang penting aku tidak terlihat mencolok.” Iswara murung. “Biasanya orang ingin terlihat menonjol. Padahal anak Ayah juga tampan, apa salahnya menjadi populer. Kau menyia-nyiakan wajah yang diturunkan dari ayahmu ini.” “Ayah!” protes Naraya. “Tolong ajarkan saja sesuatu yang normal dan jangan menarik perhatian orang banyak. Aku tahu Ayah hanya merasa bersalah karena melewatkan semua pertumbuhanku, tapi setidaknya jangan membuatku malu karena pujian-pujian itu.” Iswara mengukir segaris senyum tipis. Naraya sangat mirip dengan ibunya yang tidak suka dengan pujian dan apa adanya. Menjalani seluruh tumbuh kembangnya hanya bersama sang ibu, menjadikan Naraya seperti kloningan kecil Esti. Padahal mereka sama-sama memiliki bakat menjadi pusat perhatian. Esti yang cantik dan memiliki tangan ajaib pandai mengolah makanan. Lalu Naraya yang tampan dan pandai menyusun diksi-diksi apik, sesuai dengan hobinya membaca buku. “Oke, oke. Ayah tidak akan berkata seperti itu lagi. Hanya saja Ayah tidak bisa memberikanmu jalan pintas untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kau harus memulai dari yang dasar jika ingin menemukan trik-trik sendiri. Pelatihan ini tentu ada hubungannya dengan pelajaran untuk menjadi penerus pelindung gunung ini. Ayah akan memberikan pelatihan itu. Tidak ada pertimbangan. Walaupun berat, tapi nantinya kau akan memahami mengapa Ayah melakukan ini.” Iswara memasang sikap serius dan terbaca jelas oleh Naraya. “Aku sebenarnya tidak senang dengan bagian penerus pelindung gunung itu. Tapi aku juga sadar kalau melakukan jalan pintas tanpa mengetahui ilmu dasar pastinya hanya akan membawaku pada hal buruk, jadi… tak apa dengan pelatihan menjadi penerus itu. Aku tak masalah. Tapi Ayah jangan merasa senang karena aku berlatih soal menjadi penerus. Itu sama sekali tidak terpikirkan di kepalaku.” Naraya sekali lagi mengingatkan ayahnya agar tidak melewati garis. Ayahnya mengangguk. “Baiklah kalau begitu, mari kita kembali ke alam siluman. Gunung tua ini tidak akan bisa bertahan dengan pelatihan kita yang lakukan. Mari siapkan dirimu untuk pelatihan ekstrem ini.” Di belakang punggung ayahnya sebuah celah terbuka, lalu melebar seperti pintu. Iswara menarik tangan Naraya memasuki gerbang alam siluman. Pemandangan yang sama terhampar di depan mata, embusan angin kencang, dan hawa yang entah mengapa merasa mencekik. “Ayah sudah menceritakan padamu tentang energi waktu bukan? Setiap makhluk hidup memiliki warna energi masing-masing. Punya Ayah berwarna merah.” Iswara membuka telapak tangannya aura kemerahan menyelubungi tangannya seperti asap. “Di alam manusia, Ayah bisa pingsan jika mengeluarkan ini cukup lama. Tapi di sini beda lagi. Maka dari itu berlatih di sini adalah pilihan tepat.” Naraya membiarkan dirinya tenggelam dalam pemandangan luar biasa itu. Padahal ia sudah melihat alam ini sekali, tetapi untuk kedua kalinya dibawa ke sini lagi, ia tetap belum bisa kehilangan euforia itu. “Ah… aku kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan tempat ini. Seolah kata-kata tidak cukup untuk menggambarkannya. Mungkin aku akan menikmati tempat ini sebisa mungkin.” “Haha, kau tidak akan menikmatinya jika sudah mulai berlatih. Untuk menemukan warna energimu, Ayah punya beberapa opsi supaya kau bisa menemukan warnamu sendiri. Kau saja belum bisa merasakan energimu. Untuk itu… kau harus merasakannya lebih dulu.” Iswara menghampiri Naraya lalu menyentuh perut sang putra dengan telunjuknya. “Kau bisa merasakannya di sini. Tapi itu nanti. Untuk bisa menemukan dan merasakan energi itu, kau harus berada dalam kondisi terpojok. Dan… ini adalah salah satu bagian tidak menyenangkannya.” Naraya pun mendapatkan firasat tidak baik karena peringatan ayahnya yang satu ini. “Situasi terpojok itu apakah sesuatu yang mengancam nyawa? Dan… uhm… kau tidak akan mendorongku secara sengaja ke jurang bukan?” Iswara meringis. “Ya… sebenarnya itu ide yang bagus. Cara paling cepat menempatkanmu pada situasi terpojok. Tapi tentu saja Ayah tidak ingin melakukan percobaan pembunuhan pada darah daging Ayah sendiri. Jadi… mari kita mulai dengan yang agak aman saja lebih dulu.” “Dan apakah itu akan membahayakan nyawaku?” Naraya mendadak merasa menyesal bolos sekolah demi menemui ayahnya. Ia tidak akan dilatih melakukan hal-hal yang ekstrem ke depannya bukan? Tapi mendengar bagian tentang memanjat pohon, melompatinya, dan hal-hal menyeramkan lain, ia meyakini bahwa ayahnya memiliki segudang latihan yang menyeramkan. “Mari kita coba dengan mandi lebih dulu,” ajak ayahnya sambil menunjuk air terjun yang dulu sempat Naraya kira akan terasa sangat dingin. Ayahnya tidak bercanda ketika menyebutkan tentang mandi bukan? Air terjun itu tampak lebih menyeramkan dari yang pernah Naraya lihat di dunia nyata. Dengan arus yang sangat deras itu, bisa saja lehernya patah jika meletakkan kepala di alirannya. “Ayah tidak akan menyuruhku bermeditasi di bawah alirannya, ‘kan?” tebak Naraya lagi. Mendadak menyebalkan sekali ketika ia pandai menebak dan semua tebakannya benar. Ketika ayahnya meringis menandakan jawaban ‘iya’ maka Naraya harus bersiap-siap lehernya patah. Ayahnya sudah lebih dulu melepaskan kain yang menutupi bagian atas tubuhnya, hanya menyisakan jarik untuk menutupi bagian bawah tubuh. Naraya sendiri hanya meninggalkan celana pendek, sementara seragam dan sepatu dibiarkan teronggok di sudut lain. Tentu saja dilipat dengan rapi sebelumnya. Ia tidak bisa meninggalkan barang-barangnya tidak tertata dengan apik. Sudah jadi kebiasaan sejak kecil untuk tetap terorganisir dan rapi. “Kau tidak mau masuk ke dalam sini? Kau lebih memilih didorong ke jurang atau bagaimana?” seloroh ayahnya. “Ayah betulan mau mendorongku ke sana, ya? Makanya Ayah bersemangat sekali dengan bagian mendorong itu?!” balas Naraya mengomel. Kendati demikian, ia belum juga masuk ke dalam air. Padahal ayahnya sudah duduk di salah satu batu dan menikmati diguyur air. Ia bahkan sama sekali tidak tergoyahkan. Ah… ayahnya bukan manusia, sudah jelas hal seperti ini tidak akan menyulitkannya sama sekali. “Aku datang, aku datang.” Naraya sudah tidak peduli lagi apa yang akan terjadi selanjutnya. Pelatihan ini sebenarnya guna menghindari Bisma dan segala hal yang berkaitan dengannya, apa pun itu yang penting terhindarkan dari Bisma. Semoga saja lehernya tidak patah sungguhan ketika duduk di bawah sana. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN