22. Potongan Masa Lalu – III

1128 Kata
22. Potongan Masa Lalu – III Esti tak akan pernah menduga jika pria itu datang padanya membawakan sebuah permintaan yang tidak pernah terbayangkan pula. Sebuah pernikahan. Ia sempat menghindari pria itu selama beberapa hari. Terlebih lagi alasan yang dilontarkan atas pernikahan tersebut kembali mengingatkannya akan malam di mana mahkota miliknya direnggut secara paksa. “Tubuhku terasa kesepian semenjak melihatmu. Semakin lama, ia semakin mendamba. Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa terhadap hal itu. Walaupun alasan ini tidak bisa dibenarkan, tapi aku hanya ingin menghindarkanmu dari hal buruk yang bisa saja terjadi.” Pernikahan? Hasrat tidak tertahan? Mengapa orang-orang selalu menjadikan alasan tersebut untuk menikah? Tak mengherankan jika pernikahan orang zaman sekarang tidak pernah bertahan lama. Jika hasrat mereka sudah tersalurkan, maka tidak ada lagi yang namanya cinta. Yah… cinta dan hubungan seksual memang tidak pernah bisa dijadikan satu paket. Mendapatkan lamaran dengan alasan demikian kembali meruntuhkan hati Esti untuk ke sekian kalinya. Apakah bagi para pria itu, ia tidak lebih dari alat untuk melepaskan hasrat-hasrat itu? Kalaulah memang begitu, akan lebih baik jika ia menjadi w****************a saja seperti yang dikatakan oleh Bono. “Esti, ketahuilah. Sosok seperti Kanjeng Iswara tidak menawarkan sebuah pernikahan untukmu hanya karena kebelet saja. Ia tentu memiliki alasan lain yang kuat. Mungkin ia menemukan hal lain dalam dirimu yang tidak bisa ia temukan selama ini.” Sugi pun tidak pernah berhenti membujuk Esti mengiakan saja tawaran itu. Namun, bagaimanapun juga, permintaan yang mendadak itu tetap menimbulkan perasaan tidak nyaman. Sebisa mungkin, ia akan menghindari mereka berdua dulu. Ia sudah tidak ada tempat menetap lagi semenjak orang tua dan kakaknya tidak mengizinkan ia menjejak rumah sehabis insiden rudapaksa itu. Ia sudah menjadi aib. Orang tuanya sudah barang jelas malu, sedangkan kakaknya tidak ingin reputasi anggota keluarga yang mengalami rudapaksa itu memengaruhi penilaiannya mengikuti tes CPNS. Ah… mengapa hidupnya sungguh menyedihkan? Untuk beberapa minggu selanjutnya, tidak ada interaksi berarti yang terjadi di antara ia dan Iswara. Tentu saja ia juga tidak menginginkannya. Namun, selama beberapa minggu tidak mengungkit lagi tentang pernikahan, Iswara sepertinya sudah lupa. Dalam pandangan Esti, pria itu tidak banyak berubah. Masih asyik bermain dengan monyet-monyet di sekitaran gunung, mengawasi hal-hal yang mungkin terjadi di hutan, terkadang pula mengusili anggota padepokan. Sungguh pria yang ceria, benar-benar seperti monyet. “Esti,” panggil Sugi lirih ketika perempuan itu tengah mencuci di sungai,”sepertinya Kanjeng Iswara sudah melupakan keinginannya menikahimu. Kamu tidak perlu risau lagi.” Itu adalah angin segar bagi Esti. Ia tidak perlu lagi memikirkan cara halus menolak sang penguasa. Namun, bersamaan dengan itu Sugi membawakan sebuah kabar yang cukup buruk. “Tapi… kemungkinan besar di bakal ambil satu dari perempuan yang bakal dibawakan sama anggota lain. Perempuan yang katanya juga dibuang keluarganya karena gila.” Esti mencelus. Satu lagi perempuan yang diperlakukan sama dengannya. Apakah perempuan itu pada akhirnya yang akan berakhir di ranjang Iswara sebagai pengantinnya? Kedatangan perempuan itu pun sungguh cepat. Esti sendiri memuji kecantikannya. Ia adalah perempuan bertubuh sintal, berwajah bulat dengan hidung bangir, dan mata bulat besar. Berkulit kuning langsat dan berambut bergelombang. Tipe-tipe perempuan yang tentunya akan membuat banyak pria berebut. Mana mungkin sang tuan akan menolak perempuan ini? Itu adalah malam puncak musim kemarau yang kering. Pepohonan meranggas, tanah-tanah retak, dan hawa menjadi semakin panas. Momentum tepat ketika perempuan itu dimandikan Esti dengan wewangian dan bunga. Rambutnya disisir dan disanggul dengan cantik. Sebuah jarik bermotif parang dililitkan ke tubuh. Ah… menatap ukuran perempuan tersebut yang luar biasa, Esti merasa minder dengan ukurannya sendiri. Ia mengangkat tinggi-tinggi kembennya lalu dilapisi dengan selembar selendang. Sugi memberikan padanya beberapa kebaya dan pakaian santai, tetapi untuk acara semi formal seperti ini, ia dituntut mengenakan pakaian ala-ala abdi dalem. Ketika perempuan itu memasuki kamar Iswara, baik Sugi, Esti, dan para anggota lainnya saling berbagi kekhawatiran yang sama. Mereka semua berkumpul di tempat yang tidak begitu jauh dari kamar sang penguasa, tetapi cukup untuk memberikan ruang bagi dua orang itu berbagi hasrat yang sama. Mereka menjereng tikar, mengeluarkan makanan ringan masing-masing, saling mengobrol, sesekali bercanda, hanya saja Esti tidak bisa berpikir jernih saat ini. Terbayang apa yang akan terjadi pada perempuan itu di sana. Sebuah pekikan perempuan terdengar dari kamar Iswara. Itu bukan suara yang menyenangkan, tetapi mereka mencoba menahan diri. Bukankah perempuan selalu merasakan kesakitan luar biasa pada pengalaman pertamanya? Esti sendiri paham betul hal tersebut. Namun, tidak teriakan itu tidak berhenti sampai di sana. Sebuah pekikan yang lebih kencang menyusul, suara itu bergerak. Dan secara tidak terduga, perempuan itu tiba ke arah mereka lalu tumbang di tanah dan menjerit lebih kencang. “Monyet besar! Monyet besar! Dia mau makan saya!” Perempuan itu berteriak makin histeris. Sugi menenangkan perempuan itu dengan membisikkan hal-hal lembut di telinganya. Butuh waktu agak lama hingga perempuan itu menjadi lebih tenang dan pada akhirnya dibawa ke kamar Esti. Dengan kepergian perempuan itu tanpa terjadi apa pun—Iswara sama sekali tidak menyentuhnya—kemungkinan besar Iswara juga sudah pergi. Namun, ada satu hal yang mengganjal, ia lantas menahan lantas Sugi. “Mas… apa maksudnya monyet besar, ya? Kenapa dari tadi dia terus bilang begitu?” Pertanyaan itu sukses menerbitkan kernyitan di wajah Sugi. “Kamu udah berkali-kali ketemu sama Kanjeng Iswara, lho. Masa enggak hafal rupanya? Ya… mukanya memang monyet itu.” Esti termangu. Iswara dalam pandangannya tidak seperti itu. Ia berwajah manusia. Manusia yang kebetulan memiliki pertumbuhan bulu yang berlebih dan memiliki ekor. Bukankah memang begitu? Dan ketika ia selesai mengatakan itu, Sugi mendadak lemas. Ia bahkan sampai menopang tubuh dengan berpegangan pada pundak Esti. “Esti… kamu enggak tahu kalau kamu sudah dipilih sama Kanjeng sejak lama. Kamu ingat kan kalau saya bilang Kanjeng Iswara enggak menikahimu hanya karena alasan hasrat saja? Dia punya alasan tersendiri. Dan kamu barusan membuktikannya. Tidak semua orang memiliki kesempatan melihat wujud manusia Kanjeng Iswara. Dan kamu orang beruntung itu, bahkan aku selama ini hanya bisa melihat wujud monyetnya.” Esti kembali tercenung. Ia membalikkan badan, lalu berlari ke kamar Iswara berada. Tidak ia duga bahwa pria itu akan berada di sana. Di sudut ranjang, duduk memunggunginya dan masih berada dalam wujud manusia. “Ya… kamu enggak akan tahu gimana takutnya perempuan itu ketika melihat wajahku untuk pertama kali, karena selama ini kamu selalu melihat sosokku yang seperti ini,” ujar Iswara sendu. Ia menoleh, menemukan Esti yang tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Maaf… maafkan saya.” Esti terjatuh di lantai batu yang dingin. Kemarau akan membawa hawa dingin setiap malamnya. Pria ini sudah mendiamkannya selama beberapa minggu pula. Mendapatkan perlakuan dingin darinya, Esti merasa bersalah telah menjauhi dan menolak lamarannya dengan cara tidak sopan. Namun… pria itu tidak sedingin yang Esti bayangkan. Tubuhnya direngkuh Iswara dalam pelukan hangat. “Kita bisa mulai dengan perlahan.” Malam itu, tidak ada yang terjadi, tetapi pada keesokan harinya, mereka berdua mulai menikmati hari dengan saling berbahagia. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN