Jaga Hati

1170 Kata
Ayana membuka pintu kamar mandi pelan-pelan. Mengintip dari balik pintu berjaga-jaga kalau Malik menghadangnya. Kebiasaan lelaki itu suka muncul tiba-tiba membuatnya insecure. Apalagi setelah insiden tadi, dia berharap tidak bertemu si beruang kutub dulu. Gadis itu mengembuskan napas lega setelah memastikan Malik tidak di kamar. Dia berjinjit berjalan, membuka lemari, lalu memilih setelan baju lengan panjang berwarna navy. Sebelum melepas kimono handuknya, Ayana ingat untuk mengunci pintu kamar terlebih dahulu. Dia tak ingin melakukan kecerobohan yang akan menghadirkan kegaduhan lain. Sebelum keluar kamar, Ayana memastikan penampilannya sekali lagi. Memoles wajah dengan bedak berwarna senada dengan kulit, lalu mengulas lipstik merah muda. Senyumnya memudar kala senyum tengil Malik menggoda benaknya. "Oke, Ayana! Lupakan kejadian tadi. Itu hanya mimpi, hanya imajinasi. Enggak perlu malu ketemu si beruang kutub" Kata-kata itu diucapkan pelan sambil menutup mata. Ayana benar-benar butuh afirmasi untuk menghadapi laki-laki itu. Dia bahkan berkali-kali menganjur napas agar dadanya sedikit lapang. "Siapa bilang imajinasi?" Ayana tersentak, refleks kepalanya berputar menoleh ke arah suara. Tampak Malik sedang berdiri bersandar ke dinding dengan bersidekap. Satu alisnya naik menunggu jawaban Ayana. "Kamu?!" Ayana panik, dia melihat pintu masih tertutup. Dia yakin sudah mengunci tadi, lalu dari mana Malik masuk? "Kenapa?" "Kamu masuk dari mana?" Ayana bergegas mendekat, mencoba membuka pintu, benar terkunci. Matanya memicing menatap curiga ke arah Malik, memperhatikan kaki si lelaki 'Napak' gumam Ayana pelan, tetapi masih bisa didengar Malik. "Ya iyalah kakiku napak? Emang aku sebangsa lelembut?" "Kok, kamu bisa masuk ke kamar? Padahal pintunya udah aku kunci." Malik menunjuk ke arah sebelah kiri dengan dagunya. "Apa Mama enggak bilang kalau kamar ini terhubung dengan ruang kerjaku?" Ayana membeliak. Dia sama sekali tidak mengira ada pintu lain di kamar ini. Dia segera memasang kuda-kuda bersikap siaga berjaga-jaga Malik melakukan yang iya, iya. "Sejak kapan kamu berdiri di sini?" Ayana menyorot curiga ke arah Malik. Malik tersenyum, membuat Ayana panik. Dia mulai hapal senyum beraroma m***m makhluk Tuhan yang tidak seksi itu. "Jangan katakan ...." kedua telapak tangan Ayana menutup mulut rapat-rapat, matanya melebar seakan hendak melompat keluar saking shock. Dia benar-benar tak tahu lagi harus ke mana menyembunyikan wajah. Apalagi saat Malik berkomentar, "Tubuh kerempeng gitu apa bagusnya ditutupi." 'Astaga! Please, siapa pun tolong aku ....' lirih Ayana. * Ayana menunduk menekuni sarapan yang terhidang di atas meja. Roti bakar dengan olesan selai cokelat dan kacang sangat lezat saat dicecap lidahnya. Di antara s**u, jus, dan kopi, teh hangat menjadi pilihan gadis itu setelah Muthia menawarkan banyak opsi minuman di atas meja. Dia memang terbiasa meminum teh di pagi hari. Entah mengapa minuman yang lebih mendekati rasa jambu air itu lebih pas di lidahnya. "Gimana semalam? Berhasil?" Ayana mengangkat pandangannya ketika mendengar bisikan mama mertua kepada Malik yang duduk tepat di depannya. Mereka hanya terpisah meja saja. Senyum tengil si lelaki membuat Ayana kembali menunduk. "Mama tenang aja, semua beres." "Aah! Artinya sebentar lagi Mama bakal punya cucu!" Muthia memeluk bahu Ayana, sehingga roti yang belum sepenuhnya ditelan membuatnya tersedak. "Aduh! Maaf, ya sayang." Muthia menyodorkan teh hangat ke Ayana, mengusap lembut punggung gadis itu pelan-pelan. "Enggak pa-pa, Tante--" "Ish, jangan panggil Tante. Kamu menantu di rumah ini, panggil Mama karna kamu juga anak Mama sekarang." "Tapi--" Muthia menggeleng gemas. "Enggak ada tapi-tapian. Kamu itu Nyonya dari Malik Harbiansyah. Artinya kamu istri seorang konglomerat. Jangan pernah lupakan itu." Mata Ayana memburam mendengar ucapan Muthia. Dia tahu kalau Mama Malik selalu memperlakukan semua asisten dan pekerjanya sangat baik. Tak pernah mengira jika sambutan wanita itu di luar ekspetasinya. Muthia ternyata bukan wanita yang gila pangkat dan kehormatan, hingga menerima menantu yang berasal dari kalangan di bawahnya tak membuatnya menatap sebelah mata. "Kok, sedih. Apa ada kata-kata Mama yang salah?" Ayana menggeleng. Dia membiarkan dua bening lolos ke pipinya. Usapan tangan Muthia di bahu memberinya ketenangan. Benaknya mengingat-ingat, beginikah rasanya diusap oleh seorang ibu? Ayana sudah lupa hangat belaian seorang ibu. Sejak kecil dia sudah kehilangan sosok itu. Sang ibu meninggal sejak dia berumur lima tahun karena komplikasi paru yang diidap lama. "Enggak, Ma. Aku baik-baik aja. Senang rasanya Mama mau nerima aku. Tadinya kupikir ...." "Lupakan apa yang kamu pikirkan. Tugasmu adalah menjadi istri yang baik untuk Malik." Ayana mengulas senyum. Matanya melirik ke arah Malik yang malah asyik dengan sarapannya. Daripada menyaksikan dua wanita bersentimentil ria, dia memilih menghabiskan sarapan dengan secangkir kopi hitam, sambil membaca berita online melalui ponsel. * Sepanjang perjalanan ke bandar udara internasional Soekarno-Hatta, Ayana lebih banyak diam. Acara bulan madu dimajukan satu hari lebih cepat oleh Malik. Dia tidak bertanya, lagipula dia tak tahu harus mulai dari mana. Ayana melirik Malik yang asyik dengan ponsel. Gadis itu gregetan, benda kecil itu mengalihkan dunia si lelaki, sampai mengabaikannya. 'Awas saja, kalau ponsel itu lepas dari tangan akan aku sembunyikan.' Ayana kembali membatin. "Kamu udah minum obat anti mabuk belum?" Ayana menoleh karena pertanyaan Malik yang tiba-tiba dan cenderung menjebak. "Emang kenapa?" Ayana balik bertanya. "Kamu, kan, belum pernah naik pesawat. Aku takut kamu mabuk udara. Enggak mungkin, kan, minta berhenti di jalan kayak naik ojek atau angkot." Malik tertawa karena leluconnya sendiri. "Enggak lucu! Garing!" sahut Ayana ketus. Halus sekali ejekan laki-laki itu. "Malah enak kalau garing, renyah." Ayana memilih tidak menanggapi. Dia sengaja membiarkan Malik tertawa puas karena berhasil mengerjainya sekali lagi. Dia memilih memejamkan mata daripada Malik mengajaknya terus berdebat. Ayana heran, apa yang membuat Malik tidak sekaku dulu. Sejak menikah laki-laki itu sering tersenyum dan melakukan hal konyol. Atau memang seperti itu sifat aslinya. Aksi diam Ayana terus dilakukan selama perjalanan menuju Belanda. Pesawat Garuda Indonesia yang mereka tumpangi transit beberapa jam di bandara Changi Singapore selama beberapa jam, lalu kembali melanjutkan penerbangan ke Belanda yang memakan waktu sekitar empat belas jam, lima menit. Berada di kelas eksekutif membuat decak kagum keluar dari bibir Ayana. Seumur-umur baru kali ini dia melihat pesawat dengan fasilitas mewah, kecuali melalui televisi. Beruntung jiwa iseng Malik anteng selama perjalanan panjang. Ayana lebih suka mengabiskan waktu dengan tidur. Sejujurnya dia sedikit takut bepergian dengan pesawat, apalagi dengan jam penerbangan sangat lama. Maraknya kasus kecelakaan pesawat membuat nyalinya ciut. Setelah perjalanan panjang, pesawat yang ditumpangi Ayana dan Malik mendarat dengan selamat di Bandara Schiphol Amsterdam yang terletak di bagian selatan Kota Amsterdam. Hawa dingin menyambut kedatangan Ayana saat keluar dari pesawat. Sialnya, dia hanya mengenakan kardigan untuk melapisi kaos putih yang melekat di tubuhnya. Gadis itu harus memeluk tubuhnya erat-erat agar tidak kedinginan. Akan tetapi, sia-sia saja. Udara di Belanda di musim panas saja hanya berkisar tujuh belas sampai dua puluh derajat celcius. Apalagi di musim dingin, biasanya berkisar antara satu sampai enam derajat celcius. Pantas saja bibir Ayana bergetar dan mulai memucat. Malik yang menyadari Ayana tertinggal di belakang, berdiri menunggunya. "Kamu kenapa?" Dia mengerutkan dahi melihat tubuh si gadis gemetar. "Dingin." Malik menghela napas. Iba menyusupi dadanya. Dia melepas jaket, lalu memasangkan ke tubuh Ayana. Membuka syal, kemudian dililitkan ke leher gadis itu untuk menghalau dingin. Ayana hanya diam sembari memperhatikan Malik yang merapatkan kancing jaketnya. Sorot mata si lelaki terlihat sangat peduli, membuat dadanya menghangat. Disadari atau tidak, Ayana gagal untuk tidak terpesona kepada si beruang kutub.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN