Sandiwara 2

1149 Kata
Lynelle berdiri kaku di balik dinding ruang tengah. Dia mendengar sebagian besar perbincangan dua orang tersebut. Identitas Lynelle telah dikonfirmasi. Niatnya telah diketahui. Edgar mampu mengenali niatnya hanya dalam beberapa hari sejak kedatangannya. Sungguh patut disayangkan. Belum bertindak, tetapi lawannya cukup cerdas membongkar niat jahat Lynelle. Edgar hanya menjaga kepura-puraan. Dia tak lebih baik dari aktor di atas panggung. Tersenyum, menggoda, bersikap lugu seperti korban yang siap dimangsa, tetapi nyatanya dia memiliki otak selicik ular. Lynelle tetap berdiri untuk beberapa detik berikutnya sebelum ia masuk ke ruangan dan menjamin pembicaraan mereka tentangnya telah berhenti. Nanti akan ia pikirkan langkah selanjutnya. Saat ini yang terpenting adalah berpura-pura dengan sebaik-baiknya dan menunjukkan jika ia tak tahu rencananya sudah diketahui mereka. Segalanya seperti transaksi setan. Edgar tahu jika Lynelle ingin membunuhnya tapi berpura-pura tak tahu, sementara Lynelle tahu jika Edgar tahu tetapi berpura-pura tak tahu. Bagus. Tak ada drama yang lebih menyedihkan dari ini. Seharusnya Lynelle mengantongi piala oscar jika semuanya berjalan dengan lancar. "Whoa! Kau wanita hebat, Lynelle! Kau memilih anggur kualitas terbaik!" Felton tersenyum puas melihat anggur tahun sembilan puluhan yang dibawa oleh wanita itu. "Aku belajar sedikit tentang anggur, Felton. Silahkan menikmati!" Lynelle menuangkan dua gelas anggur, menyerahkan pada Edgar dan Felton. Edgar menyesap dengan anggun anggur tersebut. Sebelah tangannya menepuk kursi di sebelahnya, memberi isyarat agar Lynelle duduk di sisinya. Dengan bijaksana, Lynelle melakukan apa yang Edgar inginkan. Mari sedikit bermain sebelum suasama semakin memanas. "Kau tak minum, Sayang?" tanya Edgar, setelah beberapa saat ia mengamati secara seksama melalui pendengaran jika wanita di sisinya ini tak mengambil gelas sama sekali. "Tidak malam ini!" tolak Lynelle lembut. "Oh. Kukira kau peminum!" Edgar sedikit kecewa. "Hanya sekali-kali. Nikmatilah bagianmu, Edgar. Minum membuatku kurang berkonsentrasi!" Lynelle menjawab apa adanya. Kewaspadaan Lynelle semakin tinggi. Dia tak bisa berleha-leha lagi. Rencana demi rencana mulai ia susun sempurna di otaknya yang canggih. Menimbang-nimbang kira-kira apa yang akan ia lakukan setelah rencananya diketahui Edgar dan ayahnya. Rumit. Kenapa semakin ke sini jadi semakin membingungkan? "Ada yang membebani pikiranmu?" tanya Edgar, tanpa menoleh. Yah. Lelaki itu menoleh atau pun tak menoleh sama saja. Toh penglihatannya terbatas. Tetapi kenapa dia bisa sepeka itu? Edgar bukan lelaki yang sembarangan ternyata. "Tubuhmu terlalu tegang, Sayang! Aku mampu merasakannya!" Edgar mengusap lembut punggung Lynelle naik turun, melemaskan otot-ototnya. Bukannya santai, Lynelle justru semakin tegang. Dia semakin menyadari Edgar bukan sembarang lelaki yang bisa dipermainkan begitu saja. Instingnya sangat tinggi. Kewaspadaannya seperti predator. "Bersantailah sedikit, Lynelle. Putraku adalah lelaki yang cukup baik hati dalam mengurus para jalang! Kau tak akan kekurangan apa pun selama berada di sisinya. Cukup beruntung sampai waktumu habis!" Felton berkata tajam, nada suaranya mengandung peringatan. Lynelle memandang Felton dengan tatapan mematikan. Lynelle memang jalang. Tetapi tak pernah ada yang mengatakan hal itu setajam Felton sebelumnya. Nilainya, meskipun rendah, tetapi cukup dihargai oleh banyak orang. "Aku adalah wanita yang selalu menghargai kesempatan yang ada. Seperti yang kau katakan, sebelum waktuku habis!" balas Lynelle, sama tajammya. Tak akan ia biarkan lelaki tua itu menggertak dirinya. "Huh. Waktu. Sesuatu yang orang tak tahu kapan mereka akan kehilangannya. Siapa tahu beberapa jam ke depan kita tak lagi memiliki waktu?" Felton terkekeh kecil, matanya menatap langit-langit ruangan. Mudah bagi Edgar untuk mengakhiri hidup Lynelle saat ini juga Sama mudahnya bagi seseorang menepuk lalat. Tetapi, sebelum permainan dimulai, untuk apa menghidupkan sumbu? Tidak akan menarik sama sekali. "Lynelle. Apakah kau percaya tentang cinta?" tiba-tiba Felton bertanya sesuatu di luar topik. Matanya sedikit melayang, seperti sengaja meraba sesuatu. "Ya." Lindsey menjawab singkat. "Oh. Kau percaya? Cukup menakjubkan. Seorang wanita seperti dirimu, masih sanggup percaya cinta. Wow. Hebat. Sungguh hebat!" Felton bertepuk tangan, tampak antusias. Lynelle bukanlah orang bodoh. Dia mengantisipasi semua tindakan Felton, dan tak mengendurkan kewaspadaannya. Felton tidak akan menjadi musuh bebuyutan Marta jika sikapnya ceroboh dan bisa dimanipulasi. Pasti ada kelicikan yang tanpa dasar di hati lelaki tersebut. "Tidak berarti bunga yang tumbuh di comberan tak mengenal matahari. Tidak berarti teratai yang tak hidup di tanah, tak memiliki kesempatan untuk berkembang." Lynelle mengungkapkan pendapatnya, melirik penuh arti ke arah Edgar yang berada di sisinya. Meskipun mata lelaki tersebut masih menunjukkan kekosongan, tapi getar tangannya di punggung Lindsey membuktikan dia mengerti kata-katanya. Sentuhan Edgar di punggungnya semakin intens. Jari-jari lembut itu menari indah, membuat Lindsey merinding. Nafas Lindsey tertahan, tak menyangka bahkan hanya karena sentuhan kecil, mampu membuatnya melayang seperti ini. "Mulutmu bisa sangat manis, Woman! Kuharap, mulut itu akan tetap semanis ini. Hingga pada saatnya nanti waktumu di sini berakhir!" Felton mengangguk penuh minat, berdiri secepat kilat dan berjalan ke luar ruangan. Tawanya yang menakutkan bergema di setiap sudut, membuat bulu kuduk orang normal berdiri mendadak. Setelah kepergian Felton, Lynelle bisa sedikit bernafas lega. Dia melirik ke arah Edgar yang tak terpengaruh ayahnya dan hanya bisa mendesah panjang. Mata Lynelle yang indah menunjukkan binarnya lagi. Terbebas dari Felton cukup membuatnya santai. "Apakah Dad menakutimu?" Edgar bertanya lembut. Dia memeluk Lynelle dengan kedua tangan, mempertahankan wanita itu dalam dekapannya. Bibir Edgar yang sensual mencari-cari, berhenti pada telinga Lynelle dan mencecapnya pelan. Wangi wanita ini sangat memabukkan. Edgar mulai menyukainya. Jika saatnya tiba nanti, mungkinkah wangi Lynelle yang menggoda akan tetap bertahan di bawah aroma anyirnya darah? Perlahan, Edgar mengusap rambut Lynelle yang selembut sutra. Pikiran liarnya kembali bermain. Dia sangat suka bermain-main dengan bagian ini pada setiap korban wanitanya. Mungkinkah, kali ini tak akan berbeda? Kebanyakan wanita yang ia habisi tak memiliki kulit kepala dan rambut yang utuh. Edgar selalu menyukai seni tersendiri dalam memperlakukan korbannya. Terutama wanita, sosok yang menjadi keindahan utama. Menyadari udara mulai berubah menekan dan menakutkan, Lynelle tampak tegang. Dia melirik kepada Edgar, menyadari aura kelam yang ia rasakan saat ini berasal darinya. Niat buruk apa yang tengah disembunyikan lelaki itu? "Apa yang kau pikirkan?" tanya Lynelle, mulai waspada. Dia tahu pertanyaan ini percuma. Toh, andai Edgar memiliki niat buruk, tidak mungkin baginya untuk berbagi. Pikiran lelaki tersebut sangat kompleks. Terlalu rumit dan menakutkan. Bahkan, untuk standar Lindsey yang manipulatif, pikiran Edgar masih sangat jauh di depan darinya. "Tidak ada. Hanya membayangkan apa yang sekiranya akan aku lakukan untukmu sebagai penghargaan keberadaanmu!" kata Edgar, tertawa kecil. Sebuah tawa yang mampu membuat Lindsey merinding hingga ke tulang. "Penghargaan keberadaanku?" Lynelle bertanya curiga. "Ya. Tapi itu nanti, nanti saat semuanya berakhir. Sekarang, aku masih menginginkanmu di sini, di sisiku. Pada saatnya nanti kau kembali dari tempat ini, akan kupastikan kau tak kembali dengan tangan kosong. Aku adalah lelaki yang selalu menunjukkan rasa terimakasih dan penghargaan, Lynelle! Kupastikan kau akan mendapat kenang-kenangan indah pada waktunya!" janji Edgar, serius. Lynelle hanya bisa mengangguk kecil, membenarkan. Edgar adalah orang yang tahu berbelas kasih, entah nanti dia akan dibunuh dengan metode apa andai ia mengendurkan sedikit saja pertahanan diri. Felton dan Edgar telah mengetahui niatnya. Bukan hal yang mudah bagi Lynelle untuk terus bertahan tanpa mulai melakukan rencana pasti. Rencana yang akan membuatnya melunasi hutang budinya pada Marta. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN