7. Pindah Sekolah – II

1263 Kata
7. Pindah Sekolah – II Seperti yang sudah Naraya duga, ia akan terlibat masalah dengan Bisma. Dan, semua itu berawal ketika Kalia turun dari mobil yang sama dengannya. Keberadaan Aditya beserta ibu dan Bagas tidak membantu. Bisma sudah kepalang berang melihat gadis incarannya berada di satu mobil dengan pemuda yang baru saja datang dari kota dan secara kilat merebut atensi pujaan hati. Hei, Naraya sama sekali tidak ada niatan. Ia bahkan cukup kaget mendapatkan teman dalam waktu singkat dan cara yang tidak diduga-duga. “Ibu mau urus administrasi. Sekalian nanti kita cari seragam juga, nanti ibu ajak ke pasar kota,” pesan ibunya sebelum meninggalkan Naraya bersama dengan Aditya dan Kalia. Ah… suasana menjadi tidak bersahabat. Bisma mungkin sedang mengintai mereka bertiga saat ini. Seperti harimau, lalu menerkam sewaktu-waktu dan mengunyahnya hingga lumat. Sungguh bayangan mengerikan. “Naraya, kita harus keliling sekolah dulu. Tenang aja, aku bisa mandu kamu, kok. Aku udah hafal semua sudut di sekolah ini.  Mulai dari kantin sampai kamar mandi anak-anak cowok yang jorok. Dijamin enggak akan nyesel, deh!” Kalia menarik tangan Naraya tanpa sempat memberikan peringatan. Perempuan bertubuh langsing ini ternyata memiliki tenaga yang cukup kuat. “Ikut juga, dong. Males nih ikut pelajaran olahraga. Paling disuruh main voli sampai jam pelajaran abis. Ngajak Naraya muter-muter sekolah kayaknya asik juga.” Aditya sepertinya tidak menyadari kekhawatiran yang tersirat di wajah Naraya. Naraya memberikan isyarat gelengan berulang kali, meminta bantuan dari pemuda berkulit lebih gelap itu, tetapi Aditya lebih dibutakan dengan kesempatan melewatkan pelajaran olahraga mereka yang menjemukan. Walaupun terpaksa ditarik dan diseret ke sana kemari oleh Kalia, setidaknya Naraya agak menikmati sesi berkeliling ini. Kalia memang pandai memandu. Setiap gedung, letak, fungsi, dan sejarahnya dihafalkan dengan baik. Sekolah swasta yang berdiri di bawah yayasan ini sama seperti sekolah kebanyakan. Terbagi menjadi empat gedung utama, satu gedung yang berada di sisi selatan untuk anak kelas satu, tengah-tengah untuk kelas dua, lantas berada di sisi utara adalah milik anak kelas tiga. Gedung untuk guru berada di tengah-tengah, urut dengan gedung anak-anak kelas dua. Sebuah lapangan upacara berada di tengah-tengah dan ada beberapa gedung kecil lain yang dikhususkan untuk beberapa ekstrakurikuler. “Tada… ini ruangan buat kelas tata busana. Ini ekskul yang aku ambil. Sebenarnya aku udah minta sama guru pembimbingnya buat jadiin satu sama ekskul tata rias, terus minta guru buat modeling, kalau gitu kan ekskul kita jadi luar biasa keren. Tapi sampai sekarang belum kesampaian, ah… Bapak sih lama banget ngomong sama pihak sekolah,” gerutu Kalia. Naraya dibuat bengong dengan kekuatan uang yang dimiliki perempuan ini. Aditya menyikut Naraya pelan lalu berkata lirih, “Bapaknya Kalia itu donatur terbesar di sini, setelah itu bapaknya Bisma. Makanya jangan main-main sama mereka berdua.” Peringatan itu sungguh sangat terlambat. Naraya kembali menangisi kehidupan sekolah menengah atasnya yang akan kacau sehabis ini. “Siapa yang lapar? Destinasi kita selanjutnya adalah kantin. Pwi pwi pwi pwi!” Kalia bersorak bahagia, ditariknya lagi Naraya tanpa persetujuan. Aditya di belakang ikut bersorak senang karena Kalia pastinya tidak akan keberatan membelikan mereka seporsi soto dan beberapa biji gorengan. Namun, mereka mendapati Bisma dan dua kroconya sudah lebih dulu berada di kantin. Geng itu menguasai satu meja. Keadaan memang sepi karena proses belajar sedang berlangsung, hanya ada kelas mereka yang berada di luar karena pelajaran olahraga. Lalu, guru olahraga mereka pun tidak akan protes jika Bisma dan gengnya bolos pelajaran olahraga yang sering kali disebut membosankan itu. Maka, ini adalah momen yang tidak menguntungkan bagi Naraya. “Oh, jadi si anak haram ini mau sekolah di sini? Sekelas juga sama kita? Duh… kok dunia sempit banget, sih? Rasanya juga jadi enggak enak. Satu kelas sama anak haram, kayak berdosa banget kita,” ledek Bisma terang-terangan diikuti tawa Atim dan Udin. Naraya berusaha tidak mengacuhkan mereka. Ia segera berbalik tanpa membalas, tetapi langkahnya terhenti oleh sesuatu berminyak menghantam kepala. Ketika tersadar benda yang menghantam kepalanya adalah bakwan, Naraya berbalik dan menatap Bisma tajam. “Eh, sori. Tangan gue licin. Gimana anak kota? Belum pernah cobain bakwan orang kampung, ya?” Bisma tersenyum miring, bermaksud meledek. “Apa-apaan sih, Bis?! Enggak cool banget jadi cowok! Jangan olok-olok dia, dong!” protes Kalia, ia bahkan menghpiri Naraya dan mengangsurkan tisu kepada pemuda itu. Tak sadar bahwa perilaku pedulinya kepada Naraya malah memperburuk keadaan. “Makasih, ya,” lirih Naraya sembari menarik beberapa lembar tisu untuk membersihkan rambutnya yang basah oleh minyak. Bisma tentu saja makin berang. Ia bangkit dari kursi separuh melompat. Dengan seragam olahraga yang pendek itu, Naraya menyadari jika pemuda di hadapannya ini memiliki tubuh yang cukup terlatih. Otot bisep dan trisep yang mulai terbentuk, betis yang seperti milik ibunya—ada telurnya—serta kepalan tangan yang tajam. Jika pemuda itu membogem Naraya, sudah jelas akan berakhir dengan bonyok. Itulah sebabnya ia tidak ingin terlibat masalah dengan orang ini. “Maaf, tapi saya enggak mau bikin kekacauan sebelum resmi pindah ke sini. Saya mau pamit dulu, maaf kalau ada yang salah. Tolong juga jangan ganggu teman-teman saya.” Naraya memutuskan untuk mengalah. Dengan tubuhnya yang bisa dibilang tidak berotot dan tidak pernah terlatih, ia hanya akan menjadi samsak jika meladeni Bisma dengan kepala panas pula. Hanya saja, Bisma bukan pribadi yang mudah memaafkan. Tanpa tedeng aling-aling, ia segera menjenggut kerah kemeja Naraya. Kalia memekik kaget, beberapa kali menyuruh Bisma melepaskan cengkeramannya pada Naraya. Kedua kroco Bisma malah memperburuk suasana dengan memanasi ketuanya itu untuk menghajar Naraya. Di sisi lain, Aditya berlari ke arah di mana siswa lain dan guru sedang berolahraga, berusaha mencari bala bantuan. “Hah, mengkeret ‘kan? Jan, opo apike cah lanang sing klemar-klemer ngene iki? Kalia, kudune kowe karo aku wae, tinimbang karo cah ra duwe tenaga koyok ngene. Aku sugih, wong tuaku nggenah, duwe bisnis sisan. Ngopo kowe gaul karo cah koyok ngene?!*” Bisma melirik ke arah Kalia tanpa melepaskan cengkeramannya dari kerah Naraya. Naraya sendiri berusaha melepaskan diri, tetapi ia tidak memiliki tenaga untuk itu. (*Benar-benar deh, apa bagusnya laki-laki lemah kayak gini. Kalia, harusnya kau bersama denganku saja daripada sama orang tidak punya kekuatan seperti ini. Aku kayak, orang tuaku jelas, punya bisnis juga. Kenapa kau harus bergaul dengan orang seperti ini?!) Kalia menggeram kesal. Ditendangnya betis Bisma, walaupun itu sama sekali tidak berarti apa-apa bagi pemuda itu, malah meninggalkan rasa sakit baginya. “Emang masalah kalau aku bergaul sama orang lain?! Jangan atur-atur hidupku! Naraya mungkin enggak sekuat kamu, tapi dia enggak sekasar kamu!” Amarah Bisma makin memuncak. Dijatuhkannya tubuh Naraya ke tanah, Kalia menjerit, Atim dan Udin menyoraki makin kencang. Naraya tidak yakin bahwa ia akan keluar dari situasi ini tanpa mengalami luka. Ia memejamkan mata, setidaknya dengan begitu, ia tidak melihat tinjuan Bisma mengenai wajahnya. Namun, sebelum pukulan mengenai wajahnya, mereka yang berada di sana dikejutkan oleh suara bising dari lebatnya pepohonan di hutan. Seperti suara ratusan monyet yang hendak berperang. Mereka seolah berkumpul dalam suatu pasukan besar dan berteriak dengan kencang sebagai pertanda dimulainya perang atau membawa pesan ancaman. Bisma menyingkir menjauh. Teriakan melengking para monyet menyiutkan nyalinya. “Bis, kayaknya penunggu hutan marah, deh. Soalnya kita bikin keributan siang bolong kayak gini,” tegur Udin. "Halah, enggak mungkin!" sanggah Bisma kendari setengah takut. Suara-suara bising itu tak kunjung mereda, Pasukan monyet mulai menampakkan diri satu per satu dari balik rimbun daun, tatapan mata mereka berkilat. Ketika salah satu dari mereka membuka mulut, saat itulah Bisma lari paling awal, meninggalkan kedua pengikutnya, Naraya tak lagi dihiraukan, dan… ia sama sekali tidak mempedulikan Kalia yang juga ketakutan. Naraya tercenung, matanya menyelami kegelapan hutan, mencoba mencari tahu kekuatan apa yang menggerakkan para monyet itu, tetapi Kalia sudah lebih dulu menyeretnya menjauhi kantin. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN