23. Potongan Masa Lalu – III

1265 Kata
23. Potongan Masa Lalu – III Pada musim hujan di awal bulan September itu, sebuah pernikahan kecil digelar. Bahkan tidak ada bentuk perayaan apa pun. Esti dan Iswara tidak memiliki resepsi pernikahan, apalagi foto. Keduanya menggenapi pernikahan kecil itu dengan dua hari tanpa gangguan dari siapa pun. Namun, bersamaan dengan hari yang membahagiakan itu, sebuah kabar miring berembus dan berputar di sekitaran para abdi padepokan. Tentang warga yang mulai mencurigai eksistensi padepokan kecil itu. Semenjak perempuan yang harusnya dijadikan seserahan bagi Iswara dipulangkan dalam kondisi mental masih tidak stabil, rumor beredar bahwa padepokan itu menjalankan aliran sesat. Dengan Bono yang pulang menjadi linglung—orang-orang menyebutnya gila—maka rumor buruk itu semakin parah dan menyebar seperti kayu lapuk dilalap api. Tak hanya sampai di sana, kabar bahwa para ormas akan turun tangan membubarkan organisasi-organisasi sesat juga ikut berembus tak lama setelahnya. Dua bulan setelah gosip itu pertama kali masuk ke padepokan, mereka kedatangan tamu tidak diundang, tidak dinyana-nyana juga tentunya. Kepala desa yang waktu itu menjalankan tugasnya. Mereka mendapatkan peringatan untuk segera menghentikan segala bentuk kegiatan atau jika ingin aman, harus membayar sejumlah uang. Tak ingin padepokan mereka dibubarkan, Iswara turun tangan memberikan para abdinya beberapa perhiasan yang dapat dijual guna membayarkan uang tutup mulut itu. Namun, mereka salah sangka jika kedatangan sang kepala desa hanya satu kali saja. Ia akan datang tiap bulan, meminta uang dengan nominal yang terus saja melambung. Jika semakin diteruskan, mungkin padepokan mereka tidak akan dihapuskan karena rumor buruk itu, tetapi dari menyogok si kepala desa super matre. “Pada akhirnya mereka tidak pernah berubah, selalu serakah dan tidak pernah memikirkan orang lain ke depannya.” Iswara bermonolog, di sampingnya Esti yang tengah mengandung enam bulan duduk gelisah. Memiliki anak dari Iswara lebih menyakitkan daripada anak manusia pada umumnya. Karena itulah ia sedikit khawatir jika nantinya ia tidak dapat melahirkan sang bayi dengan selamat pun dengan bayinya. “Kalau misalnya padepokan ini betul-betul digusur bagaimana? Aku sudah tidak memiliki tempat kembali.” “Mungkin aku akan membawamu ke alam siluman. Walaupun itu berarti kau harus berdaptasi dengan segala hal di dalamnya. Termasuk pula diskriminasi yang akan kalian berdua dapatkan nanti di sana.” Esti tercenung, sejak awal ia memang tidak akan pernah mendapatkan pengakuan di sana. Ia sama sekali tidak memiliki kekuatan apa pun dan bertubuh ringkih. Akan menjadi hal merepotkan jika harus beradaptasi dengan segala deskriminasi. Lebih-lebih lagi calon anak mereka, yang kemungkinan dibuat bingung dengan identitasnya yang memiliki darah manusia dan siluman sekaligus. *** Menginjak usia kandungan tujuh bulan lebih tujuh hari, bayi itu tidak sabar keluar. Tangisannya cukup untuk menakuti seluruh penghuni hutan. Ia tidak tahu jika kelahirannya yang agak mendadak itu mengakibatkan sang ibu kehilangan banyak darah dan belum sadarkan diri kendati sudah tiga hari berlalu. Kelahiran sang putra mengancam nyawanya. Dan… Iswara sendiri melakukan hal yang juga membahayakan nyawanya. Membagi energi kehidupannya dengan sang istri. Proses membagi energi kehidupan bukanlah hal yang mudah. Butuh beberapa hari dan prosesi itu selain menguras tenaga, juga bisa membunuh Iswara kapan pun juga. Pada hari ketujuh sejak kelahiran sang putra, perempuan itu membuka matanya. Tidak ada sorot cinta seorang ibu di matanya. Hanya seorang wanita yang putus asa. Esti enggan menyusui Naraya, nama yang diberikan sang ayah kepada putra pertamanya. Bayi yang terlahir dengan mata cokelat terang dan rambut yang lebat. Beberapa bagian tubuhnya juga ditumbuhi rambut-rambut sebagaimana sang ayah. Dalam pandangan Sugi, Naraya memiliki wajah manusia, tetapi memiliki ekor pula. Ekor yang tumbuh ketika Naraya berusia seratus hari. Kemunculan ekor Naraya menumbuhkan jijik di wajah Esti. “Aku tidak menyangka akan melahirkan anak seburuk rupa itu. Ia bahkan nyaris membunuhku.” Perkataan Esti pada hari itu menyadarkan Sugi dan Iswara bahwa Esti tengah berada pada kondisi mental yang tidak stabil. Beberapa orang memang menyebut ada beberapa kasus ibu yang enggan menyentuh anahknya sehabis melahirkan, tetapi situasi itu tidak akan bertahan lama. Namun… untuk kasus Esti ini, bukankah sudah terlalu lama sejak Naraya lahir dan ia sama sekali tidak sudi menyentuh sang putra. Bahkan membenci suaranya, tangisnya, dan segala tingkah polahnya. “Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk itu, Sugi. Dan lagi… aku juga tidak bisa melakukan apa pun saat ini.” Kondisi Iswara melemah semenjak membagi energi kehidupannya dengan Esti, yang bahkan tidak diketahui perempuan itu. Kekuatannya tak lagi sedahsyat dulu dan ia mulai kehilangan satu per satu abdi semenjak itu. Diperparah lagi dengan si kepala desa yang datang dan mengabarkan bahwa ormas-ormas itu tetap akan membubarkan padepokan itu dengan berbagai cara. Sugi sempat protes kepada kepala desa mengingat uang yang mereka kucurkan untuk menutup mulut dan perut pria serakah itu sangatlah besar. Namun, pada akhirnya mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Dengan kondisi Iswara yang memburuk kian hari, Esti yang terkena baby blues, kondisi padepokan berada di ambang kehancuran, ternyata tidak sampai di sana saja semua kesulitan ini. “Parjo, Minto?! Kowe ngopo?*” Kemarahan Sugi tidak terbendung ketika mendapati kedua kawan karibnya mengemasi barang-barang mereka dan bermaksud meninggalkan padepokan. (*Kamu ngapain?) “Awake dhewe wis raiso nek kene terus. Aku arep kerjo ning perkebunan sawit nggone sedulurku nek Sumatra**,” ungkap Parjo. Pria itu bahkan sudah mencangklongkan ranselnya. (**Kita sudah tidak bisa hidup di sini terus. Aku akan bekerja di perkebunan saudaraku yang ada di Sumatra.) “Aku wis ora betah nek kene, Gi. Saiki gur kari wong piro nek kene? Opo meneh aku wis duwe anak bojo, kerjo ning kene ora iso nguripi***,” imbuh Minto. (***Aku sudah tidak betah di sin, Gi. Sekarang tersisa berapa orang di sini? Terlebih lagi aku punya anak dan istri, bekerja di sini tidak bisa menghidupi keluargaku.) “Tunggu… jangan gegabah. Kita tidak tahu kalau ke depannya mungkin saja—“ Perkataan Sugi terpotong oleh raungan kencang Iswara. Pria berwujud separuh monyet itu berlinang darah yang bermuara dari sudut bibir. Mungkinkah kondisinya sudah semakin teruk? “Sugi… tolong ambilkan ramuan yang dihadiahkan Sarpa Kencana padaku…,” pintanya lirih. Jika seorang sekuat Iswara sampai memohon ramuan penawar racun, maka ada sesuatu tidak benar terjadi di sini. Dan Sugi sudah bisa menduga siapa yang memiliki racun itu. Hanya saja… siapakah yang secara sengaja memasukkan racun itu ke dalam minuman Iswara? Sugi mencurigai dua orang itu, Parjo dan Minto. Seusai memberikan ramuan penawar racun, ia berlari mencari kedua kawannya, tetapi mereka sudah tidak ada. Kecurigaan bahwa kedua orang itu yang memasukkan racun semakin bertambah kuat ketika mendengar Parjo membelikan orang tuanya sapi padahal belum merantau dan Minto membangun rumah untuk keluarga kecilnya. Mereka pasti dibayar dukun itu untuk melakukan semua ini ketika keadaan menjadi sangat berantakan. Belum habis segala ujian itu, kali ini masalah baru datang ketika Naraya mengalami sakit keras selama berhari-hari. Bayi mungil itu terus saja menolak makan dan muntah selama beberapa hari, tubuhnya menjadi kurus dan kehilangan daya kehidupan. Iswara sudah tidak bisa melakukan apa pun karena ia sendiri terbujur lemah di ranjang. Dengan keadaan Iswara yang memburuk, gunung mereka menjadi lemah. Energi kehidupannya tak lagi bisa menopang pohon-pohon dan hasil tanam para manusia. Kekeringan dan gagal panen besar melanda. Sementara itu kondisi Naraya semakin hari semakin buruk. Kalau saja ia mendapatkan ASI yang seharusnya didapatkan…. Sugi putus asa malam itu. Hanya tersisa ia dan beberapa orang tua. Mereka tidak memberikan kontribusi besar dan tidak dapat berbuat apa-apa semisalnya terjadi p*********n. Ketika ia kembali ke kamar bayi, didapatinya Esti tengah memberikan ASI kepada Naraya. Perempuan itu menatap Sugi dalam-dalam penuh penyesalan. “Maafkan Ibu, ya, Nak. Maaf kalau Ibu terlalu lama membencimu.” Sugi termangu, ia seolah mendapatkan harapan untuk tetap bertahan. Namun… pada keesokan harinya kepala desa dan salah satu perwakilan ormas datang memberikan peringatan. Bahwa padepokan akan digusur dalam waktu satu minggu. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN