BAB 3 Surat Wasiat

1304 Kata
"Jadi, jika aku bercerai sebelum berusia genap 28 tahun. Semua kekayaan Devanka termasuk beberapa persen saham dan tanah, akan jatuh ke tangan Reno?" Ganesh mengangguk singkat, melirik nona mudanya yang tampak syok hingga kulit pucatnya tak lagi menampakkan semburat kemerahan. Dokumen rahasia di akhir hayat Vederich, lebih cocok disebut surat eksekusi di banding surat wasiat. Arunika tak bisa menebak pikiran dangkal kakeknya itu, mengapa harus mempertaruhkan yang telah di perjuangkan? Dan lagi usianya genap 28 tahun bulan depan, kurang lebih sebulan lagi dan ia akan kehilangan segalanya. Untuk seorang Reno? Ha, lelaki b******k itu bahkan tak pantas mendapat maaf. "Sialan! Apa mereka begitu menginginkan kematian ku?!" Arunika berteriak murka, emosi yang sedari tadi tertahan kini meluap. Lemari kaca hancur berkeping-keping, barang-barang antik di dalamnya melayang dan tergeletak di lantai. Denyut nyeri di ulu hati membuat tubuh Arunika limbung, Ganesh bergegas merangkul pundak itu meski mendapat tepisan kasar. "Aku lebih rela membawa segalanya ke liang kubur bersamaku, di banding memberikannya untuk para sampah itu." Tangannya gemetar, meneguk cairan pahit yang membuatnya muntah seketika. Darah mengalir dari sudut bibir merah itu, menyatu dengan gaun berwarna serupa yang dikenakan. Arunika tersenyum sinis, mengelap sudut bibirnya lantas berdiri. Langkahnya ringan, menapaki pecahan kaca di lantai. Cengkeram di lengan membuat Arunika menoleh cepat. "Itu masih menjadi milik Anda, jika Anda kembali menikah." Kalimat panjang Ganesh membuat kepala Arunika semakin berputar. Sebulan waktu yang singkat untuk memikirkan tentang pernikahan lagi. Itu bukan solusi, tetapi jebakan. Namun, memikirkan wajah angkuh Reno dan Arsanta membuat darahnya kembali mendidih. Mungkin dokumen rahasia itu sudah menyentuh telinga mereka, sehingga Reno begitu menghalalkan segala cara untuk sebuah perpisahan. Dan Arunika, tentu tidak akan membiarkan itu terjadi dengan mudah. Mata harus dibalas mata, dan aib harus dibalas aib. "Skip," ujar Arunika yang ke-20 dalam sehari ini. Nessie, sekretaris Arunika di kantor, melirik Ganesh yang setia berdiri di belakang majikannya, seakan meminta tolong dari amukan singa betina itu. Ganesh melirik singkat, lantas merunduk. Berbisik berat di telinga Arunika. "Nona, ini orang terakhir yang datang." Arunika mengernyit, melirik tumpukan berkas di meja kaca, lantas berdecak. Ia meraih satu berkas, membolak-balik isinya sebelum dilempar asal. Arunika berdiri, berbalik cepat dan mencengkeram kuat kerah kemeja Ganesh. Kakinya berjinjit, untuk menatap lekat iris kelam tak tersentuh itu. "Cari lagi, pastikan orang itu ada sebelum rapat dengan para pemegang saham lusa besok." Arunika menghempas tangannya, beralih menyentuh berkas di atas meja, lalu melempar asal semuanya. "S-Saya akan atur jadwal Anda untuk besok," ucap Nessie tergagap sebelum beranjak pergi dengan buru-buru. Ganesh berjongkok, memunguti lembaran kertas di lantai, sebelum berdiri dan meletakkannya lagi di meja. "Buang," titah Arunika. "Sampah harusnya di tempat sampah." "Anda yakin? Ada banyak kandidat, bahkan beberapa di antaranya adalah rekan bisnis Anda." Arunika merampas berkas-berkas tadi, lalu memasukkannya ke tempat sampah di ujung ruang. Melempar pemantik, dan ledakan kecil terjadi. Kertas-kertas itu berakhir menjadi debu. Bau asap memenuhi ruang, tetapi Arunika tak beranjak dari sana. Kurang dari 20 hari, dan ia akan kehilangan segalanya. Segala yang telah diperjuangkan hingga titik ini. Nyatanya, mencari pengganti tidak semudah menjadi yang digantikan. Tiga hari berlalu setelah konflik panas itu, puluhan kandidat jodoh berakhir diusir. Bukan karena status mereka, omong kosong merekalah yang membuat Arunika muak, sebab mengingatkannya pada Reno dulu. Pintu diketuk hati-hati, Nessie menyembulkan kepalanya di sela pintu. "Bu, rapat dengan para dewan akan dimulai lima menit lagi." Arunika mematung, ia tak bisa menghindar lagi. Orang-orang berkuasa itu akan menerkamnya cepat atau lambat, tidak peduli dirinya telah bersembunyi di kegelapan sekalipun. Berdeham sembari membenahi penampilannya, Arunika melangkah tenang meninggalkan ruangan. Ganesh mengekor di belakang. Mereka tiba di sebuah ruangan kaca, jauh terpisah dari ruang kerja divisi lain. Tempat penuh rahasia yang hanya membawa sesak. Pintu dibuka, tatapan tajam para pihak atas menyorot bagai elang melihat mangsa. Beberapa terang-terangan mencemooh. Arunika duduk disebuah kursi kosong, tepat di samping ayahnya, dan berseberangan dengan ayah mertua. "Jadi, bagaimana solusinya?" Kalimat penyambutan itu terdengar dingin. "Perusahaan sedang krisis, dan orang yang katanya jadi calon Dirut, malah santai?" Arunika melirik datar, beralih menatap sang ayah yang tampak jengah, lalu melirik Reno yang duduk tepat di samping kepala keluarga Arsanta. Terlihat tenang hingga arusnya bahkan tak bisa Arunika lihat. "Orang yang sepatutnya dipertanyakan itu orang yang menyerukan masalah pribadi di ranah bisnis." Reno menaikkan satu alisnya, lalu mencondongkan badannya. Sudut bibir tipis itu terangkat naik. "Ranah bisnis? Kukira itu acara khusus untuk keluarga besar, tapi siapa yang mengira wartawan akan datang?" Arunika menahan napas, sontak melirik sang ayah yang membuang muka. Citra hangat adalah sesuatu yang melekat kuat semenjak DS Holdings merangkak naik. Citra keluarga hangat yang kuat, menjadi salah satu branding lain untuk perusahaan rintisan Vederich, kakeknya itu. Sebab itulah para media diundang dengan harap mencari muka, justru berakhir melempar kotoran ke muka. "Kita harus segera buat pernyataan resmi, diam terlalu lama akan dianggap menghindar." Salah seorang dewan direksi menengahi ketegangan. Semua saling pandang, dan kembali memusatkan perhatian mereka pada Arunika. Seakan dirinyalah yang paling hina di sana. "Spekulasi kalian tidak berdasar, atas dasar apa tuduhan itu? Foto yang ditunjukkan Reno? Apa otak kalian begitu dangkal hingga tidak bisa membedakan editan dan asli?" Reno terkekeh, lantas menatap sinis Arunika. "Apa rekaman CCTV bisa dianggap rekayasa?" Semua menahan napas, tampak canggung hingga tiada yang bersuara. Arthur berdeham, menghela napas berat sembari membenarkan posisi duduknya. "Kita akan buat pernyataan resmi di website perusahaan," paparnya. Semua menanti kalimat selanjutnya dari komisaris DS Holdings itu. "Kita akan adakan konferensi pers, undang beberapa media besok sore. Sebaiknya kamu persiapkan dirimu, Arunika. Jangan menghancurkan citra perusahaan lebih buruk lagi." Suasana gaduh seketika, para dewan melirik Arunika yang berdiri tak terima. Jari telunjuknya mengacung ke arah Reno, lelaki itu justru semakin angkuh. "Aku? Dia yang harus bertanggung jawab, hanya karena memegang kendali penuh untuk perusahaan farmasi dan laboratorium Devanka, dia bisa seenaknya menggunakan kekuasaannya untuk menjebak ku." Reno mengernyit, dia ikut berdiri. Kemudian menghela napas berat dan menatap sendu Arunika. "Apa serendah itu aku di matamu? Ayolah, Arunika. Mana mungkin aku se-tega itu pada orang sekarat." Kondisi pewaris Devanka yang katanya punya penyakit langka yang membuat mutasi gen dalam darahnya sulit membeku, begitu dirahasiakan. Tiada yang tahu, sekalipun para petinggi perusahaan dan keluarga. Kebocoran informasi akan berakibat fatal, entah untuk keberlangsungan hidup Arunika maupun perusahaan. "Reno!" Arthur berteriak lantang, sorot itu dingin menatap menantunya, seakan memberi peringatan. Entah untuk melindungi anaknya, atau dirinya sendiri. Arunika mencengkeram kuat lengannya, semburat kebiruan tampak di kulit pucat itu, gejala lain yang membuat ia muak. "Komoditi kita berfokus pada proyek kontruksi gedung, tapi pengeluaran terbanyak justru terjadi di anak perusahaan farmasi yang dikelola Arsanta." Reno menoleh cepat, mulutnya terbuka. Namun, Arunika lebih dulu berkata. "Mengembangkan obat-obatan langka di era ini, mungkin bisa menjadi kesempatan emas untuk perusahaan semakin berkembang dan maju." Arunika berdeham, ia memberanikan diri menatap satu persatu manusia di sana. Hatinya berdenyut nyeri, tetapi gemetar di tubuhnya berhasil diatasi. "Namun, kita perlu memikirkan segala aspek terutama pengeluaran. Sebab pengeluaran tak terkendali tanpa keterangan, bisa jadi bumerang besar untuk kita." Arunika melanjutkan, "sempat ada kendala dalam annual report kita tahun lalu, dan itu justru terjadi di DS Pharmaceutycal yang dipegang Arsanta." Reno melongo, lantas tertawa sinis. Dia menyilangkan tangan di d**a, menatap angkuh Arunika yang bergeming. Menebak isi kepala perempuan yang dinikahinya tiga tahun ini. "Coba mengalihkan masalah, huh?" Arunika mengangkat bahunya acuh tak acuh. Sementara Reno tampak terpancing, kembali dia menunjuk Arunika, pandangannya mengedar tajam. "Biar kuberi tahu rahasia keluarga konglomerat penguasa bisnis raksasa DS HOLDINGS!" Reno berteriak lantang, dadanya kembang kempis oleh adrenalin yang membuat napasnya memburu. Disaat yang lain menaruh rasa penasaran, Arunika maupun ayah dan mertuanya, memberi delikan tajam. "Reno, stop. Jangan gila, kamu." Reno menggeleng, menanggapi bisikan tajam ayahnya. Dia menunjuk Arunika. "Dia....!" "Apa alasanmu bercerai?" Arunika menyela, disambut tatapan heran Reno yang seketika tubuhnya limbung dan jatuh dalam kegelapan. Semua terperangah, sementara sosok yang membuat putra kedua Arsanta itu pingsan, terlihat cuek. "Terlalu berisik," gumam Ganesh. "Nona benci kebisingan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN