12. Monyet-Monyet - I

1343 Kata
12. Monyet-Monyet - I Naraya menempati meja di tengah-tengah. Ia bukan tipe murid ambisius, juga bukan murid pemalas seperti Bisma yang membuat acara sendiri di barisan paling belakang bersama dengan anak-anak lain sealiran dengannya. Ia hanya murid di pertengahan. Terkadang ingin mendapatkan nilai bagus, tetapi juga ingin menikmati waktu membaca buku. Maka, duduk di barisan tengah adalah pilihan terbaik. Nilai tambah dari posisi tempat duduknya sekarang adalah jendela luas yang berhadapan langsung dengan hutan rimbun itu. Mendapatkan pemandangan hijau menyejukkan mata sudah cukup menenangkan suasana hati yang kacau. Aditya dipanggil Pak Andi, sesuatu menyangkut dana bantuan dan beberapa hal lain. Naraya tidak dibiarkan sendirian oleh beberapa siswi. Mereka berkerumun di sekitar mejanya, saling mengobrol dan bertukar pikiran tentang hal-hal acak. Kendati bel sekolah sudah berdering sejak beberapa menit yang lalu, tidak ada tanda-tanda guru akan datang. Kawan-kawan sekelasnya juga tampak yakin tidak akan guru datang sehabis ini sehingga mereka menjadi lebih liar jika dibandingkan dengan siswa-siswa kebanyakan. Bisma dan kawan-kawannya di barisan paling pojok merokok, asapnya memenuhi kelas. Tidak khawatir akan mendapatkan teguran karena aroma rokok mereka begitu kental dan meresapi dinding-dinding kelas. Beberapa siswa yang tidak berbaur dengan kelompok Bisma ataupun Naraya sibuk dengan ponsel sendiri-sendiri. Ia bersumpah mendengar suara lenguhan khas perempuan pada film dewasa di salah satu ponsel anak-anak itu. “Jangan kaget sama suasana di sini, ya. Nanti lama-lama bakal terbiasa, kok,” lirih salah satu dari gerombolan perempuan itu. Ia menambahkan setelahnya dengan suara lebih lirih nyaris berbisik, “Ini semua karena Bisma dan  Kalia. Kelas ini jadi kelas paling bebas. Karena uang sogokan orang tua mereka, kelas kita selalu bebas dari razia sama guru galak. Kadang satu hari full enggak ada guru kalau suasana hati Bisma lagi jelek.” Jika kelas ini memang tidak didatangi guru karena suasana hati Bisma yang buruk, maka secara tak langsung mereka juga harus berterima kasih pada Naraya karena memperburuk suasana hati pentolan kelas. “Kamu hebat, deh. Biarpun dimusuhi Bisma, tapi masih berani duduk di sini. Kalau orang lain pasti udah bolos. Atau kalau enggak, ujug-ujug* pindah sekolah aja.” Yang lain mengimbuhi, masih dengan volume suara lirih. (*tiba-tiba) Naraya tidak menganggap hal itu sebagai pujian.  Ia hanya pasrah, karena tidak ada Aditya di sini. Selain itu Kalia sendiri juga tidak memperburuk suasana dengan menempel padanya. Perempuan itu mendadak diminta pulang oleh ayahnya, ada acara yang membutuhkan kehadiran perempuan cantik dan Kalia tidak akan melewatkannya. “Ini hanya bom waktu, mungkin aja dia di belakang lagi merangkai bom atau cairan sianida. Kalau misalnya saat itu datang, aku akan lari.” Lawakan itu disambut dengan kekehan para siswi. Di bangku pojok, Bisma memasang wajah paling cemberut. Kalau bukan karena panggilan ayahnya tiba-tiba, ia tentu sudah melakukan hal-hal buruk kepada Naraya selagi pemuda itu sedang mencoba bersenang-senang. Bapak wis kesel karo kowe. Nek gawe perkara maneh, pitmu didol wae dingo mbayar sekolahmu! Isin aku nek ketemu karo Esti, kowe gawe perkara wae karo anakke!** (**Bapak sudah lelah sama kelakuanmu. Kalau buat masalah lagi, sepeda motormu dijual saja buat membayar uang sekolah. Bapak malu sama Esti karena kamu selalu membuat masalah dengan anaknya) Pak Andi patut dicurigai. Kalau bukan wali kelas mereka itu, lantas siapa yang mengatakan kepada bapaknya tentang semua perlakuan buruk kepada Naraya? Padahal ia sedang merencanakan menyembunyikan sepeda motor pemuda itu, tapi panggilan telepon dari ayahnya datang dan mengacaukan rencana. Padahal biasanya ia tidak akan ragu mengganggu seseorang, tapi kali ini sang ayah bawa-bawa sepeda motornya. Jika menyangkut sepeda motor, Bisma lebih baik cari aman. “Bis, itu si anak baru kok didiemin aja, sih? Mana yang katanya mau sembunyiin sepeda motor dia?” celetuk Atim. “Iya, Bis. Kita udah siap buat gangguin dia. Malah kamunya yang enggak gerak.” Udin juga ikut mengompori. Bisma mendecih. Wajah kedua kroconya itu disembur dengan asap halus. “Jangan berisik. Lagi ada sedikit masalah.” Sebagai seseorang yang dikenali memiliki kuasa superior di kelas maupun lingkungan sekolah, pantang bagi Bisma menunjukkan titik lemahnya. “Eh, ada monyet turun gunung!” Salah seorang dari siswi di meja Naraya menarik atensi keseluruhan kelas. Ia menunjuk keluar, di lapangan yang memang jarang dikunjungi monyet tiba-tiba saja kedatangan tamu tak diundang. Beberapa ekor monyet berdatangan membawa buah-buahan. Cukup aneh karena tidak biasanya monyet-monyet itu membawa makanan mereka ke tempat yang banyak manusia. Lebih masuk akal jika mereka mencuri dari pemukiman, tetapi menjadi sangat aneh saat ini karena mereka malah meletakkan makanan mereka di lapangan lalu mencari tempat bersembunyi. Seolah sedang menantikan makanan yang mereka tinggalkan diambil. “Weh, monyetnya lagi aneh.” Ya, perilaku mereka memang aneh. Lebih aneh lagi karena tatapan mereka terarah pada satu titik yang sama. Yaitu tempat di mana Naraya duduk saat ini. Keberadaan mereka cukup mengganggu. Ia bukan pecinta binatang sebenarnya, ia juga tidak membenci mereka.  Ia hanya tidak suka dengan monyet. Bukan dalam artian akan membumihanguskan primata-primata itu atau bagaimana.  Monyet adalah hewan-hewan paling berisik, sedangkan ia tidak begitu menyukai keramaian. Maka dari itulah ia tidak begitu menyukai mereka. Namun… mereka memandang Naraya dengan tulus dan itu membuatnya mereka buruk karena telah tidak menyukai mereka. Tak berselang lama, penjaga kebun sekolah membubarkan kawanan kecil monyet-monyet tersebut. Kepergian mereka masih menyisakan perasaan tidak enak bagi Naraya. Monyet… mengapa sejak hari pertama kedatangannya hingga sekarang… mereka selalu ada di setiap kesempatan? Terutama monyet bertubuh besar waktu itu. Semenjak kejadian di mana para monyet berkumpul waktu itu, Naraya tidak lagi melihat si monyet besar. Tatapan si monyet yang mungkin menjadi pemimpin kawanan itu terus melekat di kepalanya. Siapakah monyet itu? Mengapa ia merasakan memiliki keterikatan dengan mereka? *** Seekor anak monyet terbangun dari tidurnya yang terasa sangat panjang. Ia melongok ke kanan dan kiri, mendapati induk dan saudara-saudaranya tidak ada. Oh, ia mendadak menyadari sedang sendirian selama beberapa waktu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri lagi. Ini adalah bagian hutan yang sangat asing. Pepohonannya mulai menipis dan tidak serimbun dulu. Pun cuaca yang seharusnya tidak begitu panas ini pun rasanya terlalu terik. Ah, ia mungkin masuk ke kawasan pemukiman manusia. Mereka sering kali menggunakan alat-alat panas untuk mendinginkan tubuh, padahal untuk menggunakan alat-alat bermesin itu, mengorbankan banyak sekali pohon. Anak monyet itu berjalan pelan dengan kaki dan tangannya yang mungil. Ia terhenti di sebuah pagar besi. Uhm, lebih baik ia tidak melewati pagar ini. Manusia adalah makhluk paling teritorial, bahkan jika itu tentang tanah yang mereka rebut dari makhluk hidup lain seenak hati. Melewati batas yang diberikan ini pasti akan menggiringnya pada bahaya lain. Namun… monyet kecil itu mendadak mengendus bau yang enak. Ia mengendus-endus dan mengenali aroma harum ini sebagai pisang! Ah… sudah lama sekali sejak ia makan pisang. Dari mana aroma enak itu berasal, ya? Oh, dari sebuah rumah kecil tanpa dinding. Di sana ada pisang yang digantung seorang perempuan paruh baya. Eh, tapi manusia kan tidak suka berbagi dengan kaum mereka.  Yang ada ia hanya akan disiram dengan air panas nanti. Tapi… perutnya bergemuruh makin kencang. Uh, masa bodo! Anak monyet itu tidak peduli lagi. Ia memanjat pagar perlahan  dan turun dengan susah payah. Semoga saja ia bisa mengambil satuuuuu saja pisang itu. Hanya satu pisang tidak akan membuat mereka miskin loh. “Woe! Maling cilik!” Ups, perempuan paruh baya itu tidak suka pisangnya diambil. Monyet kecil lari tunggang langgang karena perempuan tua itu hendak menyiramnya dengan air panas. Namun monyet kecil itu sedang sial, ia tersandung dan terjatuh. “Budhe! Budhe! Jangan!” Monyet kecil merasakan tubuhnya diangkat dengan hati-hati. Monyet kecil yang ketakutan tidak berani membuka mata. “Itu monyet mau maling pisang. Sini monyetnya biar saya buang!” “Saya beli semua pisangnya ya, Budhe. Tapi monyetnya jangan diapa-apain.” Monyet kecil merasakan tubuhnya dibawa ke tempat yang jauh. Ia diturunkan di sebuah tempat yang agak lapang di pinggiran hutan. Aroma manis pisang dikalungkan ke lehernya. “Bagi sama teman-temanmu. Jangan datang ke sini lagi, ya.” Anak monyet itu terpukau. Pemuda yang baru saja menyelamatkannya memiliki aura yang sama dengan raja mereka. Eh, dia baik sekali karena memberikan pisang yang banyak. Tapi… dengan siapa ia akan makan semua pisang ini? Seluruh anggota keluarganya kan sudah dibunuh karena ketahuan mencuri jagung di ladang. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN