Lynelle menegang mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Edgar. Dia berusaha menenangkan dirinya untuk tak bersikap histeris, tetapi hal ini sangatlah tak mudah. Tengkuknya meremang, kulit tangannya merinding hebat.
"Berhentilah bersikap tegang. Aku hanya bercanda!" Edgar terkekeh kecil, melepaskan pelukannya dan membiarkan Lynelle berdiri seorang diri.
"Aku hanya bercanda, Lynelle!" kata Edgar meyakinkan. Dia berjalan ke dalam kamar, membiarkan Lynelle dipenuhi semua asumsi-asumsi baru.
Edgar mengatakan jika ia bercanda. Tetapi jauh di lubuk hati Lynelle, wanita itu tahu Edgar tidak semudah itu dalam bercanda. Apa yang lelaki itu sampaikan bisa jadi merupakan fakta sebenarnya. Seorang psikopat cenderung bisa menutupi semua tindakannya dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
Semakin ke sini semuanya semakin rumit. Lynelle harus ekstra hati-hati jika ingin tetap melanjutkan rencananya. Membunuh Edgar jelas bukan hal yang mudah. Lelaki itu sangat peka pada situasi. Salah langkah sedikit saja, Lynelle yakin nyawanya akan terancam. Kemungkinan, jika nanti Lynelle terbukti memgkhianati Edgar, bisa jadi dia akan dihabisi dengan cara yang kejam.
Matahari mulai beranjak ke arah barat. Sinar hangatnya terasa lembut di kulit Lynelle. Wanita itu berbalik, masuk ke ruangan dalam. Dia perlu membentuk rencana yang lebih kuat. Rencana yang memiliki kemungkinan keberhasilan di atas lima puluh persen.
…
"Marta, kau tidak bilang padaku aku adalah wanita yang kesembilan yang kau kirim untuk menghabisi Edgar! Delapan wanita yang kau kirim sebelumnya tewas! Bagaimana bisa kau tak seterbuka itu padaku?"
Lynelle menunjukkan kekecewaannya. Dengan mudah, ibu asuhnya mengirim Lynelle ke sarang singa tanpa ia tahu semua kondisi yang terjadi. Marta bahkan tak perlu repot-repot untuk memberitahunya fakta-fakta penting. Seharusnya Lynelle mengetahui semuanya. Termasuk usaha-usaha wanita sebelumnya yang berakhir tragis.
"Kau tahu dari mana?" Marta tak menyangka Lynelle bisa mengetahui hal ini hanya dalam dua hari setelah Lynelle berhasil masuk ke kediaman Edgar.
"Edgar!"
"Edgar? Dia mengatakannya padamu?"
Marta yang tak terbiasa dikejutkan oleh sesuatu, kini terdengar sangat terkejut. Dia tak mengira Edgar akan menyuguhkan fakta itu sedemikian cepat ke hadapan Lynelle, seseorang yang pastinya masih asing bagi lelaki tersebut.
"Ya."
"Kuasumsikan kau berhasil naik ke atas ranjangnya?" Marta penasaran. Nafasnya tertahan selama beberapa detik, menunggu jawaban.
"Ya."
"Bagus. Aku tahu kau akan bisa menaklukkan lelaki tersebut."
"Akan kucoba. Sekarang, bisakah kau jelaskan semuanya padaku? Berapa saja kau kirim wanita ke sini dan bagaimana akhir mereka semua? Aku perlu referensi agar aku bisa mengira-ngira nasibku akan seperti apa nantinya." Lynelle mendesak ibu asuhnya. Dia butuh semua keterangan. Dia butuh Marta bersikap transparan.
Terdengar desahan Marta yang terasa berat. Pasti tak menyenangkan bagi wanita itu untuk bersikap jujur. Apa yang ia sembunyikan dari Lynelle adalah hal-hal buruk. Seharusnya Lynelle tak perlu mengerahuinya. Informasi tersebut bisa membuat mental Lynelle menurun.
Namun, mau tak mau Marta harus mengatakannya juga. Lynelle bisa sangat keras kepala ketika ia menginginkan sesuatu. Jika Marta tak melakukan apa yang Lynelle inginkan, misi ini bisa hancur kapan saja.
"Aku mengirim delapan wanitaku untuk menghabisi Edgar. Kupikir misi itu akan mudah karena target yang kumau adalah lelaki buta. Lelaki yang seharusnya lemah dan tak berdaya. Tetapi, siapa sangka semua wanita yang kukirim berakhir tragis. Edgar membunuh mereka semua. Dia mengembalikan jasad wanita-wanita itu ke depan gerbang rumahku. Bayangkan itu! Aku harus membereskan mayat-mayat wanitaku dengan hati-hati. Edgar mengibarkan bendera perang. Bukan hanya Edgar. Felton pasti juga ikut berpartisipasi. Dua orang anak dan ayah itu cukup merepotkan!"
Masih teringat dengan jelas bagaimana Marta harus tergopoh-gopoh karena pelayannya memberitahu ada mayat wanita di depan rumah. Seluruh pelayan-pelayan Marta geger. Mereka heboh dengan banyak gosip ini itu. Marta harus meredam semua suara-suara para pelayannya dengan banyak uang. Dia perlu membungkam gosip buruk dengan cepat. Uang adalah alat yang paling manjur untuk itu.
"Kenapa kau tak mengatakannya padaku?"
Lynelle seharusnya perlu diperingati, Edgar jenis lelaki yang seperti apa. Ketika seseorang masuk ke situasi rumit, pengetahuan sekecil apa pun bisa menyelamatkan hidup seseorang dalam saat-saat yang kritis.
"Informasi itu hanya akan membuatmu paranoid. Aku justru melindungimu dengan menyembunyikan hal-hal buruk, Sayang."
"Kau hanya membuatku seperti orang yang bodoh!"
"Baiklah. Maafkan aku, oke? Tetap dekati Edgar, buat dia percaya padamu dan jika bisa, buat dia mencintaimu. Bunuh saat Edgar mulai mencintaimu. Aku belajar dari kegagalan sebelumnya. Wanita-wanita yang kukirim langsung terdeteksi sebagai musuh karena mereka berusaha membunuh Edgar terlalu cepat. Kau harus lebih bersabar, Sayang. Aku tak ingin kehilanganmu!" Marta membujuk.
Delapan wanita yang dikirim Marta berakhir tragis karena kecerobohan mereka sendiri. Suruh siapa mereka terburu-buru dan langsung menyerang Edgar. Lelaki seperti Edgar memiliki kewaspadaan tinggi, terutama pada orang baru. Sebuah kesalahan besar mereka mencoba menghabisi lelaki tersebut dengan tergesa-gesa.
"Jika kau tak ingin kehilanganku, kau seharusnya tak mengirimku ke misi ini!" kata-kata Lynelle meskipun ringan, tetapi sangat tepat sasaran.
Marta adalah wanita yang cukup egois dan Lynelle menyadarinya dengan cepat. Ibu angkatnya itu bahkan bisa mengorbankan anak angkatnya sendiri menuntaskan misi paling sulit. Misi yang bisa saja mengirim Lynelle pada kematian.
"Aku mengirimmu pada misi itu karena aku yakin kau adalah orang yang tepat. Mana mungkin aku mengorbankan anakku sendiri jika kutahu hanya berakhir buruk? Jangan terlalu menghakimiku, Lynelle. Ingat posisimu selama ini!" Marta mengingatkan. Nada bicaranya terdengar sinis, membenci apa yang coba Lynelle tuduhkan pada dirinya.
Marta adalah wanita yang gila kontrol. Dia tak suka ketika salah satu anaknya mempertanyakan tindakan yang ia ambil. Dia juga tak suka anaknya menentang keinginannya.
Lynelle yang menyadari emosi Marta hanya bisa tersenyum sinis. Dia merapikan rambut merah bergelombangnya dengan sebelah tangan dan menatap langit-langit ruangan yang berwarna tembaga.
"Maaf, Mom. Aku hanya mulai pusing dengan misi ini!" Lagi-lagi, Lynelle memilih mengalah. Dia memposisikan dirinya sendiri dengan baik dan mencoba menghindari berdebat dengan Marta.
"Aku tahu! Lakukan saja apa yang kukatakan. Kau pasti akan selamat. Ingat saja rumah besar yang kujanjikan padamu!" Marta menghibur Lynelle dengan iming-iming baru.
"Bisakah aku bertanya satu hal lagi?" tanya Lynelle, sadar dia masih memiliki satu pertanyaan yang menuntut untuk dijawab.
"Tanyakan saja, Sayang!" Marta terdengar enggan membahas masalah ini. Dia tahu pasti Lynelle akan bertanya hal-hal buruk. Kenapa anak angkatnya itu tak memilih diam dan melakukan misi dengan baik? Bukankah informasi buruk bisa mempengaruhi mental seseorang?
Lynelle berjalan cepat menuju balkon kamar. Siang tadi, Eduardo, kepala pelayan Edgar menempatkan Lynelle di kamar yang bersebelahan dengan kamar utama Edgar di sayap timur bangunan. Kamar ini sangat besar dengan desain artistik. Setiap sisinya dipenuhi ukiran berwarna emas. Temboknya berwarna cream dengan banyak lukisan ternama. Ada barang-barang kuno sebagai penghias ruangan. Vas entah dari abad ke berapa, guci-guci china antik, dan meja dari batu khusus yang diletakkan di sudut kamar. Ranjang kamar memiliki ukuran besar dengan empat tiang yang menopang.
"Bagaimana cara wanita-wanita itu dibunuh!"
"Wanita-wanita yang kukirimkan sebelummu?" tanya Marta, suaranya berubah lirih.
"Ya."
"Aku enggan mengatakan ini. Tetapi tampaknya kau tak akan puas jika aku tak terbuka. Jadi, terpaksa kukatakan yang sebenarnya. Delapan wanitaku dibunuh dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang memiliki bekas luka digorok pada bagian leher, dikuliti, diambil semua kuku-kuku jari dan kaki, dibakar di beberapa bagian tubuh tertentu, dan hal-hal serupa lainnya. Edgar bukan hanya membunuh. Dia menyiksa wanitaku hingga sekarat dan sepertinya dia menikmati semua itu."
Saat itulah tubuh Lynelle merasa lemas. Tubuhnya ia sandarkan pada besi balkon, setengah mati menahan keinginan untuk muntah.
Edgar adalah psikopat. Pagi tadi, Edgar mengatakan yang sebenarnya tentang jati diri lelaki tersebut.
…