21. Potongan Masa Lalu – II

1318 Kata
21. Potongan Masa Lalu – II Para monyet menggelantungi kepala, lengan, bahu, termasuk juga pinggangnya, tetapi ia tidak merasa terganggu. Lebih tepatnya sama sekali tidak peduli. Iswara menyadari bahwa ia sedang terbawa suasana. Ia kesepian, dalam artian dewasa. Ia menginginkan sentuhan perempuan setelah sekian lama. Bermula dari kedatangan perempuan itu, hasrat yang telah lama tertidur pada akhirnya terbangun. Namun, ia sadar betul jika Esti masih memiliki trauma mendalam dengan lawan jenis. Ia adalah korban rudapaksa. Sungguh… manusia memang lebih menyeramkan daripada kaumnya. Kaum siluman mungkin menakutkan, tetapi mereka bisa bersabar dan menahan kèmaluannya lebih lama. Namun, semakin hari, dorongan dalam dirinya semakin tidak tertahankan. Ia lebih memilih menjauh, tidak menyaksikan perempuan itu, dan berusaha meredam hasratnya dengan berdiam diri di bawah guyuran air terjun, berburu serangga, atau berlarian bersama-sama para monyet di ladang berumput. Hanya saja, ia juga memiliki batas. Maka, di sinilah ia melamun, digelantungi monyet, dan tidak melakukan apa-apa walaupun berulang kali diusik monyet-monyetnya. Mendadak, suara kecipak air menyudahi sesi melamun tersebut. Esti tengah menciduk air di salah satu sumber. Dengan pakaian ala kadarnya yang diberikan padepokan, perempuan itu tidak bisa menutup banyak bagian tubuhnya. Terutama pada bagian di bawah leher. Perempuan yang montok dan sintal tentu memiliki gundukan berlebih yang akan terlihat dengan pakaian itu, tetapi Esti tidak. Hanya lekukan kecil yang tidak terlalu terlihat. Kendati begitu, ia tetap dibuat salah tingkah karenanya. Oh, ia harus mengingatkan Sugi untuk memberikan pakaian yang lebih layak untuk Esti nantinya. Salah-salah, ia hanya akan dibuat rugi oleh pria-pria lain di padepokan alih-alih Iswara sendiri selaku penguasa gunung. Iswara memaksa tubuhnya bangun, ia harus mendinginkan kepala. Monyet-monyet itu berguguran dari tubuhnya diiringi pekikan kecil, mengejutkan Esti yang tengah mengemasi air ke dalam kendil. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia menemukan pria itu berada di belakang tubuhnya. Hanya mengenakan jarit yang dililit sebatas lutut dan tidak mengenakan pakaian apa pun. Ialah Bono, salah satu dari sekian banyaknya pria di padepokan yang tiada lelah menarik-narik perhatiannya. Esti bukannya tidak menyadari bahwa Bono tertarik padanya, ia hanya enggan meladeni pria ini. Jika melihat dari gelagatnya yang sok memimpin, pastilah ia mendatangi padepokan ini demi mendapatkan ilmu kanuragan alih-alih berbakti pada si penunggu dan merawat alam. Sempat ia dengar dari Sugi bahwa Bono memang sering kali bersikap selayaknya pemimpin dan mengajak anggota-anggota lain melanggar peraturan. Membawa tuak, membawa majalah dewasa, merokok, atau memakan sesajen yang seharusnya ditujukan untuk sang penunggu yang mereka hormati. Sungguh, orang semacam ini memang tipe-tipe pengacau menyebalkan. Terlebih lagi dengan insiden dipojokkannya ia waktu itu. Esti telah melintangkan garis kuning kasat mata pada pria itu. Penolakan-penolakan halus, terkadang ia juga tidak menahan diri membentak atau menepis Bono, tetapi pada dasarnya pria itu keras kepala. Ia tetap menjadi sasaran Bono setiap harinya. “Dik, kalau kamu udah enggak kuat di sini. Kawin aja sama, Mas. Nanti Mas bawa kamu ke tempat yang lebih bagus. Mas ini kaya. Tujuh turunan pula, keluarga Mas semuanya pebisnis nomor wahid di Pulau Jawa. Dijamin deh, kamu enggak akan menyesal kalau sama Mas. Daripada di sini juga, jadi babu tapi enggak dapat apa-apa.” Lagi-lagi ia mengeluarkan jurus maut. Rayuan gombal dan segala tipu daya. Cara klasik playboy kelas teri. Esti enggan memedulikan Bono. Dilewatinya tubuh pria itu tanpa mengatakan apa pun, menyulut amarah sang pria. Tangan kanannya dicekal dan ditarik paksa agar tatapan mereka saling bertemu. Kendil dalam genggamannya jatuh, menumpahkan air yang telah susah payah diciduk. “Lepasin! Saya enggak mau sama kamu.” Esti berusaha melepaskan cengkeraman Bono dari tangannya, tetapi di mana-mana tenaga perempuan selalu tidak bisa melawan tenaga laki-laki. Alih-alih melepaskan diri, tangannya malah semakin sakit. “Aduh, aduh, l*nte yang satu ini. Saya kan udah bilang kalau kita hanya buang-buang waktu di sini. Mana yang katanya orang-orang gabung padepokan kayak gini bakalan kaya? Punya kuasa? Bisa kondang? Mana? Mana? Kita semua ditipu. Enggak ada yang namanya penunggu, penguasa, atau siluman kayak yang dikoar-koarkan orang. Kamu kalau bertahan di sini lebih lama paling juga berakhir jadi WTS!” Bono mencampakkan tubuh Esti ke tanah. Ditindihnya tubuh perempuan itu menggunakan tubuhnya sendiri yang lebih besar. Selagi pria itu berusaha menggerayangi tubuhnya, Esti menggelung seperti kucing. Ia enggan disentuh di bagian-bagian yang privat. Tidak ingin insiden pada malam itu berulang. Itu harus menjadi peristiwa sekali seumur hidup yang tidak boleh mengalami repetisi. Ingatan akan malam itu bermunculan seperti potongan film acak, smara dan buram. Seluruh tubuhnya dicekam ketakutan, seolah-olah sensasi pada malam itu masih diingat baik oleh tubuhnya. Air mata berdesakan keluar, bersamaan dengan rintihan ketakutan. Bayangan-bayangan hitam dalam ingatannya seolah memiliki mata merah menakutkan. Memindai tubuhnya dari atas ke bawah. Menyusuri setiap lapisan kulit, menjelajah bagian-bagian tersembunyi, mulai melakukan hal-hal terlarang. Ia menjerit, menangis, meraung-raung, semua ingatan itu terasa begitu jelas, seperti kembali terjadi dalam reka ulang singkat. Dan… ketika kembali membuka mata, ia sudah tidak mendapati Bono di sana. Ia malah menjumpai punggung tegap dan lebar seseorang yang tidak begitu asing sekaligus asing. Seperti pernah berjumpa di suatu tempat, tetapi tidak ingat di mana persisnya. Lalu, satu hal mencolok dari sosok itu. Sebuah ekor yang meliuk-liuk menonjol keluar dari bagian paling bawah pinggang, di bagian tulang ekor, yang mana jarit yang dikenakannya memiliki potongan rendah dan bisa melorot kapan saja. “Kamu tidak apa?” Suaranya mengalun merdu, seperti embusan angin di musim panas yang gersang. Mata mereka kembali bertemu saat pria itu menoleh dan Esti mengenali pria itu sebagai sosok yang menyelamatkannya dari percobaan pelecehan pertama di padepokan ini. *** Esti mulai melakukan pekerjaan lebih spesifik sejak hari di mana Bono ditemukan dalam keadaan linglung dan diusir dari padepokan. Ia menyiapkan air mandi untuk sosok yang mereka layani. Air yang tidak begitu dingin dan tidak pula terlalu panas, diberi bunga-bungaan wangi. Lalu sehabis itu ia akan menyiapkan makanan dalam jumlah spektakuler. Dan bagian terbaiknya, ia mendapatkan pakaian lebih menutup dan layak. Ada kalanya ketika malam bulan purnama tiba, ia tidak tidur karena mendapatkan tugas menjadi sinden. Menyanyikan tembang-tembang bersuasana romantis, kidung-kidung tentang hubungan antar pria wanita yang indah, dan terkadang jika beruntung, ia akan mendapati pria itu mengamatinya dari kejauhan. Esti tak segan lagi memberikan kepadanya sebuah senyum paling tulus dan manis. “Sepertinya aku jatuh cinta,” ujar Iswara suatu hari, ketika ia menyembunyikan diri di salah satu tiang pendopo dan Sugi berada di sana sedang mengepel setiap sudut pendopo dengan selembar kain kumal. Mendengarkan hal yang tidak lazim dikatakan sang tuan, Sugi terhenyak. Dadanya berlimpah kebahagiaan. Akhirnya sang tuan yang selalu bersikap kekanakan bertumbuh pula sikap dewasanya. “Lantas… apa yang Anda inginkan, Kanjeng? Meminang perempuan itu? Ia pun pasti senang mendapatkan kesempatan bersanding dengan Anda, Kanjeng.” “Tapi Sugi… ia tidak akan pernah memandangku demikian. Akan menyakitkan baginya jika memaksakan kehendakku menggunakan dirinya. Terutama, ia masih memiliki trauma di masa lalu. Aku menyelamatkannya dari kejadian yang sama, tetapi aku menyimpan hasrat untuk melakukan hal tidak terpuji itu padanya. Aku bisa bertahan karena aku bermeditasi dan mempertajam ilmuku, tapi aku berpikir tidak akan bisa menahannya lebih lama. Bukankah aku sangat egois?” “Tidak, Kanjeng… Anda tidak sehina mereka yang telah menjulurkan tangan-tangan tidak hormat kepadanya. Anda bisa memiliki Esti seutuhnya dengan cara lebih terhormat. Anda pasti juga pernah terpikirkan tentang itu bukan?” Iswara termenung. Menikahi Esti memang terlintas beberapa kali dalam pikirannya, tetapi merealisasikannya akan menjadi sangat sulit. Esti adalah perempuan yang memiliki bekas luka, belum sepenuhnya sembuh, dan Iswara khawatir akan membuka kembali luka itu jika terburu-buru. Namun, di satu sisi ia tidak bisa mengenyahkan perasaan itu. Ia pernah memimpikan merengkuh perempuan itu dalam dekapannya. Tak ingin berakhir sebagai mimpi kosong, ia pun berkata pada Sugi, “Katakan padanya untuk menemuiku pada malam bulan purnama seperti biasa. Aku akan mengatakan langsung kepadanya. Aku akan melamarnya.” Sugi sejenak juga merasa ragu. Dalam pandangannya, sang kanjeng berwujud manusia berwajah kera dan berambut lebat. Apakah Esti dapat menerima sang tuan yang berwajah buruk rupa? Hanya saja Sugi tidak pernah mengetahui bahwa Esti memandang Iswara sebagai pria tampan berrambut lebat dan memiliki ekor. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN