Sandiwara

1211 Kata
"Bernyanyilah untukku!" pinta Edgar kepada Lynelle. Menyanyi adalah salah satu hal yang mampu dilakukan oleh Lynelle. Suaranya lembut, mengalir layaknya angin musim semi. Dia memiliki bakat alami yang cukup memuaskan. Bakat yang ia sendiri jarang mengungkapkannya. "Dari mana kau tahu aku bisa menyanyi? Bisa saja suaraku akan menjadi polutan bagi telingamu!" Lynelle duduk di pinggiran sofa ruang tengah, sebelah tangannya merengkuh Edgar yang berada di sampingnya. Malam ini berjalan cukup lancar. Edgar baru saja menyelesaikan memgontrol semua pekerjaannya dari ruang kerja dengan seorang asisten dan menemani Lynelle sepanjang sore. Karena kondisi penglihatannya, ada seorang asisten yang merangkap sekretaris untuk menjadi tangan kanan. Dia juga seorang juru tulis, karyawan, orang kepercayaan, dan bawahan yang melakukan semua hal. Sementara Edgar menjadi otaknya, Janson, sang asisten, menjadi yang mengeksekusi. "Sudah kubilang pendengaranku lebih sensitif dari orang lain. Aku mampu membedakan mana suara yang memiliki bakat, mana yang tidak dalam hal musik. Berikanlah aku hiburan!" Edgar tersenyum kecil. Lynelle membeku. Menyanyi adalah hobinya yang ia simpan rapat-rapat. Suara ini tak pernah ia jual dan ia perdengarkan pada siapa pun. Semenjak ia menjajaki diri sebagai wanita malam, tak ada lagi prifasi yang ia miliki. Tubuh, waktu, bahkan jiwanya terkikis. Salah satu hal yang masih ia simpan untuk ia bagi bersana orang-orang terkasih adalah suaranya. Mom dan Dad dulu sangat mengagumi suara Lynelle. Mereka berkata suaranya unik. Lembut, tinggi, dan mendayu. Seperti musik alam yang syahdu. Semenjak kedua orang tuanya meninggal, Lynelle hampir tak pernah berani menyanyi lagi karena suaranya sendiri mengingatkan banyak hal tentang kenangan-kenangan indah bersama orang tua. Namun, setelah tujuh tahun berlalu, Lynelle mulai menyanyi lagi untuk dirinya sendiri. Dia sedikit banyak memahami piano dan menjadikan alat musik tersebut sebagai pengiring. Hanya saja, semua itu hanya untuk dirinya sendiri. Tidak untuk orang lain. "Aku tak bisa menyanyi!" Lynelle menolak secara halus. Tak peduli dia dibayar berapa pun, suara miliknya tidak untuk dinikmati orang lain. "Rupanya kau menolak kemauanku. Kenapa? Apakah aku tak pantas mendengar suaramu?" Edgar memahami keengganan dan kebohongan yang ada dalam suara Lynelle. Jika mereka mau bermain sandiwara, Edgar bisa menjamin dia bisa bermain lebih baik dari pada wanita itu. "Aku tak suka menyanyi!" tolak Lynelle lagi, mata indahnya berkilat penuh permusuhan. Dia tak suka disuruh-suruh, terutama untuk hal-hal yang ia sendiri enggan melakukannya. "Terserah jika kau tak mau. Suatu hari nanti, kau sendiri yang akan menyanyikan sebuah lagu untukku tanpa kuminta!" Edgar berkata penuh percaya diri. Dia tersenyum misterius, wajahnya menunjukkan banyak janji. Lynelle memilih tak menanggapinya dan hanya bisa diam. Lelaki hanya menghargai keindahan. Selama mereka mendapat pelayanan memuaskan, biasanya mereka tak akan terlalu cerewet dan meminta ini itu. Sepertinya Edgar bukan jenis lelaki yang seperti itu. Lynelle perlu lebih berhati-hati. Dia tak bisa menampakkan emosinya begitu saja. Edgar adalah lelaki yang peka dan cerdas. Bukan hal yang mustahil jika Edgar mampu menangkap niat buruk yang Lynelle sembunyikan tentang misinya. "Tuan, Ayah anda datang berkunjung!" seorang pelayan wanita bernama Lyla datang menyampaikan informasi. Wanita berusia tiga puluh tahun dengan penampilan langsing dan wajah kaku itu menunduk dalam, menghormat penuh pada Edgar. "Bawa dia ke sini!" Edgar melambaikan tangan, tanpa menunjukkan perubahan reaksi wajah. Lynelle menyipitkan matanya. Ayah Edgar datang ke rumah ini. Felton Morris-kah? Musuh bebuyutan Marta? "Sepertinya kau butuh waktu dan tempat sendiri untuk menghabiskan momen bersama ayahmu. Biarkan aku kembali ke kamar!" Lynelle menyarankan. Dia enggan jika harus bertemu Felton secepat ini. Bukannya apa-apa. Misi Lynelle ke sini hanya untuk membunuh Edgar dan dia merasa semakin tak nyaman jika harus bersandiwara di depan Felton juga. Lynelle lebih suka berada di balik bayang-bayang dan tak terlalu masuk ke dalam lingkaran kehidupan Edgar. "Tak perlu. Temani aku saja. Kau bisa menuangkan anggur untuknya nanti!" Edgar menahan kepergian Lynelle. Suaranya tak ingin dibantah. "Baiklah!" Tak ada jalan menghindar. Lynelle hanya bisa bermain sandiwara lebih jauh lagi. Tak berapa lama kemudian, seorang lelaki berusia enam puluhan tahun berwajah mirip Edgar dengan postur tubuh gagah dan besar memasuki ruangan. Matanya berbinar menyenangkan saat ia melihat putranya, tetapi Lynelle tahu mata itu terlalu gelap dan memiliki jejak pembunuhan di sana. Felton pasti bukan lelaki sembarangan. Auranya tak berbeda jauh dengan putranya. Mereka sama-sama iblis. "Edgar. Rupanya kau memiliki wanita baru. Menarik. Terlalu cantik dan sempurna." Felton mengamati Lynelle secara seksama yang duduk di sisi Edgar. Meskipun b******n, Felton bukan lelaki yang memiliki mata kurang ajar dan menjijikkan. Tatapan matanya meninggalkan jejak dingin di bagian-bagian tubuh Lindsey, seolah ia baru saja dinilai untuk dikorbankan hidup-hidup dalam ritual setan. "Sir," sapa Lynelle, msngangguk sopan. Tak ada pilihan yang masuk akal bagi Lynelle selain menyapa penuh hormat. "Tak perlu formal. Kau bisa memanggilku Felton." Lelaki tua itu menatap Lynelle sekali lagi dan duduk berhadapan dengan putranya. Sudah menjadi sebuah kebiasaan jika Edgar sering kali menyewa wanita bayaran. Hanya saja, biasanya Felton tak perlu repot-repot menyapa mereka. Lynelle adalah pengecualian. Sekali lihat saja, Felton biaa menyimpulkan wanita itu sangat rumit. Tatapan matanya dalam, menyimpan ribuan niat. Felton sendiri jadi penasaran akan sejauh mana wanita itu bertindak. Cara apa yang akan ia gunakan. Mungkinkah ia akan ceroboh seperti wanita-wanita yang sebelumnya Martha kirim? Jika ya, maka hanya akhir tragis yang akan ia dapatkan. Akhir yang lebih buruk dari pada kematian. "Duduklah, Dad! Jangan bersikap terlalu kaku! Lynelle, ambilkan anggur terbaik di ruang penyimpanan bawah. Kau tahu tempatnya, bukan?" Edgar tersenyum kecil, teringat tadi sore ia berkeliling bersama Eduardo dan Lynelle untuk menunjukkan tempat-tempat tertentu. Sebenarnya, Eduardo-lah yang berperan besar sebagai penunjuk arah. Edgar hanya mengikuti pelan-pelan di belakang mereka dengan tongkat kecil di tangan. Meskipun Edgar sudah terbiasa dengan tata letak rumah, tetapi untuk beberapa momen yang membutuhkan kecepatan dan kegesitan, tongkat sangat membantu baginya. "Ya." Lynnelle segera berlalu dari ruang tengah dan melakukan apa yang Edgar perintahkan. Beberapa saat setelah kepergian wanita itu, Felton mengomentari Lynelle dengan nada tak suka. "Wanita itu ular. Dia rumit. Matanya menyimpan banyak emosi dan seorang artis yang hebat. Sepertinya dia tak sesederhana wanita-wanita yang dikirimkan Martha sebelumnya. Pantas Martha mengangkatnya sebagai anak. Dia jelas cerdas dan penuh perhitungan. Jika aku jadi kau, aku akan hati-hati, Edgar. Siapa yang tahu jika dia membunuhmu di atas ranjang setelah percintaan kalian?" Felton berkata serius. Suaranya cukup lirih, tapi masih mampu ditangkap oleh Edgar. "Menarik. Aku sudah lama tak mendapatkan lawan yang seimbang!" Edgar meringis santai. Tak ada beban sama sekali dalam suasananya. Fakta bahwa wanita yang diajaknya tidur memiliki misi membunuh, sama sekali tak membebaninya. "Kau ingin bermain-main dengannya dulu sebelum memgulitinya hidup-hidup?" tanya Felton, terkekeh geli. "Dia masih terlalu menarik. Hasratnya mampu mengimbangiku. Percintaan kami liar dan luar biasa. Aku belum pernah mendapatkan wanita yang sehebat ini dalam hal ranjang, Dad. Biarkan aku menikmatinya dulu. Saat dia bertindak, baru saat itulah aku membungkamnya. Untuk saat ini, dia berada dalam genggamanku!" Edgar berkata santai. Dia kembali membayangkan bagaimana pengalaman semalam mereka di atas ranjang. Wanita itu sungguh luar biasa. Ada candu yang mulai Edgar rasakan setiap kali ia menyentuh Lynelle. Camdu yang belum pernah ia rasakan dari ratusan wanita lainnya. "Dasar serakah. Jaga saja nyawamu baik-baik. Aku tak ingin kehilangan putra. Kau menjadi satu-satunya pewarisku. Setelah kau selesai dengan Lynelle, bunuh dia dengan cara yang kejam. Jika perlu, rekam setiap teriakannya dan kirimkan pada Martha. Biar wanita itu tahu kita bukan lawannya." …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN