BAB 4 Tawaran berdarah

1235 Kata
"Dasar gila," bisik Arunika. Tertawa kecil mengingat kembali akhir dari rapat menyesakkan satu jam lalu. Tak mengira aksi nekat yang dilakukan Ganesh, hingga membuat ayah mertuanya menahan malu sebelum menyeret Reno keluar. "Kalau aku menyuruhmu melompat dari gedung ini, kamu akan lompat?" Ganesh mengernyit, tetapi kepalanya justru mengangguk tenang. Arunika semakin tergelak, entah mengapa sikap aneh sopir sekaligus asisten pribadinya ini terasa lucu. "Huh, dasar." Setidaknya kenekatan Ganesh di rapat tadi berhasil melunakkan suasana, dan Arunika bisa bernapas tenang untuk sejenak. "Nona, bukankah itu tuan Reno?" Arunika menoleh cepat, mendapati sosok tak asing memasuki sebuah mobil hitam dengan tergesa-gesa. "Ikuti," titahnya. Dua mobil hitam mewah itu melaju seirama, dari balik kaca gelap ini, wajah panik Reno tampak jelas. "Kenapa dia buru-buru?" gumam Arunika. Seribu pertanyaan muncul di kepala, tetapi berakhir dengan kerutan heran. "Apa ini, Ganesh?" Ganesh justru memelankan laju mobil, begitu memasuki kawasan sepi yang dipenuhi pepohonan di sepanjang jalan. Lelaki di balik kemudi itu diam, membiarkan mobil Reno membelah cepat jalanan lenggang di depan sana. Mobil berhenti, Ganesh menoleh ke belakang. Menatap lekat Arunika yang balik menatapnya heran. "Kita memasuki kawasan Ivanovic." Melihat ekspresi bingung nonanya, Ganesh kembali bicara. "Mereka kelompok mafia yang cukup terkenal di kota Moskow ini." Arunika memutar bola matanya sembari menghela napas kasar. "Terus? Kita tidak ada hubungannya dengan itu." "Meski kita lahir di Rusia, orang-orang hanya akan mengenal kita sebagai orang asing karena nama kita." Wajah dingin itu tampak gelisah, tangannya mencengkram kuat kemudi. Bibir tipis itu terbuka tanpa suara. Kemudian helaan napas terdengar samar. "Saya tidak bisa membiarkan Nona terluka." Ekspresi Arunika berubah dingin, ia menunduk lantas tersenyum sinis. Lagi-lagi kalimat yang sama di dengarnya, empat tahun berlalu, dan rasanya masih sama menyebalkan. "Oke, diam saja di sini dan tunggu tubuh tak bernyawa ku untuk dibawa pulang." Arunika keluar dari mobil, melangkah cepat tanpa peduli ekspresi panik Ganesh. "Nona...." Mobil melaju pelan, dan berhenti menghalangi langkah Arunika. Ganesh keluar dari mobil. "Kita cari bersama," katanya. Arunika mendelik. "Reno mungkin yang memperkerjakan mu, tapi aku majikan mu dan yang memberimu nama itu." Ganesh mengangguk singkat, tangannya terangkat ragu menyentuh lengan kurus itu. Berakhir dengan kepalan kuat tangannya sendiri. Tidak bisa seperti ini, rasa getir di hatinya tidaklah normal. Dia harus menghempaskan itu, sebelum jatuh terlalu dalam. Arunika melengos memasuki mobil lagi, duduk bersilang tangan sembari memalingkan wajah. Mobil kembali melaju. Dingin dan tak tersentuh. Gambaran pas untuk suasana pinggiran kota Moskow ini. Jalanan dipenuhi para penjahat dan gangster, tetapi terlihat teratur oleh peraturan tersembunyi. Sorot tajam Ganesh memperhatikan sekitar, menyamai langkah terburu-buru Arunika. Kemudian melambat, matanya menangkap sosok yang dicari memasuki sebuah bangunan besar. "Ah! Itu Reno!" seru Arunika. "Cepat, Ganesh!" Mereka di hadang dua pria berbadan besar di ambang pintu. Keduanya tampak memperhatikan lekat Arunika, lalu salah seorang maju. "Tanda pengenalnya." "Minggir," desis Arunika. Namun, kedua penjaga saling pandang sebelum akhirnya mengangguk. Salah seorang lainnya turut maju selangkah. Tubuh besar mereka membayangi suasana gelap di dalam bangunan. "Kelinci kecil, tersesat, ya? Mau ku antar? Ada banyak kamar kosong di dalam, atau mungkin segelas minuman? Gula-gula?" Arunika menepis kasar lengan yang hendak menyentuh wajahnya itu, ia mendelik sembari mengacungkan jari telunjuknya. "Sialan, kubilang minggir." Kembali dua penjaga tadi saling melirik, sebelum gelak tawa menyebalkan mengudara. Ganesh memperhatikan tanpa ekspresi, wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot kelam itu tampak waspada. "Ah, begini saja. Beri kami tebusan, dan kubiarkan masuk. Orang kaya sepertimu sepertinya_ ah!" Teriakan tertahan menggema, darah menyembur dari lubang di d**a. Bau anyir terhirup dari cipratan darah yang mengotori wajah, untuk sesaat Arunika merasa dunianya berhenti. Tubuh besar itu ambruk seketika. "Nona!" Ganesh menarik Arunika dalam dekapan dan merunduk, moncong pistol mengarah ke segala sisi. Orang-orang tampak tenang, melirik sekilas sebelum kembali beraktivitas. Seolah-olah bunyi keras peluru tadi hanya makanan sehari-hari mereka. "Sialan, siapa kalian_" Tubuh besar penjaga lainnya ikut ambruk, ketika tinju Ganesh mendarat di wajahnya. "Nona, apa ada yang terluka?" Arunika menggeleng kaku, ia sentuh wajahnya sendiri. Lantas terkekeh memperhatikan cairan merah di telapak tangan, bukan darahnya, tapi mendebarkan. Debaran itu serasa menyesakkan. Ternyata darah merah pekat seperti ini, baunya anyir dan sedikit lengket. Seumur hidupnya, darah yang Arunika ingat adalah darah ibunya sebelum kehilangan nyawa beberapa tahun silam. Sikap protektif sang ayah, membuatnya tak leluasa bergerak. Tubuhnya tak pernah menyentuh luka, hanya beberapa jejak tusukan jarum sebagai bahan eksperimen laboratorium perusahaan. "Ini membuatku kesal," gumam Arunika. Ingatannya melayang. Eksperimen yang katanya sebagai upaya mencari obat penyembuh, nyatanya membuat ia bagai kelinci percobaan. Meski hal itu berlalu sepuluh tahun lalu, ketika usianya 17 tahun. Arunika masih ingat sunyi yang menyiksa di dalam ruang laboratorium, bau obat-obatan, bunyi mesin monitor jantung, dan mati rasanya ketika jarum suntik menyentuh kulit. "Nona? Nona?" Suara berat itu tak mampu membawa Arunika pada dunia. Ganesh mengernyit, pandangannya mengedar. Bayangan misterius bergerak cepat di antara bangunan besar. Menyamar di antara kerumunan, sebelum bertemu pandang. Sorot itu saling menatap tajam. "Ivanovic?" gumam Ganesh. Tanda peringatan diberikan, sosok itu menghilang di antara ribuan manusia. Ganesh menggeram, tangannya tertahan di pundak gemetar Arunika. Kemudian tanpa kata, memapah nonanya meninggalkan daerah itu. Mereka tiba di dalam mobil, Ganesh terdiam lama memperhatikan kulit pucat yang ternoda darah itu. Dia menghela napas, kemudian menyapukan kain putih di sana. Menghapus jejak menjijikkan itu, sesekali menggeram. "Biarkan saja," gumam Arunika sembari memalingkan wajah. Ganesh terdiam, lantas menjauh tanpa kata. Dia kembali duduk di kursi kemudi, membiarkan sunyi berdentang di sana. "Siapa mereka? Orang suruhan Reno?" Namun, Ganesh memilih bungkam. Untuk pertama kalinya, dan membuat Arunika dibuat heran. Tersusun skenario acak di kepalanya, dan berakhir dengan tawa sinis. Mengudara, dan menyesakkan. Sudut matanya basah, tapi ia tidak tahu mengapa. Iris bening itu berubah tajam, menghunus tepat di netra kelam Ganesh yang mematung. "Sudah bosan denganku?" bisik Arunika. Kerutan heran tampak di wajah rupawan itu, membuat Arunika mendengkus jijik. Segala hal yang terjadi, membuatnya merasa ditinggalkan. Ayah kandungnya saja bisa bertindak seperti itu, apa lagi Ganesh hanya orang asing yang ada karena uang yang ditawarkan Reno begitu besar. Arunika memalingkan wajah, jemarinya saling bertaut. Gundah melanda, sesak dirasa. Berat dipundaknya tak pernah usai, tidak sebelum mereka mati. "Keluar," titahnya. "Aku muak melihatmu. Kalian sama saja b******n menjijikkan." Ganesh tak beranjak, matanya lekat menatap sosok gemetar di depannya. Tampak rapuh seakan sebuah sentuhan saja mampu meremukkan. Jakunnya bergerak naik turun, napasnya memberat. Ganesh menghela napas. Pandangannya tertuju pada sepasang mata yang menatap tajam di antara bangunan, moncong pistol menghunus tepat ke arah mereka. Ganesh menggeram. Lalu berkata lirih, "saya bisa menjadi lelaki b******n yang Nona butuhkan, asal Nona siap menanggung akibatnya." Arunika menoleh cepat, alis tipisnya mengerut. "Hentikan omong kosong itu, dan keluar dari sini sekarang juga." Ganesh balas menatapnya, diam dan dalam. Seolah menyelami luasan bening tak tersentuh itu. "Obat itu...." Dua kata tadi terdengar seperti ancaman di telinga Arunika, ia menegang. Tidak ada yang tahu kondisi menyedihkannya ini, termasuk hidupnya yang bergantung pada obat langka. Setetes cairan yang lebih berharga dari apa pun. Namun, orang-orang seperti Arsanta yang justru menemukannya. "Ada atau tidak adanya obat itu, manusia tetap akan mati meskipun dia berdiam diri. Apa Nona begitu takut mati?" Arunika menggeram, tangannya terangkat disambut cengkeraman kuat Ganesh. "Sialan, meremehkan ku juga?" "Nona butuh nama bersih, kan? Dan saya butuh pintu masuk ke laboratorium obat DS Pharmaceutycal." Arunika mengernyit. Pintu masuk? Untuk apa orang biasa ingin tahu? Kecuali.... Sorotnya berubah tajam. "Siapa yang mengirimmu?" Ganesh bungkam. Tatapannya dingin, tetapi api membara tampak di iris kelam itu. "Nyawamu... Berikan nyawamu untukku, dan akan ku pastikan mereka mati sebelum kita." "Menikahlah dengan saya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN