6. Pindah Sekolah – I

1188 Kata
6. Pindah Sekolah – I “Untuk saat ini, sekolah aja di sana dulu. Lagian kalau mau daftar di sekolah negeri, prosesnya lebih susah daripada sekolah swasta. Biarpun letaknya di gunung, tapi banyak juga kok alumni di sana yang berhasil.” Alasan itu dilontarkan sang ibu ketika Naraya memulai pembicaraan tentang sekolah. Naraya pada awalnya meyakini kalau ibunya pasti akan memasukkannya paling tidak ke sekolah negeri yang ada pusat kabupaten, tetapi yang terjadi malah dimasukkan ke sekolah swasta yang terletak di puncak itu. Naraya menghela napas berat. “Tadi aku ketemu sama anak-anak badung di sana, mereka mulai ejek-ejak pakai sebutan enggak punya Bapak. Ibu tahu sendiri kalau aku enggak pernah dapat ejekan kayak gitu di sekolah lama. Siapa bilang orang di desa itu ramah? Nyatanya ada juga yang enggak kenal sopan santun.” Ibu tidak kunjung menjawab. Tumpukan berkas di meja kerjanya, kedua ponsel jadul yang khusus digunakan untuk menelepon saja, serta beberapa contoh kotak kardus dengan label nama ibunya sebagai merek katering. Ibunya sedang super sibuk mempersiapkan kembali bisnis baru, katering kecil-kecilan. Belum lagi dengan proses pemindahan sekolah Naraya. Ada secuil rasa bersalah karena mengusik ibunya di tengah kesibukan. Namun, mau bagaimana lagi? Belum ada satu minggu sejak pindah ke desa ini, ia sudah menerima perlakukan tidak menyenangkan dari orang lain. “Kita omongin besok aja, deh, Bu. Ibu juga kayaknya lagi sibuk,” tandas Naraya tanpa sempat menoleh ke belakang. Melewatkan tatapan penuh penyesalan sang ibu. Kembali ke kamar yang dikhususkan untuknya, Naraya mendapati rak bukunya sudah dipenuhi dengan koleksi bacaan yang belum sempat ditata tadi. Mungkin kakek, nenek, atau ibunya yang menata buku-buku ini dengan rapi walaupun susunannya sembarang. Ia membuka ponsel, mendapati banyak pesan masuk dari kedua sahabat karibnya, beberapa kali ajakan melakukan panggilan video, tetapi berujung gagal. Ia meninggalkan pesan di grup bahwa wi-fi belum terpasang di rumah barunya. Sangat sulit melakukan panggilan video dengan sinyal yang ada. Malam belum terlalu larut untuk ditinggalkan tidur. Naraya mengambil salah satu novel Eka Kurniawan, membaringkan punggungnya pada kepala tempat tidur, ia akan menghabiskan waktu bersenang-senang sebelum kesibukan sekolah datang. Namun, gemerisik di luar mengusik, menimbulkan kekhawatiran seperti di malam itu. Gorden dalam keadaan terbuka, tetapi jendela masih dalam keadaan terkunci. Naraya mengintip keluar, tidak mendapati apa pun selain semak belukar dan pepohonan tinggi. Ah, mungkin hanya perasaannya saja. Tidak semua tempat di sini angker bukan? Ia menutup gorden, tak menyadari adanya pergerakan lain di luar. Tidak melihat sosok pria bertubuh tinggi yang mengawasi dari balik rimbunnya pepohonan. *** Perjuangan menuju sekolah yang dimaksud benar-benar luar biasa. Jarak tempuh dari rumah menuju jalan besar tak sampai lima menit, akan tetapi jarak tempuh dari jalan besar menuju sekolah itu, lebih dari sepuluh menit. Mendatangi sekolah yang terletak di puncak itu benar-benar seperti sedang mendaki gunung. Bedanya, mereka menggunakan mobil. Bukan jarak jauh yang menjadikan perjalanan mereka menjadi lama. Medan yang berkelok-kelok dan sempit penyebab utamanya. Dengan jalan yang sempit, akan menyulitkan mobil jika berpapasan dengan sepeda motor, apalagi mobil lain. “Ini lagi semester baru, paling baru satu minggu. Jalannya sempit, banyak kendaraan naik turun. Kebanyakan punya murid sama guru. Dulu pas zaman aku masih sekolah, ada asrama kecil buat murid yang enggak mau ribut naik turun gunung,” celetuk Bagas tanpa mengalihkan pandangannya dari kemudi. “Iya, dulu aku juga ikut asrama itu, tapi cuma satu semester. Soalnya udah bisa beli sepeda sendiri, bisa naik turun sesuka hati,” balas ibu yang sesekali mengedarkan pandangannya melihat-lihat keadaan sekitar. Memanggil memori lama tentang sekolahnya di masa lalu dan Naraya tidak terlalu antusias dengan obrolan ini. “Oh, makanya betis Ibu ada telornya.” Naraya meringis, setelah mengucapkan ledekan itu, ia mendapatkan cubitan di paha. Ibunya menatap sengit, Naraya memalingkan wajah. Lalu di jendela samping, ia mendapati Kalia yang tengah mengendarai sepeda motor model skuter retro dengan kecepatan tinggi. Naraya buru-buru menyembunyikan diri, tetapi ia terlambat. Kalia yang memacu sepeda motornya tiba-tiba berhenti dan menghadang laju mobil yang sedang Naraya tumpangi. “Haloooooo! Ini pasti mobilnya Naraya, ya?” sapa Kalia. “Narayanya di mana?” Ibu tentu cukup kaget dengan kemunculan mendadak perempuan itu. Terlebih lagi membawa-bawa nama anak lelakinya yang terkenal susah bergaul, apalagi dengan lawan jenis. Setarik senyum jail terlukis di wajahnya. “Ada, kok di dalam. Lagi malu aja soalnya dicariin cewek cantik.” “Ibu!” “Mbak Esti!” Naraya dan Bagas sadar jika berhubungan dengan Kalia hanya akan menyulitkan nantinya. “Loh, ada apa? Bener, kan? Naraya sembunyi, soalnya ada cewek cantik di sini. Kenapa enggak diajakin aja dia naik mobil kita. Toh, tujuannya sama ke sekolah, ‘kan?” Ibu lantas membuka pintu dan bertanya langsung pada Kalia. “Sekolahnya di gunung itu, ‘kan? Ikut kita aja, ya. Motornya ditinggal di sini.” Ajakan itu tentu disambut dengan bahagia oleh Kalia. Sedangkan Naraya dan Bagas tampak tertekan. Di satu sisi mereka berdua merasa terusik, tetapi mereka juga tidak berani menunjukkan sikap buruk terhadap putri kepala desa itu. Akan jadi masalah jika kepala desa yang bersangkutan mendengar putrinya yang berharga diperlakukan dengan tidak baik. “Wah, Naraya mau sekolah di gunung juga, ya? Biarpun sekolah di gunung, tapi fasilitasnya luar biasa lengkap. Cuma masalah transportasi aja yang menyulitkan, sih. Kalau udah biasa, nanti juga asik, kok, sekolah di sana,” ujar Kalia antusias. Naraya mengiyakan saja, tak ingin menciptakan suasana tidak nyaman. Namun, baru saja berpikiran demikian, deru sepeda motor yang tidak asing melintasi mobil mereka dengan kecepatan melebihi Kalia tadi. Bagas dan  ibu cukup terkejut karena motor-motor itu melintasi mereka tanpa sempat memberikan klakson. “Itu Bisma sama genganya emang terkenal suka ugal-ugalan, Tante. Jangan kaget kalau misalnya nanti ketemu sama mereka lagi.” Kalia sungguh polos, tidak menyadari jika perkataannya barusan menimbulkan ketakutan lain bagi Naraya. “Ugal-ugalan harusnya dimarahin, dong. Masa dibiarin gitu. Nanti membahayakan orang lain—“ “Itu enggak berlaku buat dia, Mbakyu. Mbakyu pasti ingat sama juragan mebel yang dulu pernah deketin Mbakyu dulu, ‘kan? Nah, itu anaknya. Kalau Mbakyu bikin masalah sama dia, nanti malah makin meleber masalahnya.” Bagas buru-buru menengahi sebelum terjadi hal buruk. Ibu pun tenggelam dalam pemikiran. Ia mungkin menyadari bahwa pemuda tadi dan ayahnya akan menjadi kombinasi buruk bagi Naraya nanti. Naraya sebenarnya tidak ingin terlibat dengan Bisma dan segala hal yang berkaitan dengannya, tapi di dalam mobil ini, duduk dengan anteng dan seolah tidak memiliki dosa apa pun, Kalia pujaan hati Bisma. Ia sedang memikirkan cara agar tidak ketahuan berdekatan dengan Kalia. Ah, pucuk dicinta, ulam pun tiba. Naraya menoleh ke luar, seorang pemuda yang menaiki sepeda motor b****k berusaha melewati mobil mereka susah payah. Itu Aditya. “Mas Bagas, aku ikut sama Aditya aja, gimana?” Naraya menepuk bahu Bagas memberikan solusi, Bagas sendiri setuju. Sebelum mendapatkan reaksi apa pun dari ibunya, Naraya bergegas keluar dari mobil dan menyusul Aditya yang kebetulan sedang berhenti di salah satu belokan. Namun, ia harus menelan pil kekecewaan. “Aduh, matur nuwun* ya, Budhe. Motor saya mogok, untung dapat tumpangan.” Naraya yang berkeringat sehabis mengejar Aditya, menepi di samping Bagas yang mengendarai mobil, sedangkan ibunya duduk bersama dengan Aditya dan Kalia. Uh, kombinasi mereka memang tidak tepat, semoga saja Bisma tidak melihat mereka bertiga nantinya. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN