20. Potongan Masa Lalu – I

1285 Kata
20. Potongan Masa Lalu – I Jauh sekali dalam kubik-kubik ingatan Naraya di masa lalu, ia pernah merindukan suara guyuran air terjun dan kikik bahagia para monyet. Hanya sekali, itu pun entah karena apa. Ia masih terlalu kecil saat itu sehingga tidak menyadari kerinduan itu berkaitan dengan ingatan masa bayinya yang telah lama terlupakan. Kini, di sinilah ia dengan pria yang teramat ingin dipanggil ‘Ayah’ daripada ‘Bapak’. Naraya pernah membaca beberapa novel historis Indonesia di era kerajaan. Seingatnya, tidak ada pula sebutan ‘Ayah’ di novel-novel itu, mungkin ‘Bapa’ atau ‘Romo’ lebih familier. Namun… ayahnya bukan orang yang hidup dengan gaya hidup di masa lampau. Ia bisa saja hits dan pandai menggunakan gawai. Atau… tidak. Pria itu memungut ponsel Naraya menggunakan ekornya dan mengamati benda persegi panjang itu seperti mengamati calon mangsanya. Ia baru tersadar jika ponsel tersebut mati. Bahkan jika menyapa pun pastinya tidak akan mendapatkan sinyal. Saat ini, ia ditarik ke alam lain. Tidak semenakutkan alam kubur, tetapi masih asing, sekaligus menakjubkan. Langitnya berwarna merah dengan beberapa garis keunguan pudar—di matanya lebih cocok dengan sebutan lilac—yang segera ia asumsikan sebagai awan, lalu air terjun yang menjadi pemandangan utama itu sangatlah besar. Seperti pintu gerbang yang mampu memuat dua bus sekaligus. Mungkin itulah gerbang penghubung antara dunianya dengan alam ini. “Kenapa diam, saja? Itu pisangnya tidak mau dimakan?” tegur ayahnya yang baru saja kembali mengambil setundun pisang lagi. Pisang-pisang itu matang sempurna, dipanggul di atas bahu, dan Naraya yakin jika ayahnya mengangkat pisang-pisang itu seperti mengangkat bantal. Bahkan diturunkan hanya menggunakan satu tangan. Naraya enggan bereaksi. Oke, ia memang terpesona dengan tempat ini, tetapi tidak dengan ayahnya. Pria itu tetap saja orang yang sudah membiarkannya selama belasan tahun, tidak pernah berusaha menemuinya, dan tampak memiliki gengsi yang tinggi. Tipe-tipe orang yang sangat menjunjung tinggi kehormatannya. “Ya… Ayah tahu kamu pasti sangat marah dengan Ayah. Setelah belasan tahun, baru kali ini bertemu denganmu tiba-tiba saja kamu punya Ayah seorang siluman. Ya… bagaimana bisa kamu tidak kesal dan marah.” Pria itu duduk bersila di depan Naraya. Bahkan ketika bersila pun, ia masih kelihatan tinggi. Apakah semua siluman seperti ayahnya memang memiliki ukuran tubuh yang besar? Kalau begitu, ia tidak ingin cari masalah dengan anak dari siluman lain. Kalau mereka memang ada. “Jelaskan padaku sedetail-detailnya tentang kalian berdua, lalu mengapa pula aku harus terjebak dalam situasi tidak menyenangkan ini? Aku diculik oleh orang-orang yang memujamu. Bukankah fanatisme mereka sudah berada di tahap yang menyeramkan?” Ayahnya terkekeh, tetapi dengan raut wajah kecut. “Tapi, kau juga harus mendengar pula dari sisi ibumu. Ia memiliki latar belakang yang menyedihkan. Hanya mendengarkan dari sudut pandang Ayah, kau pasti akan bosan. Seperti yang kau lihat. Ayah hanya seorang penjaga gunung. Yang Ayah lakukan sehari-hari adalah melindungi gunung ini dari ancaman manusia. Bermain-main ke sana kemari. Makan pisang. Terkadang mengusili penunggu yang lain. Hal-hal remeh semacam itu. Yang di satu titik membuat Ayah kesepian karena tidak memiliki pasangan, lalu… ibumu datang dengan perantara para pengikut padepokan kala itu. Tidak ada yang menarik, ‘kan?” “Itu belum semuanya. Tolong katakan padaku, mengapa selama bertahun-tahun ini kau sama sekali tidak pernah menemuiku.” Ada kegamangan yang tersirat di mata ayahnya. Bahkan untuk ukuran fisiknya yang agak besar pun, ia tetaplah pria berhati lemah. “Itu adalah janji yang sudah Ayah berikan pada ibumu, masih terkait pula dengan masalah yang menimpa padepokan ini dan juga ekor yang seharusnya tumbuh padamu.” Naraya mengernyit, mendadak ia meraba bagian belakang tubuhnya. Ia teringat bekas kehitaman pada tulang ekor. Awalnya ia hanya menganggap itu sebagai tanda lahir biasa, tetapi karena disinggung lagi, rasa penasaran itu kembali muncul. Mengingat ibunya juga tidak senang ketika tanda lahir itu diungkit-ungkit. Tipikal sekali ada hal yang disembunyikan jika ibu enggan menjelaskan sesuatu. “Aku… punya ekor?” “Tentu saja kamu punya. Karena kamu anak Ayah. Wajar kalau kamu punya ekor. Hanya saja… ibumu tidak menyukainya. Ekor itu. Membuatnya teringat bahwa kamu adalah bagian dari diri Ayah yang ia benci. Lagipula ekor itu tidak mirip dengan Ayah yang berbulu lebat. Punyamu berbulu jarang-jarang dan kelihatan seperti apa ya… pokoknya menjijikkan. Terlebih lagi banyak kutunya. Dan itu betulan terjadi.” Naraya mendadak kehilangan kata-kata. Oh, seburuk itukah? “Itu kurang mendetail. Sebenarnya apa yang terjadi hingga Ayah membuat perjanjian agar tidak bertemu lagi dengan kami, apa konsekuensi jika Ayah melanggarnya, dan mengapa sekarang Ayah tetap berusaha menunjukkan diri walaupun Ayah tahu apa yang Ayah lakukan sudah mencederai janji itu?” Ayahnya menarik napas dalam-dalam, ia pasti membutuhkan waktu lama menjelaskan semuanya secara terperinci. “Ini akan membutuhkan waktu yang lama, jadi Ayah harap kau bersedia menunggu lama untuk mendengarkan apa yang terjadi.” *** Kesehariannya tidak pernah teratur karena memang bukan orang yang terjadwal dengan baik. Terkadang bangun saat tengah hari, padahal malamnya tidak begadang, bisa juga bangun ketika subuh padahal tidur sudah larut malam, atau bisa juga sebaliknya. Dengan rutinitas tidak terjadwal itu, tidak banyak hal yang bisa dilakukan. Kebanyakan diisi dengan bersantai, tidur, bermain-main dengan kawanan monyet, terkadang mengawasi keadaan dari puncak pohon, memunculkan diri di pendopo padepokan, dan lain sebagainya. Namun hari itu ketika ia mendatangi padepokan, ada sebuah pemandangan yang agak berbeda. Di antara para pria yang biasa merawat pendopo, menyembul di antara pria-pria berkulit gelap itu seorang perempuan cantik. Ia cukup bingung dengan keberadaan perempuan itu di sana, terlebih lagi ia tidak memiliki niatan seperti pria-pria itu yang kebanyakan ingin mendapatkan kekuatan atau hal-hal lain sebagai imbalan dari merawat tempat ini dan menyediakan banyak makanan kepadanya. Perempuan itu tampak putus asa atas segala hal. Matanya kosong kendati disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Cekungan di matanya dalam dan menghitam, serta rambutnya masai seolah tidak pernah ditata. Namun, kendati demikian perempuan itu tetap menonjol di antara para wanita yang pernah dibawakan untuk memuaskan dirinya. Dengan tubuh ramping yang tidak montok, tetapi memiliki aura keibuan yang kuat, perempuan yang namanya tidak ia ketahui itu sedikit banyak menarik atensinya. Ketika ia bermaksud meninggalkan pendopo, beberapa pria tampak berbisik-bisik sembari melirik perempuan berulang kali. Kentara sekali mereka memiliki niatan buruk. Dan betul saja, tanpa tedeng aling-aling, bahu perempuan itu dirangkul seenak hati, tidak memedulikan bagaimana reaksi perempuan itu. “Esti, gimana kalau sehabis membersihkan pendopo, kamu kami ajak ke hutan. Mau ambil air, enggak jauh, kok.” Salah satu dari pria itu bicara pada si perempuan. Oh, namanya Esti. Nama yang cantik untuk perempuan yang cantik pula. Esti menggeleng, tak bersuara. Ketika ia tadi dirangkul tanpa aba-aba apa pun, wajahnya menjadi super pucat. Seolah-olah ia teringat akan sesuatu yang buruk. “Tolong… jangan ganggu saya…,” lirihnya kemudian. Pria lain berdecak kesal. “Halah, kita semua udah tahu, kok. Kalau kamu itu l***e. Jangan sok suci kayak gitu deh. Lagian kamu juga enggak hamil-hamil padahal udah dihajar banyak orang.” “Nah betul, tuh. Jangan-jangan kamu emang enggak bisa bikin anak. Jadi enggak masalah kan kalau kita giliran main-main sama kamu.” Esti terpojok, ia berada di situasi tidak bisa berbuat apa-apa ketika para pria itu mulai memojokkan tubuhnya ke dinding-dinding gua. “Tolong… jangan… jangan….” Bahkan sebanyak apa pun Esti memohon, pria-pria itu tetap memojokkannya ke dinding. Ia yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan, merasa geram juga. Ternyata ia memiliki anggota yang buruk. Mereka memang patut jika diberi peringatan keras. Ia mengeluarkan suara menggelegar, seperti seekor kera berukuran besar menggeram dengan keras. Satu geraman kencang itu menghentikan perbuatan pria-pria bermata keranjang yang memojokkan Esti. Tepat saat itulah Sugi kembali dari kegiatannya mengambil air dan menyadari bahwa ada anggota-anggota yang nakal, terlebih lagi mereka anggota baru. Sugi buru-buru menginstruksikan mereka untuk meminta maaf. Sementara itu Esti tergugu di tempat. Mata mereka sempat berpapasan tadi. Ia dalam wujud manusia dan Esti yang matanya dipenuhi lelehan air mata. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN