5. Tempat Di Mana Ia Mulai Beradaptasi – III
Naraya tidak menduga akan mendapatkan kenalan di hari keduanya tiba di tempat ini dengan cara yang unik. Seantusias itukah orang-orang desa menilai orang-orang dari kota? Orang kota selalu menjadi pusat tren, maka tak mengherankan jika mereka mendapatkan nilai plus bagi orang-orang di desa. Walaupun kenyataannya tidak seglamor itu.
“Gimana ciloknya? Enak?” Pertanyaan dari Bagas menarik kembali atensi Naraya dari pemikiran rumitnya tentang cara pandang orang desa terhadap orang kota.
“Hmm, standar. Kayaknya di mana-mana rasa cilok sama aja. Tapi aku berharap Mas bakal ajak jajan yang lebih tradisional, kalau makanan jenis kayak gini kan di mana-mana ada. Jadinya enggak spesial. Banyak makanan di sini yang dikangenin Ibu, tapi enggak sempat coba. Bawain aja makanan yang kayak gitu,” balas Naraya. Ia teringat akan beberapa makanan yang sangat dirindukan sang ibu ketika mereka masih di kota.
Bagas menjentikkan jari, ekspresinya menjadi sangat antusias. “Nah, gitu dong! Anak muda sekarang udah kehilangan ketertarikan sama makanan tradisional. Biarpun kalian bilang enggak enak atau ketinggalan zaman, makanan tradisional itu berharga banget. Kalau udah langka atau punah, kalian enggak bakal bisa rasain lagi. Nah… sekarang mau beli makanan apa, Mas yang jajanin.”
Bagas menepuk dadanya bangga. Naraya sendiri tidak begitu antusias. Baginya, mencicipi makanan ketika berkunjung ke daerah lain adalah keharusan. Ia akan tinggal di tempat ini, wajar jika beradaptasi juga dengan lidah orang di sekitar tempat tinggal yang baru. Yah, walaupun ia sendiri pasti juga akan merindukan makanan cepat saji yang sering dibeli di gerai-gerai pusat perbelanjaan bersama dengan dua sahabat karibnya.
“Terserah Mas Bagas aja, deh. Aku sendiri kan juga enggak tahu. Paling cuma dengar-dengar dari Ibu soal nasi thiwul, tempe besengek, sayur-sayur khas sini. Penasaran aja sama rasanya.”
“Oke, kalau mau yang lengkap emang harus berangkat pagi banget, kalau udah jam-jam segini, kebanyakan udah pada abis. Paling tinggal gorengan aja, besok Mas antar. Kita keliling lagi aja—“
“Woi, Mas Bro!” Dari kejauhan, seorang pemuda berkulit gosong mengangkat tangan menyapa Bagas. Sebagian rambutnya dicat dengan warna pirang, yang Naraya kenali sebagai tipe-tipe cat warna murah di salon-salon pinggir gang. Di belakangangnya dua pemuda lain menyusul, yang satu berbadan gempal, yang satu kurus kering. Dengan pemandangan seperti itu, Naraya menebak bahwa pemuda di depan adalah pemimpin geng kecil itu, sedangkan dua di belakang hanya ikut-ikutan. Terlihat dari bagaimana dua pemuda di belakang tidak mendahului langkah pemuda paling depan.
Bagas tersenyum kecut, ia tampak terusik dengan kehadiran ketiga pemuda itu. Namun, ia tetap memaksakan diri tersenyum. “Woi, Bis. Arep jajan to?*” (*Mau jajan, ya?)
“Yo, golek-golek sing iso diemut.**” Pemuda yang dipanggil itu membuat isyarat merokok dengan tangannya. Di sisi ini, Naraya tidak bisa menebak berapa umur mereka. Di satu sisi, mereka tampak seperti laki-laki di awal usia dua puluhan, tetapi ada kalanya juga terlihat seperti remaja nakal yang sering mencuri uang ibu mereka. (**Cari sesuatu yang bisa buat diemut)
“Weh, sopo iki? Ra tahu ‘ruh wonge.***” Pemuda itu menunjuk Naraya dengan dagunya. Tatapan yang tidak mencerminkan sopan santun itu sedikit banyak membuat Naraya risih sendiri. Mereka bertiga tampak memantau dan menilai. Mungkin hendak menjadikannya sebagai alat main mereka nanti. (***Eh, ini siapa? Belum pernah lihat orangnya)
“Anake Mbak Esti. Sak umuran karo kowe. Lagi wae pindah wingi.****” Bagas merangkul Naraya, tak menyadari jika pemuda itu agak syok dengan realita bahwa pemuda-pemuda yang tampak seperti pengangguran itu adalah anak-anak sebaya dengannya. Mereka punya kumis tipis-tipis dan kentara sekali jarang merawat diri. Tebakan awal, mereka tidak kurang dari dua puluh tahun. Ah, jangan pernah menilai orang dari tampilan luarnya saja. (****Anaknya Mbak Esti. Sebaya denganmu. Baru saja pindah kemarin)
Wajah ketiga pemuda itu berubah. Tampak antusias, tetapi bukan dalam artian baik. Salah satu dari pemuda di belakang menyahut, “Oh… sing ora duwe bapak kae to?*****” (****Oh, yang tidak punya Bapak itu, ‘kan?)
Bagas segera bangkit dari duduknya, dihampirinya ketiga pemuda itu dengan tatapan bengis. Tahu bahwa keadaan tidak berubah baik, ia menggiring ketiga pemuda itu menjauh. Ketegangan di wajahnya dan raut wajah yang dipenuhi ejekan dari ketiga pemuda itu, Naraya mendapatkan firasat buruk. Ia bukannya tidak tahu apa maksud perkataan mereka. Memang benar jika ia tidak memiliki bapak, bukan sebuah hal yang perlu diributkan juga. Toh, dengan atau tidak adanya bapak, ia dan ibu bisa hidup dengan baik sampai saat ini.
“Ah… mereka emang sukanya bikin masalah,” celetuk seorang pemuda lain yang baru saja Naraya sadari mendatangi warung kecil tempatnya dan Bagas rehat. Pemuda itu memiliki kulit yang sama-sama gosong dengan ketiga pemuda tadi. Tapi ia memiliki wajah yang santun dan senyum hangat. Seikat kayu berada di punggung. Pastilah sedang mencari kayu bakar untuk tungku di rumah, sebagaimana kakek dan nenek Naraya masih menggunakan pula alat-alat itu.
“Enggak pa-pa, kok. Aku paham yang mereka katakan dan aku juga enggak peduli. Kenal sama mereka?” balas Naraya sembari melipat plastik bekas ciloknya lalu dibungkus dengan tisu dan dimasukkan ke dalam saku celana.
“Eh, ngerti bahasa Jawa, ya? Aku Adit, Aditya. Panggil aja sesukamu. Aku tahu kamu dari ibuku, rumah kita cuma beda sedikit, kita tetanggaan. Rumahmu yang dekat sama jalan, punyaku di pinggiran. Yang dekat hutan,” terang pemuda itu yang lantas menurunkan kayunya lalu menempati posisi kosong di samping Naraya, tentunya setelah meminta izin terlebih dahulu.
Naraya mengingat-ingat bagian belakang dan samping rumah. Ia teringat akan gubuk yang mungil, ada kandang kecil di sebelahnya dan hanya ada satu sepeda motor lebih menyedihkan daripada milik kakeknya di sana. Oh, mungkinkah dia berasal dari keluarga yang sering mendapatkan kiriman makanan dan uang dari beberapa warga?
“Oh, rumahmu yang ada di pojok itu, ya? Ada kandang kecil di sisi kiri rumah?” tanya Naraya memastikan.
“Iya, itu gubuk keluargaku. Udah main sampai sana, ya?”
“Enggak main dan mampir. Cuma tadi sempat diajak Mas Bagas keliling, terus kelewatan aja.”
“Haha, sekarang punya tetangga orang kota. Mau sekolah di mana nanti? Kalau sekolah yang di gunung, kemungkinan kamu bakal satu kelas sama aku, ya… sama Trio BAU yang nyebelin tadi.” Aditya menunjuk ketiga pemuda yang disuruh pulang oleh Bagas itu. Ketiganya sungguh badung, mereka bahkan memberikan isyarat jari tengah kepada Naraya walaupun Bagas masih ada di sana. Mereka meninggalkan warung tersebut mengendarai sepeda motor yang agak bagus. Naraya tidak tahu apa mereknya dan tipe-tipe sepeda motor lain, tapi setidaknya ia tahu jika sepeda motor mereka mahal.
“Di mana-mana selalu aja orang kayak gitu. Nama trio mereka apa? Bau?” tanya Naraya heran. Sudah jelas bukan mereka yang memberikan julukan aneh untuk kelompok sendiri.
“BAU, Bisma, Atim, Udin. Bisma ketuanya, dia anak juragan mebel. Atim yang gemuk, ibunya punya ruko di pasar, lalu Udin yang bukan siapa-siapa. Mereka emang bikin resah. Di sini, di sekolah, pokoknya nyebelin. Mana mereka punya kekuatan di sekolah.” Aditya menghela napas berat. “Kalau bisa jangan buat masalah sama mereka, orang tua mereka punya nama besar di desa ini. Terutama… jangan dekat-dekat sama anaknya Pak Kades, Bisma udah ngincer dia dari lama, tapi enggak pernah dianggap. Bisa gawat kalau dia tahu cewek incerannya dideketin. Sampai sekarang pun, dia belum dapetin nomor pribadi Kalia—“
Aditya tak melanjutkan penjelasannya karena Naraya sudah lebih dulu menunjukkan nomor Kalia di telapak tangannya. Ia menghampiri Naraya lalu menepuk bahu pemuda itu lembut. “Masa depan yang buruk akan mendatangimu.”
Ya, Naraya juga tidak bisa menyangkalnya.
|Bersambung|