BAB 2 Gugat cerai.

1240 Kata
"Sialan," desis Arunika. Kuku panjang itu digigitnya, atas pelampiasan gelisah yang dirasa. "Para b*****h itu pikir mereka siapa," bisiknya. "Tanpa Devanka, mereka hanya manusia kotor." Arunika duduk di kursi tunggu ruang tamu vila tua milik keluarga Devanka, lampu temaram menyorot wajahnya yang pucat. Di tangannya, segelas anggur merah tanpa disentuh. Di luar, hujan masih mengguyur seperti meneteskan kesedihan bumi. Pikirannya kacau. Foto-foto itu, penghinaan itu… Reno. Semua terasa seperti mimpi buruk yang tidak pernah ingin ia bangun. Arunika menutup mata sejenak. Napasnya berat. Dalam hatinya, hanya satu pertanyaan yang berulang: Bagaimana aku bisa bertahan di dunia yang menginginkan kehancuranku? "Nona...." Suara berat itu terdengar lembut membelai telinga. Arunika menoleh, dan berpaling dengan cepat. Terbayang-bayang penghinaan malam tadi. "Hei," panggilnya pelan. Disambut gumaman tak jelas Ganesh dengan tubuh merunduk patuh. Pundak lebar itu.... Arunika menggigit pipi dalamnya, tidak ada yang salah dengan tuduhan Reno. Hanya saja ia akan sangat terhina, bila malam panas itu sungguh terjadi. "Mereka tidak beri kamu minuman apa pun, kan?" Ya, bila masalah berawal dari minuman yang mungkin dicampur sesuatu. Berarti Reno benar-benar menjebaknya. Ganesh menggeleng singkat. "Tidak, Nona." Arunika mengernyit, pikirannya semakin kacau. Ia merasa buntu, hotel mewah tempat makan malam itu merupakan bagian dari Arsanta, bukan hal mustahil orang-orang di dalamnya adalah kepercayaan Arsanta. Mencari bukti di sana seperti mencari jarum di tumpukan ranjau. Salah langkah, nyawanya melayang. "Nona," panggil Ganesh terdengar ragu. "Saat Anda pingsan malam itu, tuan Reno meminta saya membawa Anda ke kamar." Arunika menoleh cepat. Jantungnya bertalu-talu. Alih-alih membawanya sendiri, Reno justru meminta lelaki lain menyentuh istrinya? Ha. Arunika ingin tertawa keras, menertawakan kebodohan Reno. Lelaki mana yang mau istrinya disentuh orang lain tanpa curiga sedikitpun. "Setelah itu, saya tidak ingat apa yang terjadi." Tidak ingat? Terlalu mustahil untuk manusia cerdas macam Ganesh. Orang kepercayaan yang lebih ia percayai dari siapa pun. "Tapi saya ingat, seseorang memukul tengkuk saya sebelum saya pingsan." Bibir merah itu terbuka lebar. Seperti kepingan puzzle, Arunika mulai melihat gambarannya. Sebelum tuduhan kejam itu, ia memergoki Reno memasuki bar dan hotel berulang kali dengan Yasmin, saudari tiri dari istri kedua ayahnya. Mungkin saja ini pengalihan isu, tapi untuk apa? Bila hanya untuk perceraian, Reno tidak perlu repot-repot. Sebab Arunika akan menyetujui tanpa menangis darah, kecuali... Reno ingin menciptakan lubang besar untuk Devanka, dan menutup lubang itu dengan nama Arsanta. Pintu terbuka perlahan. Langkah Reno terdengar di lantai marmer. Dia masuk, jas hitamnya rapi, senyum dingin menempel di wajahnya seperti topeng. Di tangannya, sebuah amplop cokelat tebal dan kontrak perceraian di sodorkan. “Tanda tangani,” katanya. Suaranya serak tapi tenang. Arunika melirik, iris karamel itu memancarkan kebencian yang nyaris tak terkendali. Belum ada sehari atas tuduhan kejam itu, Reno dengan senyum tanpa dosa, menebar duri. “Apa maumu?” tanya Arunika. "Haruskah ku tanda tangani, dan menyerahkan seluruh saham DS Holdings untuk Arsanta? Nada suaranya dingin, tapi hampir pecah, gemetar menahan ledakan emosi. Tangannya terkepal kuat, bahkan lelaki itu masih bisa tenang. Reno menaruh amplop itu di meja, menyilangkan tangan, dan tersenyum dingin. "Tidak ada pilihan untuk orang sekarat, Arunika." Arunika mengernyit, sudut matanya berkedut. Namun, tak sanggup berkata. Hanya helaan napas berat yang terdengar, seakan beban di pundak itu tak jua hilang. “Kamu bisa menandatangani perceraian ini, dan seluruh saham keluarga Devanka jatuh ke tangan keluargaku. Sebagai gantinya, kamu tetap hidup. Obat langka yang selama ini melindungi mu akan tetap tersedia.” Arunika menatap kontrak itu, segala sesuatu terasa seperti pedang yang menempel di lehernya. Ia tahu, perpisahan bukan hanya yang diinginkan Reno. Mereka ingin menghapus eksistensi keluarga Devanka dari peta kekuasaan. “Dan jika aku menolak?” suaranya lirih, tapi netra beningnya menatap penuh benci. Reno mencondongkan badan, matanya tajam menusuk. “Jika kamu menolak… dunia akan menonton bagaimana aku menyingkirkanmu perlahan. Dan jangan lupakan, Arunika… kamu tidak bisa hidup tanpa obat itu.” Sunyi. Hanya suara hujan di luar dan detak jantung Arunika yang bergema di ruangan itu. Ia menyadari satu hal. Pilihan apa pun yang ia ambil, dunia ini sudah menandainya sebagai pecundang. Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul dari sisi jendela. Ganesh. Tatapannya dingin, tapi penuh arti. Dia melangkah ke depan, membuka tas kulitnya, dan menyodorkan selembar dokumen. "Mendiang tuan besar Vederich telah membuat titah sebelum kematiannya." Arunika dan Reno sama-sama melirik bingung, sementara Ganesh tampak tenang membuka lembaran dokumen dengan sampul hitam berlogo emas atas nama Devanka di tangannya. "Jangan membicarakan orang yang sudah mati, Ganesh. Kakekku itu bisa tidak tenang nantinya," ujar Arunika. Kembali ia menatap lekat ekspresi bingung Reno, lantas tersenyum miring. "Perceraian ini tidak menguntungkan kalian," bisiknya. "Jadi, apa rencanamu sebenarnya, Reno?" Jemari lentik itu menari di atas kertas perceraian, menyentuh deretan hurufnya sambil bergumam tak jelas. Lalu melirik Reno. "Menunggu kematian ku kemudian mengambil alih atas dasar hak alih waris?" Reno mengernyit, alis tebal itu nyaris bersentuhan. Sorot matanya tajam, tapi ekspresinya masih tenang. Dia mengangkat sebuah botol kaca kecil seukuran jari kelingkingnya. Arunika mematung, menatap cairan bening berwarna kekuningan di dalam botol. Tenggorokannya tercekat, rasa haus menyerang seperti pasokan oksigen yang menipis di paru-paru. "Apa jadinya kalau obat terakhir ini hilang?" Reno berjalan ke belakang Arunika, lantas berbisik di lehernya. "Apa nyawamu akan ikut melayang?" Tangannya melayang cepat, tetapi ditepis mudah oleh Reno. Arunika menggeram, tangannya bergerak cepat meraih botol itu. Namun, Reno lebih dulu menjauh. Lelaki itu tertawa sinis, melihat Arunika tak berdaya seperti hiburan untuknya. "Laboratorium kami akan tetap memproduksi obat ini lagi untuk perusahaan farmasi kalian," papar Reno sembari meletakkan dokumen perceraian ke atas meja kaca. Dia berkata, "bayar saja dengan ini. Sampai jumpa di ruang sidang, nona Arunika Devanka." Reno beranjak pergi, langkahnya tenang diiringi siulan seolah penyambutan kematian istrinya. Napas Arunika memburu, dadanya serasa penuh, oleh sesak dan kesakitan tak berujung. Seperti dipaksa tenggelam di luasan samudra dengan tangan mencoba mencapai permukaan dengan akhir sia-sia. Derap langkah berat menggema, belum sempat bernapas, tubuhnya terhuyung bagai terhempas angin. Kebas serasa di pipi, sensasi karat membuat bibir merah itu meludah. Arunika menoleh cepat, mendapati wajah memerah Arthur Irawan Devanka, sang ayah. "Apa yang ada di otakmu itu, Arunika?!" Mulut Arthur terbuka berulang kali, seperti kehabisan kata. "Karena masalah ini, para dewan memintamu turun langsung atau mereka memilih mundur." Arunika mendongak cepat, ia berdiri. Lalu berkata, "itu biar jadi urusanku. Entah para dewan atau pemegang saham, mereka tidak ada urusan dengan masalahku." Arthur menghela napas gusar, dia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Kemudian melirik bergantian putrinya dengan sang sopir pribadi. Sikap tenang dan dingin Ganesh membuatnya berdecak. "Arsanta memberi waktu seminggu, bereskan masalah ini sebelum Reno menggugat cerai." Kepergian Arthur meninggalkan sesak, Arunika tertawa hampa. Matanya mengedar, lantas mendekati lemari kaca yang dipenuhi koleksi barang kuno milik Devanka. Sebuah foto membentang dalam pigura yang dilapisi emas. Foto yang menyatukan dua keturunan dinasti konglomerat, foto pernikahannya dengan Reno. Senyum itu palsu, lengan yang membungkus tubuhnya tak lebih dari pedang bermata dua. "Saya akan mengurusnya." Arunika melirik, lantas mendengkus. "Mengurusnya sampai menghilang dari dunia, maksud mu seperti itu?" Ganesh bungkam, iris kelamnya menyelami netra bening yang diselimuti emosi itu. Mengorek hal tersirat yang membuat Arunika memalingkan wajah. "Aku tidak mau tanganmu kotor, darah mereka lebih menjijikkan dari apa pun." Arunika menunduk, memikirkan segala konsekuensi. Reputasi yang sudah hancur, hidup yang bergantung pada obat langka, dendam yang menunggu di setiap sudut… dan Ganesh, pria yang menatapnya seolah membaca semua rahasia hatinya. "Bercerai? Ha, dia pikir bisa hidup tanpa bayang-bayang Devanka?" gumam Arunika. "Cerai saja, dan hidupmu akan berada dalam neraka." "Saya rasa ini jebakan," kata Ganesh. Suaranya datar. "Setelah bercerai, Anda yang akan kehilangan segalanya termasuk Devanka."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN