29. Kembalinya Bisma – I
Sepiring nasi goreng dan satu gelas teh manis ginastel* tandas. Bukan kebiasan seorang Naraya menghabiskan menu sarapan yang menimbulkan rasa kantuk itu. Ia menyambar tas di meja, berpamitan kepada kedua simbahnya, lalu bergegas menjemput Aditya. Kakek dan neneknya saling pandang. Sarapan ala orang kota sudah jadi kebiasaan Naraya selama beberapa minggu ke belakang, tetapi terhitung sejak kemarin, ia menggantikan roti dan jus buah dengan asupan penuh karbohidrat dan protein. Seolah sedang membutuhkan banyak tenaga. (*ginastel: legi, panas, kentel; umum digunakan untuk menyebut teh dalam kondisi panas, kental, dan manis)
Naraya sendiri memang membutuhkan banyak tenaga. Ayahnya memang hanya memberikan pelatihan kecil, tetapi standar kecil antara siluman yang memiliki kekuatan berkali-kali lipat dengan remaja setengah manusia setengah siluman tentu saja berbeda. Terlebih lagi dengan tubuh kurus, tidak konsisten berolahraga, akan menyulitkan pemuda itu menjalani latihan ke depannya. Hanya saja, ia memiliki tekad kuat untuk berhasil menjalankan pelatihan diri ini. Maka dengan begitu ia bisa menjalani sisa masa sekolah menengas atasnya dengan tenang. Ia memutuskan mengambil masa percobaan tiga puluh hari, bukan karena ingin mengambil alih posisi sang ayah, tetapi murni mendapatkan sedikit kemampuan untuk menghindari Bisma dan dua kroconya.
“Pokoknya aku tidak mau dipaksa-paksa lagi. Niatku hanyalah mempelajari sesuatu untuk menghindari Bisma tanpa ketahuan dan kelihatan mencolok,” ujar Naraya kepada sang ayah. Iswara tentu tersenyum senang ketika menyadari bahwa sang putra mulai menunjukkan sedikit pertanda baik. Yah… walaupun Naraya sendiri masih belum bisa menerima warisan dan tanggung jawab sebagai penunggu gunung ini.
Perubahan diawali dengan perbuatan kecil bukan? Bahkan dengan niatan Naraya berguru langsung kepada ayahnya, menumbuhkan harapan bahwa suatu saat nanti pemuda itu bersedia menggantikan perannya merawat gunung dan segala isinya ini. Diawali dengan perbuatan kecil, langkah tertatih, tidak harus dimulai dengan perbuatan besar dan langkah lebar.
Naraya menjalani hari-harinya sebagai siswa sekolah menengah atas dengan tenang selama tidak ada Bisma dan dua kroconya di sana. Karena siswa satu kelas sudah paham tabiat Bisma dan sejuta caranya untuk lari dari masalah, maka tidak ada yang protes ketika Trio BAU tidak masuk kelas. Tidak mengerjakan tugas pun mereka sudah dipastikan naik kelas dan lulus. Seperti pagi ini misalnya, Naraya dan Aditya mendapatkan sambutan hangat dari teman-teman sekelas mereka, diajak mengobrol dengan tenang lagi karena ketiadaan dua kroco Bisma yang memilih bolos menemani ketua mereka. Bahkan Kalia yang beberapa hari lalu menjaga jarak dari Naraya dan Aditya memiliki keberanian menemui mereka lagi dan mengobrol santai.
Namun, kedamaian tidak bertahan lama. Suasana menjelang masuk yang hidup dan damai berubah ketika Bisma memasuki kelas diikuti Atim dan Udin. Pemuda itu masih memiliki sisa-sisa lecet di wajah dan langkah yang terseok. Naraya menyadari jika ayahnya menyerang Bisma terlalu parah. Beruntung bagi Bisma karena tidak kehilangan nyawa. Walaupun tidak lagi sekuat dulu, ayahnya bisa saja mencabut nyawa Bisma karena serangan-serangan tidak terduga lain.
“Oh… gini suasana kelas kita pas kita enggak ada. Rame banget, padahal udah jelas-jelas ada orang yang sakit. Tapi kayaknya pada enggak punya simpati sama empati. Heran aja.” Bisma menghentikan langkahnya tepat di depan meja Naraya. Aditya memasang badan melindungi Naraya sementara Kalia menyembunyikan ponsel di belakang tubuh, jika keadaan menjadi lebih berbahaya maka ia akan menelepon Pak Andi, dengan harapan pria itu dapat mengetahui apa yang sedang terjadi.
Seperti yang sudah diduga-duga. Bisma tidak berhenti di depan meja Naraya tanpa alasan. Sebuah tendangan kencang menghantam meja Naraya, menghamburkan segala benda yang ada dan mengejutkan seisi kelas. Naraya berhasil menghindar dan bahkan menarik Aditya menjauh agar tidak terkena jejakan kaki Bisma. Beberapa siswa merayap keluar kelas, berusaha memberikan isyarat bantuan dari kelas lain.
“Gimana bisa orang yang harusnya lebih bonyok dari gue malah bisa masuk sekolah lebih cepet, mana dia enggak ada bekas luka lagi. Padahal udah jelas-jelas, dia harusnya enggak ada di sini. Luka-luka ini aja butuh lebih dari seminggu buat pulih. Dia malah sembuh kayak enggak ada bekasnya. Enggak masuk akal,” cerocos Bisma. Seolah-olah sedang berorasi, ia mengajak agar seluruh kelas memusatkan perhatian mereka pada Naraya yang terpojok di dinding.
“Kalian pasti tahu kalau Ibu dia itu pengusaha kue yang cukup sukses di ibu kota. Sekarang juga mau bikin usaha katering. Padahal kalau mau jadi orang sukses di kota gede, metropolitan pula, enggak mungkin pakai jalur jujur. Pasti mereka ikut pesugihan!” tuduh Bisma tanpa tedeng aling-aling.
Seisi kelas hening, tidak ada yang bereaksi. Mereka berada dalam situasi sulit. Tidak merespons pasti dinggap membela Naraya, jika ikut membalas ujung-ujungnya mereka takluk pada pemuda itu. Baik opsi satu dan dua sama-sama tidak menguntungkan. Naraya sendiri menahan diri. Ia tentu marah karena Bisma membawa-bawa nama ibu dan bagian buruknya menyebar rumor tidak berdasar kepada teman-teman sekelas.
“Kalian enggak percaya? Ini gue buktinya. Malam pas gue babak belur, ada monyet besar yang nyerang gue. Demi anak haram ini. Kalau bukan pelindung, pesugihan, itu apa namanya, ha? Kalian enggak percaya?” Bisma berorasi makin kencang, mengesampingkan fakta bahwa ia tidak begitu dianggap di sana.
Naraya menarik napas dan mengeluarkan selama beberapa kali. Kali ini perkataan Bisma sudah tidak bisa didiamkan saja. Karena ini menyangkut nama baik ibunya. Maka ia menerobos tubuh Aditya dan langsung saja menarik kerah kemeja Bisma. “Tarik lagi kata-katamu tadi kalau enggak mau berurusan sama wali kelas dan BK.”
“Halah, cemen! Pukul aja! Tonjok sampai babak belur. Lagian lo juga kaya, ‘kan? Sogok aja wali kelas sama guru BK. Kita bisa gelut lagi di sini kalo lo mau. Badan kayak gagang sapu kayak gini enggak bakal bisa kalahin gue.”
Naraya mendengkus. Dilepaskannya kerah kemeja Bisma sembari menahan amarah. “Kamu kembali cuma buat bikin keributan. Apa masih belum cukup kejadian kamu yang sebelumnya. Aku juga udah enggak mau negur lagi. Lakukan aja apa yang pingin kamu lakukan. Aku bakal ladenin.”
Bisma balas mendengkus. Dalam satu detik yang singkat itu, Bisma mendaratkan pukulan kencang ke wajah Naraya. Satu pukulan itu membanting tubuh Naraya ke tanah, menimbulkan teriakan histeris para sisiwi yang segera berlari keluar ruang kelas dan mencari bantuan guru. Selama beberapa menit, keduanya terlibat dalam adu pukul, kendati mendapatkan bantuan dari Aditya, tetapi pemuda itu juga beberapa kali dihadang Atim dan Udin yang notabenenya tidak berbakat dalam urusan berkelahi dan hanya bisa mengekori Bisma.
“Hei! Apa-apaan kalian!” Pak Andi memasuki kelas diliputi amarah. Lagi-lagi dua siswa yang sering beberapa hari ini menjadi fokus utama para guru. Yang satu siswa pembuat masalah, yang satu siwa pendiam. Kalau bukan karena uluran tangan dan bantuan dari yang lain, perkelahian kecil itu akan tetap terjadi hingga tengah malam. Akan menjadi berita besar di seluruh sekolah jika Bisma kembali masuk panti rehabilitasi. Maka, pria itu betulan melerai mereka dan menyuruh masing-masing rekan membawa Naraya dan Bisma ke tempat yang tidak menyenangkan. Dan… saatnya mengunjungi ruang BK lagi.
|Bersambung|