30. Kembalinya Bisma - II
Pak Andi tentu tidak ingin kedua siswa yang penting baginya itu kembali terjun dalam masalah. Keduanya memang sudah ditandai oleh pihak sekolah mengingat Bisma adalah anak donatur sedangkan Naraya memiliki banyak koneksi karena pertemanan ibunya dengan para pengurus yayasan. Pria itu betul-betul iri pada kekuatan orang dalam kedua muridnya. Ia bahkan sedikit berdebat dengan guru BK, meminta sedikit keringanan bagi Bisma dan Naraya. Sebagai gantinya, ia yang akan memberikan mereka berdua peringatan.
"Bapak enggak menduga kalau kalian berdua bakal terlibat pertengkaran lagi. Sebelumnya Bapak udah dengar kabar kalau kalian juga sempat ada adu pukul di luar lokasi dan jam sekolah. Untung kalian enggak dapat masalah gara-gara itu. Tapi buat yang kali ini, Bapak cuma bisa bantu sampai di sini. Tadi ada yang langsung lapor ke guru BK. Untung aja Bapak masih bisa bujuk dia buat lepaskan kalian." Pak Andi mengeluarkan beberapa batang rokok dari kotaknya. Diletakkan di depan Bisma dan Naraya. “Ambil, enggak papa kita ngerokok di sini. Laki-laki biasanya bakal akur kalau ada rokok.”
Naraya mengernyit. Tanpa merokok pun, mereka bisa akur sebenarnya. Namun, bukan rokok masalah utamanya di sini. “Saya enggak merokok, Pak. Saya juga mau meluruskan satu halo.”
Pak Andi baru saja menjepit rokok di bibir, Bisma mengurungkan niatnya menyulut api. Diliriknya Naraya dengan tatapan tidak menyenangkan. “Sok suci.”
“Saya enggak berkelahi dengan Bisma waktu itu. Saya dipukuli,” cetus Naraya yang seketika memantik kembali api kemarahan pada Bisma.
Pemuda itu balas menggebrak meja sambil menuding Naraya. "Monyet besar itu pasti bagian dari pesugihan ibumu, 'kan? Dia enggak bakal terima kalau anak majikannya dipukuli. Makanya monyet besar itu hajar gue habis-habisan. Pasti lo juga yang suruh dia, ‘kan?!”
“Kamu salah. Ibuku bukan orang seperti itu yang menggunakan cara instan untuk mendapatkan posisinya yang sekarang. Dan lagi, kamu juga baru saja mengakui kalau udah pukulin aku. Jangan salahkan makhluk yang enggak ada hubungannya dengan aku dan keluargaku.” Tersisa kecut di rongga mulut Naraya. Monyet itu sudah jelas ayahnya. Mana ada ayah yang membiarkan anaknya babak belur dihajar orang. Namun untuk saat ini Naraya akan bungkam jika ditanyai tentang si monyet.
Bisma mendorong Naraya marah. “Ha! Sebelum lo datang ke sini, enggak pernah ada masalah apa pun sama monyet-monyet di sini. Tapi sejak hari di lapangan itu, banyak monyet berdatangan ke sini. Bukannya itu udah cukup jadi bukti kalau mereka tertarik sama kamu? Karena keluargamu pakai pesugihan dari monyet!”
“Kenapa kamu membuat kesimpulan semudah itu hanya dengan alasan yang terkesan mengada-ada. Jangan asal tuduh!” Pada akhirnya Naraya juga tidak bisa menahan diri lagi. “Kamu boleh bicara buruk tentangku. Aku enggak masalah, selama ini pun diam aja. Tapi jangan sampai bawa-bawa nama ibuku!”
Sebelum keduanya kembali terlibat dalam pertengkaran, Pak Andi buru-buru menengahi. “Bapak salah karena mengira kalian bisa bicara baik-baik. Bisma, kamu balik saja ke kelas. Biar Bapak bicara sama Naraya.”
“Enggak!” tukas Naraya. “Biar saya aja yang pergi. Tanpa sekolah pun setidaknya saya lebih tahu tata krama dan sopan santun. Lebih baik dia di sini. Biar tata krama sama sopan santunnya diperbaiki.”
Pak Andi tidak dapat menahan kepergian Naraya karena menahan Bisma yang memberontak. Pria itu sendiri tidak peduli siapa yang meninggalkan ruangan. Entah itu Naraya ataupun Bisma, yang penting salah satu keluar dan sedikit memberikan ruang untuknya berpikir. Ia lantas menuntun Bisma kembali ke tempat duduk dan mengajaknya berdiskusi sebentar. Mereka tidak peduli lagi ke mana Naraya pergi. Ruangan itu kembali dipenuhi asap dan aroma tembakau.
***
“Saya enggak nyangka kalau Mas Naraya bisa bolos juga. Ini baru jam pertama, kalau sudah hilang dari jam segini pasti nanti dicariin guru dan dianggap enggak masuk.” Sugi meletakkan segelas teh manis hangat di hadapan Naraya. Ia cukup terkejut mendapati pemuda itu mendatangi pos dan meminta sedikit ruang untuk menyendiri.
“Ada sedikit masalah sama Bisma. Saya juga awalnya enggak mau bolos. Tapi enggak tahu mau ke mana lagi. Dan lagi… saya mau cerita soal pelatihan rahasia dengan Ayah.” Perkataan Naraya yang satu itu betul-betul menarik atensi Sugi. Wajahnya seolah bercahaya ketika kata pelatihan dan ayah meluncur dari bibir Naraya.
“Oh, jadi Mas Naraya mau teruskan tugas Kanjeng Iswara menjaga gunung? Ya… dengan keadaannya yang sekarang, saya juga khawatir kalau beliau bekerja terlalu keras. Saya bakal dukung Mas Naraya apa pun yang terjadi,” ujar Sugi semringah.
Naraya buru-buru menggeleng sembari menyeruput minuman yang dihidangkan. “Saya enggak mau jadi penerus Ayah, kok. Hanya ambil masa percobaan saja, buat mempelajari ilmu yang bisa berguna buat kelangsungan hidup saya di sini dengan tenang.”
Sugi menaikkan satu alis. Naraya buru-buru menjelaskan, “Ayah akan mengajari saya ilmu untuk membela diri dari Bisma. Melihat saya dihajar sampai babak belur, dia pasti juga memikirkan itu. Saya juga punya keinginan sendiri untuk belajar bela diri atau punya ilmu-ilmu sederhana. Niatan saya enggak sebesar itu buat ambil alih tugas menjaga gunung. Kalau tugas sebesar itu, saya enggak bakal sanggup.”
Sugi kehilangan kembali antusiasmenya yang tadi, tetapi ia tetap tersenyum. “Saya senang karena Mas Naraya menunjukkan tanda-tanda berbaikan dengan Kanjeng Iswara. Beliau juga pasti sangat senang karena akhirnya bisa dekat lagi dengan anak yang selama ini menghilang. Pasti Esti juga senang.”
Naraya mengulum senyum kecut. “Ibu sama sekali enggak tahu soal ini. Pelatihan itu, pertemuan rahasia saya dengan Ayah di genting, dan pertemuan-pertemuan kecil kami yang lain. Selama beberapa hari ini pun saya sama Ibu juga masih perang dingin. Tapi setidaknya itu enggak memengaruhi kegiatan sehari-hari. Saya bisa ngobrol sama Ayah pas malam, bantu-bantu Simbah Putri masak, sama Simbah Kakung ngarit dan kasih pakan kambing, sama Adit bisa main-main. Tapi… tetap aja, saya sama Ibu belum baikan sejak saat itu.”
Sugi menggeleng tanda prihatin. “Ya… kalau saja Kanjeng Iswara enggak gengsian. Mungkin kejadiannya bakal beda.”
Naraya mengiakan perkataan Sugi. “Ayah sebenarnya sudah berkali-kali saya suruh ketemu langsung sama Ibu, tapi yang ada malah ke sana-sini enggak keruan, ngalor-ngidul enggak jelas. Kadang juga malah menghindari topik itu. Makanya saya juga agak emosi sama Ayah.”
Menyadari bahwa kedua orang berbeda generasi itu memiliki kritikan yang sama kepada Iswara, mereka pun tertawa bersama. Naraya menyadari bahwa sesekali membolos menyenangkan sekali, walaupun tujuannya membolos juga sangat aneh, tetapi setidaknya mendapatkan sedikit penyegaran. Mungkin sehabis ini ia akan menemui ayahnya yang sedang berpatroli di dalam hutan. Naraya buru-buru pamit ketika mengetahui Pak Andi mencari-carinya karena tidak kembali ke ruang kelas malah menghilang. Ia pergi dengan langkah berjinjjit dan diam-diam. Ia juga harus berterima kasih kepada Sugi yang telah mengulur waktu Pak Andi yang mendatangi pos keamanan. Ah, persetan dengan pelajaran. Ia ingin membolos saja seharian ini.
|Bersambung|