10. Hari Pertama Sekolah – I

1221 Kata
10. Hari Pertama Sekolah – I Umumnya, momen pindah sekolah dimaknai sebagai awal baru. Maka, buatlah kesan kuat ketika pertama kali bertemu dengan lingkungan dan kawan yang baru. Namun, Naraya enggan menjadikan momen ini berkesan. Kalau perlu tidak meninggalkan kesan apa pun, tidak menarik perhatian, dan terutama jangan sampai menarik atensi Bisma. Ibunya bahkan memberikan wejangan agar menjauhi Bisma sebisa mungkin. Ibu memiliki riwayat buruk dengan ayah Bisma dan secara tidak langsung dengan ibu Bisma pula. Naraya sudah cukup dewasa untuk memahami betapa berbelitnya riwayat masa lalu mereka. Ibunya ditaksir oleh ayah Bisma, ibunya tidak suka dengan ayah Bisma, maka dari itu ibunya juga memiliki riwayat buruk bagi istri juragan mebel itu. Diperburuk dengan stigma buruk ibunya di masa lalu. Naraya memutuskan memberikan tumpangan saja kepada Aditya. Walaupun terkesan seperti pengecut yang menyeret orang lain ke dalam bahayanya sendiri, tetapi Aditya menganggap tumpangan gratis itu sebagai penyelamatan. Motornya sedang mogok dan ia sedang bingung mencari tumpangan. Dengan keberadaan Aditya, cukup ampuh menghindarkan Naraya dari keramaian. Aditya bukan tipe-tipe siswa yang populer. Kedatangannya sekolah tidak akan dianggap hal hebat. Namun, ia masih memiliki satu masalah. Kalia Puspa Dewi. “Naraya! Good morning!” Kalia duduk di pos satpam, sedang menikmati momen menjadi pengawas keamanan bersama para anggota OSIS dan satpam sekolah. Walaupun sebenarnya tugas asli perempuan itu hanya menjadi pemanis di antara wajah masam dan galak para pengawas. Sosoknya yang cantik memberikan sedikit kesegaran. Mengalihkan para siswa yang menggerutu karena pemeriksaan kedisiplinan. Ah, perempuan yang satu itu benar-benar seperti matahari. Menyilaukan. Senyumnya, kulitnya yang berkilau, bibir dipoles dengan pewarna, serta aura-aura anak paling kaya di sekolah. Ia adalah pusat perhatian. Hanya saja, Naraya enggan ditarik pula ke dalam pusaran itu. Para siswa yang sedang antre memasuki halaman sekolah melemparkan pandangan mereka kepada Naraya dan Aditya. Kalia yang terkenal sebagai siswi populer dan susah didekati secara terang-terangan menyapa siswa baru, bukankah bisa jadi bahan gosip sebelum pelajaran dimulai pagi ini? Naraya membalas dengan anggukan dan senyuman dari balik helm. Aditya sendiri cukup antusias membalas. Mungkin ia tidak tahu jika Bisma ada di belakang mereka, sedang terbakar api cemburu. Sehabis ini, ia harus berlari, sembunyi, dan berpura-pura mati saja. Terlalu fokus memikirkan cara menghindar dari Bisma, Naraya tidak menyadari jika ia kembali diamati oleh seseorang. “Kayaknya tadi Bisma udah siap-siap mau hajar orang, deh,” celetuk Aditya yang ditujukan sebagai peringatan untuk Naraya. Terlambat. Naraya menjadi lebih peka dengan tatapan keji Bisma dari jarak jauh, terutama jika dikhususkan untuknya. Nasib baik baginya yang segera mendatangi ruang guru sehingga memiliki lebih banyak waktu menghindar. “Jangan diingetin, deh. Rasanya pingin balik aja deh ke kota. Siapa dulu yang bilang kalau suasana desa itu damai. Duh….” “Jangan gitu, dong. Kasihan simbah-simbahmu. Anak-anak sama cucu-cucunya yang lain udah enggak mau urus mereka. Cuma kamu sama ibu kamu yang mau. Kamu sama Budhe Esti itu punya hati yang baik. Pas dulu banget aja kalian diperlakukan buruk, tapi tetap mau merawat mereka. Tetap jadi orang baik, Bro.” Aditya menepuk pundak Naraya beberapa kali. Dan itu cukup untuk mengingatkan Naraya tujuan awal datang ke desa ini. Seburuk apa pun perlakuan kakek-neneknya di masa lalu, Naraya dan ibu tetap bersikeras merawat mereka berdua. Alasan Naraya bertahan adalah karena tidak ingin melawan ibunya, tidak ingin menjadi anak durhaka yang menelantarkan kakek-neneknya. Lalu… identitasnya. Ia memiliki firasat tentang itu semenjak melihat monyet besar yang menghadang mobil di hari pertama pindah. Ibunya memang menyimpan lembaran-lembaran masa lalu mereka dengan rapat, tetapi Naraya yakin jika ia bisa menemukan lembaran-lembaran hilang itu dengan cara sendiri. Siapakah ayahnya, mengapa ia dan ibunya berakhir seperti ini, dan mengapa mereka harus berpisah? “Aditya, balik ke kelas sekarang. Bapak mau kasih penjelasan sedikit ke Naraya.” Pak Andi menepuk pundak Aditya. Instruksinya jelas, tetapi Aditya enggan menuruti perintah tersebut. “Hmm, apa Bapak udah disogok sama Bisma buat culik Naraya?” terka Aditya. “Sembrono!” Pak Andi menjatuhkan satu pukulan di kepala Aditya. “Bapak ini wali kelasmu. Bapak yang dapat kewenangan buat mengampu murid baru di kelas, jadi… sebagai pihak yang tidak berwenang, mending kamu balik kelas aja.” Alih-alih protes karena mendapatkan pukulan, Aditya justru tersenyum lebar. “Eh! Naraya satu kelas sama saya, Pak?” Pak Andi mengangguk-angguk, sebuah senyuman kecil lolos dari bibirnya. “Makanya, sana balik. Tapi jangan heboh sampai anaknya dibawa ke kelas. Ini rahasia!” “Oho, siap, Pak!” Aditya memberikan tanda hormat lantas melambai dengan riang kepada Naraya. Dua pemuda itu tampak senang, setidaknya mereka tidak bisa dipisahkan sekarang dan bisa saling melindungi. “Nah, sekarang kamu sudah tahu bakal berada di kelas mana, ‘kan?” celetuk Pak Andi sembari menunjuk Naraya duduk di depan mejanya. Pria itu mengeluarkan beberapa buku di atas meja dan juga satu set seragam olahraga yang masih dibungkus dengan plastik tebal. “Sebenarnya pelajaran sehabis ini olahraga. Makanya Bapak keluarkan seragam olahraga sekaliannya buat kamu.” Naraya mengangguk-angguk dan berterimakasih kepada guru sekaligus wali kelasnya itu. Namun Pak Andi kembali menarik atensi Naraya lagi dengan perkataan selanjutnya, “Maaf, sebelumnya kalau Bapak  bilang ini sekarang di sini. Tapi ke depannya kamu bakalan susah banget. Kamu enggak hanya sekelas sama Aditya aja, tapi Bisma juga. Hah… Bapak susah banget ngomong soal ini.” Sejenak, jantung Naraya seolah jatuh. Ah, kenapa dunia ini begitu kejam padanya? “Ya… saya juga enggak bisa ngapa-ngapain.” “Tapi paling enggak, kamu ada teman. Semoga kamu bisa betah di sini. Sebagai teman ibumu di masa lalu, Bapak selalu berharap supaya kamu bisa betah di sini dan jauh-jauh dari masalah. Ya, seperti yang kamu dengar dari Kalia kalau Bapak ini dapat sogokan dari bapaknya Bisma. Ya… Bapak enggak menyangkal. Tapi Bapak juga akan berusaha lindungi kamu dari apa pun juga, jadi… usahakan kamu tetap kuat di sini,” tandas Pak Andi sembari menepuk bahu Naraya. Pemuda itu mengangguk pelan. Ah, mendapatkan pesan seperti ini tidak berarti ia aman. Bisma pasti punya berbagai macam cara untuk menyiksanya nanti. “Iya, Pak.” “Kalau gitu, kita bisa langsung ke lapangan aja. Kamu enggak perlu ganti seragam kalau enggak mau. Khusus hari ini pelajaran Bapak yang bosan bakal jadi jam kosong aja. Kalian pasti juga senang kalau dapat jam kosong. Gunakan sebaik-baiknya buat perkenalkan diri.” Naraya sebenarnya juga suka dengan jam kosong, tapi jika jam itu dihabiskan dengan seseorang yang membencinya… ia lebih senang jika disuruh mengerjakan seratus soal matematika terapan atau menghafal rumus fisika. Pada saat ini, tidak ada yang perlu ia khawatirkan. Entah nanti jika ia sudah berada di lapangan. Sebelum mencapai lapangan pun, ia sudah bisa mendengar bisik-bisik dari siswa lain yang berada di kelas masing-masing. “Eh, itu si anak baru yang dari kota itu, ‘kan?” “Yang hampir diserang sama penunggu itu bukan, sih?” “Ganteng juga, ya? Emang enggak salah sih kalau Kalia suka sama dia.” “Wah… gawat nih. Bisma bisa digeser.” “Dahlah, abis itu anak.” Naraya menundukkan kepala. Mereka semua berkata dalam bahasa daerah yang ia pahami. Kendati Naraya sendiri tidak pandai membalas, tetapi setidaknya ia paham. Bisik-bisik mereka mewakili gosip yang beredar di sekolah akhir-akhir ini sebelum kepindahan resminya. Aditya selalu berbaik hati berbagi informasi agar Naraya tidak ketinggalan. Jika sudah begini, ia harus bersiap-siap dengan penyambutan resmi dari teman-teman sekelasnya sehabis ini. Jika ada Bisma di sana, maka ia juga harus mempersiapkan diri untuk perlakuan paling buruk. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN