9. Sepeda Motor dan Pelajaran Naik Gunung
Sepeda motor seharga enam juta itu tidak begitu mengesankan. Paling tidak semua bagiannya berfungsi dan tidak ada kerusakan. Hanya saja jarak tempuh yang digunakan sudah terlalu lama dan bukan model baru lagi. Masalahnya hanya itu. Naraya tidak menginginkan modifikasi besar-besaran. Ia hanya akan membuang stiker-stiker pemilik lamanya lalu dicat lagi dengan warna yang lebih matte. Seperti biasa, ia memang menyukai hal-hal monokrom, simpel, dan klasik yang tidak lekang oleh waktu. Warna hitam adalah pilihan paling tepat. Setelah sedikit mengubah tampilan sepeda motor itu, pergilah mereka berempat menuju jalan ekstrem menuju sekolah.
Itu adalah satu-satunya jalan beraspal yang bisa mereka tempuh untuk naik ke atas, ke sekolah yang berada di puncak. Kalau dipikir-pikir, jarang sekali ada sekolah yang memiliki pemandangan indah seperti ini. Berada di puncak bukit, mereka dapat melihat hamparan waduk yang luas dan biru, seperti melihat miniatur laut. Ada perahu-perahu kecil nelayan, speedboat, dan kalau beruntung akan ada barisan perahu-perahu wisatawan. Ah, mungkin ia akan meminta ibu bermain ke waduk nanti atau besok. Anggap saja upaya memperbaiki hubungan.
“Jangan ngelamun, Ya! Nanti salah-salah malah nyemplung ke jurang!” peringat Aditya. Pemuda itu sedang berada di atas sepeda motor bututnya. Cukup mengesankan karena sepeda motor itu bisa sampai di titik ini dan menemani Aditya selama beberapa tahun ke belakang.
“Maaf, maaf. Lagi mengagumi waduk dari sini. Pingin ke sana, tapi belum ada momen yang pas,” balas Naraya. Mereka berdua masih berada di tengah-tengah perjalanan. Beberapa kali berpapasan dengan pengendara sepeda motor lain yang lalu lalang, mereka berdua beberapa kali harus mengalah. Di sisi lain, Kalia dan Bagas sudah berada di atas lebih dulu menggunakan mobil. Sebagai tambahan, mereka berdua yang membawa kudapan sebagai perayaan jika nantinya Naraya berhasil mencapai puncak.
“Kalau mau main, ya… main aja. Momen kan bisa dibuat sendiri. Yang utama dan harus ada tentu saja duit. Kalau enggak ada duit, ya, enggak bisa main.” Sebuah kata-kata lugas dari seseorang yang terbiasa hidup dalam keterbatasan, serba berhemat, dan selalu menahan diri. Orang tua Aditya yang bekerja serabutan tidak akan pernah terpikirkan mengajak anak-anaknya—mereka empat bersaudara dan Aditya sebagai sulungnya—sekadar bersenang-senang. Liburan hanyalah salah satu cara menghabiskan uang.
“Haha, kalo gitu kita ke sana aja sehabis ini. Tapi jangan diajak Kalianya. Kalau Bisma tahu kita bawa dia ke waduk, pasti bakal jadi masalah besar, nanti.”
“Nah, kalau itu. Joss!” Aditya mengacungkan jempol. Siapa yang tidak mau liburan gratis?
Naraya kembali memacu motornya. Kali ini pelan-pelan saja. Sembari menikmati suasana asing tetapi asri ini, juga… mencoba menemukan kembali sosok monyet besar itu. Mungkin saja ia berada di salah satu pohon atau di antara semak belukar. Naraya sempat menanyakan kepada Aditya mengenai ketua para monyet atau penunggu bukit ini, tetapi pemuda itu malah bergidik ngeri. Ya, kalau kata orang-orang zaman dulu emang ada yang kayak gitu, tapi kalau udah zaman modern kayak gini, mana ada. Malah nanti dikata musyrik lagi. Ada-ada aja sih, Ya. Tapi… kalau kamu mau belajar soal ekosistem di sini, aku mau kok bantu. Tidak seperti kelihatannya, ternyata Aditya adalah pecinta alam. Ia sering kali menanam pohon-pohon di sekitar daerah yang tandus dan juga merawat beberapa satwa yang secara tidak sengaja masuk perangkap atau terpisah dari kawanannya.
Pemuda itu juga menyangkal keberadaan monyet bertubuh besar itu. Baginya, semua monyet memilili ukuran relatif sama. Kendati ada ketua, tetapi wujudnya tidak sebesar yang dideskripsikan Naraya. Terkecuali, Naraya melihat monyet obesitas, atau monyet persilangan dengan jenis lain. Aditya masih bisa diajak berpikiran nalar. Padahal Naraya ingin mengulik dari sudut tidak nalar itu sendiri.
“Naraya! Aditya! Cepetan, dong! Ini mie ayam baksonya nanti enggak enak!” Kalia melambai-lambaikan tangan. Suaranya yang cempreng terdengar agak mengejutkan bagi kedua pemuda itu. Tidak disangka pula mereka nyaris berada di puncak. Mempelajari medan menuju sekolah ini ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Tips dari Aditya agar jangan terburu-buru ketika percobaan pertama memang sangat membantu. Ini adalah percobaan naik yang kedua dan ia bisa menggunakan kecepatan standar setelah sebelumnya berhati-hati menghafal jalur.
Kedua pemuda itu memarkirkan sepeda motor mereka tidak jauh dari mobil. Sementara itu Kalia mulai mengeluarkan styrofoam pembungkus mie ayam dan bakso mereka. Bagas sudah lebih dulu memakan dua bungkus rempeyek kacang karena tidak kuat menahan lapar. Sekarang mereka hanya mempunyai kerupuk sebagai pendamping. Dan Kalia sempat mencubit bapak satu anak yang menghabiskan jatah rempeyek mereka.
“Wah, mie ayam di sini emang yang paling enak, deh. Enggak ada lawannya!” puji Naraya. Sejak dulu, orang-orang mengatakan bahwa nasi thiwul dan mie ayamnya yang menjadi ciri khas daerah ini di kalangan para perantau.
“Tuh, kan. Orang kota aja mengakui kekuatan mie ayam kita.” Aditya lantas menggigit keras kerupuknya yang masih renyah dan gurih. Teman minum mereka teh kemasan botol yang tidak dingin.
Kalia sendiri baru saja menyelesaikan mengunggah foto makanannya ke media sosial. “Kayaknya tadi tangannya Naraya masuk ke Igeh aku, deh. Enggak apa-apa kan, ya? Lagian siapa juga yang bakal urusin tangan orang, iya, ‘kan? Ah… kalau aja kita bisa makan di spot yang agak bagus gitu, bukannya di dekat sekolah yang dikelilingi hutan sama monyet….”
Keluhan dari Kalia ditanggapi dengan tawa renyah dari Naraya dan Aditya. Semoga saja perempuan ini tidak mengajak mereka pergi ke tempat yang lebih bagus. Bisma bisa menghajar mereka nanti. Namun, bicara tentang hutan yang dikelilingi monyet, sedari tadi tidak terlihat monyet yang mengganggu. Biasanya monyet-monyet itu tidak akan tahan melihat orang membawa makanan, tetapi mereka tidak kelihatan satu pun. Dan, Aditya menyadari betul hal itu.
“Ini tumben banget enggak ada monyet yang mau nyolong-nyolong kerupuk gitu, ya?” celetuk Aditya setelah menoleh ke kanan dan kiri, mencoba menemukan keberadaan monyet di sana.
“Iya, juga, ya. Tumben mereka enggak kelihatan. Malah aneh, kalau mereka enggak ada,” imbuh Bagas.
Naraya ikut mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Padahal hari belum begitu gelap, kawanan monyet belum kembali ke sarang. Lantas kenapa mereka tidak kunjung kelihatan? Mungkinkah mereka sengaja dilarang mengusik acara makan Naraya ini? Ah, jika dikaitkan lagi dengan sosok monyet itu, mungkin saja iya. Namun sekali lagi, Naraya merasa janggal karena tidak menemukan alasan mengapa monyet itu menunjukkan diri dan seolah menunjukkan eksistensinya langsung.
Ibu tidak akan mengatakan apa pun kepadanya. Lantas kepada siapa Naraya akan bertanya?
|Bersambung|