8. Pindah Sekolah – III

1272 Kata
8. Pindah Sekolah – III Sekeras apa pun Naraya menyangkal, hal yang baru saja terjadi tidak dapat dijelaskan dengan nalar. Ratusan monyet itu tidak mungkin bergerak dalam satu kelompok dan mengintimidasi Bisma tanpa perintah. Terlebih lagi, sebelum Kalia betul-betul menariknya menjauh, ia sempat bertatapan mata dengan monyet yang waktu itu menghadang jalan mobil ibunya. Monyet yang memiliki ukuran tubuh lebih besar dan sorot mata lebih tajam, tetapi di satu sisi menyimpan lapisan-lapisan misterius. Ia memiliki kecurigaan yang sama, mungkinkah monyet itu pula yang menimbulkan suara berisik di atap rumah kakek-neneknya serta di luar kamar waktu itu? Kemungkinan besar iya. Masalahnya adalah, kenapa? “Untung Bisma enggak jadi hajar kamu, Ya. Enggak tahu gimana nantinya kalau dia betul-betul begitu. Pak Andi aja kayaknya enggak bakal bisa bantu.” Berterima kasih kepada Aditya yang lekas memanggil bantuan, Naraya dan Kalia dibawa ke UKS. Perempuan Itu masih trauma dengan monyet-monyet, sedangkan Naraya tenggelam dalam asumsi liarnya. Ibu pasti akan menyusul tak lama lagi. Kejadian menegangkan yang baru saja terjadi tak hanya menakuti Naraya, Kalia, maupun Trio BAU sendiri, tetapi juga para penjaga kantin dan orang-orang yang kebetulan berada di sana. Secara cepat, rumor tentang penunggu hutan di seberang sekolah yang mengamuk menyebar sebagaimana bensin disulut api. Hanya tinggal menunggu waktu hingga kabar itu sampai di telinga ibu. Ketukan sepatu hak tinggi dengan lantai yang khas itu adalah punya ibu, ia buru-buru menghampiri Naraya dan menyambut sang putra semata wayang dengan pelukan erat. Tanpa sempat berkata apa pun, ia menangis. Aditya yang bertanggung jawab menenangkan ibunya Naraya, sedangkan Naraya sendiri tetap bungkam. “Loh, Esti. Iki anakmu, to?*” Pak Andi yang baru saja memasuki UKS segera mengenali ibu sebagai salah satu temannya di masa sekolah dulu. Ibu sendiri buru-buru menghapus air mata dan merangkul Naraya hangat. (*Ini anakmu, ya?) “Iya, ini anakku. Dia bakal sekolah di sini.” “Ealah… duh, Esti. Kapan pindah ke sini? Kayaknya kita harus banyak-banyak ngobrol habis ini. Soalnya banyak wejangan juga yang harus aku beri ke anakmu itu. Kalau enggak keberatan, loh, ya.” Pak Andi mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyuman lebar. Mungkin senang bisa bertemu dengan kawan yang sudah berpisah bertahun-tahun lamanya. Dehaman tidak menyenangkan datang dari Aditya dan Kalia. Tatapan mereka menyiratkan peringatan: Pak, eling anak bojo**. (**Pak, ingatlah sama anak dan istrimu) “Nanti aja dulu, sekarang aku mau tahu apa yang sebenarnya terjadi sama anakku. Siapa yang bisa kasih penjelasan singkat?” Ibu menoleh ke kanan dan kiri. Kalia mengangkat tangan, walaupun ia sendiri belum terlalu prima, tetapi ia tidak ingin ada hal-hal yang disembunyikan di sini. “Naraya diganggu sama Bisma, terus pas Bisma mau pukul Naraya, ada ratusan monyet muncul di perbatasan sekolah sama hutan. Mereka bersuara keras bangeeeeet, kayak ngasih peringatan gitu. Terus Bisma lari, deh.” Pak Andi tampak agak tidak nyaman karena penjelasan Kalia, tetapi siswi itu buru-buru menambahkan, “Kalau Pak Andi yang jelaskan, dia pasti bakal bela si tukang onar itu. Maklum, dia kan sering disuap sama bapaknya yang juragan mebel itu.” Dengan adanya ibu di sana, Pak Andi tidak bisa melawan. Pria itu menghela napas berat. Ditatapanya Naraya dan ibu bergantian. “Saya akan kasih kalian waktu buat saling bicara dulu. Kalau masih ada keperluan lain, silakan diselesaikan. Soalnya saya masih ada banyak urusan. Permisi, ya.” Pak Andi sempat meninggalkan tatapan sengit pada Kalia, yang ditanggapi dengan juluran lidah mengejek dari siswi itu. Dengan ketiadaan guru yang merupakan sekutu dari “musuh” Naraya, atmosfer dalam ruangan tersebut menjadi lebih ringan. Aditya kembali berdeham, ia menepuk pundak ibu pelan. “Budhe, saya balik ke kelas dulu sama Kalia, ya. Kalau nanti butuh apa-apa, bisa telpon saya atau Kalia. Permisi dulu, ya, Budhe.” Sebenarnya Kalia sendiri tidak ingin diajak keluar, tetapi karena bujukan Aditya, pada akhirnya tersisalah Naraya dan ibunya di ruang UKS tersebut. “Ibu enggak nyangka kamu bakal dapat masalah sama anak sini bahkan sebelum resmi pindah,” ujar ibu iba. Diambilnya telapak tangan Naraya yang tertinggal bekas-bekas lecet. “Ibu enggak akan biarin kamu kenapa-napa lagi habis ini. Tapi paling tidak, jangan pernah buat masalah sama Bisma, ya? Kalau udah berurusan sama dia, kayaknya Ibu bakal susah—“ “Ibu tahu apa soal monyet besar yang menghadang mobil kita waktu itu?” Ibu tercenung, tidak menyangka jika kata-katanya akan dipotong dengan pertanyaan ini. Pertanyaan sulit yang bahkan tidak pernah terbayangkan akan meluncur dari bibir putranya. “Apa maksud kamu, sih? Monyet apaan lagi?” “Monyet yang menghadang jalan kita waktu itu juga ada tadi di sana, Bu. Dia kan yang bikin berisik di genteng waktu itu. Aku juga dengar ada bunyi-bunyi aneh pas di luar kamar. Aku yakin itu monyet yang sama. Dia empat kali menunjukkan diri, empat kali itu bukan sekadar kebetulan.” Ibu memijit pangkal hidung. Putranya memang pendiam, tetapi memiliki pemikiran yang tajam. “Nara… kamu jangan mengait-ngaitkan hal aneh kayak gitu dengan semua kejadian ini. Di sini emang udah jadi habitat monyet dari dulu. Enggak salah kalau mereka ada di mana-mana. Monyet itu kelihatan sama semua. Enggak ada yang beda.” “Ibu tahu kan kalau semua kebetulan itu terjadi karena alasan. Aku enggak tahu apa yang ibu sembunyikan, tapi… aku yakin waktu yang akan jawab lebih dulu. Aku akan menunggu sampai waktu itu datang,” tandas Naraya yang buru-buru turun dari ranjang UKS. Dilewatinya tubuh sang ibu tanpa menoleh ke belakang lagi. Ibu tidak kunjung mengejar, ia mungkin tidak menyangkal pernyataan Naraya barusan. *** “Ya?! Seriusan ini tabungan kamu? Sebanyak ini?!” Aditya mungkin baru melihat jumlah uang sebanyak itu dalam hidupnya. Lebih mengejutkan lagi karena semua uang itu dikeluarkan Naraya dari koleksi buku-bukunya. Tabungan yang tidak biasa. Beruntung sekali karena koleksi bukunya sudah datang bersamaan dengan barang-barang mereka yang lain. Maka, pemuda itu buru-buru mengambil seluruh koleksi bukunya dan mengeluarkan pembatas buku tidak biasa itu. Uang lembarang ratusan ribu. “Ya… udah aku kumpulin sejak SMP sih. Ternyata berguna juga.” Naraya tuntas menghitung semua tabungan tunainya. Enam juta sudah cukup untuk membeli sepeda motor bekas bukan? Lagipula sudah sejak dulu orang  Indonesia terkenal tidak disipilin dan menaati peraturan. Membeli sepeda motor bekas tanpa kelengkapan bukan masalah besar. “Gila… orang kaya pembatas bukunya uang. Enggak main-main,” gumam Aditya kagum. “Ya, aku merasa aman aja taruh uang-uang di sana. Toh, enggak banyak orang yang suka baca buku, ‘kan?” Aditya tersenyum kecut. “Miris sih, tapi iya. Enggak bisa disangkal.” “Kita jadi COD sepeda motor bekas itu, ‘kan? Enggak konsultasi dulu sama ibumu?” tanya Aditya lagi. Pertanyaan Aditya mengingatkan Naraya bahwa ia dan ibunya lebih banyak diam dan saling menjauh semenjak pulang sekolah kemarin. Sampai saat ini pun mereka belum bicara banyak dan hanya bertukar sapa seperlunya. Kalau bilang langsung pada ibu jika mereka membeli sepeda motor bekas, bisa bahaya juga. Ibunya pasti tidak akan membiarkan Naraya melakukannya. “Ibu sibuk. Ya… anggap aja ini kali pertama aku pakai uang untuk keperluan dan kemauanku sendiri. Enggak ada yang salah, ‘kan?” “Oke, oke. Mas Bagas juga udah nunggu di luar. Kita berangkat aja sekarang, yuk. Pasti udah ditungguin, nih.” Namun, mereka tidak hanya berangkat bertiga. Ada tambahan lain, perempuan paling wangi dan cantik di desa itu. Kalia sudah lebih dulu menempati mobil Bagas dan menyapa kedua pemuda itu dengan riang. “Hai, hai, hai, hari ini kita bakal jalan-jalan buat beli motor, ‘kan?” Naraya dan Aditya berkeringat dingin. Kenapa Kalia selalu saja menempatkan mereka berdua dalam masalah. Baru saja, Bisma melewati mereka sembari menggeber sepeda motornya kencang. Memberikan ancaman karena terlalu dekat dengan Kalia. Sungguh menyebalkan. Semoga hari ini pun tidak ada kesialan lain yang menghampiri mereka. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN