24. Potongan Masa Lalu – IV

1295 Kata
24. Potongan Masa Lalu – IV Sugi menyadari bahwa segalanya sudah terlambat. Tidak ada waktu bagi mereka menyelamatkan diri. Para orang tua yang semula menumpang di pendopo telah menghilang tanpa jejak, bahkan mengambil beberapa barang yang sekiranya dapat dijual lagi. Esti baru saja menyadari bahwa ia sudah terlalu lama membenci sang putra, sedangkan Iswara sendiri berada dalam posisi melindungi diri sendiri saja sudah terlalu menyulitkan. Di satu sisi, Sugi juga sudah pasrah. Dibatasi selembar kelambu yang membatasi antara ia dan Iswara, sebuah percakapan serius terjadi. “Sudah tidak akan yang bisa dipertahankan atau diselamatkan. Sudah saatnya kita menyudahi semua ini, Sugi.” Ucapan final itu menimbulkan sengatan di mata Sugi. Ia sudah melayani Iswara sejak masih muda, bahkan ia meninggalkan kesempatan menuntaskan pendidikan sekolah menengah atasnya demi melayani Iswara. Tidak dinyana-nyana inilah akhir dari perjalanan hidup melayani sang tuan. “Saya tidak akan menyerah, Kanjeng, Pastilah ada jalan untuk keluar dari masalah ini. Terlebih lagi, Anda harus bertahan dan tetap kuat karena memiliki anak dan istri. Anda tidak boleh berhenti sampai di sana saja. Akan ada masanya energi kehidupan Anda kembali, Kanjeng.” Sugi masih berusaha optimis di depan sang tuan, walaupun dalam hati ia begitu putus asa dan berusaha mengikhlaskan segalanya. “Aku cukup senang karena menjumpai orang yang setia seperti dirimu. Tapi… bagaimanapun juga dengan kondisiku yang seperti ini hanya akan menyulitkan kalian. Aku tidak bisa membawa mereka berdua ke alam siluman. Dengan kondisi seperti ini, mereka berdua hanya akan menjadi sasaran empuk siluman yang lain. Lalu kau sendiri… bagaimana menghadapi ormas-ormas itu? Mereka sangatlah kuat. Ini sudah saatnya bagimu pensiun, Sugi dan aku juga akan menikmati sisa waktu yang kumiliki dengan banyak merenung,” imbuh Iswara lagi. Kendati dibatasi dengan kelambu, Sugi meyakini bahwa sang tuan sedang menangis, terbukti dari suaranya yang berdengung dan beberapa kali terdengar menarik ingus. “Kanjeng… saya masih mampu melayani Kanjeng suatu hari nanti. Jangan anggap bahwa kesetiaan saya hanya sampi di sini.” Sugi meratap dan bersujud. Di posisi ini, ia sudah tidak bisa meninggalkan sang tuan kendati keadaan sudah tidak bisa lagi diperbaiki. “Bertobatlah Sugi. Hidupilah anak dan istrimu baik-baik. Kau tentu mendapatkan imbalan atas kerja keras yang sudah kau lakukan padaku bertahun-tahun. Kelak sawahmu selalu subur sepanjang musim. Rumahmu akan selalu terasa asri karena pepohonan di rumahmu tidak mengenal musim kemarau di tanah mereka. Serta keluargamu akan selalu meminum air paling segar dan sehat dari sumbernya langsung, sumur yang kau gali pada tengah hari yang sesuai dengan wetonmu. Hanya hal-hal sederhana ini yang bisa aku berikan padamu. Aku sudah tidak memiliki ilmu tinggi untuk diberikan, tapi… kalau kau tidak keberatan, akan kuajarkan ilmu membisiki orang tanpa terlihat melalui mimpi.” Sugi tidak akan pernah bisa menerima ini. Ia menangis dengan kencang di lantai, tetapi segera dihentikan ketika mendengar langkah kaki sang tuan yang turun dari ranjang. “Sugi… Naraya akan sangat sulit tumbuh ke depannya jika memiliki tanda seorang siluman dariku. Jika ia dan Esti ditangkap oleh ormas, mungkin mereka akan langsung menangkap Naraya dan membawanya ke laboratorium untuk dijadikan bahan percobaan. Maka dari itu, aku tidak bisa berdiam diri membayangkan hal-hal buruk menimpa mereka. Tanda buruk itu, aku harus menggantinya dengan yang lebih baik.” Sugi paham betul apa yang dimaksudkan sang tuan. Namun… kepada bayi yang begitu rapuh? Apakah sang tua sedang berada di fase linglung akut sehingga ia berpikiran memotong tanda itu? Terlebih lagi, darah dagingnya sendiri. Sugi tidak mampu menegakkan kepala ketika melihat Iswara mendatangi kamar Esti dan Naraya dengan menggenggam sebilah pisau yang mengilat. Sugi sudah tahu persis apa yang hendak dilakukan tuannya dan ia tidak sanggup menyaksikan keputusan sang tuan ke depannya. Pintu kamar berderit, sudah lama sejak terakhir kali mereka memperbaiki pintu. Esti yang tengah memberikan ASI kepada Naraya tentu terkejut dengan kedatangan Iswara yang terkesan sangat tiba-tiba itu. Semenjak menyadari bahwa ia sudah terlalu lama meninggalkan sang putra, ia juga menyadari bahwa padepokan ini tak lagi seramai biasanya. Semakin diperburuk dengan fakta bahwa banyak anggota melarikan diri sembari mengumpati Iswara dan Sugi sendiri. Tak lupa beberapa dari mereka yang kebetulan bertatap mata dengan Esti mengajak agar meninggalkan padepokan saja. Sudah tidak ada untungnya bertahan di tempat ini. Ormas akan datang menggusur dan orang-orang yang diharapkan menjaga keutuhan padepokan justru tidak terlihat batang hidungnya. Kini, dengan kedatangan sang suami dan asistennya yang membawa aura buruk, Esti tidak bisa melakukan apa-apa selain menggendong Naraya erat-erat. Pisau yang mengilat dalam genggaman Iswara membawa hawa buruk. Iswara menatap sang istri dalam satu titik. Tatapannya yang dingin kembali membawa hawa dingin yang membangkitkan bulu roma di sekujur tubuh Esti. “Ke depannya, kau tidak perlu bertahan di sini lagi. Sudah tidak ada harapan untukmu dan anak itu. Sebelum ia mendapatkan diskriminasi ke depannya, aku harus melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.” Iswara menarik Naraya dari genggaman Esti. Karena insting keibuannya, Esti berusaha mempertahankan sang anak dalam gendongan. Namun, Sugi sudah lebih dulu turun tangan dan menjauhkan mereka berdua. Tepat di depan mata Esti, Iswara memotong ekor kecil Naraya. Tangisnya meledak memecah keheningan hutan, darah berceceran, dan Esti kehilangan kesadaran dalam dekapan Sugi. Iswara tidak mampu menahan tangis setelah menyadari apa yang telah ia lakukan. Ia membagi lagi energi kehidupannya kepada sang putra, meredam rasa sakit yang dirasakan bayi itu. “Maafkan, Ayah… tapi memang ini yang harus Ayah lakukan padamu. Maka dengan begitu kamu dapat bertahan hidup di dunia manusia. Sekali lagi… maafkan, Ayah.” Butuh waktu tiga hari hingga keadaan Naraya pulih betul. Semenjak ekornya dipotong, sudah tidak ada lagi rambut-rambut lebat yang memenuhi tubuhnya. Dengan dipotongnya ekor tersebut, ia mirip dengan manusia. Hanya saja, tak bisa disangkal bahwa darah siluman masih mengalir di dalam dirinya. Kemampuan penyembuhan lukanya yang cepat, ia bahkan sudah bisa belajar berjalan walaupun belum berusia satu tahun, dan memiliki ketangkasan. Lalu, sebagaimana sang ayah yang dapat berkomunikasi dengan binatang, Naraya kecil memiliki keterikatan dengan binatang-binatang lain, terutama monyet. “Esti ingin menemui Anda, Kanjeng.” Setelah tiga hari Esti menggedor-gedor pintu kamar Iswara, itu adalah hari pertama mereka bertemu dalam suasana hati yang masih buruk. “Berikan dia pada saya dan saya akan menghidupinya dengan cara yang lebih baik,” putus Esti. Naraya sebenarnya masih bergelung dalam pangkuan sang ayah, tetapi anak itu segera diserahkan kepada Esti seperti sedang menyerahkan anak kucing. “Aku memang memotong ekornya untuk tujuan itu. Maka ia bisa hidup dengan nyaman tanpa diskriminasi dari orang-orang lain karena memiliki ciri seorang siluman. Kau—“ “Lebih baik kita berpisah ke jalan masing-masing. Anda juga tidak perlu lagi menemui Naraya. Biar dia saya rawat sendiri sampai dewasa. Melihat bagaimana Anda bersikap, Anda akan menjadi pengaruh buruk baginya. Anda bahkan tidak bisa mempertahankan padepokan ini. Bagaimana bisa Anda membesarkan seorang anak.”  Nada bicaranya santun, tetapi ketus. Kentara sekali bahwa Esti masih menyimpan dendam kepada Iswara. Sugi hendak menyela, tetapi Iswara sudah turun tangan langsung. “Baiklah jika itu maumu. Tapi sebagai Ayah aku juga berhak untuk menemuinya. Bukankah memang sudah seharusnya begitu?” “Tidak! Anda tidak berhak! Ayah yang melukai anaknya sendiri adalah orang tua yang buruk. Apa bedanya Anda dengan orang tua yang melepaskan saya karena sebuah insiden?! Anda tidak ada bedanya dengan mereka!” Esti tentu masih terbawa traumanya di masa lalu dan Iswara tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Maka ia berkata, “Baiklah, kalau kau tidak ingin aku menemui dan merawatnya di masa pertumbuhan. Maka setidaknya izinkan aku bertemu dengannya ketika dewasa, mungkin sebelum ia menikah. Anggap saja itu adalah tugas terakhirku sebagai seorang Ayah.” “Jadikan ini sebagai sebuah perjanjian, Sugi.” Esti tidak ingin kalah sehingga menuliskan kata-kata Iswara ke dalam lontar. Ia hanya pasrah sembari melirik ke kanan dan kiri. Mengapa pula tuannya tidak mengatakan apa pun? Perjanjian itu telah dibubuhi cap jempol kedua belah pihak. Esti meninggalkan padepokan itu tanpa sempat berpamitan. Dan… itulah akhir potongan masa lalu ini. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN