Dari semua definisi yang bisa mendiskripsikan Edgar, bodoh jelas bukan salah satunya. Dia duduk bersilang kaki di depan Eduardo, menyesap sebatang rokok istimewa dari kuba, rokok yang memiliki komposisi ganja ringan.
"Apa yang perlu aku lakukan untuk anda kali ini, Tuan?" tanya Eduardo, menatap lantai ruang kerja majikannya yang mengkilap.
Edgar adalah orang yang sangat perfeksionis. Dia selalu menununtut kesempurnaan dalam semua hal. Baik wanita, rumah, pekerjaan, pelayan, kesetian, semuanya. Eduardo menjadi tangan kanan bagi Edgar selama ini. Apa yang majikannya mau, maka Eduardo akan segera mengabulkannya. Lelaki tua berdarah latin itu memiliki tangan ajaib yang bisa mewujudkan banyak hal. Seperti ayahnya, Felton Morris.
"Aku curiga dengan wanita yang kau bawa!"
"Wanita yang kubawa?" tanya Eduardo, mengernyitkan keningnya. Dia mencoba membuka semua memori otaknya. Mungkinkah tanpa sengaja Eduardo melakukan kesalahan? Sefatal apa?
"Lynelle Morrison!"
Wajah wanita cantik tanpa cacat langsung hadir ke dalam ingatan Eduardo. Dia ingat tiga malam yang lalu, ia membawa wanita itu ke hadapan majikannya.
Lynelle wanita yang cantik, anggun, sempurna, dan sangat menggoda. Apa yang salah saat Eduardo membawanya ke hadapan Edgar?
"Jika anda tak menyukainya, aku bisa membawanya kembali keluar dari rumah ini!" Eduardo berkata tegas. Dia tak bisa bermain-main dengan selera majikannya. Jika Edgar berkata tak suka, itu artinya dia tak suka.
"Tidak. Justru aku ingin mempertahankannya dulu di sisiku!" Senyum iblis Edgar terbentuk sempurna, membuat Eduardo merinding.
Selama dua puluh tahun Eduardo mengenal dan melayani Edgar, dia belum juga terbiasa untuk bercakap-cakap secara normal. Edgar adalah lelaki yang tak bisa ditebak. Bahkan, dalam beberapa keadaan, lelaki ini lebih menakutkan dari pada Felton sendiri.
Butuh kewaspadaan tinggi dan insting sempurna untuk menghadapi Edgar. Salah sedikit saja, bisa berakibat fatal.
"Lantas, apa yang menurut Tuan patut dicurigai dari wanita itu?" tanya Eduardo kemudian. Dia butuh mengetahui semua informasi itu andai ia perlu mengambil tindakan untuk membereskan Lynelle.
"Sikapnya menunjukkan ia memiliki niat lain dalam mendekatiku."
Edgar tersenyum sempurna layaknya malaikat. Dia adalah pemain sandiwara yang hebat. Dalam sekali pertemuan saja, Edgar mampu menilai semua yang ada pada diri Lynelle. Wanita itu menyimpan bom waktu. Dengan tujuan yang pastinya tak baik. Hanya saja, Edgar memilih menjadi orang yang bodoh dan tak tahu apa-apa. Dia ingin mempermainkan Lynelle, mengorek dengan pelan apa tujuan wanita itu sebenarnya.
Sungguh lucu jika Lynelle berpikir bisa memanipulasi Edgar dan membohonginya begitu saja. Tidak ada orang yang cukup bodoh bermain dengan Edgar, berpura-pura baik kecuali mereka semua berakhir tragis.
"Aku akan membereskannya. Cara apa yang anda inginkan untuk kematiannya?" Eduardo berkata serius.
Tidak ada yang boleh lolos dari hukum Edgar. Siapa pun yang berani bertindak buruk dan sengaja mencari masalah, maka hukuman paling buruklah yang akan mereka dapatkan.
"Biarkan saja, Eduardo. Aku masih ingin membiarkannya ada di sini. Aku ingin melihat sejauh mana ia berani menyakitiku! Aku ingin melihat dia seberani apa. Saat ini, yang perlu kau lakukan adalah mencari tahu latar belakang Lynelle. Siapa dia, apa tujuannya, siapa saja orang yang ada di belakangnya. Semuanya! Aku ingin mengetahui siapa Lynelle sesungguhnya!" Edgar tersenyum puas.
Wanita licik yang berani masuk ke kediaman Edgar begitu saja, mereka seperti kucing yang masuk dalam perangkap. Kediaman ini bukan hanya menyimpan ranjau yang bisa meledak kapan pun diinjak. Tetapi juga punya labirin panjang dan berkelok, menjebak siapa pun yang cukup bodoh memasukinya. Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi nantinya.
"Baik, Tuan! Aku akan menyelidiki wanita itu!" Eduardo berjanji.
Meskipun usia Eduardo tak lagi muda, tetapi lelaki ini cukup ceakatan dan bisa diandalkan. Edgar selalu puas dengan kinerjanya dan tak pernah protes. Memiliki Eduardo merupakan sebuah anugerah tersendiri. Felton sangat baik dengan memberi Edgar pelayan sesetia Eduardo.
"Ada lagi yang perlu kulakukan untuk anda, Tuan?" tanya Eduardo lagi, sebelum ia memutuskan untuk pergi dari ruang kerja.
"Selama aku masih memiliki Lynelle di sisiku, kau tak perlu mencarikanku wanita lain lagi. Wanita itu memiliki hasrat yang sama besar denganku dan tak mudah puas. Dia pasangan yang bisa mengimbangi diriku dengan sangat sempurna. Terlalu sayang jika aku menyia-nyiakan wanita seperti itu. Waktuku masih banyak untuk bermain-main dulu dengannya!"
Lagi-lagi, Edgar tersenyum kecil. Bayangan tentang reaksi-reaksi yang diberikan oleh Lynelle dalam percintaan mereka sungguh membuatnya puas. Lynelle sangat sensitif, mudah menerima Edgar, memberikan sebesar apa yang Edgar keluarkan, dan responsif atas semua sentuhan. Kulit wanita itu lembut, terlembut dari semua yang pernah Edgar sentuh. Suaranya sensual dan menggoda. Karakternya unik. Gabungan dari keangkuhan dan sensualitas. Gabungan antara kekuatan dan kelembutan. Wanita yang amat langka.
"Baik, Tuan!" Tak ada lagi yang bisa Eduardo lakukan selain patuh dan menerima. Selain mengangguk dan berkata "Ya".
"Eduardo!" panggil Edgar lagi. Dia sedang memikirakn sesuatu.
"Ya, Tuan?"
"Aku butuh kau mengontrol langsung transaksi nanti malam. Kau sudah pastikan tamu undangan menerima semua undangan kita?" tanya Eduardo, memastikan.
"Sudah. Mereka menerimanya dengan antusias!"
"Pasti. Karena mereka membutuhkanku!" Edgar tersenyum layaknya iblis.
"Aku menerima banyak permintaan, Tuan. Beberapa customer kita membutuhkan organ tubuh penting dalam waktu dekat ini."
"Pasang tarif tinggi. Aku akan memfasilitasi permintaan mereka!"
"Baik. Apakah kita perlu mencarinya di pasar gelap?"
"Ya. Jika tidak ada, bunuh orang secara random dan ambil organ tubuh pentingnya. Kita butuh anak buah yang kompeten!"
"Siap, Tuan!"
"Lakukan dengan cara bersih! Aku tidak ingin terjadi kesalahan apa pun!"
"Tidak akan!"
"Tuan, koneksi kita dari Timur Tengah sudah memberikan kabar, mereka bersedia menjual nuklir kepada kita dan sejumlah bahan peledak berkapasitas besar!"
"Bagus! Itulah yang aku mau. Cari pembeli yang bersedia menggelontorkan banyak uang untuk benda-benda tersebut. Atur pertemuan, biar aku yang tentukan tarifnya!"
"Baik!" Eduardo mengangguk dan berbalik keluar dari ruang kerja. Langkah-langkahnya tampak mantap dan teratur. Pandangan matanya lurus ke depan. Dadanya ia angkat, menunjukkan kewibawaan.
Sementara itu, Edgar yang berada di ruang kerja seorang diri memilih menghabiskan waktu dengan menghubungi CEO-CEO perusahaan yang ia miliki dan memastikan jika perkembangan finansial usahanya baik-baik saja. Ponsel yang Edgar gunakan sudah diprogram dengan panggilan cepat. Dia hanya perlu menghafalkan beberapa nomor untuk menghubungi orang-orang penting yang ia inginkan.
Dua jam lebih dia mengontrol bisnisnya dari rumah. Segalanya baik-baik saja, tak ada masalah penting. Bagus. Inilah yang ia harapkan. Suasana hati Edgar kian membaik saat menyadari keuntungan bulan ini dari perusahannya mengalami peningkatan beberapa persen. Bisnis sering kali mengalmai guncangan, tetapi perusahaan Edgar selalu aman. Sesuatu yang patut ia syukuri.
Tak berapa lama kemudian, telepon di atas meja kerja berdering. Edgar mengangkatnya dan membuka percakapan dengan suara ringan.
"Ya?"
"Edgar. Bagaimana kabarmu?" tanya Felton.
Suara Felton yang besar dan dalam membuat Edgar tersenyum lebar. Dia dan ayahnya layaknya dua orang sahabat. Mereka saling melengkapi dan memahami dengan cara khusus.
"Baik. Bagaimana denganmu, Dad? Kau memiliki kabar baik untukku kali ini?" tanya Edgar, mengetahui dengan baik ayahnya pasti memiliki kabar yang cukup penting jika ia menghubungi Edgar sesiangi ini. Waktu Felton sangatlah sibuk. Siang hari bukanlah waktu yang bisa ia buang begitu saja hanya untuk berbasa-basi.
"Kabar buruk, sebenarnya!" Berlawanan dengan kabar yang akan ia berikan, Felton justru terkekeh kecil. Seolah-olah mereka terbiasa menganggap kabar buruk sebagai lelucon.
"Apa?"
"Kau masih ingat Marta, bukan?"
"Tentu. Wanita gila yang berambisi membalas dendam padamu dengan cara membunuhku!"
"Bagus. Ingatanmu cukup tajam!"
"Ada apa, Dad?"
"Tiga hari yang lalu dia mengirimkan lagi anak angkatnya sendiri untuk membunuhmu. Namanya Lynelle, wanita yang Eduardo persembahkan untukmu! Apakah kau sudah tidur dengannya?"
Ada jeda sejenak. Edgar mendesah berat, seperti tak terkejut dengan kenyataan ini.
"Sayangnya, sudah. Cukup disayangkan wanita seperti dia jadi alat Marta. Baru saja aku tadi menyuruh Eduardo untuk mencari tahu latar belakang wanita tersebut. Rupanya dia anak angkat Marta!" Edgar menjawab ringan.
Dalam dunia yang Edgar hadapi, sering kali fakta justru berkebalikan dari apa yang kita harapkan. Hal-hal seperti itu sudah menjadi fakta umum.
"Apa yang akan kau rencanakan sekarang?" tanya Felton, mulai menebak-nebak.
"Menikmati tubuhnya dulu dan mengamati apa yang akan ia lakukan padaku. Jika dia mulai melancarkan aksinya, aku akan mengambil tindakan!"
"Oh, seluar biasa itu, ya, dia? Aku jadi ingin tahu dia wanita seperti apa!"
"Berkunjunglah nanti malam ke rumahku, Dad! Lihat dan nilai sendiri Lynelle. Kau pasti akan memuji wanita itu!"
…