11. Hari Pertama Sekolah – II

1104 Kata
11. Hari Pertama Sekolah – II “Mulai hari ini, dia akan jadi teman kalian. Tolong perlakukan dengan baik, ya.” Pak Andi menandaskan perkenalan singkatnya tentang Naraya dengan memberikan tepukan ringan di pundak pemuda tersebut. Naraya yang ditepuk pundaknya memberikan senyuman tipis sebagai balasan. Sedari tadi, ia telah memikirkan cara agar tidak menjadi pusat perhatian. Ditambah lagi dengan keberadaan Bisma dan dua kroconya yang tengah berbisik-bisik dengan kawan di kanan kiri. Mereka mungkin sudah lebih dulu menyebarkan hal-hal buruk tentangnya. Mencoba mengabaikan hal-hal buruk, Naraya lantas melanjutkan hal yang belum sempat disebutkan oleh Pak Andi. “Nama saya Naraya Mahesa, umur enam belas, hobi membaca. Teman-teman semua bisa panggil saya Nara atau panggilan apa pun senyaman kalian. Terima kasih.” Sepanjang memberikan perkenalan, ia menundukkan wajah. Tatapan dari Bisma sudah lebih dulu menyusutkan keberaniannya. Dan lagi, mengharapkan reaksi bagus dari yang lain juga tidak akan memberikan perubahan apa pun. Pada akhirnya, mereka sudah lebih dulu diracuni dengan isu-isu buruk yang dibawa Bisma. Dengan pengaruh kuat pemuda itu, Naraya tidak dapat membayangkan hari-hari indah di masa sekolahnya. “Boleh tanya-tanya?” Aditya mengacungkan tangan. Sebagai teman yang baik, tentu ia tidak akan membiarkan perkenalan Naraya menjadi tidak menyenangkan. Dan lagi, kesan pertama yang baik sangat dibutuhkan saat ini. Terutama untuk menarik calon kawan-kawan baru. Sekiranya itulah yang tegambar melalui sorot mata Aditya yang selalu dipenuhi semangat. “Silakan, asal jangan pertanyaan yang provokatif.” Pak Andi mempersilakan, matanya kembali mendarat pada Naraya dan Aditya bergantian. Tak lupa mengawasi Bisma dan kedua kroconya. “Menurutmu, apa yang membedakan banget antara suasana kota sama di desa?” Itu adalah pertanyaan yang tidak bagus sebenarnya. Beberapa rekan sekelas yang mendengarkan tidak memberikan perhatian, bahkan terkesan mengabaikan. Namun sekali lagi, Aditya sering kali tidak menyadari bahwa ia tidak disukai, atau… ia memang sengaja mengabaikannya. Dengkusan keras terdengar dari barisan paling belakang, di mana Bisma dan dua kroconya sedang bersantai. “Pertanyaan enggak mutu. Kalau mau tanya, paling enggak yang agak berbobot. Misalnya tinggal di mana, apa pekerjaan ibunya, apa pekerjaan bapaknya, eh… bapak kamu kerjanya apa, sih? Eh, salah ding, bapak kamu ada enggak?” “Bisma!” Pak Andi buru-buru menghampiri pemuda itu, mengingat suasana menjadi agak tegang. Bisma sudah lebih dulu mengatakan kepada yang lain bahwa Naraya tidak memiliki ayah, itulah mengapa mereka semua diam. Dengan diungkitnya pertanyaan itu, mereka sempat khawatir akan terjadi keributan. “Saya emang enggak ada bapak.” Sepotong kalimat yang meluncur dari bibir Naraya lebih mengejutkan lagi. Seluruh pasang mata terarah padanya. Niatan agar tidak mengundang perhatian pupus juga. “Tanpa bapak pun saya bisa hidup sampai sekarang. Biarpun enggak pinter-pinter amat, tapi nilai saya enggak pernah di bawah delapan. Enggak pernah bolos, enggak pernah membentak orang yang lebih tua, beberapa kali menang lomba cerpen atau resensi buku, saya juga bisa naik motor sendiri, beruntung bisa beli sendiri. Kayaknya, tanpa bapak pun saya bisa tumbuh jadi orang yang saya mau. Enggak masalah punya bapak atau enggak, yang penting saya enggak merugikan orang lain dan tumbuh jadi pribadi yang baik.” Jawaban panjang dari Naraya tidak hanya menumbuhkan kekaguman dari kawan-kawan barunya, tetapi juga kekesalan bagi Bisma. Semua hal yang disebutkan oleh Naraya seolah berkebalikan dengan apa yang selama ini Bisma lakukan. Ia selalu berada di peringkat terbawah, membuat banyak masalah dengan sesama murid dan guru, kalau bukan karena uang sogokan dari bapaknya, mungkin ia sudah dikeluarkan dari sekolah ini. “Ah… seperti biasa, Naraya emang orang yang baik.” Kalia meluruhkan suasana tegang itu. Ia bahkan mengatakan kepada yang lain bahwa Naraya sering berbagi kepada orang lain. Aditya mengiyakan perkataan Kalia sehingga menarik makin banyak atensi dari orang lain. Naraya agak menyesali keputusannya memberikan jawaban semudah itu, tetapi paling tidak ia bisa merasa bangga sekarang. Karena ia bisa membuat Bisma merasa kalah untuk ke sekian kalinya. Ketika mata mereka saling bertemu, Naraya melihat kobaran api di mata pemuda itu. *** Pria paruh baya itu mendaratkan tubuh tambunnya di bangku. Dua rekan lamanya sudah lebih dulu datang. Sepiring kacang sangrai dan kopi pahit dijadikan teman mengobrol. Namun mereka tidak akan mengobrol santai atau ngalor ngidul seperti biasanya, hari ini mereka akan terlibat dalam pembicaraan serius. “Aku wis ketemu karo putrane Kanjeng Iswara.*” Pria yang mengenakan seragam keamanan sebuah sekolah itu bernama Sugi. Menjadi penjaga keamanan di sekolah puncak bukit, ia sering kali berharap dapat bertemu dengan sosok yang lama mereka puja. Namun, ia sendiri tidak pernah mendapatkan kesempatan bertemu sosoknya lagi secara langsung setelah padepokan mereka dihancurkan dulu. (*Aku sudah bertemu dengan putra Kanjeng Iswara) “Sugi…,” panggil salah satu dari pria itu. “Kita sudah tidak bisa seperti dulu. Kehidupan sudah semakin sulit. Kita harus realistis. Daripada hidup dengan mengharapkan sosok itu akan mengayomi kita lagi, bukankah lebih baik jika kita jalani hidup dengan biasa saja? Kita enggak perlu bicara soal dosa atau apalah itu. Kita udah terlalu tua buat menaruh harapan yang sia-sia.” “Parjo bener, Gi. Sudahi harapanmu sama dia. Hiduplah dengan lurus dan jangan balik ke jalur itu. Aku sama Parjo ke sini bukan buat nurutin mau kamu. Kami mau larang kamu kalau punya niatan berbuat kayak dulu lagi.” Sugi tidak menghiraukan keberadaan kedua pria yang sepantaran dengannya itu. Ingatan tentang masa lalu mereka sebagai pemuja sosok penunggu gunung itu masih hangat. Dulu, di gua yang terletak di tengah-tengah bukit, berdirilah sebuah padepokan kecil sederhana. Tidak ada senioritas atau peraturan yang mengikat. Tugas mereka hanyalah melayani sosok itu, memberikan makan tiga kali sehari, menyiapkan air untuknya mandi, dan memberikan hiburan melalui tarian dan musik. Apa yang dulu mereka kerjakan tak lebih dari membuang waktu. Apa yang diberikan penunggu itu atas kerja keras mereka pun tidak bisa dinilai dengan materi. Bahkan, sama sekali tidak bisa dinilai. Itu pendapat orang lain. Namun, bagi Sugi… penghargaan atas kerja keras mereka lebih berharga daripada apa pun. “Kalian udah tercemar sama dunia. Sekarang… kita udah hidup di ambang kehancuran. Alam ini mungkin udah enggak bisa menanggung kita lagi. Tapi kalian masih aja berbuat zalim sama alam. Kalian juga udah berbuat jahat sama Kanjeng Iswara, malah pura-pura sok suci.” Sugi sudah lebih dulu menyalakan rokok, diembuskannya asap ke udara. “Ngomong apa sih, Gi?!” Parjo berang. Baru saja diajak bertemu, malah dikata-katai. Orang mana yang tidak marah? “Sekarang aku yang balik tanya. Kalian tahu enggak siapa yang racunin Kanjeng Iswara?” Pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban. Disenyapkan oleh keheningan. Dua orang itulah yang mengetahui mengapa sosok penunggu bukit dan hutan ini tidak lagi sejaya dulu dan melepaskan orang-orang yang ia cintai. Ini akan menjadi cerita yang panjang, tetapi kedua pria itu enggan mengingat-ingat kembali apa yang sudah mereka berdua lakukan kepada sosok tersebut. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN