Waktu terasa sangat lama untuk Ayana. Kalau hanya menahan lapar dia masih sanggup, tetapi sakit di kepala semakin membuatnya nelangsa. Rasa geli yang menggelitik hidungnya membuat gadis itu bersin tak hitungan kali. Dia meringkuk di dalam kamar dengan selimut membungkus seluruh tubuh. Napasnya memburu karena panas yang berasal dari dalam, tetapi telapak kaki terasa dingin. Untuk tidur pun Ayana tak bisa. Sinusitis yang dia idap membuatnya semakin tersiksa. Parahnya, dia lupa membawa inhaler yang biasanya selalu siaga di dalam dompetnya. Akhirnya dia hanya bolak-balik di atas tempat tidur. Tekanan dibelakang kepala semakin menjadi, membuat Ayana bangkit. Dia memutuskan menelepon Malik. Berharap lelaki itu masih punya hati mendengarnya sakit. Ayana meraih ponselnya, tetapi tak lama dia m

