4. Tempat Di Mana Ia Mulai Beradaptasi – II

1132 Kata
4. Tempat Di Mana Ia Mulai Beradaptasi – II Pada akhirnya tidak ada sepeda motor yang dapat digunakan. Sepeda motor milik Bagas sendiri sedang digunakan istrinya keluar, sepeda motor kakek Naraya tidak dapat digunakan jika belum diservis. Satu-satunya pilihan adalah berjalan kaki. Membayangkan berjalan naik naik turun sekitaran rumah kakek neneknya menyisakan wajah jutek yang ditutupi dengan masker. “Di desa itu udaranya segar, enggak tercemar. Kenapa pakai masker, sih?” celetuk Bagas sembari menunjuk masker yang dikenakan Naraya. Naraya memalingkan wajahnya ke salah satu sudut rumah. Di mana seorang perempuan paruh baya tengah menyapu sekaligus membakar daun-daunan kering beserta sampah-sampah lain. “Uhm, enggak sesegar dan sebersih itu, kok. Tuh, bakar sampah plastik, menghasilkan dioksin. Kalau terhirup tubuh bisa bahaya. Terus.. siapa tahu nanti Mas Bagas kentut, nah itu pencemaran banget sih.” Lawakan Naraya disambut dengan geplakan lembut di paha. Keduanya tertawa, menyisakan tanda tanya pada perempuan paruh baya yang terkejut dengan tawa tidak terduga dua orang laki-laki di depan rumahnya. “Sinyal di rumahmu busuk banget, ‘kan?” Celetukan Bagas yang tiba-tiba menjadi pertanda bahwa mereka sama sekali tidak memiliki obrolan dan suasana menjadi agak canggung lagi meskipun sempat bercanda. Pertanyaan itu berhasil  meluruhkan suasana canggung. “Iya, Mas. Buat kirim chat aja butuh waktu beberapa detik sampai gambar jamnya ilang. Ini pun bilang ke Ibu mau jalan-jalan agak lama dari tadi masih pending. Kayaknya emang harus pasang wi-fi.” Sebagai bukti, Naraya menunjukkan percakapan pesan instan di ponsel kepada Bagas dan bapak satu ini mengangguk-angguk paham. ”Coba liat rumah yang ada di pojok itu, yang pagernya tinggi, bertingkat dua. Itu rumah orang paling kaya di sini. Di sini, cuma ada dua orang yang pasang wi-fi.Dan yang punya rumah ini salah satunya. Koneksi di sini paling lancar dan ngebut, tapi sayang orangnya pelit,” terang Bagas sembari mencibir di akhir kalimat. Kentara sekali ia tidak mendapatkan kata sandi untuk ikut menggunakan wi-fi di sana. “Juragan, ya?” tanya Naraya lirih. Bagas menggeleng. “Kepala desa, punya banyak pelicin orangnya. Jadi jangan heran. Korupsi, kolusi, dan nepotisme dimulai dari pemerintahan paling kecil. Catat itu, ya. Jangan sampai berurusan sama orang di rumah itu. Nanti malah keluar banyak uang.” Naraya mengangguk-angguk. “Uhm, terus siapa cewek yang dari tadi melototin kita?” Bagas menoleh, mendapati perempuan seumuran dengan Naraya. Berpostur ramping dan berparas ayu, perempuan itu meninggalkan tendangan di betis Bagas. Pria yang ditendang mengaduh, Naraya meringis, perempuan itu tampak kesal, dan perempuan paruh baya yang habis menyapu itu merasakan paginya diawali dengan cukup aneh. “Cangkemmu lho, Mas! Sak penake lambemu njeplak!*” omel perempuan muda itu. (*Mulutmu itu, Mas! Seenaknya saja bicara!) “Sori, sori, lho. Ra isin kowe karo wong lanang bagus iki opo?**” Bagas menunjuk Naraya di belakangnya. Naraya seketika panik, mengapa juga namanya dibawa-bawa? (**Maaf, maaf, lho. Apa kamu tidak malu sama laki-laki tampan ini?) Perempuan itu mengalihkan pandangan kepada Naraya. Matanya yang bulat menyipit, seolah sedang memindai. Dalam sepersekian detik, wajahnya yang semula kesal berubah antusias. “Wah, pasti orang kota, ya?” terka perempuan itu sembari menunjuk wajah Naraya. Yang ditunjuk-tunjuk mengambil beberapa langkah mundur, tetapi Bagas buru-buru menarik tangan pemuda itu lalu mengikatnya dalam sebuah rangkulan yang agak ketat. “Nah… kamu harus kenalan sama anaknya Bulik Esti, nih. Anak ibu kota, nih.” Bagas menepuk-nepuk pundak Naraya, seolah sedang memamerkan pemuda itu. “Beneran anak kota!” perempuan itu tampak makin antusias. Ia bahkan merapikan sedikit rambutnya dan menggosokkan kedua tangannya pada celana pendek santai yang tengah dikenakan, lalu menjulurkannya kepada Naraya. “Kenalin, nama gue Kalia. Seleb TokTok, seratus ribu followers dan masih merangkak naik. Menerima segala jenis endorse.” Telinga Naraya tergelitik mendengar perempuan itu memaksakan diri dengan aksen khas anak muda ibu kota dan menggunakan ‘gue’ alih-alih ‘aku’. Ya, Naraya sendiri memang menggunakan sebutan itu jika mengobrol dengan kawan dekatnya, tetapi aneh saja mendengarnya dari mulut perempuan ini. Aksen lokalnya kuat, tetapi memaksakan diri menggunakan aksen ibu kota, rasanya ada yang aneh. Namun, Naraya tak akan mempermalukan perempuan itu hanya karena aksennya yang sangat dipaksakan. “Gue, Naraya. Salam kenal. Dan tolong… sehabis ini jangan pakai gue-lo, soalnya enggak nyaman aja. Pakai aku-kamu atau pakai bahasa Jawa juga enggak masalah. Aku masih bisa sedikit-sedikit pakai bahasa Jawa,” balas Naraya sembari membalas jabatan tangan Kalia. “Eh, aku-kamu? Hubungan kita kan enggak sedekat itu… atau jangan-jangan….” “Enggak-enggak. Aku bukannya merasa hubungan kita istimewa atau spesial atau aku suka sama kamu. Bukan. Aku… cuma ingin membiasakan diri pakai bahasa Jawa. Ya… itu aja.” Entah apakah alasan ini akan diterima oleh Kalia. Bagas sendiri sepertinya menganggap perempuan langsing itu sebagai momok menakutkan. Bahu Naraya agak panas karena diremas bapak satu anak itu. “Hmm, ya… kalau gitu kita bisa saling bantu. Kamu ajarin aku bahasa gaul kota, terus aku bakal ajarin kamu bahasa Jawa. Gimana?” Tanpa diduga, Kalia dengan mudahnya menerima alasan tersebut. Melegakan, karena baik Naraya maupun Bagas tak ingin terlibat masalah dengan perempuan ini lagi. Setidaknya untuk hari ini saja. Dari balik dinding rumah mewah nan tinggi itu, suara seorang pria dewasa memanggil-manggil nama Kalia. Bagas tampak tidak nyaman. Oh, mungkinkah itu si kepala desa yang menyebalkan? “Eh, kayaknya aku harus pergi. Eh, sebentar.” Kalia buru-buru merogoh sesuatu dari saku celana, sebuah bolpoin. Ia meraih tangan Naraya tanpa tedeng aling-aling. Lalu menuliskan sesuatu di telapak tangan Naraya yang diakhiri dengan senyuman lebar dan lambaian tangan manja. “Jangan lupa follow akun TokTok aku sama save nomor aku, ya. Kita temenan abis ini! Oke! Pokoknya kita kerja sama bareng!” Kalia setengah berlari memasuki rumah berpagar tinggi dan berdinding tinggi itu. Beberapa kali nada bicaranya yang medhok terdengar dan Naraya tidak bisa menahan diri terkekeh. Ketika bicara dengan bahasa Indonesia beraksen ibu kota terdengar sangat dipaksakan, sedangkan ketika bicara dengan aksen alaminya menjadi sangat berbeda, seolah mereka adalah dua orang yang berbeda. “Nah, dia Kalia. Anaknya kepala desa tukang suap yang enggak mau masalah bapaknya diungkit-ungkit, cita-cita jadi artis ibu kota. Jadi jangan kaget kalau tadi dia nendang aku karena udah jelek-jelekin bapaknya. Ya, walaupun itu bener, sih. Tapi dia enggak bakal diam kalau bapak sama cita-citanya dipandang buruk. Itu wejangan dariku, ya. Satu lagi, nih. Kamu bejo karena bisa dapat nomor hapenya, dikasih pula. Semua cowok di desa ini mati-matian dapetin nomor dia, tapi enggak ada yang bisa. Ingat-ingat, ya. Kamu bejo!” Bagas tampak sangat berapi-api ketika mengatakannya seolah Naraya baru saja memenangkan nobel atau penghargaan internasional. Naraya kembali meringis di balik masker, yang tentunya ditanggapi Bagas sebagai senyum puas. Naraya tidak menyangka jika ia akan mendapatkan tetangga yang nyentrik. Padahal mereka baru saja berjalan-jalan, tetapi sudah mendapatkan kejutan melalui Kalia. Apa yang akan terjadi ke depannya jika mereka melanjutkan perjalanan semakin jauh? Semoga saja bukan orang-orang aneh lagi. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN